
#######
Jantungku rasanya seperti ditikam, saat mendapat kabar dari Salma. Aku termenung sesaat. Apa, Adeeva masuk rumah sakit?
Setelah kesadaranku terkumpul, aku kemudian berdiri dan menyambar kunci mobilku dan langsung bergegas menuju rumah sakit. Aku bahkan tidak berpikir untuk mengganti kaos dan celana pendekku, karena terlalu khawatir dengan keadaan Adeeva.
Ya Tuhan, semoga Adeeva baik-baik saja!
Begitu sampai di rumah sakit tempat Adeeva diperiksa, aku langsung bergegas menuju pusat informasi dan menanyakan keberadaan Adeeva. Ternyata ia masih berada di IGD.
Jantungku rasanya seperti kembali ditikam saat menemukan Adeeva tengah terbaring lemah dengan jarum infus menancap di punggung tangan kanannya. Perasaan bersalah kian menjadi. Perempuan yang kupikir tegar ternyata serapuh ini, dan aku baru mengetahuinya beberapa hari ini. Bukankah itu terdengar sangat buruk.
"Ar, lo udah nyampe?" tanya Salma mulai berbasa-basi.
"Hmm. Apa yang terjadi? Kenapa Eva bisa masuk rumah sakit?"
"Ma, kamu ajak Arkan ngobrol di luar aja biar lebih leluasa. Biar aku di sini yang jaga Eva, nanti kalau dia udah sadar, aku panggil kalian."
Itu suara Gandhi, suami Salma. Aku bahkan tidak sadar kalau ada dia, karena terlalu fokus pada Adeeva.
"Ar," panggil Salma.
Aku menoleh ke arahnya. Menatap Salma dan Gandhi secara bergantian, lalu mengangguk. "Ayo, gue udah siap denger semuanya."
Salma mengangguk lalu berpamitan dengan Gandhi.
Aku pun melakukan hal serupa. "Titip Eva ya, Gan, sorry kalau kita ngerepotin kalian pagi-pagi begini."
"Halah, kayak sama siapa aja, Ar. Santai lah. Kita kan udah kayak keluarga, jadi udah sepatutnya saling ngebantu. Sana, tusulin bini gue! Lo berhak tahu semuanya dengan segera, biar masalah kalian cepet kelar." Gandhi menepuk pundakku dan menyuruhku untuk segera menyusul istrinya.
Aku mengangguk, tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya keluar dari ruang IGD. Kami duduk bersebelahan di kursi tunggu, yang kebetulan disediakan oleh pihak rumah sakit. Pandangan Salma menerawang jauh, ia juga tak segera memulai obrolannya. Suasana hening selama beberapa menit, aku masih tetap setia menunggu Salma untuk membuka suara.
"Gue tahu, gue nggak terlalu punya hak untuk ngasih tahu semua ini, Ar. Tapi, gue pikir lebih cepat lo tahu, itu lebih baik, dari pada semuanya jadi tambah runyam."
Aku mengangguk setuju mendengar penuturan Salma. Salma benar, semakin cepat aku tahu, itu semakin baik.
"Hmm, gue siap denger semuanya, Sal."
Salma menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Terlihat sekali kalau ia sedang berusaha untuk menguasai dirinya. Ini pasti tidak mudah juga buat dia.
"Eva dilarikan ke IGD karena pendarahan."
"A.apa?!"
Salma mengangguk. "Hmm, dia hamil, jalan enam minggu. Sebelumnya ia belum tahu, ia baru tahu dua hari yang lalu. Tepat sebelum lo nemuin obat penenang punya Eva."
Aku shock dan juga speechless. Otakku rasanya tiba-tiba seperti blank saat ini, aku bahkan tidak tahu harus senang atau pun sedih.
"Tapi lo nggak perlu khawatir, bayi kalian baik-baik saja."
Bayi kalian? Itu tandanya bayiku dan Adeeva? Sebentar lagi kami akan jadi orang tua?
"Tanyain apa yang pengen lo ketahui, Ar!"
"Bentar, gue bahkan nggak bisa mikir sekarang, Sal." Aku meraup wajahku dengan sebelah tangan, lalu menoleh ke arah Salma sekali lagi. "Ini... ini maksudnya gue... gue bakalan jadi Ayah?" tanyaku tidak percaya.
Salma mengangguk, mengiyakan. "Hmm, kemungkinan anak kalian akan seumuran anak Shirin sama Damian."
Aku masih tidak percaya. "Lalu bagaimana dengan obat penenang? Dia nggak beneran minum itu kan? Gue kemarin salah dengerkan?"
"Sorry, Ar, mungkin ini bikin lo kecewa. Obat itu beneran pernah menemani hari-hari sulit Eva. Eva minum obat itu selama lebih dari dua bulan."
Perasaan bersalah tidak lagi bisa terelakkan. Kenapa harus begini?
"Tapi hampir dua bulan ini dia sudah berhasil berhenti."
Kali ini aku bisa bernapas lega. Setidaknya, Adeeva sudah bergantung pada obat itu. Namun, ingatanku kembali ke pertengkaran kami kemarin. Aku masih mengingatnya dengan jelas wajah frustrasi Adeeva saat mengakui kalau ia minum obat penenang. Kalau dia sudah berhenti minum, bukankah harusnya dia tidak semarah kemarin?
"Tapi, Sal."
"Ya? Lo mau tanya apa? Gue bakalan usahain buat jawab semua."
"Kemarin, kemarin kita sempet berantem saat aku minta penjelasan dia tentang obat yang aku temuin di lacinya. Dia terlihat..."
"Frustrasi? Kesal? Marah?" tebak Salma tepat sasaran.
Aku mengangguk, sebagai tanda jawaban.
"Ya, maklumin aja, Ar, namanya hormon kehamilan."
Hormon kehamilan?
"Rasanya gue kayak masih nggak percaya deh." Aku tersenyum samar sambil mengusap rambutku, "gue juga bingung--"
"Ar, Eva sudah sadar," ucap Gandhi tiba-tiba.
Secara spontan aku berdiri dan berlari masuk ke dalam ruangan. Aku mengatur napasku yang sedikit ngos-ngosan saat sampai di brankar Adeeva. Ia terlihat sangat terkejut saat melihatku. Aku mendekatinya, menggenggam erat tangannya yang terbebas dari jarum infus, dan sesekali aku menciumi punggung tangannya.
"Maaf, maafin aku, sayang," bisikku penuh penyesalan.
"Mas, aku--"
"Ssst! Kamu nggak perlu jelasin apa-apa, Salma udah udah jelasin semuanya. Maafin aku, sayang! Maaf, karena aku nggak peka selama ini. Aku pikir, aku sudah cukup baik dalam memahami kamu tapi ternyata--"
"Sal, lo udah kasih tahu semuanya?" tanya Adeeva sedikit melotot tajam pada Salma.
"Iya, nggak baik berantem sama suami lama-lama, Va."
"Astaga, Sal, lo ngehacurin rencana gue kali begini ceritanya," bisik Adeeva pada Salma.
Namun, aku mampu mendengarnya dengan baik, karena aku tepat berada di samping Adeeva.
"Rencana? Rencana apaan?" tanya Salma kebingungan.
Aku menatap Adeeva dalam. "Kamu mau rencanain apaan, Adeeva?"
Adeeva menghela napas pendek. "Aku rencananya mau bikin surprise buat ulang tahun kamu. Awalnya aku bingung mau kasih surprise yang gimana, tapi setelah kamu nggak sengaja nemuin obat yang pernah aku minum. Mendadak aku dapet ide abis itu, eh, Salma malah bocorin." ia berdecak kesal.
Baik aku, Salma, dan Gandhi, kita semua sama-sama terkejut. Beberapa detik kemudian Salma dan Gandhi tersenyum, sedangkan aku masih shock.
"Bentar, bentar, jadi kita berantem kemarin?"
Adeeva meringis. "Termasuk bagian dalam rencana, Mas. Maaf."
"Astagfirullah!"
"Hehe, ya coba deh, Mas dipikir pakai logika. Biar apa coba aku ikutan marah sampai kabur dari apartemen kalau bukan demi misi khusus? Enggak masuk akal lho sebenernya. Kan aku salah karena nyembunyiin fakta itu, harusnya kan aku bujuk-bujuk kamu. Iya kan?"
"Astaga, Adeeva, kamu tahu gimana khawatir dan hancurnya aku kemarin?"
"Tahu. Tapi itu kesempatan buat aku juga, Mas. Ah, harusnya fakta ini terungkap setelah kamu tiup lilin terus cium aku. Tapi kenapa malah di IGD begini sih, nggak romantis banget."
Aku berdecak tidak percaya. Di saat situasi dia masih saja berpikir untuk menyesal karena kehilangan momen romantis. Astaga.
"Sayang, kenapa malah nyeselin karena nggak romantis sih? Kamu tahu, aku tadi hampir kena serangan jantung tahu," kataku kesal.
"Baru hampir kan, Mas? Belum kena beneran?"
"Adeeva!" panggilku dengan nada memperingatkan.
"Kenapa lagi?"
"Sal, gue tadi kayaknya inget mau ke kamar mandi deh. Kenapa... kenapa gue bisa di sini? Apa yang terjadi sama gue?"
Baik aku, Salma dan Gandhi saling bertatapan.
"Gue... enggak..." Adeeva terlihat cemas dan panik.
"Iya, lo jatuh dari kamar mandi dan pingsan karena pendarahan," sahut Salma.
"Apa?! Gue... gue kenapa?" tanya Adeeva seolah tidak percaya.
"Lo pendarahan, tapi untungnya bayi kalian baik-baik saja kok."
"Alhamdulillah," bisik Adeeva sambil menangis, tangannya kemudian menyentuh perutnya yang masih rata dan mengusapnya pelan. "Makasih, Nak, makasih udah bertahan buat Mama dan Papa," sambungnya pilu.
"Kamu luar biasa, sayang," bisikku sambil menggenggam telapak tangannya.
Adeeva tersenyum tipis lalu menggeleng. "Enggak, Mas, aku payah. Bahkan hanya karena sedikit tertekan aja dan lari ke obat--"
"Ssst! Kamu luar biasa dengan cara kamu sendiri," potongku sambil menggeleng, "kamu mampu mengatasi tekanan yang kamu dapetin dengan baik."
"Berhubung kalian udah pada akur, kita tinggal, ya. Anak-anak gue perlu gue urusin nih," celetuk Salma menyela obrolan kami.
Aku menoleh ke arah Salma dan Gandhi. "Thanks, ya, udah banyak bantuin. Sorry sekali lagi kalau kita ngerepotin kalian."
"Enggak ada, Ar. Kita kan keluarga, udah sepatutnya saling ngebantu kan?" Gandhi menepuk pundakku, "jagain istri sama calonnya baik-baik, jangan sampai nekat lagi," pesannya kemudian.
Adeeva mendengkus tak percaya. "Buset, jangan sampai nekat? Lo kata gue abis melakukan percobaan bunuh diri, hah?"
"Makanya jangan sampai, Va," ucap Salma membela suaminya.
Adeeva mendengkus sedangkan aku hanya tersenyum melihat interaksi mereka.
"Pamit, ya, kita."
"Hmm, hati-hati!"
########
"Mas, aku baik-baik aja kok. Kamu nggak ngantor?" tanya Adeeva.
Atas saran dokter jaga, Adeeva disarankan untuk rawat inap sehari atau dua hari, katanya untuk diobservasi dulu tentang kondisinya. Sebagai suami, aku jelas tidak mau meninggalkan istriku dalam kondisi begini. Jadi, begitu mendapatkan kamar, aku langsung menghubungi Mama agar membawakan pakaian ganti untukku.
"Gimana mungkin aku ngantor kalau kondisi kamu begini?"
"Mas, aku bilang, aku baik-baik saja kan? Udah deh, nggak usah lebay. Kamu itu perlu kerja, biaya lahiran itu nggak murah lho," balas Adeeva.
"Yang, aku absen sehari nggak akan langsung bikin kita jatuh miskin. Kamu tenang aja," balasku sedikit kesal.
"Nggak mungkin kamu bakalan absen sehari doang, percaya deh! Besok pasti juga," gerutu Adeeva menebak.
"Meski absen, aku bisa bawa kerjaan aku ke sini, sayang. Kamu tenang aja, jadi aku nggak sepenuhnya nganggur. Kamu puas?"
"Loh, ngapain kamu di sini, kalau nanti cuma mau nyuekin aku?"
"Ya, enggak nyuekin kamu dong. Nanti aku bakalan usahain bagi perhatian ke kamu sama kerjaa--"
"Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam," jawab kami bersamaan.
Aku menoleh ke arah pintu, menemukan Mama dan Papa di sana. Dengan raut wajah khawatir, Mama kemudian langsung menghampiri Adeeva.
"Kenapa bisa begini, Nak? Gimana keadaan kamu, baik-baik saja kan?"
Adeeva langsung mencium punggung tangan Mama sambil mengangguk. "Iya, Ma, Eva baik-baik saja. Maaf udah bikin Mama khawatir."
"Alhamdulillah kalau udah baik-baik saja," sahut Papa.
Adeeva tersenyum sambil mengangguk, lalu berganti mencium punggung tangan Papa.
Mendadak aku merasakan hawa yang tidak enak, dan benar saja saat aku melirik ke arah Mama sedikit ragu-ragu, Mama tengah memelototiku tajam.
"Dasar suami payah, gimana bisa kamu sampai lalai jagain istri kamu, hah?" omel Mama sambil menjewer telingaku.
Aku meringis kesakitan. "Akhhh, sakit, Ma!"
"Sakit kamu bilang? Iya? Segini aja sakit, gimana dengan istri kamu, hah?" lanjut Mama terus mengomeliku.
Papa tersenyum tipis melihatku diomeli, lalu duduk di salah satu sofa. Sedang Adeeva hanya mampu meringis saat melihatku diomeli oleh ibu mertuanya.
"Ya, namanya kecelakaan, Ma, semua ini di luar kuasa Naren. Kalau bisa dituker sakitnya Eva, Naren mau kok yang sakit. Sama aja, Naren juga sebenarnya nggak tega liat Eva begini, Ma."
Mama menghela napas pasrah. Mungkin mulai menyadari kalau kalimatku ada benarnya juga. Terlihat sekali kalau kali ini tatapannya mulai melunak. Dengan sedikit takut-takut, aku kemudian mendekat ke arah Mama dan memeluk beliau.
"Maafin Naren, Ma, belum bisa jagain menantu Mama dengan baik," sesalku bersungguh-sungguh. Perasaan bersalah masih saja menghantuiku.
"Udah, sana, kamu buruan mandi! Bau banget," ketus Mama sambil berusaha melepaskan pelukanku darinya. "biar Mama sama Papamu yang jagain Eva."
Aku mengangguk setuju, lalu membongkar isi tas yang Mama bawa. Mencari pakaian ganti dan mengambil handuk, baru kemudian masuk ke kamar mandi. Saat aku keluar dari kamar, aku sudah menemukan Adeeva yang tertidur pulas.
"Udah lama tidurnya, Ma?" tanyaku tanoa suara, sambil mengosok rambutku yang basah.
"Baru aja."
Aku mengangguk paham, lalu menghampiri Papa. Tak lama setelahnya Mama ikut bergabung dengan kami.
"Kamu udah sarapan belum?" tanya Mama.
Aku menggeleng. "Belum, Ma, belum sempet tadi."
"Ya, udah sana, langsung cari sarapan aja dulu! Mama tadi panik banget, jadi belum sempet beliin atau bikinin."
Aku mengangguk setuju. "Iya, abis ini, Naren langsung cari sarapan. Mama sama Papa mau dibeliin sesuatu enggak?" tawarku kemudian.
"Enggak usah, Mama masih kenyang."
"Mertua-mu sudah tahu, Ren?" tanya Papa.
Aku mengangguk. "Udah, Pa, tadi Naren langsung ngabarin setelah dapet kamar. Tapi Eva ngelarang Ibu sama Ayah ke sini, tapi nggak tahu juga apa mereka nurut sama Eva atau enggak."
"Kamu sih, harusnya lebih hati-hati kalau jagain istrinya, apalagi sedang hamil muda begini. Masih rentan, Ren, untung aja Eva-nya sama bayi kalian kuat, jadi mereka baik-baik saja. Pokoknya, Mama nggak mau tahu lho, kamu harus lebih extra jagain mereka. Ngerti?"
"Ngerti, Ma." Aku mangguk-mangguk paham lalu berdiri dari posisi dudukku. "Ya, udah Naren keluar cari sarapan dulu. Titip Eva bentar, ya, Ma, Pa."
"Iya."
**Tbc,
alhamdulillah, sempet nulis meski rasanya nggak karu-karuan. moga masih nyambung, ya. mon maap, baru sempet up, hehe, ini part kupublish sekitar jam satuan, moga aja review-nya gk lama. sempet khawatir tadinya, soalnya demamku naik lagi tadi, tapi alhamdulillah, sekarang udah turun dan bisa up. hehe, see you next part. jangan lupa jaga kesehatan, ya, jangan ketularan si Author bandel ini πππ
bye-bye!
π€ππππππ**