
#####
Acara lamaran kami berjalan dengan lancar. Satu proses sudah kami lalui, dan sekarang tinggal mempersiapkan diri untuk acara ijab qobul dan resepsi. Ah, aku sangat bahagia sekaligus tidak sabar. Membayangkan tinggal berdua dengan Adeeva, tidur bersama, dimasakin dan dilayani. Ah, bukankah itu terdengar sangat menyenangkan? Kan, aku jadi semakin tidak sabar.
"Kenapa sih, senyam-senyum terus? Lagi bahagia?" tanya Adeeva duduk di sebelahku, setelah meletakkan secangkir kopi untukku. Aku memang tadi meminta tolong agar dibuatkan kopi.
Kopi buatannya memang sedikit beda dari kopi yang biasa aku minum. Cenderung agak manis, tapi masih bisa diterima lidahku dengan baik. Padahal biasanya aku cukup rewel untuk masalah kopi. Karena memang rasanya tetap enak, meski sedikit manis.
"Iya, dong, kan kita bentar lagi nikah," jawabku sambil tersenyum cerah. Tak lupa dengan kedipan genit setelahnya.
"Oh." Adeeva hanya ber'oh'ria sambil terkekeh, "kirain ada apa."
"Sejauh ini nggak ada yang mampu bikin aku sebahagia ini selain kamu."
Bukannya tersenyum malu-malu, Adeeva justru langsung mencibirku, "Heleh, ngegembel terosss!" sindirnya kemudian.
"Enggak ngegombal, sayang. Ini ungkapan hatiku dari lubuk terdalam," kataku jujur, namun sedikit kulebih-lebihkan.
"Iya in, biar kamu seneng. Oh ya, aku mau tanya deh, puisi yang kamu bacain pas acara lamaran kemarin yang bikin siapa?"
Aku meraih cangkir kopiku, lalu menggeleng. "Enggak tahu, Bang Ferdi yang kasih. Dari google mungkin," jawabku lalu menyesap kopi buatannya.
"Ah, kecewa aku, jadi yang nyari Bang Ferdi?"
"Iya."
"Kenapa nggak nyari sendiri?"
"Enggak kepikiran. Itu ide dari Bang Ferdi, aku cuma disuruh ngehafalin aja. Entah dia yang nyari atau minta contekan siapa, aku nggak tahu. Ya udah, aku sih iya-iya aja, lumayan juga idenya, ya udah aku pake, terus aku hafalin, meski kata-katanya agak berlebihan sih, tapi kedengerannya bagus. Cuma aku agak apes aja kemarin, mendadak lupa sama semua yang udah aku hafalin, terpaksa deh akhirnya aku baca contekan," kataku menjelaskan.
"Astagfirullah, jujur amat sih kamu, Ar. Nyesel aku tadi nanya."
Aku terkekeh geli. "Jujur itu baik, sayang."
"Jujurmu marai ajor, Mas," keluh Adeeva dengan wajah kesalnya.
Aku tersenyum senang, bukan karena melihat wajah kesalnya yang imut ini, melainkan karena cara ia memanggilku dengan sebutan 'Mas' bukan nama, sejauh ini Adeeva hanya memanggilku pake imbuhan Mas kalau sedang menggodaku saja, selebihnya ia akan tetap memanggilku nama. Dan entah kenapa kali ini cukup membuat hatiku berbunga-bunga. Astaga, kenapa aku mendadak terlihat seperti orang yang sedang kasmaran?
"Coba ulangi! Aku pengen denger sekali lagi."
Adeeva mengernyit bingung. "Apanya?"
"Manggil Mas."
"Aneh, ah. Enggak mau," tolak Adeeva sambil menggeleng tegas.
"Sekali aja! Bagus tahu, kedengerannya merdu."
"Mas?"
"Iya, yang itu. Coba ulangi!"
"Loh, kok ngelunjak? Katanya tadi sekali aja, kenapa minta lagi?" protes Adeeva sedikit kesal.
"Kan yang tadi contoh."
"Apaan sih, enggak, orang beneran bukan contoh. Siapa yang bilang contoh?"
"Kamu, kan, barusan."
"Iya udah, iya, tapi nanti ya, kalau kita udah resmi menikah. Aku ganti panggilan aku jadi Mas. Gimana?"
"Yang bener?"
"Bener," jawab Adeeva meyakinkanku.
Aku mengangguk senang, lalu memeluknya. "Oke. Terima kasih calon istriku. Aku sabar menunggu kok."
"Alay," cibir Adeeva sambil berdecak.
"Biarin," balasku tak mau kalah.
Adeeva kembali berdecak dan melirikku datar.Β Tak lama setelahnya, ia kembali melanjutkan aktivitasnya mengisi daftar nama undangan yang akan kami sebar.
"Yang, nanti kalau kita nikah, kamu pengennya tinggal di perumahan komplek apa di apartement aja?"
Tanpa menoleh ke arahku, Adeeva menjawab, "Di mana aja asal sama kamu."
Kali ini aku yang berdecak gemas. "Ya, iya sama aku lah, sayang. Maksudnya itu--"
"Kalau semisal kamu pengen kita tinggal sama Mama juga nggak papa, Ar, aku ikut imam lah. Tinggal di mana aja asal sama kamu. Aku nggak masalah. Di mana pun itu, so sweet kan aku?"
"Iya," aku membalas dengan datar, lalu kembali melanjutkan, "Enggak, kita akan tetap tinggal berdua, enggak sama Mama. Cuma maksud aku gini lho sayang, kalau semisal kamu kurang nyaman tinggal di apartemen, aku rencananya mau ngajuin pinjaman KPR rumah. Gimana menurut kamu?"
"Enggak usah neko-neko deh, pake segala mau ngajuin pinjaman KPR lagi. Enggak!" tolak Adeeva dengan tegas, "kalau belum ada uangnya, ya, nggak usah beli rumah dulu. Ngapain mau ngajuin pinjaman KPR segala. Aku nggak masalah tinggal di apartemen, Ar. Astaga!"
Aku mangguk-mangguk paham. "Oh, oke kalau gitu. Jadi, nggak papa kita tinggal di apartemen dulu? Kalau nunggu ada uang buat beli rumah, dua tahun nggak cukup lho."
"Iya. Apartemen kamu juga bukan yang tipe studio, kalau seandainya kita dikasih rejeki cepet juga tinggal bertiga di apartement nggak jadi masalah."
"Yakin nggak masalah?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan.
Adeeva mengangguk yakin, lalu mengiyakan.Β Lalu kembali melanjutkan, "Justru bakalan jadi masalah kalau kamu ambil KPR, Ar."
"Gitu, ya?"
"Iya, lah. Udah deh, mending sekarang kamu bantuin aku isi daftar undangannya, dari pada tanya-tanya yang nggak jelas begitu."
Aku meringis lalu duduk bersila di atas karpet. "Iya, iya, sini aku bantuin. Mana aja belum?"
"Ini semua yang belum, kalau yang ini udah." Adeeva menunjuk dua tumpukan undangan berbeda, "Jadi, kalau udah taruh bagian ke sini. Oke?"
"Oke."
"Ini daftar namanya, kalau udah kamu tulis di undangan jangan lupa kamu tandain ceklis? Ngerti?"
Aku mengangguk paham, lalu mulai meraih bolpoin dan undangan yang perlu kuisi. Namun, secara tidak terduga Adeeva tiba-tiba berdiri setelahnya. Membuatku mengerutkan dahi heran.
"Mau ke mana?" tanyaku heran.
Sudah dibantu kok malah mau pergi.
"Keluar, beli cemilan, kamu mau apa?"
"Pilihannya apa?"
"Kamu maunya?" Adeeva malah balik bertanya.
Aku berdecak sebal. "Apa aja sih, terserah. Aku kan nggak pemilih macem kamu."
"Oke." Adeeva mengacungkan jarinya membentuk huruf O, sebelum keluar dari kamar kostnya.
Tak lama setelahnya, Adeeva kembali sambil menenteng sekantung plastik berlogo minimarket yang menjamur di seluruh Indonesia, yang lokasinya biasanya selalu berdampingan itu lho.
"Aku pikir cemilannya agak berat, tahunya bukan, ya," sambutku sambil menerima plastik yang Adeeva sodorkan.
"Niatnya gitu, biasanya jam segini tuh ada yang jualan hotang di depan, mendadak aku pengen itu deh, tapi kayaknya hari ini libur deh. Nggak tahu ke mana, adanya cuma jualan cilok sama gorengan, ya udah aku ke mini market deh akhirnya."
"Iya, iya, nggak papa kok. Lagian aku belum laper juga, nanti kalau laper pesen Go-food aja deh."
"Hmm." Adeeva mengangguk setuju, lalu kembali duduk di sampingku, "udah dapet banyak?"
"Lumayan," jawabku membanggakan diri sendiri.
Ia kemudian meraih buku bindernya yang berisi daftar nama yang harus ditulis di undangan.
"Cuma segini?"
"Kan lumayan, dari pada lumanyun?"
Adeeva berdecak kesal, lalu bersiap untuk melayangkan buku bindernya ke arah kepalaku. Lalu dengan sigap, aku menutupnya menggunakan kedua tanganku.
"Kepedean, siapa juga yang mau kamu. Sayang buku aku lah."
"Hei!!" seruku kesal, lalu Adeeva terbahak setelahnya.
Dengan raut wajah kesalku, aku memiting lehernya dengan gemas. Adeeva langsung itu berteriak panik sambil memukuli lenganku.
"Ar, Ar, Ar, aku cuma bercanda. Lepasin dong!"
"Kalau aku enggak mau?"
"Aku teriak kenceng lah, kita di kostan aku sekarang, Ar, bukan di apartemen kamu. Biar kamu digebukin masa."
Secara spontan aku melepaskan lenganku yang sempat memiting leher Adeeva. "Astagfirullah, jahatnya, masa kamu tega ngebiarin aku digebukin masa."
"Kami juga tega sama aku! Sakit tahu," balas Adeeva tak mau kalah.
"Lebay," cibirku mengejeknya.
"Beneran, ya!"
"Iya." Aku mengangguk setuju, "udah cemilannya dibuka! Aku mau."
"Manja! Buka sendiri lah."
"Latihan melayani suami dong. Kan katanya istri itu harus nurut sama suami, lupa?"
Dengan wajah cemberutnya Adeeva kemudian meraih sekantung plastik. "Mau apa? Roti basah, keripik kentang, kue kering, biskuit, stik potato--"
"Stik potato," jawabku cepat.
Adeeva kemudian merogoh kantung plastik dan mengeluarkan sebungkus stik potato dan menyodorkannya padaku.
"Nih!"
Aku menggeleng. "Aku nggak suka yang merk ini, mau keripik kentang aja kalau begitu."
Adeeva kembali membongkar isi plastiknya, setelah menemukan yang ku maksud ia langsung menyodorkannya padaku. "Yang ini mau?"
Aku meliriknya sekilas lalu mengangguk. "Boleh."
"Ya udah, ambil dong!"
"Bukain dong! Suapin sekalian, nggak lihat tanganku lagi sibuk?"
"Ar, kamu lagi ngerjain aku?"
Aku tersenyum senang. "Keberatan? Kamu imut tahu kalau lagi cemberut begini, bikin gemes. Jadi pengen--"
"Ngarep!"
Tanpa perasaan bersalah Adeeva langsung mendorong dahiku menggunakan jarinya.
Astagfirullah, calon bini gue kok nggak sopan banget gini sih?
######
"Capek," keluh Adeeva sambil merebahkan kepalanya di atas lenganku.
Astaga, aku merentangkan kedua tanganku karena merasa pegal, kenapa malah dijadikan bantalan. Alamat kesemutan nih pasti.
"Nanti lebih capek lagi pas acara resepsinya, yang. Nulis undangannya aja udah sepegel ini, apa lagi salaman sama orangnya nanti."
"Hmm, kamu bener juga. Apa kita batalin aja resepsinya, nggak usah pake resepsi terus ijab qobul aja?"
"Enak saja, aku baru transfer uang muka buat sewa gedung sama catering."
"Eh, iya, lupa aku," cengir Adeeva.
Aku meliriknya datar, berharap agar Adeeva segara bangun dari posisinya. Namun, sayang, harapanku harus sirna karena, bukannya bangun dari posisinya, Adeeva malah semakin mendekat ke arahku dan memelukku. Mau tidak mau, aku pun langsung merangkul pundaknya sambil memejamkan kedua mataku. Ah, sepertinya aku mulai merasakan kesemutan.
"Ar," panggil Adeeva terdengar hati-hati.
"Hmm," responku seadanya.
"Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya aja, aku nggak tidur kok."
"Kenapa aku nggak nemu nama Milla di daftar undangan, apa kamu enggak undang dia? Atau..."
Aku langsung membuka kedua kelopak mataku, dan sedikit menunduk guna menatap Adeeva. Kedua mata kami saling bersitatap.
"Aku nggak undang dia," jawabku tanpa keraguan.
"Kenapa?" tanya Adeeva terlihat penasaran.
"Menurut kamu, kenapa?"
Adeeva berdecak kesal. "Kalau aku tahu, aku nggak mungkin tanya, Ar."
Aku tersenyum sambil mengusap pundaknya, lalu setelahnya, aku memiringkan tubuhku dan memeluknya. Menepuk punggungnya pelan, lalu meletakkan daguku di atas kepalanya.
"Karena aku menghargai perasaan kamu, sayang. Aku ingin menjaganya, aku tidak ingin kehadiran Milla merusak suasana hati kamu nantinya. Aku bukannya tidak mau mengundangnya, tapi, aku rasa mengundang seseorang yang pernah menjadi masa lalu ke acara bahagia kita, tidak selama berakhir bagus. Kamu ngerti kan maksudku?"
"Tapi aku nggak masalah kamu undang dia."
"Mungkin nggak masalah bagi kamu, tapi bagi aku itu masalah."
Adeeva melepaskan rangkulannya dan menatapku bingung. "Kenapa itu bisa jadi masalah untuk kamu? Kamu..."
"Tidak berusaha untuk menjaga perasaan wanita yang aku cintai, jelas akan jadi masalah bagi aku, Adeeva," potongku cepat.
Mulut Adeeva beberapa kali terbuka dan tertutup, seperti ingin berbicara namun tidak jadi.
"Nanti ada saatnya kalian bertemu, tapi tidak di hari pernikahan kita. Tidak apa-apa kan?"
Adeeva mencoba untuk memaklumi keputusanku, ia mengangguk dan memelukku erat.
"Tidak apa-apa kalau kamu ngerasanya itu memang yang terbaik. Terima kasih sudah berusaha untuk menjaga perasaanku."
Aku membalas pelukannya. "Terima kasih juga karena mau bertemu, menerima masa laluku dan mencintaiku."
**Tbc,
hmm, gk tau kenapa pas bikin ini part aku mendadak kebayang wajahnya Ahn Jae Hyun, e buset, Ahn Jae Hyun banget ini yng nongol? π padhal aku tuh gk abis nonton dramanya, nonton dramanya aja belum pernah, cuma liat cuplikannya doang dikit-dikit, lah, ini kenapa tiba-tiba kebayang wajahnya ya ππ
ya udah sih, cuap-cuapnya segini aja. bantu koreksi typo yang kelewat, ya, tadi aku udh sempet ngedit sekali. cuma biasanya klo ngedit sekali atau dua kali tuh, masih suka bnyk yg kelewat. hehe, πππ
semoga bisa kepublish malem ini. Aamiin.
See you next partΒ aja ya, dahhhh π€πππππππ