Adore You!

Adore You!
Adore You! : t i g a p u l u h s a t u



"Hati ini merasa gelisah dan khawatir, karena kamu sedang bersama masa lalu-mu, yang mungkin saja bisa dengan mudahnya merubah statusku. Apakah perasaan ini wajar?"


√√√√√√√


"Kamu dan Aurine akan ke Indonesia?"


Gerakan tangan gue yang tadinya hendak menyuapkan nasi ke dalam mulut mendadak berhenti saat mendengar sebuah nama yang Arkan sebut. Gue kemudian menoleh ke arah Arkan yang kini berdiri di dekat jendela kamar inap gue. Aurine? Nama itu terdengar familiar tapi gue lupa siapa.


"Akhir minggu ini?" Suara Arkan kembali terdengar, kali ini ekor matanya sambil melirik ke arah gue dengan tatapan ragu.


"Oh, oke. Nanti aku jemput."


"Iya, enggak papa, ini inisiatifku sendiri buat jemput kamu. Dan enggak ngerepotin sama sekali, Mila."


Deg.


Mila?


Tunggu!


Ini maksudnya... Mila yang itu?


Astaga, dan Aurine itu anaknya Arkan?


"Kenapa enggak jadi dimakan?" tanya Arkan yang kini sudah duduk di kursi yang ada di samping ranjang gue.


Gue memilih mengabaikan pertanyaannya, dan balik bertanya.


"Siapa?"


"Mila. Dia mau berkunjung ke sini dan aku berniat untuk menjemputnya di bandara nanti."


"Jadi, itu idemu sendiri untuk menjemputnya?" tanya gue tanpa bisa menyembunyikan rasa kecewa gue.


Dengan wajah yakinnya, Arkan mengangguk sebagai tanda jawaban. "Kamu tidak keberatkan?" tanyanya kemudian.


Gue mengangkat kedua bahu gue bersamaan, lalu memandangnya serius. "Aku memang tidak punya hak untuk keberatankan?"


"Kamu punya hak, Adeeva. Kamu calon istriku. Kalau kamu keberatan, aku akan bat--"


"Tidak perlu," potong gue cepat. "Kamu pasti merindukan Putrimu," imbuh gue pelan, nada bicara gue pun terdengar tidak rela.


"Tapi..."


"Aku perlu menghabiskan makananku dan minum obat, Ar. Bisa kita berhenti membahas ini?" pinta gue dengan penuh permohonan. Serius. Gue enggak rela harus mengorbankan mood gue hanya karena membahas ini.


Dengan wajah tidak relanya, Arkan akhirnya mengangguk. "Perlu aku suapin?" tawarnya kemudian. Terlihat sekali kalau dia sedang bersusah payah untuk mencairkan suasana.


"Enggaklah. Emangnya aku bayi," balas gue sambil menyuapkan nasi beserta potongan perkedel ke dalam mulut gue dan mengunyahnya dengan kasar.


"Pelan-pelan! Nanti keselek," ujar Arkan memperingatkan.


"Takut kalau kamu minta," jawab gue asal.


Arkan hanya tertawa sebagai respon.


"Ya, kalau minta tinggal kamu kasih to, Va," celetuk Ibu tiba-tiba, yang tidak gue sadari kedatangannya, "sama suami sendiri juga," imbuhnya kemudian.


"Masih calon, Bu," seru gue mengkoreksi.


"Nak Arkan, katanya mau ke kantor? Enggak jadi?"


Sambil mengunyah gue menunjuk Arkan menggunakan sendok. "Tuh, udah diusir calon mertua. Sana, pergi!"


"Mbak, kalau ngomong jangan sambil makan to. Itu nasinya ditelen dulu," tegur Ayah dengan ekspresi tak sukanya.


"Iya, Yah."


Arkan kembali terkekeh geli, kemudian berdiri. "Aku ngantor dulu, ya. Jangan kangen," kedipnya genit.


Buset. Bisa genit juga ini makhluk hidup.


"Mingkem, Va, mingkem!" seru Ibu dengan wajah sewotnya, "norak!" sambung Ibu sambil mengerutu.


Lagi-lagi Arkan terkekeh lalu mengacak rambut gue. "Kalau enggak abis, enggak usah dipaksa. Semuatnya aja, tapi nanti disambung lagi," pesannya sebelum berpamitan sama Ayah dan Ibu.


"Iya," balas gue sedikit ketus.


----++++----


"Mbak," panggil Ayah sambil menyentuh pundak gue. Gue kemudian menoleh dan menemukan Ayah kini ikut duduk di tepi ranjang.


"Mikirin apa to?" tanya Ayah dengan wajah penasarannya.


Entahlah, semenjak mengetahui fakta kalau Ibu dari Putri kandung Arkan beserta Putrinya akan berkunjung ke Indonesia, membuat gue mendadak merasa gelisah. Gue takut kalau kedatangannya bisa saja akan merubah status gue yang udah naik pangkat jadi calon istri Arkan.


"Enggak ada," elak gue sambil tersenyum canggung. Tangan gue kemudian terulur memeluk tubuh beliau, "jadi, pulang ke Semarang hari ini?"


Ayah mengangguk sambil menepuk lengan gue. "Jadi, tapi mampir ke kostanmu dulu kok. Enggak papa kan cuma ditemenin Ibu aja?"


"Enggak papa, Eva udah sehat kok. Lagian kamar kost Eva nggak muat kalau Ayah ikut tinggal."


"Va, coba kamu telfon calon mantu Ibu, udah sampai mana. Ibu udah selesai nih beberesnya," kata Ibu menyuruh gue.


Gue mengangguk setuju, lalu melepaskan pelukan, meraih ponsel dan segera menghubungi Arkan.


"Halo, Ar, kamu udah sampai mana?" tanya gue begitu sambungan terhubung.


Udah enggak ada lagi basa-basi dalam kamus gue, kalau udah berurusan sama Arkan.


"Sampai mana? Aku sekarang di bandara sih, lagi nunggu--astaga! Hari ini kamu udah keluar dari rumah sakit, ya? Aduh, aku lupa ngabarin kalau Mila--"


"Ya udah, kita naik taksi aja kalau gitu," potong gue tanpa perlu membiarkan dia menjelaskan alasannya. Karena tanpa dijelaskan pun gue sudah paham, kalau keberadaannya di bandara sudah jelas kepastiannya, untuk menjemput Putrinya.


"Aduh, jangan dong. Aku telfon Irin deh, biar kamu--"


"Enggak usah, Ar," ujar gue lagi-lagi memotong kalimatnya. "Kamu..." Gue menghentikan kalimat gue lalu menatap Ayah dan Ibu secara bergantian. "Lanjutin aja kerjaan kamu," imbuh gue lalu mematikan sambungan telfon begitu saja.


Aduh, kenapa rasanya sesakit ini?


Gue cemburu. Cemburu dengan Putri kandungnya sendiri dan Ibu dari Putri Arkan.


"Va, gimana? Calon mantu Ibu udah sampai mana?"


"Kita naik taksi aja, Bu," jawab gue, mengabaikan pertanyaan Ibu.


"Loh, kenapa begitu?"


"Arkannya ada urusan penting."


"Urusan penting?" beo Ibu sambil mendesis tak percaya, "Ada gitu urusan yang lebih penting dari pada jemput calon istrinya yang keluar dari rumah sakit?"


Gue memilih mengabaikan pertanyaan Ibu dan lebih memilih mengutak-atik ponsel gue untuk memesan taksi online.


"Ibu tanya ini loh, Va."


"Eva lagi pesen taksi loh, Bu."


"Jadi beneran berantem?" desak Ibu tak sabaran.


"Udah, Bu," sela Ayah menenangkan. "Jangan terlalu ikut campur dulu," bisiknya kemudian.


"Loh, gimana sih, Yah. Ini itu--"


"Udah dapet taksinya. Mending turun sekarang aja yuk!" ajak gue lalu turun dari ranjang. 


Ibu mendengkus tak percaya lalu menenteng tas beserta barang-barang lainnya, dibantu Ayah.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


"Itu nasinya buruan dimakan, jangan diaduk-aduk aja," omel Ibu sambil berdecak tak sabaran.


"Iya, Bu," jawab gue kalem.


"Jangan iya, iya, aja. Dimakan beneran. Pengen cepet sembuh enggak sih," omel Ibu sekali lagi. Kedua tangannya sibuk membuka bungkus tablet obat gue. "Buruan dimakan terus diminum obatnya. Cuma kalau emang enggak mau cepet sembuh ya udah, enggak usah dimakan sekalian." Ibu kemudian berdiri dan meninggalkan gue begitu saja.


Gue hanya mampu mendesah pasrah.


Menatap punggung Ibu yang kini keluar dari kamar. Pandangan mata gue kemudian beralih pada ponsel yang gue taruh di samping piring gue. Sampai detik ini Arkan belum menghubungi gue. Dan itu bikin gue makin gelisah. Apa yang sedang mereka lakulan sampai gue enggak dihubungi sama sekali begini.


"Astagfirullah, Adeeva! Itu kenapa belum dimakan," pekik Ibu yang kini udah masuk ke dalam kamar.


Dengan gerakan buru-buru gue menyambar sendok dan menyantap nasi padang gue. "Iya, iya, ini dimakan, Bu," kata gue disela kunyahan gue.


Ibu hanya berdecak kesal lalu memilih masuk ke dalam kamar mandi. Enggak tahu aja Ibu kalau anaknya lagi galau gini.


**Tbc,


Yuhuuu😘😘😘


Part2 gaje masih merajalela**.