
####
"Sudah siap?" tanya Bang Ferdi saat aku turun dari mobil.
Aku mengangguk mantap sambil merapihkan jas kokoku. Tak lama setelahnya kami sekeluarga beserta rombongan memasuki halaman rumah Adeeva. Acara ijab qobul dan resepsi memang diadakan di rumah Adeeva, pihak keluarga mertuaku memang tidak menyewa gedung, karena halaman rumah mereka cukup luas.
Kami langsung dipersilakan duduk di kursi yang sudah dipersiapkan. Selagi menunggu penghulu dan juga Adeeva selesai dirias. Sepuluh menit duduk dengan didampingi oleh Ardian, penghulu datang. Aku langsung berdiri dan menjabat tangan beliau, lalu kami mengobrol sebentar. Tak lama setelahnya, Adeeva muncul didampingi oleh Karin dan Listi, istri Agung.
Adeeva tampak cantik dan juga anggun dengan kebaya putihnya. Aku bisa merasakan jatungku mendadak berdegup dengan kencang saat melihatnya.
"Bisa langsung kita mulai Mas Arkana?" tanya Pak penghulu.
Aku tersentak kaget, lalu menoleh ke arah penghulu, yang kini sedang terkekeh geli. Aku kemudian mengangguk canggung, meski tidak begitu yakin dengan pertanyaan yang ditanyakan oleh Pak penghulu.
"Bagaimana Pak Hari? Mau dinikahkan sendiri atau diwakilkan?" tanya Pak penghulu.
"Saya nikahkan sendiri, Pak."
"Baik, silahkan!"
"Saudara Arkanan Narendra bin Hito Sanjaya!"
"Ya, saya."
"Saya nikahkan anda dengan anak perempuanku Adeeva Fatya binti Hari Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Adeeva Fatya binti Hari Gunawan, putri bapak untuk saya sendiri dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Sah!!"
"Alhamdulillah."
Setelah ijab qobul selesai kuucapkan, penghulu memimpin doa. Lalu setelahnya kami menandatangani buku nikah. Ini artinya kami sudah sah menjadi suami-istri secara hukum dan agama. Setelah buku nikah selesai kami tanda tangani, aku menyerahkan mahar seserahan secara simbolilis lalu dilanjut dengan tukar cincin dan Adeeva yang mencium punggung tanganku.
"Assalamualaikum, Mas suami," bisik Adeeva sambil terkekeh geli saat mencium punggung tanganku.
Aku speechless, dan sangat ingin tertawa saat mendengarnya. Namun sebisa mungkin aku menahannya. Aku kemudian berdehem lalu mencium dahinya.
"Wa'allaikumussalam, istriku," balasku sambil berbisik. Lalu kami tertawa kecil setelahnya.
Yes, akhirnya aku resmi menikah! Adeeva jadi istriku dan aku jadi suami Adeeva. Ah, senang sekali rasanya.
######
"Mas, mau makan sama apa?"
"Ha?"
Aku melongo. Aku tidak salah dengar? Adeeva memanggilku Mas? Ia menepati janjinya?
"Ditanya kok malah bengong?"
"Tadi kamu tanya apa barusan?"
Adeeva berdecak sambil menatapku datar. "Aku tadi tanya, kamu mau makan sama apa, Mas? Ini sebentar lagi kita harus siap-siap untuk acara resepsi loh."
Aku tersenyum senang sembari menopang daguku. "Bisa kamu ulangi manggil aku, Mas?"
"Mas!"
Aku terbahak puas saat mendengar nada peringatan darinya. Kemudian memeluknya untuk meredakan emosinya. Katanya dia hampir mendekati tanggalnya. Jadi, aku harus lebih was-was. Semoga saja si merah tidak muncul di waktu yang tidak tepat.
"Apa aja deh, aku nggak pilih-pilih kan. Apa yang kamu bawa aku makan," jawabku kemudian.
Adeeva mengangguk paham lalu melepaskanlah pelukanku dan keluar kamar. Aku kemudian keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.
Di bawah aku menemukan Ardian sedang duduk sendirian di sofa. Ia terlihat seperti sedang menghubungi seseorang, namun seseorang itu tidak menjawabnya.
"Telfon siapa, Ar? Kok kayaknya serius amat."
"Temen, Mas," jawab Ardian, masih dengan usahanya menghubungi seseorang itu.
"Bukan. Gue ada pacar kok."
Aku mengernyit bingung. "Bentar, jadi ini yang lo hubungi temen lo apa pacar lo?"
"Temen," jawab Ardian singkat.
"Adik ipar kamu aneh, Mas. Sama pacarnya biasa aja, tapi kalau sama temennya posesifnya ngalahin kamu," celetuk Adeeva tiba-tiba muncul dan duduk di sebelahku. Ia kemudian menyerahkan sepiring nasi beserta lauk pauk kepadaku dan meletakkan segelas air putih di atas meja.
Aku menerimanya sambil tersenyum, tak lupa mengucapkan terima kasih setelahnya. "Kamu nggak makan?" tanyaku tanpa menoleh ke arah Adeeva. Pandanganku kini fokus pada Ardian yang sibuk menghubungi entah siapa itu dengan perasaan gelisah.
"Udah tadi," jawab Adeeva.
"Itu yang ditelfon temennya cewek apa cowok?"
"Cewek."
Aku mangguk-mangguk sambil ber'oh'ria. "Pantesan."
"Di--"
"Sialan! Ini ke mana sih orang? Kebiasaan pasti nggak nge-cass hape pasti."
"Kalau udah tahu itu kebiasaannya kenapa lo misuh-misuh?" sindir Adeeva.
"Dia lagi flu, Mbak. Kemarin pas gue telfon batuk-batuk, suaranya juga kayak bindeng gitu. Gue jadi khawatir."
"Lo masih sama yang waktu itu?"
"Gue nggak ada alasan buat mutusin dia, dan dia cinta sama gue. Terus kenapa kita musti pisah?"
Di luar dugaanku, Adeeva tiba-tiba melempari adiknya menggunakan bantal sofa. "Eh, dodol! Lo itu cintanya sama Alin, kenapa pacarannya sama yang lain?" serunya kesal.
"Alin nggak cinta sama gue, ya udah gue cari yang lain lah."
Adeeva menghela napas lalu meraih piring kotorku. "Dasar bego!" umpatnya kesal, ia kemudian melirikku. "Mau nambah apa udahan?"
"Udah, udah kenyang. Agak kebanyakan sih sebenarnya, lain kali kalau mau ambilin, kurangin dikit, ya."
"Hmm."
Adeeva mengangguk lalu meninggalkanku menuju dapur. Sedangkan aku kembali naik ke lantai atas, menuju kamar Adeeva. Eh, salah, kamar kami maksudnya.
"Mas, jangan tidur! Abis makan juga," decak Adeeva sambil menepuk pipiku pelan.
Aku secara spontan membuka kedua mataku. "Kok tangan kamu kayak anget sih? Coba deh sini aku cek."
"Pusing."
"Eh? Sakit?"
"Enggak, cuma agak pusing dikit. Tapi aku tadi udah minum paracetamol kok. Udah, ya, aku tinggal. Aku dirias di kamar sebelah kalau seumpama nyariin."
"Yakin nggak papa?" tanyaku ragu.
Adeeva tersenyum sambil mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya. "Jangan kangen, ya!"
"Iya."
**Tbc,
huaaaa, ku terharu dengan komen kalian. beneran nangis aku masa ππππ malu, pengen ngumpet aja. pokoknya thanks buat dukungan semuanya tanpa terkecuali. mon maap klo aku terlalu melankolis di part sebelumnya, lagi-lagi si merah mengambil semua kendali πππ lemah iman aku sama si merah. gk bisa apa-apa klo sama dia.
meski belum terlalu percaya diri, aku mau ngelanjut deh π klo berani ππ doain semoga semangatku kembali membara seperti tahun-tahun sebelumnya.
ps:rencana inu part aku publish semlm tapi ternyata aku ketiduran sebelum teken tombol lanjut buat ngepublish ini part ππ pokoknya tengkiyu buat klian semua, sudah berkenan membaca cerita gajeku. yah, aku tahu ceritaku banyak kurangnya. bahkan aku gk tahu di mna letak lebihnya π
see you next part π€π€π€πππππ
sekali lagi maafkan sikap melankolisku kemarin, baru nyadar, keknya kmren aku berlebihan deh πππ merah, oh, merah. kenapa gini-gini amat kau memporapondakan hidupku. huaaaa, malu banget aku. kaborrrr πππππ