Adore You!

Adore You!
Adore You! : d u a p u l u h d u a



"Kejujuran itu penting apalagi untuk memulai sebuah hubungan. Tapi setelah mendengar pengakuan kamu barusan, entah kenapa kejujuran jauh terasa menakutkan ketimbang sebuah kepentingan dalam suatu hubungan."


{{{{{}}}}}


"Adeeva, keberatan kalau kita mampir ke apartement saya dulu? Saya ingin bicara sesuatu."


Gue memandang Arkan dengan pandangan bingung. Mampir ke apartementnya? Arkan punya apartement? Kok gue baru tahu, bukannya dia bilang dia belum punya rumah, ya?


"Adeeva!"


"Ya?"


"Kenapa diam saja? Kamu keberatan?"


Keberatan? Bercanda ini orang, ya kali keberatan. Yang ada gue rasanya gue mau syukuran karena diajak ke apartement, kali aja nanti Arkan bisa khilaf terus.... astaghfirullah otak gue. Ampuni hamba-Mu ini ya, Allah! Tadi cuma khilaf kok, serius.


"Enggak. Gue justru malah seneng," cengir gue kemudian.


"Oke."


Arkan mengangguk paham lalu menambah kecepatannya agar segera sampai di tujuan. Begitu sampai di apartementnya, jujur gue agak kaget. Gue pikir apartement milik Arkan itu tipe apartement studio yang sering digunakan para bujangan pada umumnya, bukan sejenis apartement hunian keluarga begini.


Gue menoleh ke arah Arkan dengan ekspresi penuh tanya, sementara Arkan hanya meresponnya dengan mengangkat bahu cuek lalu membimbing gue untuk lebih masuk ke dalam apartementnya.


"Ini punya kamu... eh, lo, maksudnya." Gue geleng-geleng kepala sambil meralat panggilan gue.


Kan, saking nggak percayanya, gue salah.


"Aku kamu juga nggak papa, Adeeva. Memang sudah saatnya, mungkin."


Oke. Gue mah manut aja sama calon imam.


"Jadi ini punya kamu?" tanya gue sekali lagi.


Arkan mengangguk yakin lalu menyuruh gue untuk duduk di sofa panjang. Berhubung gue calon makmum yang baik, ya, gue menurut dengan patuh.


"Sejak kapan? Bukannya kamu bilang nggak punya rumah."


"Sekitar enam tahun yang lalu kalau tidak salah."


Buset. Lama bener.


"Terus kamu biarin kosong?"


Arkan mengangguk, mengiyakan.


Dalam hati gue langsung mengumpatinya dan mengatainya bego. Emang beneran bego kan, punya unit apartement yang bagus menjurus ke mewah tapi tidak ditempati, tapi tidak disewakan juga. Kan bego namanya, sementara dia di Semarang aja dulu ngekost, padahal setahu gue posisinya dulu Manager Finance dan Accounting. Sumpah, ini siapa yang bego sih?


"Selama itu?"


Kini Arkan tertawa. "Ya, enggaklah, Adeeva. Rugi dong kalau nggak aku tempati tapi nggak aku sewain. Apartement ini kosong baru tiga bulan, udah ada yang mau nempati sih, cuma belum aku iyain."


"Kenapa?"


"Enggak papa."


Gue mengangguk, mencoba untuk memahami privasi Arkan.


Suasana mendadak hening. Gue fokus  menjelajahi isi apartement Arkan, tidak terlalu menghiraukan apa yang sedang Arkan lakukan saat ini. Sampai tiba-tiba suara Arkan terdengar memanggil gue, dan baru gue tahu kalau dia sedang menatap gue intens.


"Ada apa?" tanya gue gugup.


Arkan belum pernah menatap gue seintens ini. Dan sekarang kami sedang berada di apartementnya, hanya berdua, wajar bukan kalau gue khawatir?


"Kayaknya aku udah nggak cuma baper deh, Adeeva. Aku kayaknya udah jatuh cinta sama kamu. Aku harus gimana, ya?"


Harusnya itu menjadi kalimat yang membahagiakan untuk gue dengar. Tapi entah kenapa, tidak demikian. Rasanya terdengar aneh dan seperti ada yang mengganjal.


"Kamu nggak mau jatuh cinta sama aku?"


Gue lebih memilih menggodanya untuk menyingkirkan suasana aneh ini. Namun, sepertinya Arkan tidak menganggapnya sebuah candaan. Kedua matanya terlihat menyimpan kesedihan yang tak terbaca, dengan gerakan ragu-ragu Arkan mengangguk.


"Aku takut menyakiti kamu kalau aku benaran jatuh cinta sama kamu."


Gue merasa kalimat Arkan semakin aneh dan tidak padat gue pahami. Ini pertama kalinya kami mengobrol cukup intens, tapi bukannya senang, gue justru merasa khawatir.


Gue tiba-tiba merasakan jari-jemari Arkan terselip di antara jemari gue, remasan ringan mulai gue rasakan setelah beberapa detik kemudian, membuat gue mendongak ke arahnya. Bibir Arkan tersenyum sekali lagi, kedua matanya masih menatap bola mata gue secara intens dan lembut, dan itu semakin membuat suasana menjadi aneh.


"Aku nggak tahu kenapa rasanya bisa senyaman ini genggam tangan kamu, Adeeva," bisik Arkan, pandangannya kemudian turun ke arah jemarinya yang menggenggam jemari gue sejenak, sebelum ia kembali mendongak dan menyebabkan kedua netra kami saling bertatapan, "wajah ini," Arkan terkekeh sambil memegang pipi gue menggunakan tangan kanannya yang menganggur, sementara tangan kirinya masih menggenggam jemari gue. "Entah kenapa selalu membuat aku rindu jika kita tidak bertemu."


Gue diam tak merespon, membiarkan Arkan meneruskan kalimatnya terlebih dahulu.


Arkan menghela napas. "Sejujurnya aku ingin hubungan ini menuju tahap selanjutnya, Adeeva. Tapi aku takut menjadi egois kalau benar-benar menginginkannya."


Kalimat Arkan membuat kepala gue berputar. Pening rasanya, gue nggak paham. Semakin menebak apa yang sebenarnya terjadi di sini, justru membuat kepala gue semakin pusing.


"Ar, bentar deh! Kalimat kamu bikin aku pusing. Ini pertama kalinya kamu ngomong panjang lebar begini, aku bukannya nggak seneng, cuma... cuma rasanya tetep terdengar aneh. Kamu juga bikin aku takut. Kamu kenapa sih? Kamu mau berhenti?"


Masih dengan ekspresi yang sama, Arkan menggeleng. "Aku mau lanjut, tapi.... aku takut."


Gue langsung mendengkus tak percaya. Arkan yang gue kenal nggak punya rasa takut tapi takut sama gue? Serius? Emang gue senyeremin itu ya?


"Kenapa? Kamu takut aku makin agresif?" ketus gue judes.


Sumpah gue tersinggung.


Di luar dugaan, Arkan tertawa. Bukan tertawa yang terbahak-bahak sih memang, tapi tetap saja membuat gue terpana. Karena ini pertama kalinya gue melihatnya tertawa selepas ini, biasanya dia hanya memamerkan senyum tipisnya, kalau untuk menertawakan sesuatu, dia hanya akan tersenyum sambil geleng-geleng kepala diiringi dengkusan ringan.


"Kamu bisa ketawa juga?" tanya gue masih dilingkupi rasa terkejut.


Arkan tersenyum lalu mengangguk yakin.


"Wow," desis gue terpana.


Arkan bertambah berpuluh kali lipat gantengnya kalau ketawa. Wajar kalau terkejut.


"Apa aneh?"


Gue menggeleng tegas. "Kamu ganteng. Jadi pengen nyium."


Arkan kembali tertawa lalu dengan gerakan tiba-tiba dia memajukan wajahnya kemudian berbisik.


"Aku anggep yang barusan sebagai kode 191, ya," bisik Arkan membuat bulu kuduk gue memerang.


Kode 191, apa itu?


Belum sepenuhnya otak gue mencerna maksud dari ucapan Arkan, tiba-tiba saja gue merasakan bibir Arkan menempel di bibir gue. Kedua mata gue melebar spontan, belum juga gue melayangkan aksi protes bibir Arkan mulai bergerak perlahan, lembut tapi tidak menuntut. Ini bukan ciuman pertama gue, tapi ini ciuman pertama gue dengan Arkan. Memabukkan sekaligus menggairahkan, plus bikin gue ketagihan. Arkan yang kaku ternyata seorang pencium yang handal, dia tahu cara memuaskan dan membuat nyaman lawannya. Arkan memang sempurna di mata gue. Terlepas dari tingkah anehnya barusan.


Tunggu, iya benar, Arkan dari tadi aneh dan tiba-tiba nyium gue? Ini nggak bener.


Dengan gerakan spontan, gue menjauhkan tubuh gue dan mendorong dada Arkan pelan, membuat pungutan kami terlepas.


"Kenapa?" tanya Arkan bingung. Kabut birahi yang tadi sempat menyelimuti kedua bola mata Arkan kini perlahan memudar, meski belum hilang sepenuhnya.


Gue menatap Arkan ragu lalu menggeleng. "Aku ngerasa ada yang salah di sini. Kamu dari tadi bersikap aneh dan barusan kamu nyium aku."


Dengan wajah tertunduk, Arkan mengucap kata maaf.


"Kalau kamu mau minta maaf karena udah nyium aku, itu nggak perlu, Ar. Kita sudah sama-sama dewasa dan sama-sama menikmati. Jadi kamu tidak perlu meninta maaf."


Arkan tersenyum sambil mengangguk. "Aku nggak minta maaf untuk itu."


"Lalu?"


"Aku minta maaf karena masa lalu aku."


Hah?


"Maksudnya?"


"Aku punya masa lalu buruk, Adeeva."


Gue mendengkus tak percaya. Arkan itu emang lucu, ya. Semua orang jelas punya masa lalu kan, termasuk masa lalu buruk.


"Aku juga punya masa lalu, masa lalu buruk juga. Cuma berhubung sudah jadi masa lalu ya udahlah, kayak lagunya Mbak Inul. Masa lalu biarlah berlalu, jangan kau--"


"Tapi masa lalu aku beda, Adeeva," potong Arkan dengan wajah frustasinya.


Lah, kenapa harus sampai sefrustasi itu coba? Kayak abis ngehamili anak orang aja.


"Semua masa lalu orang itu beda-beda, Arkan sayang. Masa lalu aku sama kamu pun demikian. Seburuk apa pun itu biarkan itu menjadi masa lalu, kalau kenyataannya masa lalu itu membuat kamu takut untuk melangkah."


"Tapi..."


"Oke. Kalau kamu merasa perlu buat bilang, bilang aja. Aku akan mendengarkan dan mencoba untuk menerima."


Wajah Arkan berubah panik. Terlihat sekali kalau dirinya sedang berdebat dengan batinnya. Membuat gue akhirnya meloloskan senyum meremehkan.


"Kalau belum siap, nggak harus sekarang, Ar," kata gue mencoba untuk bijak. Namun bukannya mengangguk, Arkan justru malah menggeleng tanda tak setuju.


"Lebih cepat lebih baik, Adeeva. Aku udah kelamaan nundanya."


Gue mengangguk pasrah. "Oke."


Namun, lagi-lagi Arkan memilih diam dalam kegelisahannya.


Gue menghela napas sekali lagi lalu beranjak dari sofa. Dan secara tiba-tiba gue merasakan tangan Arkan mencekal lengan gue. Gue diam, tidak menoleh ke arahnya tapi tetap memberi kesempatan untuk Arkan berbicara.


"Aku.... punya anak," lirih Arkan pelan, namun terdengar cukup jelas di indera pendengaran gue. Dan sanggup membuat tubuh gue mengigil ketakutan.


Apa tadi katanya, punya Anak?


Astaga, apa hari ini gue berulang tahun?


Tbc,