Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |4| Mengakui Masa lalu



\=\=\=\=\=\=


Setelah pertengkaranku dengan Adeeva kemarin, aku mulai memikirkan banyak hal. Termasuk tentang permintaan Adeeva yang memintaku untuk memberitahukan kebenaran tentang masa lalu burukku. Jujur, saat ini aku cukup galau harus bercerita pada siapa. Maksudnya begini, masalahku cukup rumit, dan tidak sembarang orang bisa aku ceritakan tentang masalah ini. Sahabat karibku yang benar-benar akrab denganku, semuanya tidak tinggal di Jakarta, kebanyakan dari mereka tinggal di Semarang dan luar Jawa.


Ingin memberitahu Bang Ferdi, jelas itu bukan ide yang bagus. Bang Ferdi meski memang lebih sering memiliki saran yang bagus dalam mengatasi masalah, tapi dia tipekal pria yang temperamental. Aku yakin seratus persen, dia pasti akan menghajarku habis-habisan, minimal sampai aku patah tulang, baru dia berhenti. Terdengar mengerikan, ya, tapi memang begitulah Bang Ferdi. Dia itu agak keras, apa-apa pake emosi, dikit-dikit bawaannya pengen nonjok kalau ada sesuatu hal yang membuatnya kesal.


Irin?


Itu jelas ide yang sama buruknya. Sifat keduanya tidak jauh beda karena mereka bersaudara.


Damian?


Sepertinya itu ide yang bagus. Mengingat umur kami yang seumuran, dan dia tipekal pria agak tenang namun lumayan bijaksana dalam menyikapi masalah. Yah, meski kalau menghadapi Irin, dia mendadak jadi suami takut istri sih. Tapi, ide untuk curhat ke Damian sepertinya jauh lebih baik ketimbang aku pusing sendiri.


Setelah memantapkan diri, aku kemudian berdiri dan menyambar kunci mobilku dan bergegas turun ke lantai bawah. Saat tiba di lantai bawah, aku berpapasan dengan Mama.


"Mau kemana malam-malam begini? Ngapel?" tanya Mama mencegatku.


"Enggak. Mau ke rumah Irin."


"Ngapain? Ini sudah malam lho, lagian ini malem jumat."


"Naren berani kok, Ma, nggak takut hantu. Naren kan beriman, punya Allah."


Mama berdecak gemas. "Bukan itu yang Mama maksud, tapi--ah, kamu ini. Meski belum menikah masa nggak ngerti sih, kamu ini kan sudah tua, Ren, harusnya paham maksud Mama."


Apaan sih Mama ini?


Aku kemudian menggeleng tidak perduli dengan kalimat yang Mama ucapkan. Langsung memilih mencium punggung tangan Mama dan buru-buru keluar rumah. Mengabaikan teriakan Mama yang menyuruhku untuk datang ke rumah Irin besok saja. Bagaimana bisa besok, kalau kenyataannya aku butuh sarannya sekarang?


Tanpa membuang waktu, aku kemudian langsung masuk ke dalam mobil dan memacunya menuju kediaman Irin. Sesampainya di rumah Irin, rumahnya terlihat sepi. Namun meski begitu, aku tidak peduli. Aku tetap turun dari mobilku dan langsung memencet bell tanpa ragu. Butuh waktu hampir lima belas menit lamanya, baru akhirnya gerbang dibuka oleh satpam.


Dalam hati aku langsung berdecak. "Ada satpam tapi bukain gerbang harus nunggu selama itu?" batinku sambil menggeleng miris.


"Eh, Mas Arkan? Masuk-masuk, Mas!" sambut pak Tarno, "Maaf, Mas, tadi saya ketiduran. Jadi, lama. Mau dimasukin sekalian mobilnya atau dibiarin di luar?"


"Masuk saja, Pak," kataku lalu masuk lagi ke dalam mobil.


Lalu Pak Tarno membukakan gerbang lebih lebar, agar mobilku dapat masuk ke dalam. Setelah mobilku terparkir di halaman rumah Irin, aku langsung turun mengetuk pintu rumahnya. Hampir lima menit menunggu, tapi aku tidak juga dibukakan pintu. Aku mendesah jengkel, lalu mengeluarkan ponselku dari kantong celana, mencari nomor ponsel Irin dan langsung menelfon adik bungsuku itu, tapi lagi-lagi diabaikan. Aku kemudian melirik jam rolex-ku, waktu masih menunjukkan pukul 21.35, belum terlalu larut malam untuk ukuran Irin yang memang biasanya tidur larut. Aku memutuskan kembali menelfon Irin, yang akhirnya, kali ini dijawab olehnya.


"Apa sih, Kak?" sambut Irin, saat sambungan terhubung, "nganggu aja sih," gerutunya kemudian.


"Suami kamu sudah pulang?" Aku balik bertanya.


"Ya, udah lah. Tapi kenapa kamu nyariin Damian?"


"Kakak ada perlu. Buruan bukain pintu, ini Kakak udah di depan rumah kalian."


"Hah? Mau ngapain?"


"Ada perlu, udah buruan bukain. Kakak tunggu, jangan lama-lama bukainnya."


"Mau ngapain sih, Kak? Ganggu aja!"


"Kakak ada perlu sama Damian."


"Mau ngapain?"


Aku langsung berdecak kesal, saat mendengar pertanyaan Irin yang kembali diulang.


"Bukain dulu kenapa sih?"


"Ya udah, iya. Tunggu sebentar!"


Di seberang Irin ikut berdecak sebal, sebelum mematikan sambungan telfon. Tak lama setelahnya, pintu rumah Irin terbuka.


"Buka pintu gitu aja lama banget sih?" protesku sambil menggerutu, tanpa perlu menunggu dipersilakan masuk, aku langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Mau ngapain sih? Ganggu tahu, ini tuh, hari kamis, Kak."


"Memang kenapa kalau hari ini hari kamis?"


"Ya, kalau kamis itu... Ah, bodo amat, aku kesel banget sama Kakak," rajuk Irin langsung berjalan menaiki anak tangga dengan tidak santai.


Sejenak, aku menatap kelakuannya. Ck, untung saja sudah ada pria yang mau mendonorkan ****** untuknya, coba kalau tidak? Entah bagaimana nasib sang adik untuk masa yang akan datang.


"Nyari gue?" tanya Damian.


Ia baru saja keluar dari dapur dengan membawa dua kaleng minuman soda, satu disodorkan untukku dan yang satu untuknya sendiri. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih saat menerimanya, lalu kami berjalan beriringan menuju ruang tengah.


"Jadi kenapa nyari gue, malem-malem begini lagi? Penting banget, ya, sampai nggak bisa ditunda sampai besok aja?"


"Ya, gitu deh. Ini masalah penting banget, gue takutnya kalau nggak gue sharing sekarang, semua tambah kacau. Jujur, gue pusing banget sekarang ini."


Damian mangguk-mangguk setelah mendengar jawabanku. Ia menegak sodanya sejenak lalu bertanya, "Masalah apa sih, emang? Kok kayaknya serius banget?"


"Ini tentang masa lalu gue."


Aku ikut mengangguk. "Gue punya anak, Yan."


"Hah? Anak gimana maksudnya?" Damian menatapku tidak paham.


"Anak orang, Yan, anak gue. Gue menghamili anak orang, dan yang gue hamilin melahirkan anak gue."


"Kok bisa?"


"Gue kebobolan. Padahal gue biasanya selalu main aman, Yan, nggak pernah sekali pun gue main tanpa pengaman. Karena gue nggak pernah mau mengambil resiko kalau kena penyakit karena **** bebas yang gue jalani, cuma gue nggak tahu kenapa waktu itu gue pengen, dan apesnya stok ****** gue abis. Ya udah, kita ngelakuin tanpa pengaman dan sialnya langsung jadi."


"Bentar, bentar, itu kapan, Ren?"


"Delapan tahun yang lalu."


"Tapi kenapa lo baru bilang? *****, Rafka punya Kakak sepupu? Terus sekarang di mana mereka?"


"California."


"Mereka hidup?"


Aku langsung melirik Damian sinis. Itu apa maksud dari pertanyaannya barusan? Namun, meski sedikit tersinggung, gue akhirnya tetap mengangguk.


"Sorry, sorry, maksud gue, kok bisa gitu lho, kenapa lo nggak pernah bilang sama Mama atau Papa, atau mereka tahu dan baru gue yang belum tahu?"


Aku menggeleng. "Enggak. Mereka belum tahu, gue baru ngasih tahu Eva sama lo. Temen-temen gue juga nggak banyak yang tahu."


"Eva tahu?"


Aku mengangguk sambil meneguk sodaku.


"Lo kasih tahu atau ketahuan?"


"Gue yang ngasih tahu. Lo tahu kenapa pernikahan kita kemarin sempet ditunda?"


"Karena itu?" tebak Damian tepat sasaran.


Aku langsung mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Terus mereka gimana hidupnya? Maksud gue, dia orang..."


"Dia orang Indonesia, cuma sekarang menetap di luar karena suaminya orang sana."


"Dia sudah nikah dan punya keluarga sendiri?"


Aku mengangguk. "Sebenernya dia bukan pacar gue. Kita cuma temenan gitu, tapi kita sama-sama nyaman. Dia ternyata udah punya pacar, gue baru tahu setelah dia ngasih tahu kalau dia hamil anak gue."


"Lo kenapa bisa yakin kalau itu anak lo?"


"Karena dia cuma ngasih tahu gue, kalau dia hamil tanpa meminta pertanggungjawaban dari gue. Menurut lo, masuk akal kalau dia bohong?"


"Enggak juga sih. Terus dia nikah sama pacarnya itu?"


Aku langsung mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Kok dia masih mau? Maksudnya, dia diselingkuhi gitu lho. Sorry, Ren, menurut gue ini perselingkuhan."


Aku mengangguk setuju. "Iya. Gue juga tahu itu. Cuma, gue juga nggak tahu sih kenapa pacar dia masih mau, mungkin gara-gara udah cinta mati kali."


Damian mangguk-mangguk lalu meneguk sodanya, dan melirikku. "Terus yang bikin lo galau apa? Kan Eva udah tahu juga? Yang lo hamilin udah punya keluarga sendiri. Masalahnya di mana?" ia menatapku bingung sekaligus heran.


"Masalahnya, Eva pengen gue ngasih tahu Mama sama Papa."


"Tapi lo tolak?"


Aku mengangguk. "Iya, kemarin. Karena gue takut Papa kenapa-kenapa. Tapi sekarang, gue lagi mencoba untuk mempertimbangkannya. Menurut lo, gue harus gimana?"


"Coba aja ngomong pelan-pelan. Mungkin, Mama sama Papa bakalan kecewa, cuma, gue yakin mereka pasti mau maafin lo, Ren. Menurut gue, lebih baik denger dari mulut lo langsung ketimbang Mama dan Papa harus tahu dari orang lain. Itu mungkin terdengar lebih menyakitkan bagi mereka. Masalah kesehatan Papa, mending lo tanya dulu sama dokter yang nanggin beliau atau lo cek dulu aja hasil chek-up bulanan Papa, kalau bagus, gue rasa sih nggak masalah. Insha Allah, semoga aja nggak ada masalah."


Aku tersenyum puas lalu mengangguk setuju. Memang pilihan tepat untuk mengunjungi Damian. Dia pribadi yang tenang dan kalem, tidak suka menghakimi apa lagi ingin menang sendiri. Beruntung sekali Irin mendapatkan suami yang mapan plus tampan tapi tidak emosian seperti ini. Kalau aku perempuan, mungkin aku sudah iri dengan keberuntungan yang Irin miliki.


"Iya, thanks, ya, buat saran lo. Gue ngerasa nggak ragu lagi sekarang." Gue kemudian berdiri, diikuti Damian setelahnya. "Gue langsung balik, ya, sorry udah ganggu malem jumat kalian."


"Iya, udah, nggak papa. Malam jumat nggak ada sekali kok sebulan, santai."


Aku terkekeh lalu mengangguk. Damian kemudian langsung mengantarkanku keluar dari rumahnya.


"Pamit, ya?"


"Iya, hati-hati, Bang!"


Aku berdecak kesal dengan panggilan yang Damian sebutkan. Selain karena umurnya yang sebenarnya lebih tua dariku, aku paling tidak suka dipanggil Bang, itu lah kenapa aku menyuruh memanggil Irin memanggilku Kakak, tidak Abang seperti panggilan kami untuk Bang Ferdi.


Tbc,


belum keedit ulang. kuy, bantu edit πŸ€—