Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |14| Cemburu?



######


Ddrrrt Drrttt Drrrrtt


Aku menghentikan niatanku untuk membuka pintu mobil, saat tiba-tiba merasakan getaran ponsel dari dalam saku celanaku. Aku kemudian merogoh saku celanaku dan mengeluarkan benda pipih itu, mengintip siapa yang menelfon dan menemukan nama Mama yang tertera di layar ponsel. Aku mengeser tombol hijau sebelum akhirnya menempelkannya pada telinga kiriku dan masuk ke dalam mobil.


"Ya, assalamualaikum, Ma. Ada apa?" tanyaku begitu sambungan terhubung.


"Wa'allaikumussalam. Kamu di mana sekarang, Ren?"


"Masih di parkiran kantor sih, Ma. On the way jemput Eva terus pulang."


"Kamu nggak lupa kan pesen Mama tadi pagi?"


Aku mengernyit bingung. "Pesen? Emang Mama tadi pagi pesen apa? Perasaan enggak pesen apa-apa deh."


"Tuh, kan kamu lupa. Mama tadi pesen abis jemput Eva, kamu ajak dia ke makan malam di rumah, Ren. Masa gitu aja lupa?"


Aku ber'oh'ria sambil mengampit ponselku di antara bahu dan kepalaku, agar dapat mengaitkan seatbelt-ku. "Oh, itu. Iya, nanti aku ajak ke rumah."


"Untung Mama nelfon, coba kalau enggak, kamu pasti lupa."


"Enggak. Kalau itu Naren inget kok."


"Ya, udah sana buruan jalan! Jangan lupa bawa Eva ke rumah."


"Iy--"


Tut Tut Tut Tut


Tanpa membiarkan aku menjawab salam, Mama langsung mematikan sambungannya secara sepihak. Aku menghela napas, lalu memasukkan ponselku ke dalam dashboard, mulai menyalakan mesin dan mengemudikannya menuju toko kue Adeeva.


Begitu sampai di tempat tujuan, aku langsung memarkirkan mobilku dan turun. Masuk ke dalam toko dan mencari keberadaan Adeeva.


"Jemput Mbak Eva, Mas?" sambut Puri.


Aku tersenyum sambil mengangguk. "Di mana Eva?"


"Duduk dulu, Mas, Mbak Eva-nya lagi ke kamar mandi. Mau dibikinin kopi dulu?"


"Enggak usah, aku nunggu di luar aja. Kalau udah selesai bilangin, ya."


"Siap, Mas."


Aku mengangguk paham, lalu keluar dari toko dan masuk ke dalam mobil. Tak lama setelahnya Adeeva keluar dari toko dan masuk ke dalam mobil.


"Hai," sapa Adeeva saat masuk ke dalam mobil.


"Hmm," responku seadanya.


Aku memajukan wajahku dan mencium puncuk rambutnya. "Udah? Pulang sekarang?"


Adeeva mengangguk sambil memakai seatbeltnya. Namun tiba-tiba ia melepasnya dan mencengir ke arahku. "Bentar, ada yang ketinggalan. Aku turun dulu," katanya lalu turun dari mobil dan berlari kecil masuk ke dalam toko kembali.


Aku menoleh ke arah bangku dan menemukan ponsel Adeeva yang terlihat berkedip, pertanda ada pesan masuk. Perasaan ingin tahu tiba-tiba hadir tanpa dapat kucegah, setelah berpikir sebentar, aku kemudian meraih ponselnya. Menekan beberapa angka untuk membuka sandi dan terbuka. Aku menemukan nama asing si pengirim pesan. Tama? Nama ini terdengar asing. Aku belum pernah mendengarnya, siapa itu Tama?


Tak lama setelahnya, Adeeva kembali sambil membawa plastik. Meski sebenarnya aku penasaran dengan isinya, tapi kali ini aku abaikan, karena aku lebih penasaran dengan siapa si Tama itu.


"Siapa Tama?" tanyaku sambil menyerahkan ponsel Adeeva.


"Temen."


"Temen apa?" desakku tak sabaran.


Adeeva tak langsung menjawab, ia terlihat panik dan gelisah sambil mengigit bibir bawahnya.


"Siapa, Adeeva?" desakku semakin tidak sabaran.


Melihat gelagatnya sekarang, benar-benar membuatku semakin curiga. Bahkan, dengan tidak sopannya otakku langsung berspekulasi yang tidak-tidak.


"Dia cuma mau pesen kue kok, Ar. Iya, beneran dia mau pesen kue buat acara pengajian almarhumah istrinya."


"Tapi kenapa kamu tadi sempet panik?" tanyaku masih curiga.


Adeeva kembali mengigit bibir bawahnya. Sebuah kebiasaannya saat sedang khawatir akan sesuatu, dan aku sangat membenci kebiasaannya itu.


"Adeeva, berhenti mengigit bibirmu! Kamu bisa melukainya," ujarku dengan nada peringatan.


Adeeva kemudian melirikku ragu. Lalu aku membalasnya dengan tatapan tajam.


"Jawab yang jujur siapa Tama."


"Dia temennya Bang Bima."


Temannya Bang Bima?


Temannya Bang Bima?


Temannya Bang Bima?


Aku mengingatnya. Bang Bima yang Adeeva maksud adalah Bima, rekan kerjanya dulu saat masih bekerja di tempat kursus mengemudi. Dan, kalau temannya Bima yang itu berarti pria yang bernama Tama ini adalah pria yang waktu itu.


"Pria yang waktu itu?" tanyaku memastikan.


"Ar, dia cuma--"


"Dia tahu kalau kamu akan segera menikah?" potongku cepat.


"Ya enggak lah, buat apa dia tahu?"


"Karena dia menyukai kamu, Adeeva!" seruku kesal.


Napasku naik-turun, pertanda kalau aku sedang menahan emosiku dengan mati-matian. Dan, di luar dugaan, Adeeva malah tersenyum secara tiba-tiba.


"Kamu cemburu ya, Ar?"


Aku menolehnya sinis. Pertanyaan macam apa itu barusan. Haruskah ia bertanya hal demikian, kalau sikapku saat ini sudah cukup menjelaskan semua.


"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk godain aku, Adeeva."


"Oke. Maaf," ucap Adeeva tidak terlihat tulus.


Aku meliriknya datar, lalu menghela napas panjang dan berkata, "Pakai sabuk pengaman kamu!" intruksiku sambil menyalakan mesin.


"Kamu masih marah?" tanya Adeeva hati-hati, sambil melirikku, dan bukannya segera memakai seatbeltnya.


"Pakai seatbelt-nya, Adeeva!"


"Oke."


####


Begitu kami sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamarku, untuk membersihkan diri. Jujur, sampai detik ini aku masih sangat kesal dengan pria yang bernama Tama itu. Kalau ditanya apa aku cemburu, sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar. Di banding cemburu, aku justru lebih merasa minder. Karena, kalau tidak salah mengingat pria yang bernama Tama itu berperawakan cukup oke. Dengan pakaian slimfit mahalnya, aku yakin dia pria mapan. Sikap dan kepribadiannya pun terlihat cukup ramah, kalau kuingat caranya berinteraksi. Dengan status duda tanpa anak pun, membuatku semakin minder. Aku belum menikah, tapi aku sudah memiliki anak. Ah, tidakkah ini terlalu mengkhawatirkan?


Astaga, kenapa aku merasa khawatir secara berlebihan dan meragukan Adeeva begini? Ini tidak benar.


Tok Tok Tok


"Ya?" sahutku dari dalam.


"Ar, kamu belum selesai?"


Itu suara Adeeva. Meski terdengar samar-samar, aku yakin itu suaranya. Karena di rumah ini yang memanggilku Arkan hanya Adeeva dan Irin saja, sisanya Naren semua. Irin sedang berada di rumahnya, jadi sudah pasti itu Adeeva.


"Udah," balasku sedikit berteriak.


"Kenapa?"


"Masih marah?"


"Aku masih males, jangan kamu bahas beginian. Bisa?"


Dengan bibir cemberutnya, Adeeva mengangguk. "Disuruh Mama turun, makan malemnya udah siap."


"Ya udah, ayo!"


"Eh, kamu nggak mau sisiran dulu gitu?"


Aku menggeleng lalu berjalan mendahuluinya. "Enggak mau ke mana-mana ini kok, nggak usah rapi-rapi amatlah." Aku kemudian menyisir rambutku menggunakan jari-jemariku, "gini doang juga udah."


"Iya, gitu doang udah ganteng kok."


Aku mengangguk sembari mengacungkan jempolku. Lalu kami berjalan beriringan menuju ruang makan yang memang terhubung langsung dengan dapur. Di sana, Mama dan Papa sudah di posisinya masing-masing. Aku dan Adeeva pun langsung duduk di kursi masing-masing, lalu Mama mulai melayani kami. Kali ini Adeeva duduk manis di sampingku, karena Mama yang mengambil alih semua tugas.


"Segini cukup, sayang?" tanya Mama saat mengambilkan nasi untuk Adeeva.


"Cukup, Ma."


"Lauknya mau apa?"


"Ma, Mama tuh, bikin Eva nggak nyaman lho, biar dia ambil sendiri kenapa sih? Lagian aku sama Bang Ferdi kan sudah pernah protes, kenapa Mama masih gitu sih?"


"Dapur dan ruang makan itu wilayah Mama, Ren. Jadi, kamu harus ikut peraturan Mama. Lagian Eva aja nggak protes kok, kenapa kamu yang nyinyir?" balas Mama galak.


"Ya, enggak enak dong, Masa Eva mau protes."


"Lho apa sih salahnya? Ini tandanya Mama nggak beda-bedain anak sendiri sama anak menantu, Ren. Mama ngelayani anak mantu Mama kayak ngelayani kalian, anak Mama sendiri."


Aku menghela napas pendek. "Masa udah setua ini masih dilayani begitu. Yang perlu Mama layani tuh, Papa, biar Naren itu Eva yang urus. Begitu juga sama Bang Ferdi dan Damian, biar mereka diurus istrinya masing-masing."


"Ren, kamu lagi ada masalah di kantor?" celetuk Papa sambil melirikku tajam, "dari dulu kan Mama mu memang sukanya begitu kan, lagian itu juga cuma berlaku sesekali kalau mereka main ke sini. Nanti kalau kalian sudah menikah, juga kamu dilayani Eva. Kenapa mendadak protes? Kamu kalau ada masalah di kantor, jangan dibawa-bawa ke meja makan, Papa nggak suka. Bikin hilang selera."


Adeeva kemudian melirik dan menendang kakiku pelan. "Kamu kenapa sih?" bisiknya kemudian.


Aku balas meliriknya datar lalu menggeleng.


"Masih marah?"


Kali ini aku mengabaikan pertanyaannya, memilih menerima piring yang Mama sodorkan dan makan dalam diam.


Setelah acara makan malam selesai, aku langsung mengantarkannya pulang. Selama perjalanan pulang menuju kostnya, aku lebih banyak diam. Sedangkan Adeeva, sepertinya dia tengah menatapku tajam sepanjang perjalanan. Dia ikut tak bersuara, tapi aku merasakan aura penuh intimidasi di dalam mobil.


"Ar, kamu serius marah gara-gara aku chat-an sama Mas Tama?"


"Enggak," jawabku ketus.


"Tapi kamu jadi uring-uringan nggak jelas dari tadi, mood kamu juga jelek sejak tadi, kalau bukan karena Mas--"


"Berhenti sebut-sebut pria asing di dalam mobilku, Adeeva!" seruku emosi.


Ekspresi Adeeva terlihat sangat terkejut, memdapati perubahan nada bicaraku yang meninggi secara tiba-tiba. Aku juga tidak tahu kenapa, mendengar Adeeva menyebut nama pria asing dengan tambahan Mas, membuatku cemburu. Kenapa dia dengan mudahnya memberi imbuhan Mas pada pria asing, sedangkan kalau denganku ia seperti kesulitan.


"Biasa aja, nggak usah ngegas!" sindir Adeeva kesal.


"Maaf."


Adeeva mengabaikanku.


Aku menghela napas frustrasi. "Maaf, aku... aku beneran nggak suka denger kamu sebut-sebut nama itu, Adeeva. Nggak tahu kenapa, aku ngerasa nggak suka sama dia. Dia itu... dia..."


"Apa? Emang salahnya dia ke kamu apa? Dia pernah ngerebut pacar kamu dulu, gitu? Iya?"


"Aku takut kamu yang direbut," lirihku pelan. Sangat pelan, saking pelannya aku tidak yakin kalau Adeeva mendengarnya dengan jelas.


"Apa kamu bilang?"


"Pokoknya kamu nggak usah deket-deket sama dia. Aku nggak suka."


"Ar, kamu ngerasa nggak sih kalau saat ini kamu berlebihan? Kamu juga ngeraguin aku, kamu sadar nggak sih, apa yang kamu lakuin ini salah?"


Kali ini aku yang diam. Entahlah, pikiranku saat ini kacau. Firasatku mengatakan pria itu tertarik dengan Adeeva, dan itu membuatku cukup cemas. Aku tidak bisa mengendalikan diri.


"Ar, jawab aku!"


"Jadi, kita beneran berantem cuma gara-gara chat dari pria itu?"


"Apa?!"


"Aku sudah bilang, aku tidak suka dengannya. Tapi kenapa kamu terus-terusan bahas ini? Kamu sengaja mancing emosi aku?"


"Kamu yang berlebihan, Ar!" balas Adeeva tak terima.


"Oke, anggap aja aku berlebihan. Tapi, aku tanya ke kamu sekarang, gimana perasaan kamu kalau ada yang perempuan yang terlihat menyukaiku berbagi pesan denganku. Gimana perasaan kamu?"


Adeeva diam bergeming. Ia menatapku lama tanpa bereaksi apa pun.


"Ada perempuan selain aku, yang suka sama kamu, Ar?"


Aku berdecak jengkel. "Yang tadi cuma perumpamaan, Adeeva."


"Oh, aku pikir ada yang lain."


"Kamu khawatirkan?"


Adeeva mengangguk. "Tapi, Ar, meski khawatir, bukankah kita tetap perlu saling mempercayai?"


Mau tidak mau, kali ini giliranku yang mengangguk. "Aku sangat ingin mempercayai kamu, Adeeva. Tapi, di sisi lain, terkadang aku... aku tidak cukup percaya diri."


Adeeva memalingkan wajahnya, ke arah jalanan yang ada di hadapan kami, tidak lagi menatapku intens seperti beberapa waktu yang lalu.


"Kamu mau bawa-bawa masa lalu kamu lagi, Ar? Setahun yang kita lalui, tidak cukup meyakinkan kamu, kalau aku mampu menerimanya?"


Aku diam. Entahlah, terkadang aku sangat yakin kalau Adeeva mampu menerima semua ini. Tapi terkadang, perasaan takut itu tetap ada.


Aku kemudian menghentikan mobilku karena kita sudah sampai di depan kostan Adeeva. Aku melepas seatbelt-ku lalu memutar tubuhku hingga menghadapnya, kuraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat.


"Terima kasih mau menerimanya, maaf kalau aku terlalu khawatir. Aku sudah berusaha untuk mengendalikannya, tapi semua tidak semudah itu Adeeva."


Adeeva mencoba untuk mengangguk, memaklumi perasaanku dan langsung memelukku.


"Kamu cukup mempercayai aku, Ar. Maka semua akan baik-baik saja, aku nggak akan ke mana-mana. Aku akan tetap menikah dan jadi istri kamu, bahkan akan jadi ibu dari anak-anak kamu."


Aku mengangguk setuju, lalu membalas pelukannya. "Terima kasih," bisikku tulus.


**Tbc,


huakakaka, part apaan ini dah ini thor?


hahaha, baca aja sih, males tinggal gk usah dibaca aja elah. susah kali kau punya idup. hehe.


setdah, selow aja ngapa thor!


kaga bisa πŸ˜’


ohya, aku mau jawab pertanyaan 'kenapa sih Arkan mendadak bucin?'


gini, gini, seperti yg pernah aku bilang, kalau di sekuel sifat asli Arkan bakalan terkuak. ya, begini lah emang sifat aslinya. dia gk sekanebo yg idup di dunia nyata kok. cueknya dia itu karena dlu belum nyaman sama Eva, cenderung risih. dia tipe yg kalo udah nemuin perempuan yg ia rasa she is the one nya ya, ya bakalan total gitu. kenapa kesannya bucin? ya, kebucinan seseorang itu beda-beda versi sih, ya, menurut masing-masing kacamata yg ngeliat aja. lagian, Arkan ini kan masih agak susah move dari kesalahan masa lalunya, dia masih sering ngerasa bersalah akan hal itu, jadi dia itu kyk pengen memberikan yg terbaik gitu buat Eva, meski kesannya agak-agak yah, bucin. gimana pun kan pedekatenya yg berjuang keras si Eva, nah, giliran udh jadi yg giliran Arkan dong yang ambil alih. kurang lebih gitu sih.


udah sih, ngelesnya πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† klo mau protes tahan dulu, ya, ku sedang dalam masa periode si merah πŸ˜† masih sensi ampun-ampunan, mageran parah pula, makanya ini belum kuedit sama sekali πŸ˜†πŸ™πŸ™πŸ™. mon maap. jadi, mending tahan dulu. soalny kuharus ttp melanjutkan ini cerita, karena klo gagal tembus target kan aku nais 😁 udah sih, gitu aja. see you next part πŸ€—πŸ˜—πŸ˜™πŸ˜˜πŸ˜šπŸ˜πŸ˜‹