Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |6| Hal Yang Pantas Aku Dapatkan



\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mamamu sudah tidur. Ayo, kita bicara! Papa ingin mendengar versi lengkapnya."


Aku langsung mengangguk setuju, lalu mengekor di belakang Papa. Beliau mengajakku bicara di ruang tengah.


"Jadi, yang tadi itu benar?"


Aku mengangguk dengan ekspresi wajah penuh penyesalan milikku. Perasaan bersalah semakin menghantuiku, terlebih lagi respon Papa yang tunjukkan saat ini. Aku menjadi semakin bersalah.


Papa mengangguk, masih dengan ekspresi kalemnya. Tak lama setelahnya, baru beliau kembali bertanya, "Papa mau mendengar versi lengkapnya, Ren. Sedetail-detailnya. Bisa?"


"Bisa, Pa. Naren akan menceritakan semuanya," ucapku sambil mengangguk yakin.


Lalu mulai lah, aku bercerita semuanya. Dari awal pertemuanku dengan Mila sampai kami akhirnya dekat. Semua kebiasaan burukku, hingga pola kehidupan bebasku karena faktor lingkungan. Aku akui, aku memang bodoh, karena begitu mudahnya terjerat dengan kehidupan malam, yang aku akui tidak lah bagus untuk kesehatan mau pun hal lainnya.


"Maafin Naren, Pa!" sesalku kemudian, setelah selesai menceritakan semuanya.


Ekspresi Papa masih sama seperti tadi, tenang dan juga kalem. Namun, aku cukup yakin kalau Papa saat ini sangat kecewa denganku, hanya saja beliau memang tipekal orang yang tenang. Iya, Papa memang tipekal orang yang tenang dalam menghadapi situasi. Harusnya aku ingat hal ini, bukan malah memikirkan sesuatu yang tidak-tidak, dan harusnya aku memikirkan bagaimana reaksi Mama.


"Eva tahu tentang ini?" tanya Papa setelah beliau terdiam cukup lama.


Aku langsung mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Nggak sengaja tahu, atau memang kamu yang memberitahu?"


"Naren yang kasih tahu."


"Sejak kapan?"


"Sejak awal."


"Tapi kamu baru memberitahu kami?"


"Maafin Naren, Pa."


Papa menggeleng tegas. "Tidak. Papa tidak butuh permintaan maaf dari kamu, yang ingin Papa tahu, kenapa kamu tega membohongi Papa dan juga Mamamu selama ini, sedangkan orang lain kamu kasih tahu. Kamu anggap apa kami, Ren?"


"Naren takut mengakuinya."


"Kamu berani berbuat hal seperti itu, tapi kamu tidak berani mempertanggung jawabkannya? Lelaki macam apa kamu ini, Ren? Kamu pikir, kami membesarkan kamu hanya untuk mendapatkan balasan seperti ini?"


Sorot mata Papa terlihat begitu kecewa. Hal ini memang wajar, karena aku memang yang salah. Aku tidak akan menampiknya sama sekali, sekali pun aku akan dipukul, aku sudah siap.


"Naren bukannya tidak mau bertanggung jawab, Pa. Tapi kenyataannya, Naren nggak bisa untuk bertanggung jawab. Keadaannya terlalu rumit untuk Naren saat itu, Mila menolak saat ingin aku nikahi, karena kami berbeda keyakinan, dia pun juga lebih mencintai pria lain. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menerima semuanya."


"Jelas kamu tidak bisa berbuat apa-apa, karena kamu bodoh. Di mana akal sehatmu dulu?"


Kali ini aku hanya diam dan menunduk. Karena memang benar kenyataannya, aku memang sebodoh itu.


"Kalau kamu memang berniat untuk tidak memberitahu tahu kami, kenapa sekarang tiba-tiba memberitahu kami?"


"Karena Papa dan Mama berhak tahu atas Cucu kalian."


"Bagaimana dengan Ibu dari anakmu?"


"Dia sudah menikah."


Papa menghela napas. "Papa tahu kamu sudah melewati masa-masa sulitmu, tapi... Papa tetap kecewa, Ren."


Aku mengangguk maklum. "Nggak papa, Pa. Naren ngerti, apa yang sudah Naren lakulan di masa lalu memang sangat mengecewakan."


"Jangan kecewakan kami lagi, ya. Bahagiakan Eva dengan sungguh-sungguh! Papa tidak mau hal mengecewakan ini, kembali terdengar di telinga Papa lagi. Kami sudah tua, Ren. Untuk masalah ini, biar Papa yang bantu jelasin ke Mama mu pelan-pelan. Jangan memaksakan!"


"Iya, maafin Naren, Pa."


"Sudah, tidur sana! Besok kan harus ngantor, Papa juga mau tidur. Untuk sementara, jangan bahas ini dulu sama Mamamu."


"Iya, Pa."


"Kalau mau ngehubungin Adik sama Abangmu, besok pagi saja. Sekarang sudah malam."


Sekali lagi, aku mengangguk. "Iya, Pa."


"Jangan cuma iya, iya, saya," protes Papa sedikit kesal.


Aku kebingungan. "Baik, Pa."


Seketika Papa langsung menatapku datar. Aku meringis. Memang ada yang salah dari ucapanku? Tidak kan?


######


"Aku udah beritahu Mama sama Papa."


Adeeva langsung mengalihkan pandangan matanya dari layar ponsel, di detik berikutnya, ia menoleh ke arahku.


"Beritahu apa?"


"Soal Mila dan Aurine."


"Lalu, respon mereka?"


"Kecewa, marah, sedih. Jelas saja mereka merasakan semua itu. Tapi untungnya Papa baik-baik saja, tapi Mama sempat shock dan pingsan," ucapku sedih.


Saat ini kami sedang dalam perjalanan pulang. Aku dari kantor, sedang Adeeva dari toko kuenya.


"Terus keadaannya?" tanya Adeeva terlihat khawatir.


"Tekanan darahnya naik."


Adeeva mengangguk-angguk. "Nanti kalau ada toko buah mampir dulu, ya," kata Adeeva.


Aku menoleh. "Beli buah buat siapa?"


"Beliin buah buat Mama, masa iya buat kamu."


"Enggak usah," tolakku.


Astaga, harus banget, ya, diulang-ulang begitu? Pemborosan kata banget sih calon istriku. Astaga, aku pasti akan sering diomeli nanti.


"Tapi... Ya udah, deh, terserah kamu aja," kataku pada akhirnya.


Membantah perempuan sama saja melakukan dosa besar, dan aku jelas tidak ingin coba-coba melakukannya. Jadi, sebagai pria yang baik dan calon suami panutan, aku menurut saja kan?


"Itu ada toko buah, berhenti dulu, Ar," kata Adeeva.


Aku mengangguk lalu menepikan mobilku di depan sebuah toko buah.


"Aku turun bentar, ya."


Aku hanya mengangguk, mengiyakan. Tak lama setelahnya, Adeeva kembali masuk ke dalam plastik sambil menenteng plastik bawaannya.


"Beliin apa itu, kamu?" tanyaku mulai kembali menyalakan mobil dan menjalankannya.


"Apokat sama kiwi. Katanya bagus buat nurunin darah tinggi."


"Baik banget."


Adeeva tersenyum. "Jelas. Kan aku emang calon Menantu dambaan para Mertua."


"Iya, deh, emang dambaan banget," balasku kemudian.


"Dambaan siapa?" tanya Adeeva.


"Dambaan Mama sama Papa," jawabku cepat.


"Tahu, lah," rajuk Adeeva sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Lah, bukannya aku benar? Adeeva tadi bilang dambaan Mertua kan? Lalu, kalau aku sebut dambaan Mama dan Papa, di mana letak kesalahannya? Kenapa dia harus bete begitu?


#####


"Ren, gue mau ngomong," sambut Bang Ferdi, saat aku dan Adeeva masuk ke dalam rumah.


Kalau kuperhatikan ekspresi wajahnya sekarang, sepertinya ia sudah tahu tentang fakta aibku.


Meski sedikit takut, aku berusaha untuk tetap tenang dan mengangguk. "Tapi, gue anterin Eva ketemu Mama dulu."


Bang Ferdi lalu melirik Adeeva. "Naik sendiri, nggak berani, Va?" tanyanya kemudian.


Adeeva langsung mengangguk yakin. "Berani, Bang," ucapnya sambil melirikku, "nggak papa. Aku naik sendiri," bisiknya kemudian.


Kalau sudah begini, aku hanya bisa pasrah. Lalu, dengen keberanian tersisa yang kumiliki, aku langsung menghampiri Bang Ferdi. Bang Ferdi sendiri pun langsung bangun dari duduknya dan menonjok perutku tanpa aba-aba. Astaga, maksudku, benar-benar langsung meninju perutku langsung, tanpa ada sambutan yang lainnya. Astagfirullah, mana tonjokannya sakit banget lagi. Aku yakin langsung biru pasti.


"Brengsek lo, Ren!" maki Bang Ferdi dengan wajah marahnya.


Aku meringis, menahan ngilu efek dari tonjokan Bang Ferdi.


"Maksud lo apa, hah?!" amuk Bang Ferdi sambil mendorong tubuhku hingga tersungkur di lantai.


Astaga, Bang Ferdi tidak akan mengampuniku.


Terdengar dramatis bukan, tapi, karena tenaga Bang Ferdi yang memang cukup kuat dan juga aku yang sedang diselimuti perasaan bersalah, tidak bisa bisa berbuat apa-apa selain pasrah.


"Lo pikir lo siapa, Ren?! Berani nyimpen aib busuk lo selama bertahun-tahun, tapi sekarang dengan seenaknya, lo bongkar gitu aja? Lo pikir cara yang lo pake ini keren? Enggak!" seru Bang Ferdi penuh dengan emosi.


Napasnya naik-turun, kilatan amarah terlihat jelas di mata kecoklatannya. Lalu, ia menghampiriku dan memukul wajahku dengan brutal. Ia bahkan seakan tidak memberiku jeda untuk bernapas. Sampai aku merasa pipiku ngilu dan ujung bibirku terasa perih. Sial. Aku ingin sekali membalasnya, ya Tuhan!


Siapa pun tolong selamatkan aku!


"Bang Ferdi!!! Astagfirullah!!! Apa-apaan kamu, Bang!" jerit seseorang.


Kalau boleh menebak, aku yakin itu suara milik Irin, Adikku satu-satunya, dan benar saja. Tak lama setelahnya, ia menghampiriku dan membantuku untuk bangun.


"Kak Arkan juga kenapa diam aja, sih, kenapa nggak ngelawan dipukul begitu?"


"Kakak lo emang bego!" ketus Bang Ferdi, sebelum meninggalkan kami.


"Mau ke mana kamu, Bang?" jerit Irin kesal.


"Udah, nggak papa. Urusan laki-laki dewasa, kamu nggak paham," ringisku sambil menahan ngilu dan juga perih.


"Kenapa bisa begini sih?" omel Irin, setelah membantuku duduk di sofa.


Aku meliriknya sekilas, lalu menggeleng. "Kalau Kakak cerita, udah jelas pasti, kamu ikut amuk Kakak."


"Maksudnya?"


Irin langsung menatapku horor, dan menjauhiku.


Aku kembali meringis. Aku ingin tertawa, tapi sudut bibirku terasa ngilu.


"Rebutan posisi di kantor apa warisan?"


Aku terkekeh geli. "Keliatannya?"


"Yee, mana aku tahu. Kalau aku tahu, aku nggak bakalan nanya."


"Udah, sana mending kamu panggilin Eva," kataku kemudian.


"Enak aja! Eva belum jadi istri Kakak, dan Kakak belum jadi tanggung jawab Eva."


"Apaan sih? Eva di atas, jenguk Mama. Kamu tinggal panggil dia biar turun, Kakak perlu diobati ini."


"Manja!" ejek Irin lalu berdiri dan meninggalkanku.


"Biarin, Kakak manja sama calon istri sendiri. Bukan sama istri orang," balasku tak mau kalah.


"Halah, masih calon aja belagu," gerutu Irin sambil menoleh ke arahku.


Tbc,