Adore You!

Adore You!
Adore You! : d u a p u l u h s e m b i l a n



"Katanya harta yang paling berharga adalah keluarga. Jadi, kalau aku ingin menjadi yang berharga di hidupmu, berarti kita harus berkeluarga?


♡♡♡♡♡♡♡♡


Sejak beberapa menit yang lalu, gue resmi menjadi seorang pasien dari salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Ayah dan Ibu sudah tiba di Jakarta sejak kemarin, begitu gue telfon malam harinya, siang harinya Ayah dan Ibu sudah tiba. Sepertinya, mereka langsung bergegas kemari setelah mendapat kabar kalau dari gue. Setelah berpikir sehari penuh, gue emang akhirnya memutuskan mengikuti saran Silvi, untuk segera melakukan operasi pengangkatan miom gue. Baru setelah memberitahu Arkan agar menginfokan ketersediaan gue untuk melakukan operasi kepada Silvi, gue menelfon Ayah. Memberitahu agar mereka terbang kesini untuk menemani gue.


Jujur, rasanya sedikit tidak rela waktu mengatakannya. Tapi untung Arkan ada di samping gue saat itu, dan remasan tangannya mampu menguatkan gue. Gue tidak pernah nyangka kalau Arkan bisa se-sweet itu. Hal-hal yang terasa biasa aja rasanya begitu manis kalau Arkan yang melakukannya. Duh, jatuh cinta emang seindah ini, ya. Gue sampai lupa sama masa lalu dan juga buntutnya yang mungkin tahun depan sudah akan masuk Sekolah Dasar.


"Baringan, Va! Biar kayak pasien beneran," celetuk Ibu sambil menepuk paha gue pelan.


"Astaghfirullah, Ibu, iihh, omongannya."


Begitu memasuki kamar inap gue emang memilih untuk duduk bersila saja di atas brankar. Biar enggak berasa kayak sakit beneran gitu maksud gue. Lah, ini si Ibu malah nyuruh gue berbaring biar kayak pasien beneran. Kan enggak enak banget kedengerannya.


"Ya, abis kamu, udah diinfus pake baju rumah sakit tapi kelakuan kayak orang sehat. Kamu beneran sakit enggak sih, Ibu jadi curiga."


Beneran udah tambah tua ini kayaknya Ibu gue. Lupa kali ya, waktu sampai kostan langsung nangis kejer sambil meluk gue. Eh, sekarang malah curiga kalau gue sakit bo'ongan. Lah, emangnya gue sekurang kerjaan itu apa.


"Kenapa malah pada ribut sih, Ayah mau tidur dulu ini loh. Biar nanti kuat begadangnya," seru Ayah dari sofa. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan kedua mata yang terpejam.


Gue dan Ibu menoleh dengan kompak. Biar kuat begadangnya? Kok kedengerannya ambigu sih.


"Ibu mau ngasih Adik buat Dian? Eva sih enggak masalah, asal jangan di kamar ini aja. Cari hotel dulu."


"Ngawur!" Ibu langsung memukul paha gue, kali ini tidak sepelan tadi, dan lumayan lebih keras.


"Sakit, Bu!" protes gue kesal.


Ini Ibu kayaknya emang udah beneran pikun deh. Jelas-jelas sekarang ini gue pasien, tapi masih aja dikasarin. Ck.


"Udah, mending kamu tidur," suruh Ibu.


"Eva belum ngantuk, masa mau tidur." Gue langsung turun dari ranjang, dan mendorong tiang infus gue.


"Mau kemana?" tanya Ibu heran.


"Nyalain tv sama ambil remote."


"Kan Ibu bisa ambilin," gerutu Ibu.


Gue tersenyum. "Kan Eva masih bisa ambil sendiri, Bu, masa nyuruh-nyuruh. Enggak sopan dong," balas gue lalu kembali duduk di atas ranjang.


Ibu kemudian ikut duduk. "Itu hapenya udah dianggurin aja, abis kuotanya?"


Gue menoleh sekilas lalu kembali fokus mencari acara yang bagus di televisi. "Masih. Cuma orangnya lagi kerja."


"Ibu tadi tanya apa sih, Va? Di tanya apa, jawabnya apa. Enggak nyambung banget," gerutu Ibu sambil cemberut.


"Maksud Eva itu, orang yang chat sama Eva kan lagi kerja, jadi Eva udahan main hape-nya. Seperti itu loh, Bu," kata gue menjelaskan.


"Emang siapa yang chat sama kamu?"


"Calon menantu kesayangan Ayah," jawab gue masih sibuk menggonta-ganti saluran televisi yang cocok dengan selera gue. Namun, sudah hampir lima belas menit gue menggonta-ganti saluran, tak satu pun acara yang menarik minat gue. Membuat gue bosan dan akhirnya memilih untuk mematikan televisi.


"Kamu punya pacar, Va?"


Gue menggeleng. "Enggak."


Mendengar jawaban gue, Ibu langsung berdecak sambil geleng-geleng kepala dengan ekspresi prihatinnya.


"Terus?"


Sambil tersenyum sok malu-malu, gue menyodorkan tangan gue yang memakai cincin pemberian Arkan.


"Tapi Eva udah dilamar, Bu."


Meski gue sendiri enggak terlalu yakin jika yang dilakukan Arkan kemarin itu sebuah lamaran, tapi bagi gue itu tetap lamaran. Semacam lamaran spesial gitu lah. Hehehe.


"Kamu yakin?"


"Maksud Ibu?"


Ibu mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Siapa tahu itu sogokan."


"Sogokan apa maksud, Ibu?" seru gue nggak terima. "Arkan itu orang baik, loh," lanjut gue kemudian.


"Kalau baik kenapa dia nggak ke sini?"


"Loh, ini kan jam kerja, Bu. Jadi dia masih kerja. Lagian ya, Bu, yang bawa Eva buat periksa dan sampai tahu ada miom di tubuh Eva itu ya, Arkan. Yang maksa Eva buat segera ngabarin Ibu, juga Arkan loh. Jadi, Ibu enggak boleh jelek-jelekin dia."


Ekspresi Ibu kini berubah cengengesan. "Hehe, berarti Ibu salah dong. Terus ke sininya kapan? Harus nunggu akhir pekan?"


Gue menggeleng. "Nanti sore juga udah kesini."


"Kalau gitu Ibu keluar sebentar, ya."


"Mau ngapain?"


"Kok ngapain, cari cemilan dong. Masa nanti enggak ada suguhannya."


"Kok enggak usah?"


Gue kemudian menunjuk sekantung plastik ukuran sedang yang Ayah beli tadi. "Itu kan juga cemilan, Bu, enggak usahlah. Arkan nanti kesini juga mau jengukin aku, bukan mau minta cemilan."


"Tapi tetap aja enggak sopan dong, Va, masa--"


"Enggak usah, Bu," potong gue menegaskan.


®®®®®®®®®®


"Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumussalam," koor kami kompak bertiga. "Loh, kok udah kesini?" imbuh gue, saat mendapati siapa yang masuk ke dalam ruang rawat inap gue.


Arkan tidak menjawab pertanyaan gue, karena ia langsung menghampiri Ayah dan Ibu dan menyalami mereka. Tanpa bisa dicegah, gue memanyunkan bibir gue.


Sial. Gue dicuekin.


"Ya, ampun kenapa repot-repot segala," ujar Ibu sambil menerima sekantong plastik, yang gue tebak itu berisi martabak manis, kalau dilihat dari bungkus plastiknya.


"Tidak repot kok, Tan."


"Ayo, duduk dulu!"


"Kok disuruh duduk di situ sih, Bu. Duduk di sini dong, Ar, kamu mau caper sama calon mertua dulu apa mau jengukin aku sih," protes gue kesal. Mentang-mentang mau pedekate, jadi manut aja disuruh-suruh.


Arkan tidak jadi duduk di sofa, kemudian berjalan menghampiri gue.


"Katanya tadi ke sininya sore, kok udah kesini?"


"Ini juga udah sore, Adeeva. Aku malah tadi udah mampir di mushola dulu."


"Tapi ini masih jam empat, biasanya jam lima lebih."


"Tadi abis rapat di luar, kalau balik ke kantor nanggung, jadi aku langsung kesini."


Gue langsung ber'oh'ria.


"Jadi kapan operasinya?"


Gue meringis, hampir lupa kalau keberadaan gue di sini untuk melakukan operasi pengangkatan miom. Duh, kok gue mendadak jadi deg-degan, ya.


"Jam 8."


Itu bukan suara gue, melainkan suara Ibu.


"Kamu takut?"


"Enggak," elak gue tegas.


"Alhamdulillah, aku seneng dengernya. Thanks, ya, " bisik Arkan sambil meremas telapak tangan gue yang tidak terpasang infus.


"Buat?"


"Karena selalu jadi perempuan tegar. Aku seneng calon Ibu dari anak-anakku sespesial kamu."


Wow. Arkan baru aja gombalin gue ya, ini?


"Belajar darimana, tuh?" tanya gue penasaran.


"Google."


"Astagfirullah!"


Arkan terkekeh sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Sementara gue hanya meliriknya sinis.


"Berarti kamu sekarang puasa?"


Gue mengangguk.


"Ar," panggil gue tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Katanya harta yang paling berharga adalah keluarga. Jadi, kalau aku ingin menjadi yang berharga di hidupmu, kita harus berkeluarga?"


Dengan ekspresi wajah datarnya Arkan mengangguk sambil berkata, "Ya." Yang membuat gue kecewa.


Loh, kok ekspresinya biasa aja sih. Enggak seru banget.


"Iiihh, nyebelin!"


"Salah lagi?" seru Arkan dengan wajah frustasinya.


**Tbc,


Part2 gaje akan merajalela ya, harap bersabar😂😂**