
######
"Mas, nggak usah pamer skill bisa makan nyambi kerja deh. Aku banting juga iPad kamu, ya, lama-lama!"
Aku tersenyum senang saat mendengar ancaman Adeeva. Itu tandanya, sesi ngambeknya sudah selesai. Ia memang paling membenci saat aku melakukan pekerjaanku di meja makan dan kegiatan makan sedang berlangsung, meski yang kulakukan hanya sekedar membuka e-mail seperti barusan. Buru-buru aku langsung memasukkan iPad-ku ke dalam tas, mengangkat piringku dan menyerahkannya pada Adeeva.
"Cuma buka email, yang."
"Apapun itu," balas Adeeva ketus.
Ia kemudian langsung menerima piring yang kusodorkan, lalu mengisinya dengan sayur bening dan lauk pauk. Awal-awal menikah, jujur aku sedikit keberatan dengan menu sarapan yang dibuatnya, tapi lama kelamaan, untungnya aku mulai bisa menyesuaikan diri.
"Udah nggak marahan kan ini?"
"Emang siapa yang marah? Bukannya situ? Yang pergi gitu aja kan situ." Adeeva melirikku sinis, nada bicaranya terdengar masih ketus.
"Tapi yang teriak-teriak kamu," balasku tak mau kalah.
Adeeva mendengkus keras. "Aku nggak akan teriak-teriak kalau kamu nggak mendadak belain mantanmu," gerutunya terlihat kesal.
Aku menggaruk-garuk kepalaku. Aku pikir dia sudah tidak marah, tapi melihat wajah kesalnya sekarang sepertinya ia masih cukup kesal.
"Mas, sekarang jawab jujur deh! Kamu nyesel ya nikahin aku?" tanya Adeeva tiba-tiba.
Aku meradang. Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu setelah apa saja yang kami lalui bersama?
Aku memejamkan kedua mataku, guna meredam rasa kesalku. Kedua tanganku mencengkram ujung garpu dan sendok dengan kuat.
"Adeeva, apa aku terlihat semudah itu? Apa aku menunjukkan tanda-tanda kalau aku tidak berbahagia ngejalani pernikahan ini?"
Adeeva menghela napas berat. "Maaf, aku cuma agak kesal kalau inget," lirihnya pelan.
Ya, itu wajar. Sangat wajar malah. Aku tidak bisa memaksakan dirinya untuk bisa langsung menerima semua ini dengan lapang dada, bagaimana pun juga, semua ini tidaklah mudah.
"Maaf udah bikin kamu kesal," ucapku tulus.
Aku meraih telapak tangannya yang menganggur, lalu mengelusnya perlahan.
"Mas."
"Kamu pasti banyak menderita. Maaf, belum bisa jadi sesuai yang kamu inginkan. Aku sudah berusaha yang terbaik, belajar peka dan lainnya. Tapi, ternyata semua tidak semudah yang aku bayangin." Aku menatap wajah Adeeva penuh penyesalan. "Maaf, belum aku masih sering kali mengecewakan. Dan untuk semalam pas aku ninggalin kamu, semua itu ada alasannya."
"Kenapa?" Adeeva membalasku dengan tatapannya yang mulai melembut.
Aku akui, setelah menikah, ia mulai merasakan perubahan terhadap dirinya. Bukan perubahan hal buruk, melainkan perubahan hal baik, kalau menurutku. Ia benar-benar memerankan sosok istri idaman yang penuh pengertian maupun perhatian. Kurasa menikah dengan mempersiapkan kesiapan mental benar-benar bisa menjadi salah satu poin penting untuk memutuskan sebuah pernikahan.
"Aku pikir kalau aku tetap di sana semalem, mungkin pagi ini kita belum tentu bisa duduk berhadapan dan ngobrol begini. Maaf, kalau aku bertindak sesuka hatiku sendiri tanpa tahu gimana terlukanya kamu pas aku tinggalin."
"Iya, nggak papa. Kita pasangan baru, Mas, wajar. Kita masih belajar untuk memahami satu sama lain, semua orang punya caranya sendiri untuk meredam emosi mereka. Aku hargai tindakan kamu kemarin, mungkin benar, kalau aja semalem kamu tetap di sana. Pagi ini, kita belum tentu bisa begini."
"Hmm, terima kasih. Aku senang kamu penuh dengan pengertian."
"Mas, pernikahan itu bukan hanya tentang komitmen dan tanggung jawab. Bukan hanya bertujuan untuk apa dan berani mengambil resiko. Tapi juga harus mampu memperkecil ego dan memperbesar sabar. Aku cuma pengen kita menjalani pernikahan dengan baik, menjadi istri dan ibu yang baik juga kelak. Kita hanya perlu bekerja sama untuk itu."
Aku mengangguk setuju dan langsung menghampirinya dan memeluknya erat. Betapa beruntungnya aku menikahi perempuan ini ya Tuhan. Terima kasih telah memberi kesempatan.
"Bijak juga kata-kata kamu barusan, dapet dari mana? Quote Instagram?"
Aku berdiri pindah ke bangkuku tadi, kembali melanjutkan makanku yang sempat tertunda.
"Dari seseorang."
Aku mengernyit sesaat, merasakan nada bicaranya yang terdengar sedikit berbeda. Aku kemudian mengangkat wajahku dan menatap wajah Adeeva serius. Ekspresinya berubah cerah, membuatku curiga terhadapnya.
"Kenapa sama ekspresi kamu? Siapa seseorang yang kamu maksud itu?"
"Ada lah, kamu nggak usah tahu. Nanti kamu cemburu lagi."
Kedua mataku sontak melebar. Dengan kesal, aku membanting sendok dan garpuku. Kita baru saja berbaikan dan sekarang ia sudah memancing emosiku?
"Jangan bilang, dia si duda itu?" seruku kesal.
Entah kenapa aku mendadak ingat dengan pria itu. Ah, ini benar-benar menjengkelkan.
"Kenapa?"
Aku mendengkus keras saat mendapati ekspresi Adeeva, yang terlihat sedang menggodaku.
"Adeeva, bercandaan kamu nggak lucu, ya?"
"Siapa yang bilang?" seruku semakin kesal.
"Aku," balas Adeeva santai.
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, memicingkan mata dan meliriknya sinis. "Lagi bales dendam?" sindirku kesal.
"Dikit."
"Oke, tunggu aja pembalasanku nanti malem. Aku jamin, besok kamu nggak akan masuk kerja."
"Mas!!"
######
Aku menggenggam telapak tangan Adeeva yang terasa sedikit berkeringat. Wajahnya terlihat sangat gugup, beberapa kali aku mendapatinya sedang mengigit ujung kukunya. Hari ini adalah hari di mana kami akan bertemu dengan Milla dan Aurine, jelas saja ia gugup. Aku pun demikian. Ah, bagaimana kalau Aurine tidak nyaman dengan kami berdua nanti, apa yang akan kami lakukan? Semakin dipikirkan, rasanya membuatku semakin gugup.
"Rasanya lebih tegang ini ketimbang pas ijab qobul kemarin, ya, Mas," celetuk Adeeva.
Aku menoleh ke arahnya, lalu mengangguk tanpa sadar. Kurasa memang benar, rasanya memang terasa lebih menegangkan.
"Ren, sorry telat, tadi Daisy agak rewel, nggak mau ditinggal jadi harus pake acara dibujuk dulu."
Aku mengangguk tak masalah lalu menjawab tangan Milla. "Kenapa nggak diajak aja?" tanyaku berbasa-basi.
"Ribet, kita kan perlu ngobrol. Daisy lagi aktif-aktifnya, nggak betah kalau disuruh duduk diem. Jadi mending ditinggal."
Tatapan mataku kemudian beralih pada Aurine. Dia benar-benar tubuh besar tanpaku. Benar, aku hanya Ayah biologisnya, secara hukum dan kenyataan William tetap Ayah bagi Aurine.
"Is he the father you told me?"
Aku tercengang.
"Ya, dia Ayah kandungmu," jawab Milla.
Aku menatap Milla penuh tanya. Lalu Milla menyuruh Aurine mencium punggung tanganku.
"Lalu Tante ini? Istrinya Ayah atau masih pacarnya?" Aurine bertanya dengan wajah tenangnya. Tidak ada raut kesal pun dengan kebencian. Sepertinya, Milla membesarkan putri kami dengan baik.
"Iya, dia istrinya Ayahmu. Ayo salim dulu. Nggak boleh nakal, ya, nanti!"
Aurine mengangguk lalu mencium punggung tangan Adeeva.
"Aurine," jawab Aurine dengan percaya diri.
"Nama Tante Adeeva, panggil Tante Eva. Oke?"
Adeeva dan Aurine hanyut dengan obrolan mereka. Keduanya cepat akrab, padahal denganku tidak. Mungkin karena Adeeva pandai mencari obrolan. Aku membiarkan kedua asik dengan obrolan mereka. Pandanganku lalu beralih pada Milla.
"Dia nggak sengaja denger pertengkaran kami," cicit Milla dengan perasaan bersalahnya.
Aku mengajaknya duduk di meja sebelah. Biar Adeeva dan Aurine saling mengenal, sedang aku bisa bicara empat mata dengan Milla. Aku merasa ada yang aneh di sini.
Aku menatap Milla tajam. "Kenapa bisa?" tanyaku tak percaya. Ini tidak seperti dia yang biasanya aku kenal.
"Aku hilang kendali."
"Maksudnya kamu bertengkar di depan Aurine?" tebakku ragu-ragu.
Aku sangat berharap kalau tebakanku tidak benar.
Namun, di luar dugaan Milla mengangguk dengan wajah sedikit menunduk. "Bahkan Daisy juga ada."
"Apa?!" Aku semakin tidak percaya.
"Aku hilang kendali, Ren, aku marah dengan Will."
"Tunggu sebentar! Kamu mengambil keputusan untuk bercerai dengan Will, setelah tahu kebenarannya kan? Ini nggak berdasarkan asumsi kamu sendiri."
"Aku ada buktinya, Ren."
"Apa, apa bukti yang kamu miliki?"
"Ada seseorang yang mengirimkan foto mesranya dengan selingkuhan itu." Ekspresi Milla terlihat penuh amarah dan dendam.
"Kamu sudah bertanya pada Will?"
Milla mengangguk.
"Dan dia mengakuinya?"
Milla menggeleng. "Dia mengelaknya, dia terus ngebantah kalau dia berselingkuh. Tapi meski dia terus ngelak, dia pikir aku percaya.
Aku langsung mendengkus keras sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya.
"Kamu nggak percaya sama suami kamu, pria yang sudah kamu nikahi selama tujuh tahun dan lebih memilih untuk percaya sama foto yang bahkan kamu sendiri belum terlalu yakin akan kebenarannya?"
"Aku... itu... tapi foto itu terlalu nyata, Ren."
"Sekarang zaman semakin canggih, Mil, jangan kayak perempuan bodoh yang gaptek deh."
Aku benar-benar kesal, dan ingin sekali memarahinya habis-habisan. Astaga, bagaimana bisa dulu aku sempat, nyaris tergila-gila padanya.
"Tapi dia mengakui kalau itu memang dirinya," ucap Milla buru-buru menimpali.
"Dan dia mengakui telah melakukannya?"
Milla menggeleng dengan wajah paniknya. Aku menghela napas dan menoleh pada meja sebelah, di mana Aurine dan Adeeva sedang asik mengobrol. Entah apa yang sedang mereka obrolkan, tapi terlihat sekali kalau keduanya saling menikmati obrolan mereka. Ini aneh. Aurine terlihat begitu antusias mendengar Adeeva bercerita, lalu sesekali mereka tertawa bersama. Melihat keduanya cepat akrab begitu, mendadak hatiku menghangat. Sepertinya Adeeva sudah sangat cocok jadi Ibu.
"Ren, semua salahku lagi, ya?"
Aku kemudian mengalihkan pandanganku dari Adeeva dan kembali beralih pada Milla.
Aku menghela napas panjang. "Katanya pertengkaran dalam sebuah hubungan rumah tangga itu tidak terlalu penting siapa yang paling salah dan siapa yang paling benar. Semua tentang sudut pandang, Mil. Yang penting sama-sama memperbaiki kesalahan. Itu katanya sih, aku juga masih baru sih, jadi belum terlalu paham juga."
"Ren, aku harus bagaimana?"
"Bicarakan baik-baik dengan Will, cari tahu kebenarannya baru ambil keputusan."
"Kalau aku tahu kebenarannya dan tidak jadi ingin bercerai, apa aku terlihat seperti orang jahat? Aku udah ngeraguin Will, Ren."
Aku tersenyum mengejeknya. "Kamu memang jahat dari dulu, Mil. Punya kekasih kok berani-beraninya godain anak perjaka orang." Aku berniat menggodanya agar Milla tidak bersedih.
Hal yang sering kali Adeeva lakukan kalau aku sedang pusing dengan kerjaan atau lainnya. Namun, di luar dugaan, Milla malah tambah bersedih sekaligus bersalah.
"Sorry, Ren, aku nyesel."
Aku menggaruk-garuk kepalaku salah tingkah. "Sorry, aku tadi niatnya mau bercanda biar kamu nggak terlalu sedih begini, Mil. Sorry deh, kalau candaan aku kelewatan."
Milla tersenyum masam. "Tapi ada benernya juga kan? Aku emang jahat, kare--"
"Udah lah, udah jadi masa lalu ini. Yang lalu biar lah berlalu, Mil, nggak usah kebanyakan dilirik. Kalau keseringan nengok ke belakang, sesekali aja, fokusin pada tujuan di masa depan. Oke?"
Kali ini Milla tertawa kecil. "Untuk sekarang, aku kayaknya udah percaya deh kalau segala sesuatu itu pasti berubah."
Keningku mengernyit tak paham. "Maksudnya?"
"Kamu sedikit berubah."
Setelah paham, aku kemudian tertawa. "Banyak, Mil, banyak yang berubah. Kadang aja aku sampai nggak percaya," akuku jujur.
"Kayaknya kalau yang ini bukan karena Aurine deh," tebak Milla.
Aku mengangguk, membenarkan. "Ya, kayaknya gitu." Pandanganku kemudian beralih ke Adeeva dan Aurine.
"Aku seneng kamu udah nemuin she is the one kamu. Titip Aurine, ya, selama aku ngurus masalahku dengan Will."
"Ya, thanks buat kesempatannya."
"Kamu berhak mendapatkannya, Ren. Setidaknya, kalian harus saling mengenal dan memahami. Sebenarnya, sedikit banyak, dia mirip sama kamu. Tapi, karena dia lebih sering menghabiskan waktu dengan Will, ia jadi terlihat lebih mirip dengan Will."
Aku mencoba maklum. "Ya, biasanya anak lebih sering niruin apa yang orang tuanya bukan?"
"Ini bisa jadi kesempatan kamu buat memperbaiki hubungan kamu dengan Aurine, Ren. Dia anak yang cedas dan tanggap. Kamu mungkin akan sedikit kewalahan menjawab semua pertanyaan yang ia ajukan. Terkadang, ia bertanya hal-hal yang sangat tidak terduga." Milla memperhatikan putrinya berinteraksi akrab dengan Adeeva sambil tersenyum. "Tapi aku rasa, istri kamu mampu mengatasinya. Mereka terlihat akrab."
Aku mengangguk setuju, Adeeva dan Aurine terlihat akrab memang. Jauh dari perkiraan kami. "Tapi aku khawatir akan sesuatu."
Milla menoleh ke arahku. "Apa?"
"Aku takut Aurine lebih memilih untuk akrab dengan Eva ketimbang aku."
**Tbc,
yuhuuuuuu, kumbek kumbek
mon maap, gk up dua hari. iya, ya, udh gk up dua hari, ada yg ngerasa kangen gk sih? π mon maap ya, karena sesuatu hal aku akhirnya nunda-nunda nulis dan gk up up deh.
udah gitu aja, gk akan curcol aku. minta doanya aja semoga mbk milla gk jadi cerai ya sama lakinya. kasian aurine deh kalo mereka jadi cerai. udh gitu aja.
see you next part, jangan lupa jaga kesehatan ππππππππ**