Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |31| Kondangan



#########


"Masih lama?" tanyaku sambil memandang Adeeva yang sedang sibuk merias diri.


Aku menghela napas pendek sambil menendang-nendang kakiku ke udara, guna mengusir bosan. Aku tidak terlalu paham dengan apa yang ia lakukan, yang jelas ia sedang mengoleskan sesuatu, yang katanya bukan lipstik, pada bibirnya.


"Bentar lagi, Mas," jawab Adeeva.


Aku berdecak bosan. Sejak dua puluh menit yang lalu juga, ia menjawab demikian saat kutanya. Sebentar, bentar lagi, dan ini juga udah mau kelar. Aku benar-benar sampai bosan mendengarnya. Selama setahun menikah, Adeeva jarang membuatku kesal, kecuali kalau sedang menunggunya berdandan, seperti sekarang ini. Entahlah, meski sudah tahu ini adalah kebutuhan kaum wanita dan aku sendiri mungkin merasakan dampak positifnya, tetap saja aku masih suka merasa kesal kalau harus menunggunya berdandan lama.


"Jawaban kamu dari tadi itu terus, bentar lagi. Tapi mana buktinya, nggak kelar-kelar," decakku lalu bangkit berdiri, aku melirik Adeeva kesal, "aku tunggu di luar. Awas aja kalau nggak keluar-keluar, aku tinggal," ancamku kemudian.


"Iya," balas Adeeva.


"Nggak cuma iya-iya aja, buruan diselesaiin terus kita berangkat. Nanti keburu macet."


"Jakarta nggak macet cuma pas lebaran, Mas. Sisanya ya, always macet kan?" balas Adeeva dengan santainya.


"Iya," balasku sedikit kesal.


Aku kemudian berjalan keluar dari kamar dan memilih duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Sesekali aku menegok jam tanganku lalu menegok ke arah pintu.


"Yang, astagfirullah! Jadi pergi enggak sih? Kamu kalau nggak mau ikut, ya udah, aku per--"


"Udah selesai, Mas. Bawel amat sih," potong Adeeva sambil menutup pintu kamar kami.


Aku menghela napas, lalu menatapnya senang. Ia tampak cantik dan anggun mengenakan atasan brokatnya, yang ia padukan dengan rok lilit batiknya yang sama persis punyaku. Kalau tampilannya sudah jadi secantik ini, bagaimana aku bisa kesal? Yang ada aku malah mendekati dan merangkul pinggangnya. Seulas senyum renyah tak lupa kupamerkan, meski akhirnya aku disambut dengan dengkusan kasar dari mulutnya. Tapi aku tidak peduli.


"Yuk, berangkat!" ajakku kemudian.


"Dasar kamu, Mas, kalau suruh nunggu aku dandan rewelnya minta ampun. Dikit-dikit ngomel, dikit-dikit ngeluh, tapi kalau giliran aku udah cantik aja. Dimanis-manisin, dirangkul-rangkul," gerutu Adeeva.


Aku tertawa. "Biasanya juga aku manis-manisin kamu, ya, rangkul-rangkul, peluk-peluk juga kok. Lagian kan kamu cantik setiap saat."


"Nggak cocok sama gaya kamu, Mas. Aneh," komentar Adeeva pedas.


Mendadak aku langsung diam. Lalu tak lama setelahnya aku berkata, "Oke," seadanya, sambil menyatukan jempol dan jari telunjukku membentuk huruf O.


"Ya udah, ayo berangkat, Mas! Kenapa diem aja?"


"Iya, iya, ayo berangkat. Nggak sabaran amat sih."


"Iya, keburu laper soalnya."


Aku mendadak menghentikan langkah kakiku dan menatapnya tak suka.


"Kenapa?" tanya Adeeva heran.


"Tersinggung," jawabku ketus, "tahu enggak, kamu bilang keburu laper. Itu kesannya aku udah nggak kuat kasih kamu makan, terus kita harus banget pergi kondangan biar kamu bisa makan."


Adeeva menghela napas pendek dan menatapku datar. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi selama beberapa kali, sampai akhirnya ia berkata, "Udah, Mas, nggak usah diterusin, ya. Mending kita berangkat sekarang, oke?"


"Oke."


#######


"Deket komplek perumahan Mama ya ternyata tempatnya. Berarti pulang dari sini, kita mampir ke rumah Mama dulu?"


Kami sama-sama langsung turun dari mobil, begitu aku memarkirkan mobilku. Adeeva langsung menghampiriku dan merangkul lenganku, sepasang matanya kemudian menjelajah ke sekitar komplek. Acara nikahan Ambar dan Dimas memang tidak diadakan di gedung, melainkan rumah pribadi keluarga Ambar. Keduanya teman SMA-ku dulu, jujur aku tidak menyangka kalau hubungan mereka akan seawet ini. Meski, ya, tetap saja ada drama yang mewarnai kisah percintaan mereka. Tapi setidaknya aku cukup salut dengan keduanya.


"Mas, temen kamu dari pihak cewek apa cowok?" bisik Adeeva saat aku sedang mengisi buku tamu.


"Dua-duanya."


"Mereka temen kantor apa kuliah?"


"SMA."


"Pacarannya sejak SMA?"


"Hmm." Aku mengangguk, mengiyakan.


"Awet juga, ya. Keren."


"Lumayan. Tapi mereka sama-sama sempet jalan sama yang lain kok sebelum akhirnya menikah. Katanya."


Adeeva mangguk-mangguk sambil ber'oh'ria. "Oh, semacam cinta lama belum kelar, ya?"


"Mungkin. Kurang lebih begitu sih."


"Ar! Oy! Sini!"


Aku kemudian celingukan mencari asal suara, saat merasa namaku dipanggil.


Aku mengangkat sebelah tanganku untuk membalas sapaannya. Lalu mengajak Adeeva untuk menyapa Danu dan yang lainnya.


"Yang, ketemu temen dulu, yuk. Salaman sama pengantinnya, ya?"


"Terserah kamu. Kan aku cuma nemenin."


Aku dan Adeeva kemudian berjalan ke arah Danu dan yang lainnya. Menyapa mereka satu persatu dan duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Eh, bentar, kalau gue perhatiin istri lo kayak yang pernah lo ajak ke nikahan gue bukan sih?"


Aku tersenyum lalu mengangguk, saat menjawab pertanyaan Wisnu.


Lalu dengan gaya hebohnya, Tio menyahut, "Anjiiiir, katanya cuma adeknya temen. Eh, nggak tahunya dinikahin juga. Halah, busuk lo!" makinya sambil melempar tisu bekas ke arahku.


Dalam pertemanan kami, sebuah makian atau pun umpatan sudah biasa kami lontarkan satu sama lain, jadi jangan pada terkejut, ya.


Aku tertawa lalu mengangkat kedua bahuku secara bersamaan. "Ya, enggak papa dong. Orangnya mau kok, kenapa lo yang sewot?"


Semuanya lalu tertawa, lalu mengolok Tio.


"Iya, tahu nih, sirik aja lo, Yo?"


"Tahu, tuh!"


"Eh, eh, kalian udah ada setahun belum sih?" Gilang tiba-tiba bertanya dengan topik baru, topik yang sangat aku hindari sebenarnya. Bukan karena aku merasa tertekan, tapi aku mengkhawatirkan Adeeva.


"Udah."


"Gimana lo udah ada tanda-tanda mau jadi Bapak belum?" tanya Yogi, pria berperawakan agak pendek ini bertanya dengan jahil dan kedua alis yang dinaik-turunkan.


"Belum," jawabku sekenanya.


Mendadak suasana gaduh dengan berbagai cibiran dari mereka.


"Ah, payah lo. Setahun nikah kalian ngapain aja deh, Ar? Main monopoli?" ledek Tio.


"Abis kali," sahut Danu.


Gilang dan Tio tertawa. "Apanya yang abis, woy?"


"Keperkasaan Arkan," seloroh Gilang.


"Perlu berguru sama gue?" goda Tio sambil menyenggol pundakku.


"Jangan, jangan mau, berguru sama Tio sesat. Yang ada kulit anak lo jadi gelap kek kulitnya Tio nanti."


Aku kemudian langsung berdiri, saat merasa Adeeva terlihat tidak nyaman. Aku kemudian mengumpati mereka lalu bertanya dengan ekspresi pura-pura prihatin, "Pawang kalian ke mana sih? Ember bener deh, kalian kalau nggak dijagain," decakku kesal.


Wisnu kemudian menunjuk ke arah kerumunan Ibu-ibu muda yang sedang asik berfoto. "Abis reunian tahun lalu, mereka mendadak akrab dan sering ketemu. Jadi, pas ada acara terus bisa ketemu begini biasanya kita dilupain."


"Pantesan mulutnya lemes. Kurang perhatian ternyata," decakku sambil geleng-geleng kepala. Aku kemudian merangkul pinggang Adeeva, "Yuk, yang, kita salaman sama pengantinnya."


"Wiisssh, sekarang Arkan mendadak bucin ya setelah nikah. Kayak ada sepet-sepet gitu."


"Terserah kalian lah, gue cabut."


"Yo!!"


Aku dan Adeeva kemudian berjalan menuju panggung pelaminan. "Maafin temen-temen aku, ya, dia kalau ngomong pada suka begitu. Remnya rusak."


"Iya, biasa kok, Mas. Lagian ini juga bukan pertemuan pertama kami, jadi, ya, udah lumayan ngerti kok."


Aku meringis lalu mengangguk. "Terima kasih karena telah menjadi luar biasa. Aku bangga punya istri pengertian kayak kamu," bisikku lalu mencium pipinya.


Wajah Adeeva sontak melebar. "Mas, di tempat umum juga. Nggak sopan," protesnya kesal.


Dengan wajah santaiku aku mengangguk. "Iya, nggak papa, kan kita suami istri."


"Iya," balas Adeeva terlihat sedikit malas. "Ayo buruan, bentar lagi giliran kita yang salaman. Udahan ngobrolnya."


"Iya."


**Tbc,


mon maap baru up


see you next part


and jangan lupa jaga kesehatan


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜**