Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |9| Menuju The Engagement part 1



#####


Tok Tok Tok


"Masuk!" seruku pada seseorang yang mengetuk pintu ruanganku.


Tak lama setelahnya, seorang perempuan mungil dengan balutan jilbab abu-abu masuk ke dalam ruanganku. Namanya Ningrum, salah satu staff Finance, di divisiku.


"Pak, mau kasih laporan--"


Aku mengangkat sebelah tanganku, menyuruh Ningrum untuk menghentikan ucapannya terlebih dahulu, karena layar ponselku terlihat berkedip, pertanda ada pesan masuk.


"Sebentar," kataku sambil meraih ponselku dan mengeceknya.


Ada satu pesan dan satu panggilan suara tak terjawab dari Adeeva. Keningku langsung mengernyit tanpa bisa dicegah. Aku kemudian menarik lengan kemejaku, untuk menegok pukul berapa sekarang. Waktu baru menunjukkan pukul 10.45 WIB. Tidak biasanya Adeeva menelfonku di jam kantor.


"Saya telfon dulu sebentar tidak apa-apa ya, Rum?"


Ningrum mengangguk. "Iya, Pak, silahkan!"


"Terima kasih, kamu bisa duduk dulu sambil menunggu," kataku sambil mencoba menghubungi Adeeva.


Butuh waktu sekitar dua menit, akhirnya sambungan pun terhubung.


"Ada apa, Ar? Tumben jam segini telfon?"


"Kebalik!"


"Apanya?" Suara Adeeva terdengar heran sekaligus bingung.


"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu tadi, mau nelfon?"


"Aku cuma kirim chat kok, nggak telfon. Kamu belum baca chat yang aku kirim?"


"Belum, sibuk. Ini aja aku lagi nahan staff aku di ruangan--"


"Apa?!"


Aku menjauhkan ponselku dari telinga secara spontan, saat mendengar seruan Adeeva.


"Jangan su'udzon dulu, maksudnya staff aku mau kasih laporan keuangan tapi belum aku gubris karena nelfon kamu dulu."


"Yee, itu sih salah kamu sendiri yang nggak profesional. Masa nelfon pacarnya di jam kantor banget, jangan mentang-mentang kamu kerja di perusahaan Papa kamu sendiri, jadi kamu bisa seenaknya, ya, Ar."


"Enak aja, mana ada Manager Finance yang seenaknya sendiri? Enggak a--"


"Udah, ah, kerja sana! Aku juga mau kerja, bye! Jangan lupa baca chatnya, terus nanti siang ke sini. Aku sudah bikin janji pas jam makan siang, Mbak Ayu yang punya WO sekaligus yang jadi Wedding planner kita setuju, kalau kita bahas untuk persiapan Engagement jam makan siang, sesuai permintaan kamu."


"Iya, nanti aku ke sana. Ya, udah aku tutup. Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumussalam! Ingat, jangan sampai lupa!"


"Iya, sa--"


Tut Tut Tut


Dasar!


Aku bahkan belum selesai berbicara, salamnya pun belum kujawab. Eh, udah dimatiin aja. Ck. Aku kemudian meletakkan ponselku di atas meja dan memanggil Ningrum.


"Saya sudah selesai, Rum."


"Iya, Pak." Ningrum langsung berdiri dari sofa dan berjalan mendekat ke arahku, tangannya kemudian terulur, menyerahkan berkas yang tadi dibawanya.


"Sudah lengkap semua data yang saya minta?" tanyaku.


"Sudah, Pak." Ningrum mengangguk yakin.


"Sudah kamu cek ulang?"


"Sudah, Pak."


"Yakin nggak ada yang kelewat?"


"Insha Allah, tidak, Pak."


Aku melirik Ningrum dengan tatapan datarku. "Ya sudah, keluar sana! Nanti kalau ada yang kelewat, lembur, ya, nggak mau tahu saya. Sekarang saya cek dulu."


"Iya, Pak, saya permisi."


"Hmm."


####


"Lo di mana?"


Aku mengampit ponselku sambil merapihkan mejaku yang berantakan, jam makan siang sudah mulai sejak sepuluh menit yang lalu, dan aku baru selesai mengecek laporan yang Nigrum buat.


"Masih di ruangan."


"Makan siang bareng, yuk! Gue mau kenalin lo sama Mr. Lee, calon--"


"Enggak bisa, gue ada janji sama Eva."


"Astaga, sekali doang. Ini, itu--"


"Nggak bisa, Bang, Eva bikin janji sama Wedding planning yang mau ngurusin Engagement kita. Kalau gue mangkir, bisa diamuk, Bang. Sorry deh," tolakku tidak enak.


"Ya udah kalau gitu, selamat berpusing-pusingria deh, ngurusin Engagement. Ingat, pesen gue! Kalau seandainya lo kesel banget sama kelakuan Eva pas nentuin konsep mau pun harga buat acara Engagement kalian nanti, itu wajar, ya. Gue dulu juga ngerasain, dan mungkin hampir semua pria ngerasain. Yang penting lo stok sabar yang banyak deh. Inget, ikutan sensi!"


"Iya."


Aku kemudian mematikan sambungan telfon dan memasukkan ponselku ke dalam saku celana. Meraih dompet dan juga kunci mobilku dan bergegas keluar ruangan.


"Nggak makan siang, Rum?" tanyaku saat keluar ruangan dan menemukan Ningrum sedang asik memandangi layar komputer.


Perempuan itu tersenyum malu kemudian menggeleng. "Puasa, Pak."


Keningku mengernyit, mencoba mengingat hari apa ini. "Bukannya hari ini hari rabu?" tanyaku.


"Iya. Kan saya bukan puasa senin-kamis, Pak, tapi ganti puasa tahun lalu yang bolong," cengir Ningrum malu-malu.


"Oh, begitu. Sayang sekali, padahal saya mau nyuruh kamu lembur," gumanku pelan.


"Maaf, Pak?"


Aku menggeleng. "Tidak papa. Saya keluar dulu, ya. Istirahat dulu, meski kamu nggak makan, kan sekarang sedang jam istirahat."


"Hehe, iya, Pak. Sebenarnya... eh, nggak jadi, Pak. Pak Arkan kalau mau keluar bisa langsung keluar kok."


"Kok kamu jadi ngusir saya?" tanyaku dengan kening mengernyit.


"Eh? Enggak, enggak gitu maksud saya, Pak. Maksud saya tadi--"


"Saya keluar," ucapku memotong ucapan Ningrum dan langsung meninggalkan ruangan.


####


"Mas Arkan, persiapanin diri baik-baik, ya, sebelum naik."


Aku menghentikan langkah kakiku dan berbalik menatap Zaki, salah satu karyawan yang ada di toko Adeeva.


"Lagi sensi, ya?"


Zaki mengangguk. "Gara-gara Mas Arkan baru nyampe. Tadi Mbak Eva udah bolak-balik dari lantai atas ke lantai, bawah buat mastiin Mas Arkan udah nyampe apa belum. Siap-siap aja deh pokoknya. Hehe."


"Iya, terima kasih, ya." Aku mengangguk dan langsung berlari kecil menaiki anak tangga.


Aku langsung meringis karena merasa bersalah, saat sampai di lantai atas dan menemukan wajah Adeeva cemberut.


"Macet," ucapku mencari alasan, lalu menghampiri Adeeva dan mengecup pucuk rambutnya. Baru setelahnya, aku mengambil posisi duduk tepat di sebelah Adeeva, "udah sampai mana bahasannya?" sambungku berbasa-basi.


Aku meletakkan kunci mobilku di atas meja, mengeluarkan ponsel dan dompetku dari saku celana dan meletakkannya di samping kunci mobil.


Perempuan yang bernama Ayu itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya. "Ayu."


"Arkan," kataku menjabat tangan Ayu.


"Jadi, udah nemu yang cocok?" kali ini pandanganku beralih pada Adeeva.


"Mending pilih paket dulu deh," ucap Adeeva, "Mbak, bisa jelasin lagi macem-macem paket yang kamu punya?"


"Bisa." Ayu mengangguk setuju, "jadi di kita ada tiga jenis paket. Yang pertama ada White Package, Sliver Package, dan Gold Package."


"Perbedaannya?"


"Bedanya di budget. White package sekitar 3,5 juta, paket dekorasi backdrop lengkap, bebas pilih model, make up artis, hijab do/hair do, photographer, dan editing RAW files.


Kalau sliver package sekitar 5,5 juta. Hampir sama kayak white package, cuma ada tambahan videographer, full version cinematik video, dan satu minute teaser video socmed. Sedangkan gold package sekitar 6,5 juta, sama kayak silver package, cuma ada tambahan MC, Pre-Event & The Day of Event."


Aku mengangguk paham, lalu menoleh ke arah Adeeva. "Pilih yang mana? Yang gold sekalian?"


"Terserah kamu, kan kamu yang bayar," cengir Adeeva sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.


Aku kembali mengangguk. "Ya udah, kita ambil yang gold package."


Ayu mengangguk paham, lalu membuka buku kecilnya dan bersiap untuk mencatat. "Oke, jadi deal yang gold package, ya?"


Aku mengangguk, lalu menoleh ke arah Adeeva sekali lagi. "Deal yang gold?"


Adeeva mengangguk. "Nanti bayarnya setengah-setengah?"


Aku menatap Adeeva tidak percaya. Haruskah ia membahas hal seperti ini di depan Wedding planner kita?


Astaga, calon istri gue!


"Aku yang bayar full."


"Aku tadi bercanda, Ar."


"Dan aku sekarang serius. Udah sekarang pilih tema buat backdrop," ujarku kemudian.


"Aku udah pilih kok. Sekarang kamu liat-liat dulu, kira-kira mau yang gimana?" Adeeva kemudian menyodorkan tablet ke arahku.


Aku menerimanya. Lalu mulai mengeser layar tablet, untuk melihat beberapa contoh tema backdrop. Dari sekian pilihan tema yang ada, sejujurnya aku lebih suka dengan tema Rustic. Entah kenapa, menurutku tema ini suasananya terasa lebih khidmat dan tenang. Aku suka dengan aneka kayu dan juga ranting-ranting yang digabung dengan hiasan daun dan bunga, terasa lebih segar dengan suasana hijau yang asri, ditambah dengan setting cahaya yang temaram. Benar-benar membuatku jatuh hati dengan tema ini. Namun, tiba-tiba aku teringat dengan perkataan Adeeva kemarin yang bilang ingin acara pertunangan seperti acara milik Isyana yang menggunakan tema bunga hidup.


Aku menerjap kaget, lalu menoleh ke arah Adeeva.


"Gimana?" tanya Adeeva.


Aku menatap Adeeva ragu. Ingin mengutarakan pendapatku, tapi nanti dibilang Adeeva tidak peka, kan kemarin dia sudah mengkode aku, kalau dia suka dan ingin tema yang seperti milik penyanyi muda yang sempat berduet dengan Raisa. Astaga, aku dilema.


"Ar," panggil Adeeva, "susah banget nentuinnya?"


Aku menggeleng, lalu menyodorkan kembali tablet ke arahnya.


"Yang ini?" tanya Adeeva.


Aku mengangguk.


"Yakin yang ini?"


Keningku mengkerut heran dan memperhatikan wajah Adeeva lebih serius. Ekspresinya terlihat susah ditebak, dan apakah pilihanku salah?


"Yah, padahal aku pengen yang tema Rustic."


Seketika tubuhku langsung menegang. Astaga, salah lagi? Sesulit ini, ya, memahami perempuan.


#####


"Aku tadi sebenarnya pengen milih rustic juga lho. Serius."


Adeeva tak langsung membalas ucapanku. Ia menghela napas sejenak, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan melirikku sinis.


"Ar, sesayang-sayangnya kamu sama aku, secinta-cintanya kamu sama aku, kamu itu pria. Calon kepala rumah tangga, calon Ayah, wajib hukumnya punya pendirian, jangan mau nurutin apa maunya perempuan aja. Kalau selera kita beda, kamu nggak punya keharusan memaksakan diri agar selera kita sama. Kita bisa cari solusinya bareng, nggak harus melulu sama, Ar. Astaga!"


Astaga, kenapa jadi makin rumit begini?


Aku memijit pelipisku yang mendadak berdenyut, kala mendengar celotehan Adeeva. Aku akui apa yang Adeeva katakan barusan memang benar adanya, aku pun setuju dengan ucapannya barusan. Tapi yang menjadi masalahnya saat ini adalah, aku berkata jujur. Sebenarnya, pilihan kami sama, kami sehati dan sependapat, tapi karena bayangan acara pertunangan Isyana dan kekasihnya tiba-tiba terlintas di otakku, membuatku akhirnya memilih tema bunga-bunga. Astaga, bolehkah kali ini aku menyalahkan Isyana dan tunangannya?


"Kenapa diam aja?"


"Bingung mau kasih penjelasan kayak gimana, biar kamu percaya kalau aku tadi beneran pengen pilih tema Rustic."


"Ar--"


"Aku serius, sayang. Tadi tuh, sebenarnya pengen milih tema Rustic, tapi gara-gara keinget acara lamaran Isyana yang ala bunga-bunga dan kamu sempet bilang pengen. Ya udah, aku pilih itu."


"Tuh, kan! Sama aja, Ar. Kamu cuma mau ikut-ikut pilihan aku, nggak berdasarkan pilihan kamu sendiri. Yang mau nikah itu tuh, kita. Enggak cuma aku, Ar, tapi kita berdua. Aku nggak mau, ya, jadi perempuan egois yang seenaknya nentuin ini dan itu sendiri tanpa perduliin pendapat pihak laki-laki. Seenggaknya kita harus bagi pendapat, Ar, aku nggak mau menang sendiri. Kamu jangan mandang aku remeh begini dong! Aku nggak suka, ya."


"Maaf," sesalku bersungguh-sungguh.


Saat ini tidak ada yang bisa kuucapkan selain kata maaf. Karena aku mengakui kalau aku salah.


"Ar, aku udah pernah bilang, ya. Jangan pernah meminta maaf sama aku, kalau kamu sendiri nggak benar-benar tahu apa kesalahan kamu. Paham?"


"Iya, aku paham. Aku mengaku salah karena tadi tidak jujur. Maaf."


"Oke, dimaafin. Lain kali nggak boleh begitu. Kita ini mau menikah, Ar. Pernikahan itu bukan hal main-main. Aku nggak mau kamu merasa tertekan nantinya."


Tanpa sadar aku tersenyum. Sejenak aku lupa kalau, Adeeva pernah mengakui kalau dia itu perempuan spesial. Ya, kenyataannya dia memang sespesial ini, ya. Hampir saja lupa. Segala sesuatu yang keluar dari mulutnya benar-benar tidak pernah bisa kutebak sama sekali.


"Kenapa malah senyum-senyum? Ngeledek?" sungut Adeeva tak terima.


"Enggak, sayang. Keinget aja sama ucapan kamu dulu."


Kening Adeeva mengernyit. "Ucapan yang mana?"


"Yang dulu itu lho, pas abis nemenin aku kondangan. Yang pas kamu lagi PMS hari pertama, yang--"


"Nggak usah dilanjutin, adegan malu-maluin kenapa diinget sih. Nyebelin!" gerutu Adeeva dengan wajah cemberutnya.


"Enggak malu-maluin kok, justru itu jadi adegan paling berkesan tahu. Selama tiga puluh--"


"Arkana Narendra," panggil Adeeva dengan nada memperingatkan, kedua matanya melirikku tajam.


Aku hanya terkekeh geli setelahnya.


"Nggak usah ketawa!"


"Oke." Aku tersenyum sambil mengacungkan jempolku, lalu kembali fokus dengan kemudi.


Saat ini kami memang sedang berada di perjalanan pulang.


"Mau makan apa malam ini?" tawarku sambil menoleh ke arah Adeeva sekilas.


"Kamu pengennya?"


"Nasi goreng?"


Adeeva mengangguk-angguk. "Boleh. Udah lama juga kita nggak makan itu."


"Oke. Jajan apa masak sendiri?"


"Aku nggak masak nasi hari ini. Beli aja, ya?"


"Iya."


Tbc,


yuhuuuuu, double up


semoga ku publish hari ini, bukan beberapa hari yang akan datang πŸ˜†


See you next part 😍😘😘😍😘😍