Adore You!

Adore You!
Adore You! : d u a p u l u h l i m a



"Bahagiaku itu kamu. Dan izinkan aku untuk menjadi kebahagiaan kamu, agar kita bisa saling membahagiakan."


*******


Gue sudah bersiap-siap untuk pulang, sudah memakai helm dan nangkring di motor. Saat hendak menstarter motor, tiba-tiba gue mendengar suara klakson motor, gue menoleh dan langsung menemukan Ardit yang masih nangkring di motornya, sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Ardit," desis gue kaget.


Gue langsung menstarter motor dan mendekatinya.


"Kamu ngapain lagi sih, Dit? Astaga."


"Jemput kamu," jawab Ardit santai.


"Aku bawa motor, Dit, nggak perlu dijemput. Lagian aku nggak langsung balik ke kostan, aku ada urusan."


"Urusan?" beo Ardit sambil tersenyum mengejek.


"Terserah kamu mau mikir apa, yang jelas aku beneran ada urusan."


"Kamu mau ketemu cowok itu?"


"Iya," jawab gue dengan tegas. "Udah jelaskan?" Gue menatap Ardit sebentar, lalu kembali menstarter motor, "aku duluan," sambung gue lalu melajukan motor gue menuju apartement Arkan.


Kami memang janjian di sana, karena gue merasa kita butuh privasi. Kalau di tempat umum, gue takut tidak siap dan malah mempermalukan kita berdua nantinya. Gue kalau lagi emosi suka meledak. Jadi, demi keamanan dan kenyamanan bersama jadi kami memutuskan untuk bicara di apartementnya.


Gue langsung menekan bell saat sudah berada di depan unit apartement Arkan. Arkan tersenyum menyambut gue saat membuka pintu. Gue ikut tersenyum meski terkesan agak memaksakan.


"Duduk dulu!"


Gue mengangguk, mengiyakan lalu duduk di sofa panjangnya. Sementara Arkan melipir ke dapur lalu membawa dua piring berisi pasta dan langsung meletakkannya di atas meja.


"Nggak papa kan nggak makan nasi?" tanya Arkan sambil melirik gue, lalu kembali ke dapur dan mengambil air minum untuk kami. Harusnya gue membantu, tapi entah kenapa gue hanya duduk diam dan membiarkan Arkan bolak-balik ke dapur.


Gue mengangguk. "Aku ke sini juga bukan mau minta makan kok. Kamu aja yang terlalu 'berinisiatif'."


Arkan tersenyum lalu ikut duduk di sofa single. "Makan dulu," titahnya sambil meraih sepiring pasta dan menyodarkannya pada gue, baru setelahnya mengambil piring satunya untuk dirinya sendiri.


"Makasih," ucap gue sambil menerima piring itu.


Kami makan dalam diam. Tidak ada obrolan sama sekali. Selain karena gue yang terfokus sama pasta bikinan Arkan, yang entah kenapa rasanya enak pake banget ini. Arkan juga bukan tipekal pria yang suka mengobrol saat makan. Setelah selesai, gue memutuskan untuk mencuci piring dan juga gelasnya. Meski awalnya ditolak Arkan, tapi gue tetap memaksa dan untungnya Arkan tidak mendebat dan mengizinkan gue untuk mencuci piring.


"Pasta bikinanmu enak," kata gue setelah mendudukkan pantat gue di sofa.


Arkan hanya tersenyum sebagai responnya. "Mau mulai sekarang?" tanyanya kemudian.


Gue langsung terkekeh. "Mulai apanya?"


"Adeeva," rengek Arkan terlihat lucu.


"Ar, bisa kita lupain aja apa yang pernah kamu bilang waktu itu?" lirih gue pelan.


Arkan mendesah lalu berpindah duduk di sebelah gue pas. "Plis, tanyain apapun yang ingin kamu ketahui te--"


"Kamu sayang sama aku, Ar?" sela gue memotong ucapannya.


Tanpa keraguan sedikit pun, Arkan langsung mengangguk. "Ya. Aku sayang sama kamu," jawabnya mantap.


"Kalau cinta?"


"Mungkin belum, tapi pasti akan. Itu pun kalau kamu kasih izin."


Gue mangguk-mangguk, lalu tersenyum. "Oke. Berarti udah kelar ya?"


Ini di luar dugaan gue. Gue juga bingung sendiri sebenarnya, kenapa gue dengan gampangnya bilang begitu ya?


"Adeeva! Bukan begitu, kamu harus tanyain masa lalu aku. Aku cuma mau terbuka sama kamu, aku tidak mau masa laluku yang ingin kamu abaikan sekarang malah akan jadi boomerang buat hubungan kita ke depannya.Β  Mama, Papa, Bahkan Irin maupun Bang Ferdi nggak tahu kelakuan bejat aku, tapi aku ngasih tahu kamu. Kamu tahu kenapa? Karena aku nggak mau membohongi kamu. Aku mau memulai hubungan sama kamu dengan cara yang benar, Adeeva."


Gue terperanjat kaget. Kenapa keluarganya sampai nggak tahu. Emangnya perempuan yang dihamilinya itu nggak minta pertanggungjawaban gitu.


"Mila nggak pernah minta pertanggungjawaban dari aku, bahkan saat aku tawarin mau tanggung jawab dia tolak. Dia nggak nyembunyiin fakta kalau anak yang sedang dia kandung itu anak aku, tapi dia nggak mau aku nikahin. Karena kita beda keyakinan," kata Arkan menjawab pertanyaan yang ada di otak, "dan dia nggak mencintaiku. Dia bilang dia ingin menikah dengan orang yang dia cintai dan orang yang dia cintainya itu William," sambung Arkan sambil tersenyum getir.


Dari sorot matanya gue tahu kalau Arkan bersedih.


"Kamu mencintainya, Ar?" tanya gue hati-hati.


Tanpa keraguan, Arkan mengangguk. "Iya. Tapi itu dulu."


"Kenapa kamu nggak pernah bilang ke Tante Ajeng atau Om Hito? Mereka berhak tahu, Ar, bagaimana pun mereka Kakek dan Neneknya."


"Aku hanya Ayah biologisnya, Adeeva. Secara hukum dan di kehidupan, Ayahnya tetap William, suami Mila. Lagian William Ayah yang baik, Aurine aman dengannya. Aku tidak akan minta lebih, ini hukuman karena aku sudah main di belakangnya. Meski aku sendiri tidak tahu kalau ternyata William kekasih Mila sebelum dekat denganku. Karena itu aku tidak memberitahu siapa pun, kecuali kamu."


Gue diam. Berusaha mencerna setiap kata yang terlontar dari bibir Arkan. Dia tidak boleh mengakui Putrinya sendiri? Astaga, miris sekali nasibnya ya Allah.


"Berapa umur Putrimu?"


"Akhir tahun ini genap berumur 6 tahun."


Udah masuk Taman Kanak-Kanak dong?


"Apa kamu selalu hadir saat ulangtahunnya?" tanya gue ragu.


"Aku baru pernah ketemu sekali, karena mereka sekarang tinggal di California."


Gue tercengang. Jadi, dia benar-benar hanya berperan sebagai Ayah biologis tanpa yang lain.


"Sudah, Ar. Kamu tidak perlu membuka luka lama," kata gue sambil memegang telapak tangannya. "Sekarang mending kita bahas hubungan kita," sambung gue sambil tersenyum.


Gue tahu gue ganjen, tapi gue nggak bisa lihat Arkan terus-terusan terbelenggu sama masa lalu, gue nggak tega lihatnya.


"Tapi masa laluku?"


"Biarin berlalu, jadikan pembelajaran aja. Jangan terlalu larut dalam penyesalan, kamu harus bangkit. Kamu juga harus bahagia, bahagia sama aku," ujar gue sambil menyentuh pipinya. Tak lupa gue berikan senyuman terbaik gue.


Arkan menatap gue ragu. "Apa aku tidak terlalu egois?"


Gue tersenyum. "Sesekali kita perlu egois untuk bahagia." Sambil mengangkat kedua bahu gue.


"Tapi bagaimana dengan kamu?"


"Aku?" Gue menunjuk diri gue sendiri, "kenapa sama aku?"


"Kamu nggak masalah sama masa lalu aku yang itu?"


"Masalah sih, sebenarnya, tapi mau gimana lagi dong, hati ini udah terlanjur kamu curi dan kamu simpen rapat-rapat gitu. Ya, sebagai manusia lemah aku bisa apa? Udah nggak bisa kemana-mana juga selain ke pelukanmu."


"I love you," bisik gue sambil memeluknya.


Arkan membalas pelukanku dan ikut berbisik, "I love you more."


"Apa?" Tanpa sadar gue menjauhkan tubuh gue darinya, menatap Arkan penuh selidik. "Kamu ngomong apa barusan?"


"Enggak ada siaran ulang. Ayo, aku antar pulang."


Arkan langsung meraih telapak tangan gue dan berdiri.


"Ar, nikah aja yuk!" ucap gue tiba-tiba, menarik Arkan kembali duduk di sofa.


Arkan berdecak lalu menyentil dahi gue dengan gemas. Membuat gue mengaduh kesakitan, karena sentilannya beneran sakit.


"Itu dialognya harusnya aku yang ucapin, bukan kamu," protes Arkan sambil mendengkus lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah kotak yang mirip kotak cincin.


Astaga, gue mau dilamar nih?


Ya ampun, kok jadi deg-degan.


Mulut gue langsung menganga lebar saat mendapati Arkan menyodorkan kotak itu pada gue begitu saja. Nggak ada romantis-romantisnya, boro-boro romantis, ekspresinya aja balik datar.


"Ini apa?" tanya gue kayak orang bego.


"Cincinlah, Adeeva. Katanya mau nikah, nikah kan nggak cuma butuh pasangan aja tapi juga butuh cincin."


Hei, itu kenapa mukanya jutek lagi. Kabur kemana itu tadi muka melasnya. Astaga, nggak romantis banget.


"Harus dipasangin?" celetuk Arkan karena gue belum menerima kotak cincin itu.


"Kamu... ngelamar nih ceritanya?"


"Bukan ceritanya, tapi beneran. Kamu tidak mempermasalahkan masa lalu aku dan aku nggak mempermasalahkan kelakuan kamu yang hobi modus maupun genit itu, terus kamu ngajak nikah. Ya, udah ayo nikah! Ini cincinnya."


Gue speechless.


"Kok bengong? Nggak suka?"


Bercanda ini manusia, berlian segitu gede dan cantiknya nggak suka. Gue belum buta kali.


"Bukan. Suka kok, cantik. Mahal ya?"


Dengan wajah datarnya Arkan mengangguk. "Bisa buat DP rumah."


"Terus kenapa kamu beli?"


Arkan tiba-tiba tersenyum. "Seenggaknya sebandinglah sebesar cinta kamu buat aku." Ia kemudian menjawil hidung gue.


"Cintaku bahkan lebih gede taukk," balas gue tak mau kalah.


"Iya, aku tahu. Cintaku juga lebih mahal dari berlian ini," balas Arkan, yang langsung membuat gue terbahak.


Sumpah. Arkan nggak cocok banget ngegombal.


"Malah ketawa. Ini gimana nasibnya, mau kamu pake enggak, kalau enggak aku jual loh. Lumayan buat modal resepsi."


"Resepsinya siapa?"


"Resepsi kita lah. Kan aku belinya buat kamu."


"Sembarangan!" Tanpa sungkan gue langsung memukul pundaknya lalu mengambil cincin itu dan langsung memakainya. "Cantik. Aku suka. Makasih," ucap gue tulus.


"Sama-sama. Kenapa kamu nggak minta aku buat pasangin biar romantis?"


Gue langsung mendengkus dan berhenti memandangi cincin yang sudah terpasang cantik di jari manis gue.


"Ngasihnya aja nggak romantis mau pake adegan pasangin cincin biar romantis," sindir gue kembali memandangi cincin itu lagi. "Lagian kamu udah lupa, aku ini perempuan spesial. Lupa?"


Arkan terdiam sesaat sebelum akhirnya terbahak setelahnya. Gue hanya meliriknya sambil geleng-geleng kepala. Gue akan hidup dengan Arkan di masa depan, dan gue nggak perlu mempermasalahin masa lalunya.


Tbc,



❀ 895 likes πŸ’¬ 277 comment


Arkana_Narendra she is not said yes, tapi alhamdulillah pas😊


All view comment


Adeeva_Eva πŸ˜’πŸ˜πŸ˜΄


Arkana_NarendraπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


Salmaaaa 😱😱😱 gue ketinggalan berita?


Ferdi_Ferdian alhamdulillah, sebentar lagi nyokap bokap ngunduh mantuπŸ˜„


Agung_Gunawan gede bener coyyyπŸ˜‚, berapa jeti itu


Kamila_William bentar lagi sebar undangan nih


Teguh_Wiriawan berliannya woyyyy, bikin bini gue ngiler ini pasti kalo liatπŸ˜‚πŸ˜‚


Anjas_bukanAsmara udah move on? AlhamdulillahπŸ˜…


Ardani_Malik wow, cakep juga calonnyaπŸ˜‚πŸ˜‚, berasa pen nikung


Lukman_ajaaa πŸ˜†πŸ˜† setuju @Ardani_Malik


Arkana_Narendra πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ‘Š @Lukman_ajaaa, @Ardani_Malik


Paramita_Ita apa cuma gue yang bingung sama captionnya?πŸ˜†


Pemuja_PriaTampan πŸ˜‚ sama Mbak@Paramita_Ita saya juga bingung sekaligus penasaran


**Tbc,


pictnya hilang, aku cari baru depetnya itu πŸ™„ ya udah sih


ayo, ayo, komennya mana, biar cepet aku up nya 😝**