Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |28| Kena Prank?



\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ayo, turun!" ajakku pada Adeeva sambil melepas seatbelt-ku.


Adeeva tidak melakukan apapun. Ia tetap diam dengan ekspresi cemberutnya, dan kedua tangan yang disilangkan di depan dada. Pancaran kedua matanya terlihat sangat tidak bersahabat, membuatku mengaruk-garuk kepala salah tingkah. Siaga satu nih, susah dijinakinnya.


"Kamu nggak mau turun?" tanyaku dengan hati-hati.


Tapi di luar dugaan, Adeeva malah menjerit kesal, "Mas!" ia menatapku tajam selama beberapa saat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan, "kamu itu, ya. Nggak ngertiin perasaan aku banget sih. Nyebelin banget perasaan seharian ini. Sengaja banget, ya, kamu? Huh?"


"Engg--"


Tok Tok Tok


Aku menoleh ke arah luar, saat mendengar suara pintu kacaku diketuk. Ada Papa di luar, aku kemudian buru-buru menurunkan kaca mobil.


"Kenapa nggak langsung pada turun?" tanya beliau.


Aku meringis, lalu menoleh ke arah Adeeva. "Ini juga mau turun, Pa."


"Abis pada olahraga, ya?"


"Iya, Pa. Sekalian mampir," jawab Adeeva sambil tersenyum malu-malu.


"Ya udah, ayo bururan turun! Papa juga abis jalan-jalan sekitar komplek, tahu mobil kamu masuk buru-buru Papa pulang. Pas banget, Mamamu hari ini bikin sarapan banyak, soalnya ada Irin sama Damian."


"Iya, Papa duluan aja, nanti kita nyusul."


"Ya udah, Papa masuk duluan."


"Iya, Pa na--Akhhhh!" Aku menoleh ke arah Adeeva. "Kok aku dicubit? Sakit ini lho?" bisikku memprotes.


"Kenapa?" Papa berbalik dan menatapku heran.


"Enggak, Pa, enggak papa kok. Tadi cuma kepentok," ringisku sambil mengelus-elus pinggangku yang dicubit Adeeva.


Papa menatapku aneh selama beberapa saat. Namun tak lama kemudian, ia mengangguk. "Iya, udah. Hati-hati dong!" ucap beliau lalu masuk ke dalam rumah.


"Semua ini salah kamu, Mas," ketus Adeeva sambil melepas seatbelt-nya.


Tanpa menoleh ke arahku ia kemudian langsung turun begitu saja.


"Mas!!"


"Iya, ini mau turun. Nggak sabaran banget," gerutuku lalu turun dari mobil dan menghampiri Adeeva.


Adeeva cemberut. "Awas aja kalau imageku jadi jelek gara-gara ini."


"Enggak bakalan. Udah, yuk, masuk!" ajakku sambil merangkul pundak Adeeva.


"Assalamualaikum!" seruku dan Adeeva secara kompak.


"Wa'allaikumussalam, langsung ke ruang makan saja. Yang lain udah pada di sana," jawab Damian.


Aku mengangguk setuju, lalu kami beriringan menuju ruang makan.


"Abis pada jogging?" tanya Damian berbasa-basi.


Aku mengangguk.


"Kenapa nggak ajak-ajak?"


"Lo mau ikut?"


Damian mengangguk.


"Lain kali deh kalau gitu."


Di ruang makan


"Cie cie, pengantin baru. Abis dari mana nih? Kok keringetan gitu? Hayoloh, abis pada ngapain?" goda Irin saat kami sampai di ruang makan.


Adeeva jelas tak memperdulikan godaan Irin. Ia dengan sigap langsung menghampiri Mama dan Papa, lalu mencium punggung tangan keduanya secara bergantian. Sebelum akhirnya beralih pada Rafka dan menyapa ponakan kami.


"Jogging berdua dong, kita kan pasangan romantis yang sehat," balasku jumawa.


"Dih, pinter nyombong sekarang laki lo, Va. Lo kasih makan apaan sih setiap harinya? Kenapa gitu banget sekarang." Irin berdecak sambil geleng-geleng kepala, pura-pura memasang wajah prihatinnya.


"Empat sehat, lima sempurna," sahutku cepat.


Semua orang yang ada di ruang makan langsung menatapku aneh, termasuk Adeeva pun dengan Rafka. Sepertinya mereka merasa aneh dengan jawaban yang kuberikan.


Aku menggaruk-garuk kepalaku. "Ada yang salah sama jawaban aku?" tanyaku bingung.


"Nggak penting itu. Ayo buruan duduk terus sarapan! Nggak usah sungkan, Mama hari ini masak banyak jadi kalian makan sepuasnya."


Aku mengangguk setuju, lalu menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Adeeva duduk tepat di sebelahku.


"Ren, Mama nanti mau pinjem istri kamu boleh?"


Aku menghentikan niatku untuk menyuap nasi. Pandanganku kemudian beralih pada Mama. Apa tadi kata Mama? Pinjem? Emangnya istri aku barang apa, mau dipinjam.


"Ma, istri Naren itu bukan barang. Masa mau dipinjem," protesku kesal.


"Oke, Mama ralat, Mama ajak pergi kalau gitu."


"Jangan dibolehin, Kak," sahut Irin ikut-ikutan.


Aku mengernyit heran, lalu menoleh ke arah Irin yang sedang membantu Rafka makan. "Kenapa emang?"


"Mama pasti mau ngajakin Eva arisan."


Aku kemudian menoleh ke arah Mama. "Iya, Ma?" tanyaku pada beliau.


Mama mengangguk. "Kalau kalian nggak ada acara dan kalau kamu ngebolehin sih."


"Aku sih nggak masalah, selagi Evanya mau, ajak aja," jawabku santai.


Mungkin Mama ingin memperkenalkan menantu barunya ke teman-temannya. Jadi, tidak ada salahnya aku memberi izin. Toh, bisa jadi nanti Adeeva promosi toko kuenya ke teman-teman Mama. Kan lumayan buat nambah langganan.


Mendengar jawabanku, Mama langsung bersorak gembira, sedikit kekanak-kanakan memang, tapi memang begitu kadang-kadang Mama. Lain dengan Irin, yang langsung memasang wajah sinisnya.


"Ah, harusnya Kak Arkan nggak kasih izin dong," protes Irin terlihat kesal.


Aku mengernyit tak paham. "Kan aku cuma kasih izin, masalah Eva mau ikut apa enggak, ya terserah dia. Itu keputusan Eva. Lagian belum tentu juga dia bakalan mau ikut pergi kan?"


Irin mendengkus. "Yah, Kak Arkan masih aja belum peka? Eva mana bisa nolak kalau yang minta Mama mertua? Ya, jelas dia langsung mengiyakan lah."


Eh, iya juga, ya. Kenapa baru kepikiran.


"Hei, hei, Mama nggak maksa kok. Cuma mau ngajak Eva terus ngenalin ke temen-temen Mama itu doang. Kalau Eva ngerasa keberatan, nggak usah. Mama bisa pergi sendiri."


"Oke, jangan mau ikut, Va," ucap Irin mengompori.


"Kalau kamu takut nggak nyaman, nggak usah pergi, yang. Mama bisa pergi sendiri," kataku pada Adeeva.


Adeeva mengangguk. "Iya." Lalu menatap Mama, "Eva mau kok nemenin. Jam berapa nanti kira-kira?"


"Serius?" tanya Mama tak percaya.


Adeeva mengangguk yakin, sebagai tanda jawaban.


"Sekitar jam sebelas. Nanti abis sarapan kalian langsung pulang, terus siap-siap, biar nanti Mama jemput ka--"


"Kok Mama kesannya ngusir kita?" tanyaku di sela mengunyah.


Aku ber'oh'ria. "Oh, Naren kirain Mama bermaksud mengusir kita secara nggak langsung, karena kita numpang sara--pan." Aku meringis ke arah Adeeva yang sedang memelototiku tajam. Lalu Irin tiba-tiba terbahak saat menyadari tatapan tajam Adeeva.


######


"Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumussalam!"


Aku menoleh ke arah pintu, dan menemukan Adeeva dengan wajah cemberutnya. Suaranya tadi saat mengucapkan salam pun terdengar pelan.


"Kenapa?" tanyaku khawatir.


Adeeva langsung duduk di sebelahku, dengan gerakan tak terduga ia tiba-tiba memelukku dan membenamkan kepalanya pada dadaku.


"Hei, kenapa sih? Kok tiba-tiba cemberut gitu?" tanyaku khawatir sekaligus penasaran.


"Irin bener, Mas, harusnya aku tadi nggak ikut Mama ketemu temen-temennya."


Aku semakin tidak paham. "Kenapa sih?"


"Mas," panggil Adeeva mengabaikan rasa ingin tahuku.


"Kamu jangan bikin aku penasaran deh. Sebenarnya kamu ini kenapa? Kenapa pulang-pulang wajahnya ditekuk gini? Temen-temen Mama nyakitin kamu? Iya? Perlu--"


"Mas, kalau seandainya aku nanti nggak bisa hamil gimana?" potong Adeeva tak nyambung.


Aku benar-benar tidak suka mendengarnya bertanya seperti itu. Dengan sedikit emosi, aku melepaskan pelukannya. "Ngomong apaan sih kamu ini?"


"Seandainya aja, Mas."


"Nggak ada, ngapain berandai-andai yang begituan?"


"Mas, kamu lupa kalau aku pernah punya miom?"


"Kamu udah sembuh, kamu udah dioperasi juga. Dokter bilang kamu bisa hamil, Adeeva. Udah deh, nggak usah ngomong yang enggak-enggak begitu. Aku nggak suka." Tanpa kusadari, aku menaikkan nada bicaraku karena kesal.


Adeeva masih menunjukkan wajah sedihnya. Kedua matanya tiba-tiba memerah, dan tak lama setelahnya, setetes air mata mengalir di atas pipinya. Membuatku mendadak bersalah karena sempat menaikkan nada bicaraku.


"Hei, maaf, aku nggak ada maksud bentak kamu. Aku... aku cuma nggak suka kamu pesimis begitu. Kamu akan hamil, sayang, meski kita nggak tahu kapan. Insha Allah kamu akan hamil. Kamu jangan pesimis begitu dong. Aku nggak suka."


Aku kemudian meraih kedua pipinya, dan mengusap air matanya menggunakan ibu jariku. Baru kemudian memeluknya.


"Plis, kamu jangan ngomong begitu, sayang. Aku beneran nggak suka dengernya. Itu nggak kayak sifat kamu yang selalu optimis."


"Segala kemungkinan bisa saja terjadi, Mas. Aku pengen cepet hamil, tapi kalau takdir berkehendak lain. Kita bisa apa?"


"Kita bisa berusaha dan terus berdoa. Kamu jangan nyerah gitu dong. Kemungkinan kamu bisa hamilnya cukup besar, jadi berhenti untuk bersikap pesimis begini. Oke?"


"Aku pengen optimis, Mas, tapi perasaan takut itu tetep ada. Gimana kalau seandainya aku beneran nggak bisa hamil?"


"Adeeva!" kali ini kesabaranku mulai menipis, "tolong berhenti berpikir kayak gitu. Aku nggak suka, sayang. Aku mohon!"


"Maaf," sesal Adeeva dengan perasaan bersalahnya.


Aku pun demikian. Aku juga merasa bersalah terhadapnya.


"Besok kita bikin janji sama Silvi, buat mastiin kemungkinan kalau kamu memang memiliki peluang untuk hamil," kataku pada akhirnya.


Adeeva terlihat terkejut. "Eh? Apa perlu, Mas?"


"Perlu. Perlu banget malah, apalagi dengan sikap kamu sekarang ini."


"Enggak usah, Mas," tolak Adeeva tiba-tiba.


"Apanya yang enggak usah?" tanyaku kesal.


"Enggak usah ketemu sama sepupu kamu, si Silvi. Nggak usah lah. Aku kan tadi cuma tanya seandainya, Mas. Kamu tinggal jawab, kamu memilih untuk tetep setia sama aku atau cari yang lain. Kenapa malah bawa-bawa Silvi?"


"Hah?"


Aku menerjap kebingungan. Jadi, pertanyaannya tadi cuma ngetes aku, apakah aku akan setia sama dia atau tidak begitu?


"Oke, kalau pun seandainya kamu nggak bisa hamil. Aku bakalan tetep setia sama kamu, aku nggak akan cari yang lain. Aku janji. Kalau kata Aurine, janji jari kelingking."


Aku tersenyum geli, membayangkan ekspresi Aurine yang tiba-tiba mengacungkan jari kelingkingnya dan aku menyambutnya dengan ekspresi bingung, kemarin.


"Ah, benar, kan kamu udah ada anak kandung, ya, jadi nggak terlalu ngarepin anak dari aku."


Eh? Kok begitu?


"Kok gitu sih, yang? Ya, enggak dong. Aku teteo ngarepin punya anak sama kamu lah. Buat apa aku nikahin kamu kalau aku nggak pengen anak dari kamu."


Adeeva meraih tisu, dan membersihkan ingusnya. "Oh, jadi kamu nikahin aku cuma pengen anak dari aku. Aku pikir karena cinta sama aku."


"HEI!!" seruku kesal.


Di luar dugaan, Adeeva tiba-tiba menyodorkan telapak tangannya dan mengajakku berjabat tangan. Mengundang kerutan heran di dahiku. Ini maksudnya apa?


"Selamat, kamu berhasil di-prank oleh istrimu tercinta," ucap Adeeva dengan perasaan tak bersalahnya.


Aku melotot tajam.


Adeeva langsung memasang wajah was-wasnya.


"Sini, kamu!"


Adeeva menggeleng di sela cengirannya. "Mau kamu apain?"


"Nggak usah banyak tanya, sini! Kamu harus dihukum," ucapku kesal.


"Tapi nggak boleh ada kekerasan dalam rumah tangga, Mas."


"Nggak usah banyak bicara, sini cepetan! Sebelum aku kehilangan kesabaran."


"Mas, aku tadi nggak bermaksud ngeprank kok, aku tadi beneran sedih. Cuma--"


Karena tidak menurut, aku kemudian menarik tubuh Adeeva dan memeluknya erat. "Ini hukuman karena kamu ada pikiran buat ngerjain aku, minimal kita harus pelukan selama sejam."


"Hah?"


"Nggak usah banyak protes!" Aku menarik tubuhnya, saat ia hendak melepaskan diri. "tapi seenggaknya, aku seneng kalau kamu nggak benar-benar khawatir tentang itu. Aku berharap meski kita nggak dikasih cepet buat dapet momongan. Kamu tetep selalu optimis dan nggak gampang nyerah. Oke?"


"Tapi kalau lama-lama aku mulai khawatir karena nggak cepet hamil gimana?"


"Aku nggak mau denger. Pokoknya kamu nggak boleh cemas, khawatir, apalagi tertekan kalau kita nggak dikasih cepet. Janji?"


"Akan aku usahakan!"


"Harus."


"Hmm."


**Tbc,


mon maap, cerita super gaje telat double up dikarenakan πŸ˜†πŸ˜† aku kayanya mau flu sama demam deh. agak kleyengan, bersin-bersin sama mulai mampet ini idung soalnya, mon maap, ya. sebenarnya ini jg bkn double up sih, gantinya up an kemarin harusnya πŸ˜†πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜‹ tapi ya enggak papa sih, anggap aja double up. hehehe.


See you next part dan jangan lupa jaga kesehatan buat kalian πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜πŸ˜πŸ˜—πŸ˜™πŸ˜˜πŸ˜š


Happy weekend


ps : mon maap klo ini part gajenya kelewatan. hehe, πŸ˜…πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™βœŒβœŒ**