Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |2| Tak Seindah Rencana



######


Selepas sholat maghrib berjamaah, dengan aku yang kali ini mengambil alih sebagai imam sholat, kami semua langsung menuju ruang makan. Aku dan Papa sudah duduk di kursi kami masing-masing, sementara Mama dan Adeeva sibuk menata makanan untuk kami. Rasanya senang sekali melihat Adeeva yang cekatan membantu Mama menaruh semua masakan di atas meja, dan melayaniku mengambilkan nasi dan juga lauk pauk, padahal biasanya Mama yang selalu pegang kendali saat di meja makan. Mama tipekal yang selalu ingin melayani kami. Iya, kami, termasuk anak dan menantu mau pun cucunya. Tapi melihat Mama berbagi tugas dengan Adeeva membuatku merasa senang. Ah, jadi pengen cepet-cepet nikah.


Ngomong-ngomong soal nikah cepat, pandangan mataku langsung jatuh pada jari manis Adeeva, yang kini sudah mengenakan cincin berlian pemberianku tahun lalu. Rasanya puas sekali melihatnya, aku jadi ingin terus melihatnya dan tidak ingin melakukan hal lain.


Begitu selesai makan, lagi-lagi Adeeva membantu Mama membereskan piring kotor dan peralatan makan yang lain. Sementara aku dan Papa langsung menuju ruang tengah.


"Gimana, Ren, udah ada kenaikan progress?" tanya Papa, saat kami sudah duduk di sofa yang ada di ruang tengah.


Aku tersenyum bahagia sambil mengangguk malu-malu. "Alhamdulillah, Pa. Adeeva udah pake cincin yang aku beliin dulu. Itu termasuk kenaikan progresskan?"


Dengan ekspresi bahagianya Papa mengangguk. "Bagus itu. Terus rencana halalinnya kapan?"


Aku meringis sambil mengusap bagian belakang kepalaku dengan salah tingkah. "Nanti deh, Pa, pelan-pelan."


"Setahun ini belum cukup?"


"Insha Allah cukup, Pa. Tapi kan, tetep harus melalui proses lagi. Naren belum ngelamar ke keluarga Adeeva lagi, nanti kalau udah nemu waktu yang tepat, temenin ngelamarnya ya, Pa?"


"Kamu ini udah tua juga, mau ngelamar anak orang pake minta ditemenin segala," gerutu Papa setengah bergurau, "ya udah, buruan cari waktu yang tepat, nggak usah lama-lama. Papa udah nggak sabar jadiin Eva menantu Papa. Kasian juga, Eva itu kan di sini sendirian, jauh dari keluarga. Kalau kalian sudah menikah keluarga jadi lebih tenang."


"Iya, nanti abis ini diomongin sama Adeeva dulu," balasku sambil mengangguk setuju.


Papa kembali mengangguk, lalu beranjak berdiri. "Papa mau ke toilet dulu, nanti kalau Nak Eva mau pamit. Iya, suruh hati-hati aja, nggak usah nunggu Papa. Soalnya kayaknya bakal lama."


Aku hanya mengangguk paham dan mempersilahkan Papa ke toilet. Tak berapa lama setelahnya, Adeeva muncul dari dapur, wajahnya terlihat sedikit letih namun ia tetap berusaha untuk tersenyum cerah ke arahku.


"Capek?" tanyaku sambil meringis sungkan. Hari ini harusnya menjadi hari libur bagi Adeeva, bukannya malah bantuin Mama.


Adeeva menggeleng lalu duduk di sebelahku. "Enggak. Papa mana, aku mau pulang deh," tanyanya sambil celingukan mencari keberadaan Papa.


"Toilet. Bentar, aku ambil kunci mobil dulu," kataku lalu berdiri dan naik ke kamar, untuk mengambil kunci.


Begitu selesai mengambil kunci, aku langsung turun ke lantai bawah tanpa berniat mengganti pakaianku. Aku masih mengenakan kaos polo dan celana pendekku yang tadi.


"Yuk!" ajakku kemudian. Aku mengambil posisi duduk di bahu sofa yang Adeeva duduki.


"Bentar dong, nunggu Papa keluar dari toilet dulu."


"Enggak usah. Tadi Papa udah bilang, kalau kamu mau pulang, iya, terus disuruh hati-hati, nggak usah nunggu katanya. Soalnya takut lama di kamar mandinya," kataku sambil memainkan kunci mobilku.


Adeeva memicingkan kedua matanya curiga. "Itu beneran pesennya Papa kamu apa, atau kamu karang bebas?" tuduhnya was-was.


"Bukan pesennya Papa-ku, tapi Papa kita," koreksiku, sengaja menggodanya, sambil memainkan alisku naik turun.


Adeeva berdecak lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Sebenernya sih emang masih Papa kamu doang, Ar." lalu bangkit berdiri, "kan kita belum nikah," sambungnya kemudian.


Aku ikut berdiri. "Kan belum, tapi segera akan. Tuh, udah dicicil juga. Kamu udah pake cincin yang aku beli."


"Iya, terserah kamu lah."


"Yap, makmum emang tugasnya nurut sama imam," balasku sambil tersenyum puas.


Sementara Adeeva hanya mendengkus. Aku tertawa setelahnya, lalu merangkul pundaknya dan mengajaknya keluar rumah.


####


"Mau mampir apotek dulu nggak?" tanyaku, saat mobilku berhasil keluar komplek.


Adeeva menoleh dengan dahi mengkerut heran. "Ngapain?"


Aku memutar stirku ke kanan. "Beli obat flu atau semacamnya. Kasian idung kamu. Udah nggak mancung, terus sekarang merah begitu, aku nggak tega lihatnya," ledekku menggoda.


Adeeva cemberut lalu mencubit pinggangku. Membuatku mengaduh dan tertawa secara bersamaan.


"Bercanda!" kataku sambil mengelus-elus pinggangku, yang terasa sedikit nyut-nyutan karena cubitannya yang lumayan keras. "Sakit beneran ini lho," rengekku kemudian.


"Biarin! Siapa suruh ngatain?" ketus Adeeva judes.


Sekedar info, setelah kami memutuskan untuk berpacaran. Aku memang lebih sering dijudesin daripada dimanisin oleh Adeeva. Padahal dulu yang ngejar-ngejar lebih dulu Adeeva loh, bukan aku. Eh, setelah kami resmi berpacaran, aku-nya yang malah lebih sering dijudesin. Mungkin ini yang disebut karma itu pasti berlaku.


"Iya, iya, maaf, cuma bercanda. Jadi, mau mampir dulu apa enggak?"


Adeeva hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Di kostan masih punya obat flu?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya sebentar.


"Enggak tahu."


"Ya udah, beli kalau gitu. Buat jaga-jaga."


"Enggak usah. Flu itu obat terbaiknya, ya tidur. Istirahat."


Aku menghentikan mobilku karena lampu merah, lalu sepenuhnya menoleh ke arah Adeeva, kedua mataku menatapnya dengan pandangan datar. Sedang Adeeva langsung meresponnya dengan senyuman dan kedipan mata genit. Kalau sudah begitu, aku bisa apa selain menghela napas pasrah dan langsung mengantarkan ke kostannya tanpa mampir ke apotek dulu. Susahnya jadi laki-laki tuh begini, ya. Susah banget mau bantah ucapan kaum perempuan.


Tak lama setelahnya, kami akhirnya sampai di kostan Adeeva, tanpa kendala macet atau semacamnya. Adeeva tidak langsung melepas seatbelt-nya, raut wajahnya terlihat sedikit gelisah, seperti ingin berbicara tapi ragu-ragu.


"Kenapa?" tanyaku heran.


Adeeva menoleh ke arahku sambil mengigit bibir bawahnya, wajahnya terlihat makin gelisah. Membuatku bertanya-tanya, apa aku baru melakukan kesalahan tanpa kusadari?


Waspada itu penting bro, kalau sudah berurusan dengan kaum Hawa. Perempuan kalau udah begini tuh, suka bikin pusing, karena kita harus menebak-nebak, salah dikit, ya... begitu lah.


"Adeeva sayang, ingat! Pacar kamu ini bukan ahli pembaca gerak-gerik tubuh lho. Jadi, kalau ada yang mengganggu pikiran kamu, ngomong! Jangan cuma sebar kode, karena percuma. Aku nggak akan paham," gerutuku sambil menyandarkan kepalaku di punggung kursi.


Di luar dugaan. Adeeva langsung berdecak sambil melotot tajam ke arahku. "Siapa juga yang tebar kode, orang aku itu lagi atur nyali buat ngomong. Sok tahu banget sih," gerutunya kemudian. Wajah terlihat sekali kalau sedang snewen. "Aku itu mau ngomong serius, kamu malah rusak suasana. Kan jadinya nggak pas."


Salah lagi, lagi-lagi salah, salah terus. Ya udah, terima kenyataan, emang begitukan nasib jadi pria?


"Ya udah, iya, maaf. Sekarang mau ngomong apa? Jadi ngomongkan?"


"Jadi."


"Oke. Aku tungguin."


Hening.


Aku menggeram tertahan, lalu melirik Adeeva sinis. Jadi ngomong nggak sih ini? Masa diem-dieman aja dari tadi, mana di dalam mobil, di depan kost pula. Kalau ada yang lihat, bisa menimbulkan fitnah. Ingin membuka suara, takut kena sembur. Nunggu Adeeva ngomong, kok kayaknya bakalan lama. Boleh telfon teman nggak sih, untuk membantu mengambil keputusan yang harus kuambil.


Astagfirullah! Sabar, Arkana Narendra! Bagaimana pun juga, perempuan di sampingmu ini sudah cukup baik hati dalam menerima semua keburukanmu. Dari sikap cuek dan tidak pekamu, atau bahkan masa lalu-mu yang susah dimaafkan itu. Seenggak jangan perlakukan dia dengan buruk, sabar! Dia adalah calon Ibu dari anak-anakmu.


"Kok kamu diem?"


Loh, bukannya harusnya begitu. Kan dia mau ngomong? Jadi, harusnya aku diam dan mendengarkan, bukankah harusnya memang begitu?


"Kan kamu mau ngomong. Ya, aku diem dan dengerin dong. Bukannya harusnya gitu?" Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi bingungku saat ini.


"Iya sih, cuma seenggaknya bilang, 'iya, aku dengerin' dulu kan bisa."


Aku merasa benar-benar frustrasi saat ini. Astaga! Aku kemudian memutar posisi dudukku agar berhadapan dengannya.


"Iya, oke. Aku dengerin, sekarang kamu ngomong. Nggak enak ini lho, kita lagi di depan kostan kamu, nanti kalau ada yang lewat gimana? Orang bisa mikir yang enggak-enggak tentang kita."


"Tapi kita kan--"


"Cuma ngobrol dan nggak ngelakuin yang aneh-aneh," sambarku cepat, "sayang, aku kasih tahu, ya. Di dunia tidak semua orang bisa berpikir positif. Mereka menilai dari apa yang mereka lihat, meski yang mereka lihat hanya sekilas dan tidak sesuai dengan kenyataan."


Mendengar ceramah dadakanku, Adeeva langsung berdecak tidak suka. "Kok kamu malah ceramah sih?" protesnya kemudian.


"Iya, iya, maaf, jadi ngomong enggak?"


Aku melirik Adeeva. Adeeva langsung mengangguk. Namun, beberapa detik kemudian ia kembali diam. Aku menghela napas pendek, berusaha untuk sabar menunggu tanpa mengeluh.


"Aku mau ngomo--"


"Adeeva, plis! Bisa nggak sih langsung ngomong inti permasalahan? Kita nggak lagi syuting ftv atau semacam, yang harus pake dialog aku mau ngomong. Dari tadi aku udah coba sabar, ya," kataku gemas.


Bukannya merasa bersalah, Adeeva malah terkekeh geli. "Dasar kanebo!"


"Nggak usah ngatain!" ketusku judes.


"Dih, gitu aja ngambek," goda Adeeva sambil menjawil daguku.


Aku mendengkus sambil melotot tajam ke arahnya.


"Ya, udah, aku masuk deh. Ngomongnya lain kali--"


"Enggak!" potongku tidak suka. "ngomong sekarang! Tanggung banget."


Adeeva menatapku serius. "Mama sama Papa tahu tentang Mila dan Aurine?" tanyanya tiba-tiba.


Benar-benar tanpa pendahuluan 'aku mau ngomong' dan itu cukup membuatku shock. Sekarang aku baru tahu, kalau dialog 'aku mau ngomong' ternyata memang dibutuhkan. Bukan hanya untuk kepentingan dialog ftv, tapi untuk mempersiapkan diri. Astaga, jadi selama ini aku salah.


"Ar," panggil Adeeva dengan suara lembutnya.


Aku menoleh ke arahnya. Tak berapa lama kemudian, aku merasakan tangan Adeeva menggenggam tanganku. Jujur, aku tidak terlalu suka membahas tentang ini. Karena, setiap mambahas ini, perasaanku pasti kacau. Antara sedih dan juga bersalah.


"Mereka tahu?"


Tanpa bisa kucegah, rahangku mengeras. Aku sedikit tersinggung dengan pertanyaannya, entah karena apa. "Mereka tidak perlu tahu," jawabku kemudian dengan nada agak dingin.


"Mereka berhak tahu, Ar, bagaimana pun mereka Kakek dan juga Neneknya. Jangan egois!"


Aku langsung menoleh ke arah Adeeva dengan perasaan tidak terima. Egois katanya?


"Egois kamu bilang? Kamu pikir aku nggak ngasih tahu mereka, hanya karena aku takut aibku terbongkar? Enggak! Aku melakukan karena aku tahu betul dengan resiko yang akan aku dapati nantinya. Papa bisa kena serangan jantung, Adeeva, kalau beliau tahu tentang kebejatanku dulu. Dan kamu bilang aku egois? Kamu sadar nggak sih sama apa yang kamu ucapin?"


Aku marah. Aku juga kecewa. Kenapa Adeeva berpikir begitu?


"Enggak gitu maksudku, Ar--"


"Lalu apa?!" seruku sambil berteriak emosi.


"Aku cuma minta kamu pertimbangin masalah ini."


"Aku udah pertimbangin ini, Va, jauh sebelum kenal kamu," kataku dengan suara agak melunak.


"Ya udah, aku minta maaf kalau perkataanku tadi melukai perasaan kamu," sesal Adeeva dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.


Aku menghela napas lalu menyandarkan punggungku di kursi kemudi dan mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Kamu nggak berencana menjadikan itu sebagai salah tahu syarat agar kita bisa maju selangkah kan?"


Aku kemudian menoleh ke arah Adeeva. Ia tidak menjawab, hanya menghela napas sambil menundukkanΒ  kepalanya. Meski pun aku bukan orang peka, kalau melihat ekspresinya sekarang sudah cukup menjawab pertanyaanku yang tadi.


"Jadi bener?" tanyaku memastikan.


"Enggak. Bukan syarat untuk maju selangkah, hanya sa--"


"Kamu pengen aku beritahu Papa dan Mama tentang Aurine sebelum kita resmi menikah?"


Lagi-lagi Adeeva tidak menjawab dan lebih memilih untuk diam.


"Demi memenui keinginan kamu, aku harus korbanin kesehatan Papa? Menurutmu siapa yang egois di sini? Aku atau kamu?"


Ekspresi Adeeva terlihat terkejut mendengar sindiranku. "Kok kamu ngomongnya gitu?"


Aku langsung tersenyum meremehkannya. "Kenapa? Tersinggung?" sindirku kemudian.


"Iya, aku tersinggung," balas Adeeva terlihat marah. "Aku udah minta maaf ya, tadi. Kamu harusnya nggak boleh begitu. Tahu lah, terserah kamu. Aku cuma ngasih pendapatku, kalau kamu nggak suka, ya udah. Nggak harus banget pake acara marah-marah begitu bisakan?"


Dengan emosi Adeeva melepas seatbelt-nya dan turun dari mobil, lalu membanting pintu dengan kasar. Aku yang sudah sama emosinya tidak bisa berbuat apa-apa, selain membiarkan dia keluar dari mobilku dan masuk ke dalam kostannya. Kita masih sama-sama terselimuti emosi, aku kejar pun tidak akan berefek apa pun kecuali mempermalukan diri sendiri.


Huh, padahal aku sudah ingin membahas perihal lamaran resmi. Tapi kalau begini, gimana mau bahas itu? Besok Adeeva mau sekedar bicara denganku saja itu sudah bagus.


Tbc,


Yuhuuuuu πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™ up up up


hehe, ada yang baca ini pake akun noveltoon? kalau ada, masuk ke grup, yuk, kita gibahin si Eva sama Arkan 😝 kasian, Mbak Dea sama Mbak Jihan gk ada temennya di grup πŸ˜†πŸ˜ yuks, kenalan kita kenalan di sana. kali aja nnti aku bagi-bagi spoiler sekuel yg sebelah πŸ˜†πŸ˜‚ atau yg blom punya noveltoon donlot dulu sana! πŸ˜†πŸ˜πŸ˜œπŸ˜› www.ngarep.com #modusMulusTanpaVulus


see you next part πŸ˜†πŸ€—πŸ˜πŸ˜—πŸ˜™πŸ˜˜πŸ˜š


eh, next part dipost hari ini apa besok? πŸ€”