
#####
Aku mengeliat saat merasakan tepukan pelan pada kaki kananku. Lalu aku menarik selimutku yang agak melorot dan kembali mencari posisi nyaman. Samar-samar aku mendengar suara decakan sebal, membuatku mengernyit dan akhirnya membuka kedua mataku. Aku menoleh ke arah belakang, dan menemukan Adeeva menatapku tajam dengan kedua tangan yang disilangkan di depan dada. Rambutnya masih dibungkus menggunakan handuk kecil, pertanda kalau ia baru selesai mandi. Aroma sabun dan shampo menguar dari tubuhnya.
"Kenapa?" tanyaku sambil menggaruk-garuk kepalaku.
"Kok kenapa sih, mandi dong, Mas! Terus salat subuh."
Aku berguman, "Iya, bentar lagi. Masih ngantuk nih."
Adeeva berdecak sambil menarik sebelah tanganku. "Bangun sekarang, nanti dilanjut lagi tidurnya. Abis salat subuh, terserah deh kamu mau tidur berapa lama, yang penting mandi dulu terus salat."
"Iya, iya, aku bangun."
Aku kemudian turun dari ranjang dan memakai kaosku, lalu meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Tak sampai lima menit, aku keluar dari kamar mandi dan sudah tidak menemukan Adeeva di dalam kamar. Aku yakin dia pasti sudah sibuk di dapur. Aku heran, ini kan hari minggu kenapa dia tidak bersantai saja sih. Masak kan bisa nanti-nanti lagi. Sehari setelah acara ngunduh mantu, aku dan Adeeva memang langsung tinggal dan apartemen. Kami tidak melakukan perjalanan honeymoon dan sebagainya, padahal aku sudah menyiapkan budget yang tidak sedikit, semisal nanti Adeeva ingin perjalanan ke luar negeri.
Flashback On
"Yang, mau honeymoon ke mana?" *tanyaku saat itu. "Kita belum nentuin mau ke mana lho kemarin," sambungku kemudian.
Kami memang belum membahas hal ini secara mendetail saat menyiapkan pernikahan kemarin, alasannya karena Adeeva selalu menjawab 'Nanti aja kalau udah sah jadi suami-istri'.
Saat itu kami baru selesai makan malam dan sedang bersantai di ruang tamu.
Adeeva dengan wajah santainya kemudian menjawab, "Di kasur."
Aku nyaris saja tersedak kopiku kala mendengar jawaban darinya. Aku langsung memberikan tatapan datarku.
Adeeva terkekeh sambil membuka kacang kulitnya. "Kenapa ekspresinya itu?" ledeknya kemudian.
"Kesel lah, masa ditanya serius jawabannya gitu," protesku sambil meletakkan cangkir kopiku.
Adeeva tertawa. "Nggak usah."
"Maksudnya?"
"Nggak usah pergi honeymoon. Ngehabis-habisin duit aja, mending uangnya ditabung buat beli rumah."
Mendadak aku tersinggung. "Kok mendadak jadi bahas beli rumah? Kemarin aku tawarin buat ambil cicilan KPR kamu nggak mau, kenapa sekarang mendadak bahas rumah?"
"Ya, kamu mau ambil cicilan KPR, Mas, aku jelas nggak mau lah."
"Kenapa?"
"Ya, gitu deh pokoknya."
"Pokoknya gitu gimana?" tanyaku tak paham.
Adeeva diam tak menjawab pertanyaanku, dan malah fokus dengan layar televisi yang ada di hadapan kami.
Aku menghela napas pendek. "Jadi, beneran nggak pergi honeymoon?"
"Hmm, nggak usah."
Aku mengangguk pasrah. "Ya, udah kalau nggak mau, aku nggak maksa. Cuma kalau kamu berubah pikiran kapan saja aku oke. Toh, emang dari awal aku udah siapin budget buat honeymoon. Mau domestik atau non domestik, hayuk aja aku sih. Kamu tinggal pilih, mau ke Eropa, Korea, Labuan Banjo, Raja Ampat? Aku nggak masalah."
Mendengar jawabanku, Adeeva langsung mencibir, "Idih, sok kaya banget si Bapak. Sok-sokan mau nawarin honeymoon ke luar negeri. Eropa. Korea. Kebanyakan gaya kamu, Mas."
"Aku serius, yang. Beneran udah nyisihin kok."
"Iya. Terima kasih Mas suami sayang. Tapi untuk sekarang aku belum tertarik."
"Aneh kamu," ejekku mencibirnya.
"Biarin, yang penting kamu cinta kan?"
Aku berdecih lalu merangkul pundaknya. Tidak menyangkalnya sama sekali, karena itu memang kenyataan*.
Flashback Off
Setelah selesai berpakaian dan menyelesaikan salat subuhku, aku keluar daru kamar, mencari keberadaan Adeeva, yang ternyata sedang sibuk memotong sayuran.
"Masih gelap di luar, yang, masa kamu udah sibuk di dapur."
"Masalah?" Adeeva melirikku.
"Ya udah, nggak usah protes. Sana mending kamu balik ke kamar lagi, tidur."
"Enggak, ah, masa kamu sibuk masak aku enak-enakan tidur."
"Ya udah, jangan tidur! Kalau gitu mending nyuci baju atau nyetrika sana!"
Ah, sepertinya aku salah bicara.
Adeeva kembali melirikku sambil terkekeh. "Bercanda. Ekspresi biasa aja! Terserah kamu deh, mau ngapain."
"Iya, aku mau jogging aja deh kalau gitu."
"Iya. Gitu juga bagus."
Aku langsung menghampiri Adeeva, lalu mengulurkan sebelah tanganku.
Adeeva mengernyit bingung. "Apa ini? Minta uang jajan?"
Aku berdecak. "Salim. Cium tangan dong, orang suaminya mau pergi juga."
Adeeva ber'oh'ria sambil tertawa. Lalu meraih tangan kananku dan mencium punggung tanganku.
"Hati-hati, jangan lupa pulangnya bawa plastik, ya!"
Aku terkekeh lalu meliriknya datar. "Mau jogging kok diminta bawa pulang plastik. Kamu pikir suami kamu pemulung apa?"
"Bukan plastik bekas dong, Mas. Plastik yang ada isinya."
"Iya, isinya bebas kan?"
"Bebas. Yang penting bisa dimakan."
#####
"Assalamualaikum!" seruku saat memasuki apartemen.
"Wa'allaikumussalam!" Adeeva langsung menyambutku dan keluar dari dapur, "itu bawa apaan?" sambungnya saat mendapati aku menenteng plastik.
Aku kemudian menyerahkan plastik itu ke Adeeva. "Kantong plastik pesenan kamu."
"Isinya apaan?"
"Bubur ayam. Nemunya cuma itu soalnya."
"Astaga, aku tadi cuma bercanda, Mas, nggak perlu dibeliin beneran juga dong. Aku udah masak lho."
"Udah selesai masaknya?"
Adeeva mengangguk. "Tinggal nyuci perabot."
"Nanti aja nyucinya, siapin sarapan dulu buat aku. Aku laper. Tapi sekarang aku mau mandi dulu."
Adeeva menatapku datar. "Terus bubur ayamnya?"
"Kamu makan, kan kamu yang pesen. Lagian aku cuma beli satu. Biar aku makan masakan kamu."
"Ah, nyebelin kamu," decaknya sebal. Ia melirikku sinis, lalu menggerutu tidak jelas.
"Aku suami perhatian lho, masa dibilang nyebelin," protesku tidak terima.
"Tapi aku tadi cuma bercanda, Mas!" seru Adeeva gemas.
Aku kemudian langsung terbahak. Ekspresi Adeeva selalu lucu kalau sedang kesal begini, antara ingin kucubit atau kukecup pipinya. Ah, pilihan dua terdengar mengiurkan.
Aku tersenyum penuh arti dan berkata, "Kalau berurusan sama kamu, aku tuh selalu serius, sayang," kedipku genit, lalu mencium sebelah pipi Adeeva, mengalungkan handuk kecil bekas keringatku, dan langsung berlari ke dalam kamar setelahnya.
Lalu Adeeva berteriak kesal. "Arkana Narendra! Awas kamu, Mas!"
**Tbc,
lama gk up siang ππ up siang lagi ah, doain nanti mlm gk mls up, ya. jangan lupa jaga kesehatan buat kalian semua, jangan terlalu stress ya, mikirin harga yang apa-apa, ktanya lagi naek itu. udah, gitu aja cuap-cuapnya. see you next part, buat yg masih nungguin, yg udh males sama alurnya, thanks aja deh, pernah khilaf baca cerita gajeku. tetep lope lope kok buat semuanya π€πππππ**