Adore You!

Adore You!
Adore You! : d u a p u l u h s a t u



"Cinta memang buta, tapi jangan mau dibutain hanya karena jatuh cinta. ~Shirin.E"


\=\=\=\=\=\=\=\=


Arkan langsung menegakkan tubuhkan, saat mendapati tubuh gue sudah keluar dari gerbang kost. Ia memandang gue sekilas lalu masuk ke dalam mobil, yang artinya itu gue harus segera masuk dan menyusulnya. Meski dengan sedikit cemberut, gue nggak punya pilihan selain nurut.


Jujur, gue agak kesel sih sama Arkan. Harusnya kan dia itu ngertiin posisi gue yang sedang tegang luar biasa karena akan berkunjung ke rumahnya, apalagi di rumahnya sedang ada acara ulangtahun pernikahan kedua orang tua Arkan. Meski acaranya sederhana dan hanya menggundang anak, menantu dan cucu mereka saja, tapi tetap saja itu cukup membuat gue tegang. Dan harusnya Arkan sekarang itu nenangin gue biar gue nggak perlu tegang atau pun cemas, bukannya fokus menyetir begini.


"Ar," panggil gue sambil melirik Arkan.


"Hm," respon Arkan seadanya, ia bahkan tidak melirik gue sedikit pun.


Gue mendesah kecewa lalu memalingkan wajah gue keluar jendela. Tahu kalau begini mending gue tolak aja ajakannya kemarin, seenggaknya gue nggak perlu sensi dan tegang di saat yang bersamaan. Sial.


"Kenapa, Adeeva?" tanya Arkan, masih tanpa melirik gue.


"Lo niat nggak sih ngajakin gue ke acara ulangtahun pernikahan Tante Ajeng dan Om Hito?" tanya gue snewen.


"Niat kok, kalau tidak niat, ya tidak mungkin saya jemput kamu."


"Terus kenapa lo nyuekin gue?"


"Saya sedang menyetir, Adeeva. Harusnya kamu sudah terbiasa...."


"....dengan sikap cuek lo," sambung gue judes.


Kali ini Arkan menoleh, sebelah alisnya terangkat sebelum akhirnya kembali fokus dengan kemudinya. "Bukan itu yang ingin saya ucapkan, meski apa yang kamu ucapkan tidak salah," ucap Arkan tiba-tiba.


Gue memilih mengabaikannya. Bodo amat deh. Daripada tambah sensi.


"Sudah sampai. Ayo, turun!" ajak Arkan sambil melepas seatbelt-nya kemudian langsung turun.


Setelah melepas seatbelt, gue pun ikut turun. Gue menelan ludah gue dengan susah payah saat tiba di  halaman rumah Arkan yang luas, terparkir dua mobil sedan mewah berjejer rapi di sebelah mobil milik Arkan. Yang gue tebak itu pasti milik Damian dan Bang Ferdi. Duh, kok gue rasanya makin tegang. Berada di tengah-tengah keluarga Arkan sementara status gue sama Arkan belum jelas, nanti gue di dalam ngapain coba?


"Adeeva," panggil Arkan, "ada apa?"


Gue mengigit bibir bawah gue. Sumpah, gue belum pernah merasa setegang ini sebelumnya. Aduh, boleh nggak sih gue kabur sekarang?


"Ar, anterin gue pulang aja, yuk! Gue kayaknya belum siap deh. Lagian status kita juga belum jelas, masa lo udah bawa gue ke acara penting gini. Balik aja deh gue," rengek gue memelas.


"Udah sampai di sini, Adeeva. Nggak usah aneh-aneh deh. Ayo, masuk!" ajak Arkan, benar-benar mengabaikan wajah memelas gue.


Duh, emang masih kurang melas ya muka gue?


"Gue takut," cicit gue sambil menggeleng tegas, menolak diajak masuk.


Emang agak gila ya, gue. Udah sampai halaman rumahnya, eh, malah minta balik. Tapi gue beneran takut buat masuk. Bayangin masuk ke dalam rumah terus digoda-goda Shirin atau Bang Ferdi karena dateng bareng Arkan, tapi Arkannya sendiri cuek gitu rasa-rasanya serem banget. Lebih serem ketimbang ketemu Ardit.


"Nggak usah takut, kan datengnya sama saya."


"Ya, justru datengnya sama lo yang bikin gue takut."


"Loh, emangnya saya seserem itu? Bukannya saya ganteng, makanya kamu mau sama saya?"


Lah, malah ngelawak. Garing pula.


"Malah bercanda, gue beneran lagi tegang ini lho, Ar. Mbokyo peka sedikit kenapa sih?" protes gue kesal. 


"Assalamualaikum," ucap Arkan menyapa Bang Ferdi dan juga Damian yang kini tengah duduk di sofa.


Kedua pria itu membalas ucapan salam Arkan dan dengan kompak menoleh ke arah kami, pandangan mereka kemudian jatuh pada jari jemari gue yang berada dalam genggaman Arkan. Damian hanya tersenyum samar lalu fokus pada ponselnya, sementara Bang Ferdi kemudian menatap gue. Kedua matanya mensensor ujung kaki sampai ujung kepala gue.


"Berasa kenal," guman Bang Ferdi dengan ekspresi tak yakinnya.


"Eva, Bang, temen Irin," ujar Damian setelah mendengar gumanan sang kakak ipar.


"Eva?" guman Bang Ferdi tak yakin.


Kedua matanya melirik ke gue sekali lagi, membuat gue salah tingkah jadinya. Ini juga si Arkan aneh banget, bukannya melonggarkan genggaman tangan gue, eh, malah dipererat, padahal jelas-jelas gue udah usaha buat ngelepasin.


"Cie cie, pasangan barunya kita udah sampai," celetuk Shirin iseng, dia baru keluar dari dapur sambil menggendong Rafka. Lalu mendekati Damian dan memberikan Rafka padanya. Baru setelah itu ia berjalan mendekat ke arah gue sambil tersenyum aneh.


"Pinjem dulu ya, Kak, pacarnya," ujar Shirin sambil merangkul lengan gue, yang secara otomatis membuat Arkan melepaskan genggaman tangannya. Pria itu kemudian mendengkus dan berjalan menghampiri adik ipar dan keponakannya.


"Pacarmu?" tanya Bang Ferdi.


Arkan tak menjawab, kedua matanya melirik gue kemudian menggeleng.


"Temen," jawab Arkan sekenanya.


Shirin melotot terkejut, ia kemudian menoleh ke arah gue dengan tatapan tajamnya, kemudian berbisik, "Kok masih temen?"


"Hidup," sambung Arkan tiba-tiba.


Membuat suasana mendadak aneh. Semua orang menatap Arkan, termasuk gue. Shirin melongo saat mendengarnya, Damian hanya tersenyum samar sedangkan Bang Ferdi menatap adiknya dengan tatapan aneh. Ia kemudian melirik gue.


"Lo apain adek gue, Va?" seloroh Bang Ferdi sambil terkekeh geli.


Sepertinya Bang Ferdi sudah inget siapa gue. Buktinya sudah berani godain gue begitu. Dan respon gue ya hanya berupa dengkusan tak suka. Di samping gue Shirin ikut terkekeh kemudian menarik lengan gue menuju dapur.


"Kayaknya semua berjalan lancar, ya, Va?" goda Shirin sambil menyenggol pundak gue.


"Enggak selancar yang ada di otak lo sih, cuma mendinglah," jawab gue sekenanya.


Shirin mangguk-mangguk dengan wajah antusiasnya. "Tapi seenggaknya ada komitmen buat barengkan?"


Gue diam, membuat Shirin menghentikan langkah kakinya dan menatap gue snewen.


"Jangan bilang nggak ada komitmen di antara kalian?" tebak Shirin tepat sasaran.


Gue hanya mampu tersenyum kecut lalu menggeleng lemah. Arkan memang tidak memberi komitmen atau semacamnya, dia hanya a bilang mulai tertarik sama gue dan mau mencoba, udah itu aja. Dan berhubung gue udah naksir berat sama Arkan, ya udah gue terima tanpa protes langsung ke orangnya.


"Emang bego lo," umpat Shirin memaki gue, "kok lo mau-maunya sih digantungin tanpa status gitu, Va. Astaga!" Adik Arkan ini kemudian geleng-geleng kepala sambil berdecak.


"Namanya juga lagi jatuh cinta, Rin, wajar kalau bego. Cinta itu buta, cuyyy," balas gue sambil terkekeh.


Shirin mendengkus. "Cinta memang boleh buta, tapi jangan mau dibutain hanya karena jatuh cinta," komentarnya pedas.


Lah, terus bolehnya dibutain karena apa?


Gue hanya mampu menghela napas sambil tersenyum kaku. Gue kelihatan banget dibutain cinta, ya?


Tbc,