
#####
"Wiiih, ternyata yang warna biru lebih cantik, Ar."
Aku langsung mengeram tertahan. Kala mendengar celetukan Adeeva saat mendapati kebaya brokat yang sama persis punyanya, namun beda warna, tengah terpasang cantik di patung manekin.
Kan, apa juga aku bilang. Emang penyakit perempuan atau bagaimana sih ini, yang dipengenin beli apa, yang dibeli apa. Kalau sudah begitu nyesel, abis itu nyalahin kita yang nemenin belanja. Astaga, enggak Adeeva, enggak Irin, enggak Mama, semuanya sama. Sama-sama bikin pusing.
"Aku tadi bilang juga apa?"
"Bilang yang mana?" tanya Adeeva dengan wajah polosnya.
Seolah-olah lupa dengan perdebatan kecil kami waktu di toko kain.
Aku berdecak. "Pas di toko kain tadi, sayang. Jangan pura-pura lupa deh!"
"Harusnya tadi kamu--" Adeeva menghentikan ucapannya, dan menutup bibirnya rapat-rapat sambil menggeleng. Lalu kembali bersuara, "enggak kok, yang abu-abu juga cantik. Apa lagi aku yang makai, iya enggak?" sambungnya kemudian, tak lupa sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.
Aku berdecih. "Iya, iya, percaya. Calon istrinya siapa dulu?"
"Calon istrinya, calon aku lah," balas Adeeva sambil menjulurkan lidahnya, mengejekku.
Aku berdecak kesal. Lalu menyodorkan kepalan tanganku mendekat ke kepalanya, karena gemas. Ingin sekali aku menjitak kepalanya, tapi tidak tega.
"Untung aku sayang," gerutuku kemudian. Sedang Adeeva malah terbahak puas setelahnya.
Ck. Dasar calon istri tidak tahu diri.
Tak lama setelahnya, Tante Winda pemilik butik, sekaligus teman SMA Mama muncul.
"Maaf lama, ini kamu anaknya Ajeng kan?" tanya Bu Winda saat menyalamiku dan Adeeva secara bergantian.
Aku mengangguk, lalu mencium punggung tangan beliau. "Iya, saya anaknya Ajeng, Bu." Tak lama setelahnya, Adeeva ikut mencium punggung tangan Tante Winda.
"Panggil Tante aja!"
"Iya, Tante."
"Mau jahit seragam? Buat acara apa?"
"Lamaran, Bu, eh, maksudnya Tante."
Tante Winda tampak terkejut. Menatapku dan juga Adeeva secara bergantian.
Lalu beliau tiba-tiba mendekat ke arahku dan berbisik, "Kamu mau nikah lagi?"
Sedangkan aku jelas kebingungan. Hah? Maksudnya menikah lagi? Sekali saja belum lho, gimana mau menikah lagi? Ya, memang sih aku sudah sampai... ah, sudahlah, tidak perlu kujelaskan lagi.
"Saya belum menikah, Tante," jawabku masih dengan ekspresi agak bingung.
Kali ini giliran Tante Winda yang tampak kebingungan. "Belum menikah? Kamu ini anaknya Ajeng kan? Papamu namanya Hito?"
Aku mengangguk, membenarkan. "Iya, saya memang anaknya Ajeng dan Hito. Tapi ini saya Arkan. Anak keduanya."
"Oalah, anak keduanya to, Tante kirain kamu si Sulung yang itu. Maaf, maaf, mirip soalnya, jadi susah bedain."
Aku tersenyum maklum lalu mengangguk.
"Langsung diukur saja, ya?" tawar Tante Winda sambil menyiapkan alat ukur dan buku untuk mencatatnya.
Aku mengangguk setuju, lalu mendekat ke arah Tante Winda, agar beliau lebih mudah mengukurnya.
"Kapan ini acaranya?" tanya Tante Winda di sela mengukurnya.
"Masih sekitar sebulan lagi sih, Tan, jadi masih agak longgar."
"Alhamdulillah, nggak terlalu mempet. Mau dibikin longgar apa mau dibikin jangkis saja?"
"Bagusnya gimana aja, Tan, yang penting nyaman dipake."
"Tante bikin agak jangkis aja, ya, kamu kayaknya lebih suka yang pres body, nanti kalau Tante bikin longgar malah aneh jadinya. Tante pula nanti yang disalahin calon istri kamu," gurau Tante Winda, "Sudah selesai. Ini nanti mau pakai furing apa enggak usah?"
"Enggak usah aja, Tan, enggak terlalu suka soalnya." Aku menggeleng sebagai tanda penolakan.
Lalu secara tiba-tiba Adeeva berceletuk, "Iiih, pake aja, Ar, biar keliatan rapi gitu," ucapnya menyarankan.
Aku menggeleng sekali lagi. "Enggak usah. Gerah, aku kurang nyaman. Enggak suka."
Dengan wajah agak kecewanya, Adeeva mengangguk. "Ya udah, kalau gitu."
Tante Winda terkekeh lalu mulai beralih mengukur Adeeva. "Nggak papa, badan dan wajah calonmu ganteng kok. Oke, meski kemejanya nggak pake furing."
"Gitu, ya, Tan?" tanya Adeeva kembali ceria.
Tante Winda mengangguk yakin. "Iya, asal Tante yang jahit tapi. Hehe."
Setelah selesai diukur, kami langsung pamit pulang. Karena agenda kami hari ini lumayan banyak. Katanya. Iya, katanya, karena aku sendiri tidak tahu apa lagi yang akan kami lakukan setelah ini.
"Ini mau ke mana lagi kita?" tanyaku sebelum masuk ke dalam mobil.
"Ke percetakan. Cetak undangan."
"Eh? Udah mau cetak undangan pernikahan?"
"Belum. Undangan Engagement dulu dong, Ar."
"Engagement pake undangan? Enggak bikin pengumuman di grup aja gitu?"
"Enggak dong, enggak sopan, Ar. Tenang, budget undangan dari aku kok. Tugas kamu bantu pilih aja. Oke?"
"Emang malah enggak ribet, ya?" tanyaku kebingungan.
"Ya, namanya mau nikah itu harus ribet, Ar."
"Oke, deh."
Aku mengangguk paham, lalu masuk ke dalam mobil, memakai seatbelt-ku. Menyalakan mesin dan mengemudikannya menuju tempat percetakan.
"Ini baru nyiapin acara lamaran seribet ini, ya ternyata. Gimana kalau nyiapin acara ijab qobul, resepsi dan lainnya, ya. Ah, pusing aku pasti nanti, Ar."
Aku menerjap kebingungan. Loh, bukannya Adeeva baru saja bilang kalau mau menikah itu memang ribet, kenapa mendadak mengeluh? Ini baru lewat berapa menit lho padahal.
Karena tidak ingin mencari masalah, aku hanya tersenyum. Pura-pura bodoh lebih tepatnya, lalu menggenggam sebelah tangan Adeeva. "Sabar, ya, dinikmati aja setiap prosesnya. Nanti kita pake Wedding planner. Lagian, kamu nggak perlu pusing dong, kan aku temenin ngurusnya."
"Tapi tetep aja, ternyata ribet juga. Tahu gini mending nggak usah pake Engagement Party kayak yang lain-lain gitu. Selain ngabisin duit, ternyata nguras kesabaran dan waktu."
Loh, loh, loh, kok malah menjadi?
"Ssst, nggak boleh gitu, ah. Kebanyakan ngeluh itu tandanya nggak tahu caranya bersyukur."
"Cie elah, tumben omongannya bener, abis sarapan apaan tadi?" goda Adeeva dengan wajah jahilnya.
Aku sendiri hanya mampu memasang wajah datar dan kembali fokus menyetir.
Aku melirik arloji-ku. Masih pukul setengah sebelas siang, belum waktunya makan siang. Kalau makan berat jam segini nanggung, nanti pasti sekitar jam dua, Adeeva pasti lapar lagi, nanti pasti minta cari makan lagi. Adeeva enak, mau sebanyak apa pun makanan yang masuk ke dalam perutnya, ia susah gemuk, memang dasarnya dia enggak bisa gemuk. Sedangkan aku? Sebenarnya aku bukannya takut gemuk, hanya saja aku tipekal pria yang lebih suka menjaga berat badan, bukan hanya demi penampilan, ya, tapi lebih kepada kesehatan. Karena bagiku memiliki berat badan ideal itu bagus untuk kesehatan, kalau berat badan kita ideal, setidaknya kita tidak akan terkena obesitas. Bukankah itu bagus?
"Cari cemilan aja deh, ya, masih jam segini lho. Nanggung"
Kalau langsung kuturuti, bisa-bisa olahragaku tadi pagi, hanya akan menjadi aktivitas tak bermanfaat.
"Kamu ini cowok takut banget makan sih? Makan itu enak, nikmat dunia yang tidak boleh didustakan."
"Aku nggak takut makan, sayang. Ya, kali makan ditakuti, makan itu kebutuhan. Kalau kita nggak makan, yang ada nanti kita mati. Lagian aku belum laper juga."
"Diet ya?"
"Enggak lah, biar apa coba pake acara diet-diet segala. Aku sih lebih suka makan sesuai waktu dan jamnya, nggak ngedahuluin atau pun telat makan. Emangnya kamu. Kamu tahu enggak sih, kebiasaan kamu yang begini nih, yang bikin kamu punya riwayat maag."
"Ah, kamu itu nggak cocok jadi cerewet, Ar. Balik ke cuek aja deh, nggak asik kamu kalau lagi di mode ini. Nyebelin," gerutu Adeeva dengan wajah cemberutnya.
Aku terkekeh geli saat melihatnya. Membuatku gemas dan akhirnya mencubit pipinya.
"Dikasih tahu calon suaminya juga, malah cemberut. Ingat! Kita udah mau nikah lho, kalau udah nikah itu harus nurut sama suami. Masa dikasih tahu begitu responnya."
"Loh, kan yang harus nurut nanti, kalau kita udah jadi suami istri. Nah, berhubung masih calon, ya berarti aku bisa untuk nggak nurut dulu dong?"
Mau tidak mau, aku hanya bisa mengangguk pasrah. Ya udah sih, iya in saja. Mendebat perkataan perempuan tidak akan berakhir menang kalau kamu seorang laki-laki.
"Hhm, iya, sayang, kamu benar. Pinter deh."
"Iya lah, calon suami siapa dulu dong?"
"Siapa?"
"Arkana Narendra dong."
Aku tertawa puas. "Good." Sambil mengacungkan jempolku.
Adeeva ikut tertawa setelahnya. Ia baru menghentikan tawanya saat mendapati penjual gorengan.
"Ar, beli cemilan itu aja. Lumayan, buat ganjel perut."
Aku mengangguk setuju, lalu menepikan mobilku. Saat aku hendak membuka seatbeltku, Adeeva melarangku.
"Biar aku aja yang turun."
"Oh, oke." Aku kembali mengangguk, lalu merogoh kantong celanaku. Namun, lagi-lagi ditahan oleh Adeeva.
"Aku yang laper, aku yang butuh. Kamu nggak perlu keluar uang, Ar."
Aku menaikkan kedua alis tinggi-tinggi. "Terus kalau aku pengen?"
"Tinggal minta lah, susah amat. Udah, ah, aku turun dulu."
"Yakin nggak mau pake uang aku?"
"Enggak, uang kamu buat kita makan siang nanti."
"Loh, bukannya tadi kamu nawarin aku makan masakan kamu. Enggak jadi?"
"Lupa. Ya udah, uangnya disimpen, buat tambah-tambah modal resepsi nanti." Setelah mengatakan itu, Adeeva langsung turun dari mobil dan menghampiri penjual gorengan. Sedangkan aku menunggu dari dalam mobil.
Tak lama setelahnya, Adeeva masuk kembali ke dalam mobil, sambil menenteng dua kantong plastik. Satu berisi gorengan dan yang satu, entahlah, aku kurang tahu apa isinya.
"Itu apa yang satu?" tanyaku kembali menyalakan mesin dan melajukannya.
"Cilok. Tadi ada yang jual cilok di samping penjual gorengan, kasian. Ibu-ibu udah agak tua gitu, ya udah aku beli sekalian. Nggak tega liatnya, Ar. Kamu mau?"
"Mau sih, tapi ini masih nyetir. Susah, nanti aja deh," tolakku sambil menggeleng, "kamu aja yang makan."
"Hei, apa gunanya pacar kalau nggak bisa bantuin di saat susah? Aaa, buka mulutnya! aku suapin. Kamu mau yang apa?"
"Adanya apa?"
"Gorengan?"
"Hmm."
"Ada tempe mendoan, pisang molen, tahu isi--"
"Tahu isi aja."
"Oke, buka mulutnya!"
Sesuai intruksi Adeeva, aku membuka mulutku tanpa mengalihkan pandanganku dari jalanan. Lalu ia menyodorkan tahu isi ke dalam mulutku, aku menggigitnya sedikit dan merasa aneh setelahnya. Kok kayak pedes?
Uhuk Uhuk
Aku terbatuk karena sensasi pedas yang tiba-tiba. "Astagfirullah! Kok pedes sih? Kamu masukin cabe, ya?"
"Kecil lho padahal," cengir Adeeva tanpa perasaan bersalahnya.
Aduh, calon istri gue. Abis ngerjain gue kok nggak ada perasaan bersalah.
Aku mulai kepedasan. "Mau kecil mau besar, namanya cabe ya, pedes, Adeeva." Aku mulai panik, "air! Air! Butuh minum! Cepetan!"
"Iya, iya, bentar. Tepiin dulu mobilnya, mumpung agak sepi."
Aku menurut. Menepikan mobilku ke sisi jalan. Lalu Adeeva menyodorkan sebotol air mineral untukku.
"Nih!"
"Maaf, aku tadi cuma bercanda niatnya. Pedes banget, ya?"
Setelah menegak air minumku hingga setengah, aku menoleh ke arahnya. "Menurut kamu? Kamu nggak liat ekspresi aku sekarang? Jahil banget sih? Aku lagi nyetir, Adeeva, kalau kenapa-kenapa gimana tadi."
"Iya, iya, maaf. Aku pikir tadi cabenya muda, jadi nggak pedes orang kecil begitu."
Aku meliriknya sinis. "Lain kali nggak boleh. Bahaya!"
Adeeva langsung mengangguk patuh. "Tapi nanti kalau kamunya nggak lagi nyetir, boleh?"
Aku menoleh ke arah Adeeva, dan menatapnya datar. Ia sendiri hanya mencengir polos, lalu mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"Hehe, bercanda doang, sayang. Jangan ngambek! Yuk, jalan lagi. Takutnya nanti kita ditilang polisi loh, karena kelamaan parkir di pinggir jalan."
Astagfirullah, di sini ada yang jual stok sabar? Kalau ada, tolong kasih ke aku, biar aku borong semua.
**Tbc,
hola hola, apakah kegajeanku sudah kembali lagi πππ sepertinya demikian. hehe, yang ini tanpa diedit, jadi boleh pake banget kalau ada yang mau bantu koreksi typo-typo tak termaafkan yang kian merajalela. oke? okeh aja lah.
see you next part ππ€πππππ
*semoga italicnya enggak ilang**