
"Masa lalu memang seharusnya dibiarkan berlalu. Bukan justru membuatmu mendadak galau."
||•••••••••||
Gue masih menatap ponsel gue dengan pandangan tidak percaya. Bahkan setelah hari berganti pun, Arkan belum menghubungi gue sama sekali. Ini wajar enggak sih. Maksudnya begini, gue baru saja menjalani operasi, meski sekarang sudah memasuki proses pemulihan, tetep aja gue ini masih masuk kategori sakit, dan harusnya sebagai calon suami yang baik, Arkan itu cepat dan tanggap. Bukannya malah mengabaikan gue begini. Udah lupa kali waktu gue di RS, dia sampai enggak pulang. Masa mentang-mentang gue udah keluar dari rumah sakit, dia jadi lepas tangg--eh, gue kan baru calon istrinya, ya. Belum jadi istrinya, jadi Arkan belum punya tanggung jawab terhadap gue, ya.
Tapi, tetep aja, dia enggak boleh mengabaikan gue begini dong. Apalagi dia baru sama ketemu sama mantannya. Meski bukan mantan pacar, Arkan tetap saja pernah menaruh hati terhadap perempuan itu. Terlebih lagi perempuan itu memiliki... Ah, sudahlah, nggak sanggup lagi gue mikirinnya. Rasanya kepala gue mau pecah lama-lama mikirin itu hamba Allah yang enggak kunjung peka itu.
Ting
Gue lirik layar ponsel gue, ada pesan dari Arkan. Dengan ragu-ragu gue kemudian meraihnya.
Calon Imam:
Sarapan dan minum obatnya jangan lupa. Biar bisa cepet gelar resepsi😘
Jantung gue tiba-tiba berdebar kencang. Arkan tidak biasanya mengirimkan emotikon semacam ini, dan bukannya merasa terharu atau pun senang, gue justru merasa takut. Bagaimana, kalau Arkan melakukan ini karena perasaan bersalahnya. Bukan bersalah karena enggak jemput gue kemarin, tapi karena dia kepikiran buat merubah status gue menjadi mantan calon istrinya. Astaga! Itu tidak boleh terjadi.
Dengan gerakan terburu-buru, gue langsung menekan tombol telepon. Tak perlu menunggu waktu yang lama, Arkan langsung menjawab panggilan gue.
"Halo, Adeeva? Ada apa? Aku sedang ada meeting saat ini. Tidak bisa bicara sekarang, nanti aku telfon."
Tutututut. Sambungannya langsung dimatikan begitu saja. Bahkan tanpa membiarkan gue mengeluarkan suara gue sedikit pun.
Apakah ini benar?
Perasaan gue mendadak gelisah. Wajar nggak sih yang gue rasain sekarang ini. Kok rasa-rasanya agak berlebihan ya, tapi anehnya gue juga enggak bisa ngontrol kegelisahan gue ini.
"Besok kontrolnya, calon mantu Ibu bisa nganterin nggak?" celetuk Ibu, yang kini ikut nimbrung di sebelah gue. Kedua matanya menatap gue curiga, "mikirin apa sih, kok sampai segitu gelisahnya?"
"Enggak, enggak ada. Ibu tadi tanya apa?" tanya gue, gue tadi denger sih, cuma nggak begitu konsen jadi udah lupa.
"Besok pas jadwal kontrol, calon mantu Ibu bisa nganterin enggak? Coba kamu tanyain," kata Ibu sambil menggulang kalimatnya.
"Loh, bukannya masih lusa?" Gue menoleh ke arah Ibu yang kini sudah turun ke lantai di bawah, dan sedang melipat baju di lantai beralaskan karpet.
"Iya. Tapi enggak salahkan tanya dulu, takutnya nanti enggak bisa," jawab Ibu.
"Iya, nanti aku tanyain."
"Kok nanti, keburu lupa ntar. Sekarang aja to," suruh Ibu ngontot.
"Arkan lagi rapat, Bu, nggak bisa diganggu."
Gue kemudian menyibak selimut gue dan turun dari kasur, mengambil kunci motor dan dompet.
"Eva keluar bentar ya, Bu. Cari cemilan. Biar ada kegiatan," pamit gue, yang langsung Ibu larang.
"Enggak boleh. Kamu itu baru selesai operasi, bekas jahitannya belum kering. Duduk anteng aja di kasur apa susahnya sih," gerutu Ibu dengan wajah galaknya, "jalannya aja masih sambil meringis begitu mau motoran. Udah bosen tidur di kostan, suka banget tidur di rumah sakit. Huh?"
"Sebentar aja, Bu, cuma--"
"IBU BILANG ENGGAK BOLEH, YA ENGGAK BOLEH!" bentak Ibu penuh emosi.
Membuat gue akhirnya mendesah pasrah sembari mengerucutkan bibir kesal, dan kembali lagi ke kasur.
"Kalau mau beli cemilan mending order di Go-Food bisa. Jangan kaya orang susah begitu dong, Va. Percuma beli hape mahal-mahal tapi enggak dipergunakan dengan baik dan benar," omel Ibu kemudian. Beliau kemudian langsung bangkit berdiri dan mengambil ponselnya. "Mau makan apa, biar Ibu pesenin," Ibu kemudian kembali duduk di atas karpet.
"Emang Ibu punya aplikasinya?"
"Punya."
"Bisa cara mesennya?"
"Kok ngeledek to?"
Ibu mendongak ke arah gue dengan tatapan tak terimanya. "Bukan ngeledek. Tanya ini lho."
"Ya, udah, mau pesen apa jadinya?"
"Enggak. Tadi niatnya mau sekalian sambil jalan-jalan. Bosen juga di kamar terus,"-plus biar nggak kepikiran sama Arkan terus.
"Piye to?"
"Mboten piye-piye, Bu. Eva mau tidur aja deh."
"Terserah kamu lah," balas Ibu terlihat agak kesal.
"Maaf, Bu," bisik gue merasa bersalah. Karena bagaimana pun juga, waktu istirahat Ibu menjadi berkurang banyak karena ngurusin gue.
"Lek dhang turu!" kata Ibu mengabaikan kata-kata gue.
Gue membalasnya dengan anggukan kepala dan mulai memejamkan mata, berharap bisa segera melupakan Arkan dan masa lalunya meski hanya untuk sesaat.
✓✓✓✓✓✓✓
Gue langsung menghentikan langkah kaki gue dan berbalik menatap Ibu. "Ke depan, cari angin. Sumpek di kamar terus."
"Enggak usah jauh-jauh," balas Ibu dengan wajah juteknya. Sepertinya Ibu masih kesal dengan gue.
"Iya. Cuma ke depan situ kok," jawab gue berusaha kalem.
Gue kembali melanjutkan langkah kaki gue sampai menyentuh handle pintu, membuka pintu lalu keluar dari kamar. Berjalan menuju gazebo kecil yang berada dekat halaman parkir motor anak-anak, yang biasanya sering digunakan untuk nongkrong anak kost laki-laki. Tapi berhubung semua penghuni pada sibuk dengan kegiatan masing-masing, jadi sepi. Gue kemudian mendudukkan pantat gue di sana, menghela nafas lega karena ternyata berjalan dari kamar menuju kemari butuh sedikit perjuangan, nyeri bekas operasinya sesekali timbul. Pantes Ibu terlihat semarah itu waktu gue izin pergi keluar.
Gue kemudian mengeluarkan ponsel gue dari kantong baby doll gue, mencari-cari nomor Bang Bima lalu menghubunginya tanpa ragu.
"Sialan. Tau aja lo kalau gue lagi nganggur," sambut Bang Bima begitu sambungan terhubung.
Gue kemudian tertawa ringan. "Gue kan punya indera keenam, Bang."
Terdengar dengkusan kasar dari seberang. "Nggak usah pake sambutan, langsung pada intinya. Lo mau curhatkan? Bikin ulah apa lagi itu calon suami lo?"
"Calon suami gue bukan tukang bikin ulah ya, enak aja," sungut gue tak terima sekaligus tersinggung.
"Ya, ya, ya, terserah."
"Perempuan itu ke sini, Bang."
"Ke kostan lo?"
"Ngapain ke kostan gue? Ya, enggaklah."
"Terus?"
"Ke Indonesia."
"Loh, emang biasanya tinggal di mana? Luar negeri?"
"He'em, California katanya."
"Bule?"
"Bukan. Cuma dapet suami orang luar."
"Udah punya suami?"
"Udah."
Di seberang Bang Bima terdengar ber'oh'ria. "Oh, udah punya laki toh."
"Iya, udah. Tapi... gue tetep aja takut, Bang. Gimana kalau perempuan itu ke sini karena mau minta balikan sama Arkan? Posisi gue bisa terancamkan?"
"Terancam gimana? Kalau Arkan mau nya sama lo, ya nggak peduli meski dia kembali, Va. Posisi lo nggak akan berubah, lo akan tetap di hatinya. Lagian, bisa jadi dia ke sini cuma mau liburankan. Pikiran lo terlalu sinetron deh kayaknya. Udahlah, Va, yang ada nanti lo capek sendiri. Fokus dulu sama proses penyembuhan lo dulu, masa lalu biarkan berlalu, jangan malah membuat lo mendadak galau."
"Tapi, gue--"
"Udah. Positif thinking! Percaya sama, Arkan. Katanya udah mau nikah, masa lo masih ragu aja sih. Serius mau nikah nggak sih, Va. Heran gue," gerutu Bang Bima, membuat gue mendadak bungkam.
Serius mau nikah apa enggak? Kenapa gue bahkan nggak tahu jawabannya.
"Va, lo masih di sana? Kaga semaputkan lo?"
"Gue nggak tahu, Bang," jawab gue dengan suara lirih.
"Enggak tahu apa?"
"Gue nggak tahu apa gue udah serius siap nikah sama dia."
"Maksud lo?"
Gue menggeleng. "Gue nggak tahu, Bang."
Helaan napas terdengar dari seberang. "Rumit amat sih. Oke, gini aja, mending kalian obrolin dulu masalah ini, bilang jujur sama Arkan kalau sebenarnya lo belum seyakin itu sama dia."
"Tapi..."
"Berhenti pura-pura kalau lo itu bisa menerima masa lalu dia, Va. Semua butuh proses, mungkin lo juga butuh proses untuk nerima masa lalu dia. Gue nggak minta lo untuk mengakhiri hubungan kalian, cuma saran gue, jangan terburu-buru untuk memutuskan cepat-cepat menikah. Oke?"
Gue mengangguk patuh. "Thanks, Bang. Gue bakal pertimbangin saran lo."
"Iya. Ya, udah, gue musti balik ngajar. Sisiwa gue udah dateng."
"Iya, thanks ya, Bang."
"Iya."
Tbc,