Adore You!

Adore You!
Adore You! : t i g a p u l u h t ig a



"Aku mencintai kamu tanpa perasaan menggebu-gebu. Aku pun ingin memiliki kamu di waktu yang tepat, bukan di waktu yang cepat. Aku pun menuruti keinginanmu bukan karena ingin menjadi budak cinta, tapi karena aku menghargai keputusanmu."


~Arkana Narendra~


********


"Ngelamunin apa sih? Sampai disapa nggak ngasih respon?"


Gue otomatis langsung menoleh ke samping, saat merasakan sebuah jas tersampir di pundak gue. Dan suara yang familiar sekaligus gue rindukan, menyapa gendang telinga gue. Gue kemudian langsung tersenyum cerah saat mendapati Arkan yang melakukan itu. Memilih mengabaikan pertanyaannya, dan lebih memilih untuk memeluk pinggangnya. Gue kangen wangi tubuhnya, ya Tuhan.


"Maaf, soal yang kemarin," bisik Arkan kemudian, tangannya kemudian terulur dan membelai rambut gue penuh kasih sayang. Membuat gue merasa nyaman dan makin betah berada di dalam pelukannya.


Gue memilih untuk diam, karena tidak tahu harus merespon bagimana. Jujur, gue enggak marah sebenarnya, gue cuma kecewa. Tapi melihat wajah lelah Arkan saat ini bikin gue lemah iman seperti biasa. Gue tahu, ini salah dan nggak benar, tapi gue tetep susah buat marah sama Arkan. Gue takut, dia akan ninggalin gue kalau seandainya gue marah. Dapetin hatinya itu nggak mudah, dan gue nggak mau melepas dia begitu saja. Enggak akan pernah.


"Jadi, kamu beneran marah, ya?"


Gue menggeleng. "Cuma kecewa. Tapi nggak papa."


"Adeeva."


"Ya?"


"Kira-kira dua minggu lagi kondisi kamu udah bisa diajak ke luar kota kan?" tanya Arkan tiba-tiba, membuat gue langsung menjauhkan tubuh gue darinya.


Kedua mata gue menerjab beberapa kali, sambil tetap menatap Arkan. Sementara Arkan sendiri hanya mengernyit heran. Seolah sedang bertanya ada-yang-salah- dengan-pertanyaanku? Padahal menurut gue emang beneran ada yang salah.


Itu maksudnya apa?


"Mau ke mana?" tanya gue spontan.


"Semarang."


"Ngapain?"


"Lamar kamu secara resmi. Resmi dalam artian resmi yang sesungguhnya."


Bulu mata gue kembali menerjap. "Yang kemarin itu belum resmi?" tanya gue sambil memandangnya heran.


Arkan terkekeh sambil mengusap bahu gue pelan. "Yang kemarinkan baru minta izin, belum ngajak Papa, Mama, sama keluarga yang lain buat lamar kamu."


"Kamu serius mau nikah sama aku?" tanya gue tak yakin.


Tanpa keraguan Arkan mengangguk. "Emang kelihatannya aku nggak serius?"


Mana gue tahu, kalau ekspresi situ nggak ada bedanya kalau ngomong serius atau bercanda.


"Kamu ngomong serius sama bercanda suka nggak ada bedanya," gerutu gue sambil memanyunkan bibir.


Arkan tersenyum, kemudian makin mendekatkan rangkulannya. "Itu kan dulu, sekarang kan udah beda."


"Agak," koreksi gue cepat.


"Iya, agak beda. Jadi gimana? Udah kuat kan?" tanya Arkan, kembali ke topik awal.


Gue tidak langsung menjawab, bukan karena ragu fisik gue nggak kuat buat melakukan perjalanan ke luar kota, yang sebenarnya hanya ke Semarang. Tapi keraguan gue lagi-lagi tentang kesiapan mental gue untuk dipersunting Arkan. Tentang masa lalu Arkan yang emang beneran udah bisa gue terima atau belum.


"Dua minggu bukannya kecepetan?"


"Oh, ya udah, nggak papa kalau emang belum--"


"Bukan itu," potong gue cepat.


Gue kemudian menggeser tubuh gue sedikit membuat rangkulan tangan Arkan otomatis terlepas. Tangan gue kemudian terulur, meraih tangan Arkan.


"Aku mau jujur, Ar."


Dengan wajah tenangnya Arkan mengangguk. "Katakan! Aku akan denger."


Gue memandang kedua bola matanya ragu. "Tapi kamu jangan marah."


Arkan kemudian meremas tangan gue sambil mengangguk, meyakinkan gue agar mengatakan apa pun yang sedang mengganggu gue saat ini.


"Enggak. Sekalipun kamu mengatakan kalimat yang mungkin akan membuatku kecewa aku akan berusaha untuk nggak akan marah," ucap Arkan yakin.


"Kenapa begitu?"


"Karena dimarahin itu nggak enak, Adeeva."


Tanpa sadar gue tersenyum, dan kembali memeluk pinggangnya sekali lagi.


"Udahan pelukannya, enggak enak kalau dilihat orang. Nggak sopan."


Gue kembali tersenyum. Lupa gue kalau kita ini lagi di gazebo halaman kostan.


Gue kemudian melepas pelukan kami dan menggeser tubuh gue agak menjauh sedikit darinya.


"Ar, kamu serius mau ngalamar aku dua minggu lagi?"


"Ya, kalau kondisi kamu udah siap dan kamu nya mau, aku serius mau ngelamar kamu dua minggu lagi," jawab Arkan sambil mengangguk yakin.


"Kalau aku jawab aku belum siap, kamu tetep enggak akan marah?"


Arkan tidak langsung menjawab, ia menoleh ke arah gue dengan kerutan di dahinya.


"Kenapa aku harus marah cuma karena kamu belum siap?" kini giliran Arkan yang bertanya. "kesiapan orang beda-beda, Adeeva. Kalau kamu belum siap, ya udah, kita undur. Aku nggak masalah dan nggak akan marah. Pernikahan bukan hanya menyatukan kita saja, tapi keluargaku dan keluargamu juga. Ada banyak hal yang memang harus dipertimbangkan, apalagi dengan masa laluku yang... ya, sedikit rumit itu."


Perasaan gue mendadak nggak enak kalau Arkan udah merendahkan diri karena masa lalunya begini.


"Adeeva," panggil Arkan sambil meraih kedua tangan gue.


Gue langsung menoleh ke arahnya. Kedua bola mata itu menatap gue dengan intens. Tatapan mata yang selalu membuat gue lupa diri dan terjerat akan pesonanya yang luar biasa ini. Yang selalu membuat gue berpikir betapa beruntungnya gue karena berkesempatan untuk memilikinya.


"Apa ini ada hubungannya dengan masa laluku?"


Dengan ekspresi takut gue mengangguk pelan. Dan di luar dugaan gue, bukannya marah Arkan justru tersenyum sambil membelai rambut gue penuh kasih sayang.


Eh, maksudnya?


"Maaf kalau aku terlalu terburu-buru dan memaksakan--"


"Enggak, Ar, bukan gitu maksud aku. Aku--"


"Adeeva, dengerin aku!" Arkan kembali memotong kalimat gue.


"Kamu nggak perlu merasa bersalah, Adeeva. Kita kemarin memang terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan, padahal kita sedang tidak dikejar apapun. Aku setuju aja kalau kamu mau acara lamaran ini ditunda dulu dalam waktu yang tidak ditentukan. Itu pun kalau kamu memang menginginkannya."


"Kamu serius?"


Arkan mengangguk yakin. "Nikah buru-buru padahal yang satu belum siap terdengar lebih buruk ketimbang ditanya kapan nikah, Adeeva."


Gue menunduk sambil memainkan cincin berlian pemberian Arkan. "Tapi kamu udah kasih aku ini," guman gue bersalah.


Dengan gerakan tiba-tiba, Arkan meraih tangan gue dan melepaskan cincin itu dengan wajah santainya. Membuat gue melongo karena terkejut sekaligu agak sakit ati. *****, itu barusan maksudnya apaan?


"Kalau kamu merasa terbebani pake cincin ini, mending kamu lepas," ujar Arkan, masih dengan ekspresinya yang tadi. Tidak ada perasaan bersalah sama sekali. Ia kemudian meraih tangan dan meletakkannya di telapak tangan gue, "terus kamu simpen dulu. Kamu bisa pake saat kamu udah siap," lanjutnya kemudian.


Masih diliputi keterkejutan, gue memandang Arkan tak yakin, lalu memandang cincin pemberian Arkan. Memandang Arkan sekali lagi lalu memandang cincin pemberian Arkan. Gue melakukannya sampai berulang-ulang, membuat Arkan tiba-tiba terkekeh geli.


"Kenapa ketawa?" tanya gue heran. Wajah gue terangkat, menatap wajahnya tersinggung.


"Karena kamu lucu."


"Lucu kamu bilang?" tanya gue sewot.


"kamu tahu, aku berasa kamu putusin loh, dan sekarang kamu ketawa dan ngatain aku lucu?" gue memandang Arkan dengan ekspresi tak terima.


"Bukan ngeledek," koreksi Arkan.


"Terus?" desak gue.


"Muji. Lagian siapa juga yang mutusin kamu. Kamu aja yang su'udzon, kita masih tetep in relationship kok. Enggak ada yang berubah, cuma bedanya kamu nggak pake cincin pemberian aku dan aku tunda buat lamar kamu. Udah itu aja."


Buset. Macam nggak ada beban banget ngomongnya, cuyyy. Gue aja rasanya udah puyeng gimana jelasin sama Ayah, Ibu, dan yang lain. Ntar, kalau ditanya, 'kamu udah putus sama Arkan?' gue mau jawab apa, 'enggak putus, cuma batal nikah dalam waktu dekat' kok kedengarnnya nggak enak banget jawabannya. Aneh.


"Masalah Ayah sama Ibu biar aku yang urus."


Arkan tiba-tiba merangkul bahu gue dan mengelusnya, berusaha memberikan ketenangan, yang sayangnya sama sekali nggak bikin gue tenang.


"Ngomong-ngomong, kamu nggak penasaran kemarin aku ngapain aja sama Aurine?" tanya Arkan, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Dan sialannya yang dibahas malah sesuatu yang sengaja nggak ingin gue bahas.


"Bukan urusanku," ketus gue.


"Kamu marah?"


"Enggak."


"Cemburu pasti? "


"Enggak."


"Masih napas?"


"Engga... masih lah," sewot gue galak.


"Katanya enggak," goda Arkan sambil tertawa.


"Bodo amat," ketus gue lalu melepas jasnya dan melemparkan pada Arkan.


Gue kemudian berdiri dan bersiap masuk ke dalam kamar, namun ditahan Arkan.


"Aku mencintai kamu tanpa perasaan menggebu-gebu, Adeeva. Aku ingin memiliki kamu di waktu yang tepat, bukan di waktu yang cepat. Aku pun menuruti keinginanmu bukan karena aku ingin jadi budak cinta, tapi karena aku menghargai keputusanmu. Mila dan Aurine akan tetap ada di hatiku, bukan karena aku masih mencingai Mila, tapi karena Mila adalah Ibu dari anakku. Sedangkan kamu tidak hanya di hatiku tapi juga ada di pikiran dan juga hidupku. Terima kasih karena mau belajar menerimaku beserta masa laluku. Sekarang kamu bisa masuk dan istirahat."


Cekalan tangan Arkan perlahan mengendur, dan gue akhirnya memutuskan untuk berbalik.


"Aku juga akan belajar mencintaimu tanpa perasaan menggebu. Agar keputusan yang kita ambil tidak akan menyusahkan kita nantinya. Bantu aku nurunin kadar cinta yang kebesaran ini, ya?"


"Heh?"


Arkan memandang gue dengan ekspresi bingungnya, namun kemudian tersenyum saat gue mengulurkan tangan gue. Dengan senang hati ia menyambut tangan gue dan membimbing gue menuju rumah ta... Oh, oh, salah, maksud gue menuju kamar. Hehe.....


*****



❀ Arkana_Narendra dan 1211 lainnya menyukai foto anda


Adeeva_Eva aku hanya melepas cincinnya, bukan perasaan ini. Mari kita saling mencintai tanpa perasaan menggebu-gebu lagi. Alon-alon penteng kelakon, love you so muaccchhhhhh😘😘😘😘 to@Arkana_Narendra. Terima kasih untuk semuanyaaaaaa


Komentar telah dinonaktifkan


****


End.


End???


Iya, end. Udah kelar.


Loh, masa gitu aja thor?


Ya, mau gimana lagi emng?


Kasih happy ending dong, ah, gk seru bgt sih.


Mau happy ending?


Mauuuu


Iya, nanti di sequelnya. Tungguin aja ya, tanggal 1 februari 2020 saya up πŸ€—πŸ˜šπŸ˜š