Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |33| Kacau



#######


Air mataku mengalir tanpa dapat kucegah. Hatiku hancur dan remuk redam. Bersalah sekaligus marah. Selama 33 tahun aku hidup, belum pernah aku merasa sehancur ini, selain mengetahui fakta kalau aku telah menghamili anak orang. Fakta yang baru saja kutemui benar-benar membuatku merasakan penyesalan yang mendalam. Ternyata, aku sepayah inikah menjadi seorang suami. Sehingga aku tidak tahu kesulitan apa yang tengah dialami oleh istriku sendiri. Masih pantaskah aku disebut sebagai suami?


"Mas!" panggil Adeeva dari luar.


"Mas!" ulang Adeeva sambil berteriak.


Dapat kurasakan suaranya semakin mendekat. Aku mengetatkan genggaman botol di tanganku, sekali lagi air mataku luruh kembali. Sehancur-hancurnya aku saat mengetahui fakta kalau Milla hamil anakku, aku tidak pernah menangis sekalipun. Tapi kali ini, air mataku seakan tidak punya sopan santun dan terus keluar dari kedua pelupuk mataku.


Cklek!


"Astagfirullah, Mas!" jerit Adeeva setelah membuka pintu dan menemukan aku terduduk di lantai dengan ekspresi kacau. "Kamu kenapa, Mas?" tanyanya panik.


Aku menghindari tatapannya. "Harusnya pertanyaan itu, aku yang nanyain Adeeva."


"Kamu ini ngomong apa? Aku baik-baik saja, yang nggak baik--"


Aku langsung mengangsurkan botol obat miliknya. "Jelasin kenapa kamu sampai harus minum ini! Aku mau denger semuanya tanpa terkecuali."


"Mas, ini... ini bukan obat. Ini cuma vitamin, kayak yang pernah aku jel--"


"BERHENTI MEMBODOHIKU, ADEEVA!" teriakku marah, "sekarang aku mau tanya, kamu anggap aku ini apa di hidup kamu?" kali ini suaraku mulai melunak.


"Mas, kamu ini ngomong apa? Kamu ini suami aku, jelas saja kamu aku anggap sebagai suami aku. Iman dan kepala rumah tangga kita."


Aku tertawa miris. "Kalau kamu masih nganggep aku suami kamu, kenapa kamu menyembunyikan fakta ini. Obat penenang?" aku mencibirnya. "Aku bahkan nggak bisa bayangin kamu lebih memilih minum pill sialan itu, ketimbang membagi beban yang kamu rasakin sama aku. Kamu tahu, Adeeva, itu benar-benar bikin aku hancur. Segitu nggak percaya kamu sama suami kamu sendiri dan lebih milih minum obat penenang."


Aku menarik rambutku karena frustrasi. "Oke, katakanlah aku nggak bisa nenangin kecemasan yang kamu rasain. Tapi seenggaknya kamu bisa membaginya sama aku! Lalu kita bisa cari solusinya bareng-bareng. Bukan begini, Adeeva."


"Aku minta maaf, Mas."


"Jelasin, Adeeva!" Rahangku kembali mengeras.


Adeeva masih tetap diam. Aku menghela napas kasar. "Sesulit itukah?"


"Mas," panggil Adeeva memohon.


"Apa aku tidak perlu tahu, apa yang terjadi pada kamu?" tanyaku pelan.


"Jawab aku, Adeeva!"


"Apa?! Kamu mau aku jawab apa, Mas?" balas Adeeva sedikit berteriak. "Kamu mau tahu kenapa aku minum pill itu? Iya?"


"Aku harus tahu."


"Aku minum itu karena kamu terus-terusan memintaku agar aku tidak cemas dan lainnya. Awalnya, aku pikir aku bisa melakukannya. Tapi semakin lama, aku nggak bisa, Mas. Aku nggak kuat. Kamu memintaku untuk tidak terlalu memikirkan semua ini, tapi yang kamu lakukan hanya sekadar itu. Lalu bagaimana aku mengatasi semua itu?"


Aku tertegun. "K.ka..kamu mencemaskan..."


"Ya, aku cemas dan gelisah karena belum bisa kasih kamu keturunan. Milla, yang bahkan bukan istri kamu aja bisa kasih kamu keturunan, kenapa aku enggak? Dia yang meninggalkan kamu, dan aku yang harus mengobati luka kamu. Aku yang ngurus kamu dan belajar ikhlas menerima semua ini, tapi apa yang aku dapet? Semua orang di sekitar kita seakan terus menekanku agar aku cepat hamil." Tangis Adeeva akhirnya pecah. "Aku juga pengen hamil dan punya anak kayak perempuan yang lainnya. Aku pengen juga kayak mereka jadi Ibu. Aku mencoba untuk tetap optimis dan sabar, tapi mereka seakan meremehkan aku kalau aku nggak bisa kasih kamu keturunan, Mas. Aku takut dan cemas kalau aku beneran nggak bisa kasih kamu keturunan. Semakin hari aku tidak bisa mengatasi kegelisahanku."


Melihat Adeeva menangis pilu, hatiku semakin hancur. Hatiku seakan berteriak agar aku segera menariknya ke dalam pelukanku, namun sayangnya tubuhku tak bergerak sedikit pun.


"Kamu memintaku untuk tidak mencemaskan semua ini, tapi aku enggak bisa, Mas. Aku udah berusaha keras untuk mengatasinya, tapi pada akhirnya aku gagal dan memilih jalan ini. Maafkan aku, Mas, bikin kamu kecewa dan marah," sesal Adeeva sambil mengusap kedua pipinya dan keluar dari kamar.


Aku meruntuki kebodohanku. Kenapa aku tidak melakukan apapun?


#######


Setelah sekian tahun aku tidak pernah menyentuh minuman haram, kini akhirnya aku ingin kembali berurusan dengannya. Malam ini aku ingin mabuk dan melupakan fakta yang baru saja aku ketahui. Malam ini, aku ingin melupakan semuanya. Hanya untuk malam ini saja.


Plak!


Aku meringis saat merasakan pukulan keras pada punggungku. Aku tahu siapa pelakunya, karena memang aku yang menelfonnya untuk kemari.


"****! Ngapain lo ngajak ketemuan di tempat beginian?"


Aku tersenyum sambil menyuruhnya untuk segera duduk. Bang Ferdi mendengkus kasar, namun tetap duduk di sampingku.


"Ren, gue emang nggak tahu masalah apa yang lagi lo hadapin sekarang. Tapi seenggaknya lo jangan lupa diri gini dong, lo ini seorang suami. Kepala keluarga. Imam ruamh tangga. Masa gara-gara ribut sama bini lo jadi begini terus lari ke minum? Ini nggak bener, Ren. Lo punya Tuhan, lo punya Allah. Jangan gini lah, ayo pulang!" bujuk Bang Ferdi sungguh-sungguh.


Selama 33 tahun kami bersaudara, ini pertama kalinya Bang Ferdi memberiku nasehat dengan nada tenang.


"Gue pengen mabuk, Bang. Gue pengen ngelupain semua ini, malam ini aja gue pengen lupa. Gue juga pengen sesekali lari dari kenyataan, meski cuma sebentar."


Aku sudah menghabiskan tiga gelas Tequila-ku, namun tetap saja aku masih sepenuhnya sadar. Padahal dulu aku cukup mudah mabuk meski kadar alkohol sejenis Tequila yang kuminum hanya berkadar 35%.


"Lo hampir habis setengah botol tapi masih sadar, Ren. Percuma lo nggak akan mabuk!" seru Bang Ferdi kesal. Ia merebut gelasku dan meletakkan di atas meja dengan kasar. "Heran banget gue, lo bisa sebagus itu tahan sama alkohol. Belajar dari mana sih lo?"


"Gue juga bingung, Bang. Dulu padahal gue gampang banget mabuk kalau diajak minum."


Plak!


Satu pukulan kembali mendarat di punggungku. "Ayo, pulang!" ajak Bang Ferdi sambil menarik tanganku. "gue anter," imbuhnya kemudian.


"Gue nggak mau pulang malam ini."


"Ren, sebagai pria dan seorang suami, kalau lagi ada masalah itu harusnya dibicarain sama istri. Bukannya lari dari masalah."


Kedua mataku kembali berkaca-kaca. Aku ingin menangis, tapi kali ini tidak bisa.


"Eva bahkan menyembunyikan fakta besar, Bang. Dia duluan yang lari dari masalah, dia nggak mau ngajak gue diskusi. Dia..."


"Ren," panggil Bang Ferdi.


"Kenapa dia lebih milih minum obat penenang ketimbang berbagi beban sama gue."


Bang Ferdi berdecak samar sambil berkecak pinggang, lalu menarik lenganku. "Sekarang udah mabuk lo, Ren. Ayo, bangun! Gue anter balik!"


"Gue mau numpang nginep di rumah lo, Bang. Malem ini aja, gue janji besok gue pulang."


"Bang!"


"Enggak ada! Ayo, gue anter pulang."


Setelah membayar minumanku, Bang Ferdi langsung menarik tanganku kasar. Bibirnya tidak berhenti menggerutu selama perjalanan. Entahlah, aku tidak tahu apa saja yang ia katakan, karena aku mulai merasakan kepalaku yang pusing.


"Sialan, kenapa gue punya adek macem lo sih?" gerutu Bang Ferdi sambil mendekatkan tubuhnya ke arahku.


Ah, ternyata kami sudah sampai dan ia sedang membantuku melepaskan seatbelt-ku.


"Aahhh, bau banget deh lo, Ren. Lo tadi abis berapa botol deh?" omelnya kemudian.


"Sebotol aja belum abis, Bang," balasku menyahut.


"Ayo, turun, gue bantu! Tapi lo nggak boleh nularin bau alkohol lo ke gue, karena gue sama sekali nggak tertarik untuk diamuk Anis. Ngerti?"


Aku terkekeh geli saat mendengar kalimat Bang Ferdi. Bang Ferdi ini tipekal Kakak yang keras dan juga galak terhadap kami, adik-adiknya, pun dengan karyawannya. Tapi kalau sudah berurusan sama Mbak Anis, sisi galaknya langsung lenyap seketika. Yah, memang seluar biasa itu sih kemampuan perempuan dalam mengendalikan kami para pria.


"Nggak usah ketawa!" amuk Bang Ferdi sambil memukul kepalaku.


Aku meringis sambil mengelus-elus kepalaku yang dipukul, baru setelahnya aku turun dari mobilnya. "Gue naik sendiri aja, Bang," kataku kemudian.


"Jalan aja nggak bener gini kok. Ayo, gue anter, seenggaknya sampai depan pin--"


Aku kemudian menegakkan tubuhku, yang tadi agak sempoyongan. "Pulang, Bang! Nanti keburu diamuk Mbak Anis."


Bang Ferdi mendengkus samar. "Lo yakin bisa naik sendiri? Lo nggak takut salah masuk apartemen orang gitu?"


Aku mengangguk. "Gue cuma mabuk dikit. Nggak bakalan lupa sama apartemen gue sendiri. Mending lo langsung pulang."


"Gue anter sampai masuk lift deh," tawar Bang Ferdi tiba-tiba.


"Lo tumben khawatir sama gue banget deh, Bang?"


Di luar dugaan Bang Ferdi berdecak. "Gue langsung balik," ucapnya kemudian.


Aku terkekeh sambil mengangguk. "Thanks udah kasih tebengan."


"Bodo amat," balas Bang Ferdi sambil menatapku kesal. "Buruan lo selesaiin masalah kalian! Gue cabut."


"Hmm."


######


Saat aku pulang ke apartement, aku mendapati apartemen dalam kondisi gelap. Aku kemudian meraba-raba di dinding, mencari skalar dan menyalahkan lampu setelahnya. Aku kemudian duduk di salah satu sofa, tak lama setelahnya aku merasakan ponselku bergetar. Kurogoh kantong celanaku dan mengeluarkan benda pipih yang begitu dibutuhkan segala umat zaman sekarang.


Wife-ku πŸ’–:


Malam ini aku nginep di rumah Salma


Wife-ku πŸ’–:


Nggak usah nunggu aku


Wife-ku πŸ’–:


Tidur yang nyenyak, kalau sudah sama-sama tenang. Baru nanti kita bicara


Wife-ku πŸ’–:


I love you


Aku menghela napas sedih saat membaca pesan yang Adeeva kirimkan. Aku tidak membalas pesannya, dan memilih untuk mengabaikannya begitu saja. Hatiku saat ini sedang kacau. Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


Setelah hampir lima belas menit aku duduk diam di ruang tengah. Kini akhirnya aku berdiri dan beranjak menuju kamar. Aku butuh mandi di bawah guyuran shower untuk menyegarkan otakku yang rasanya seperti mau pecah.


Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan shower, berdiri di bawah guyuran air shower. Aku memejamkan kedua mataku, menikmati setiap guyurannya. Selama hampir tiga puluh menit aku di sana, dan akhirnya keluar setelahnya. Aku mengambil handuk dan mengeringkan tubuhku, baru kemudian aku berganti pakaian.


Setelah selesai berganti pakaian, aku keluar dari kamar. Berjalan menuju dapur dan membuat kopi di sana. Aku butuh sesuatu yang hangat.


"Ah, pait," keluhku setelah menyesap sedikit kopi buatanku. "Ah, kenapa rasanya beda sama yang Adeeva bikin. Dia pake berapa sendok sih gulanya. Perasaan dulu waktu aku ngajarin dia, aku ngasih tahu dua sendok deh gulanya. Tapi kenapa rasanya beda ya?"


Aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun tanpanya. Astaga, aku bahkan tadi harus ke kantor tanpa memakai dasi. Semakin dipikirkan, aku jadi merindukannya. Kenapa dia memilih untuk tidak pulang, padahal kami sedang ada masalah dan perlu segera diselesaikan.


Karena tidak suka dengan rasa kopi yang kubuat, aku kemudian langsung membuangnya ke dalam wastafel. Aku meninggalkan gelasku begitu saja tanpa mencucinya lebih dahulu. Aku kemudian memilih untuk tidur di sofa. Tidur di kasur sendirian jelas bukan pilihan bagus. Jadi, lebih baik aku tidur di sofa saja karena sudah mulai mengantuk.


#######


Drrrt Drrttt Drrttt


Aku mengeliat saat mendengar suara ponselku bergetar. Masih dengan kedua mata yang enggan terbuka, aku meraba-raba atas meja dan mencari keberadaannya, setelah ketemu. Aku kemudian membuka kedua mataku sedikit untuk menyentuh tombol menerima panggilan.


"Hmm."


"Ar, ini gue. Salma."


"Ya, kenapa, Sal?"


"Eva... Eva masuk rumah sakit. Bisa lo nyusul sekarang?"


"APA?!"


**Tbc,


mon maap, semalam mau up ketiduran. tdi tengah malam sebenernya udh kebangun, eh, tapi ketiduran lagi. mon maap, ya πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


See you next part deh, jangan lupa jaga kesehatan**