Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |30| Prasangka



######


"Yang, sikat gigi aku yang baru ke mana? Kok di laci kamar mandi nggak ada?"


Aku berseru keras, karena saat ini aku sedang di dalam kamar mandi dan Adeeva sedang memasak di dapur.


"Apa? Nggak kedengeran, Mas," seru Adeeva dari dapur.


Aku berdecak dan memakai handukku lalu keluar dari kamar mandi. Baru setelahnya aku berjalan keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.


"Kenapa?" tanya Adeeva, tanpa menoleh ke arahku.


"Sikat gigi aku, yang kemarin kita beli itu lho. Kok nggak ada di kamar mandi, kamu taruh mana?"


"Hah? Sikat gigi? Sikat gigi ya di kamar mandi dong, Mas. Masa nyari ke sini?"


"Enggak ada. Adanya yang lama. Aku mau pake yang baru, yang lama udah kelamaan, udah nggak layak pake."


Adeeva berpikir sejenak. "Sikat gigi," gumannya, "ah, aku inget, ada di laci meja rias aku, kemarin lupa belum aku taruh di kamar mandi. Hehe, maaf, aku lupa," balas Adeeva sambil mencengir.


Aku mangguk-mangguk paham, lalu mengintip ke arah wajan. Ia masih menumis bumbu. "Itu mau bikin apaan?"


"Tumis buncis, sesuai pesenan kamu."


Aku mengacungkan jempolku sambil tersenyum manis. "Sip. Makasih sayang," ucapku sambil membenarkan handukku yang agak melorot. Baru setelahnya aku kembali masuk ke kamar.


Sesampainya di kamar, aku kemudian langsung mengeledah isi laci Adeeva. Bukan sikat gigi baru yang langsung aku temukan, melainkan satu botol obat kecil yang tidak aku pahami.


"Obat apaan ini? Apa Eva sakit? Tapi kok dia nggak pernah bilang sama aku."


"Mas, ketemu enggak?"


Aku sedikit tersentak kaget saat mendengar suara Adeeva berteriak dari dapur. Lalu aku mengembalikan botol obat itu ke tempat semula, lalu meraih sikat gigi yang ada di samping botol obat itu.


"Mas! Ketemu enggak?"


"Iya, udah ketemu," balasku sambil berteriak.


Aku kemudian kembali menutup laci dan berjalan ke kamar mandi. Menyelesaikan aktivitas mandiku yang sempat tertunda tadi. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku menemukan Adeeva tengah sibuk menyiapkan pakaian untukku.


"Mas, kamu pakai dulu ini celana sama kemejanya. Aku ngecek masakan aku dulu, nanti kalau udah mau pasang dasi panggil aja. Oke?"


Aku mengangguk sambil mengeringkan rambutku yang basah, menggunakan handuk kecil. Lalu Adeeva berlari keluar kamar setelahnya. Aku hanya terkekeh geli melihat tingkahnya, yang setiap pagi repot mengurusiku.


Aku menghela napas. "Nggak kebayang kalau ada baby, gimana repotnya dia nanti," gumanku lalu memakai kemeja dan celanaku.


Setelah selesai memakai kemeja dan celanaku, aku berjalan menuju meja rias Adeeva, mengambil sisir dan menyisir rambutku. Mendadak, aku kembali teringat dengan botol obat yang kutemukan di dalam laci. Karena masih penasaran, aku pun mengambilnya dan membacanya.


"Obat apa ini, ya, kira-kira," gumanku sambil berpikir keras. "Apa Adeeva menyembunyikan sesuatu dariku."


"Mas!"


"Ya!"


"Udah selesai belum, ini sarapan udah siap."


Aku buru-buru memasukkan ke dalam laci. Lebih baik aku menanyakannya secara langsung, daripada berasumsi yang tidak-tidak.


"Iya, ini udah kok. Aku bentar lagi keluar," seruku sedikit berteriak.


Buru-buru aku keluar kamar.


"Mau pake dasinya dulu atau mau sarapan dulu?" sambut Adeeva saat aku keluar kamar.


"Sarapan," jawabku.


"Oke."


Adeeva mangguk-mangguk setuju. Lalu kami kemudian berjalan beriringan menuju meja makan. Aku langsung mengambil duduk di kursiku, sedang Adeeva hadapanku. Ia langsung meminta piringku untuk diisi nasi. Aku menyerahkan sambil memperhatikan Adeeva. Semuanya terlihat normal, tidak ada tanda-tanda kalau ia sedang sakit. Lalu obat yang kutemukan tadi obatnya siapa? Dan untuk apa?


"Mas!"


Aku tersentak kaget. "Ya?!"


Aku menerima, tak lupa mengucapkan terima kasih setelahnya.


"Mas kamu lagi kepikiran sesuatu?"


Aku mengangguk, mengiyakan.


"Apa?"


"Tadi, pas aku nyari sikat gigi di laci, aku nemuin botol obat gitu. Masih ada isinya, itu obat apaan? Kamu sakit ya, yang? Kenapa kamu nggak pernah cerita?"


"Obat?" beo Adeeva sedikit panik, "ah, itu... anu... itu tuh, bukan obat, Mas. Cuma vitamin kok. Semacam suplemen daya tahan tubuh gitu," imbuhnya menjelaskan.


Aku menatap Adeeva ragu. Berusaha mencari kebohongan di balik matanya. Ini aneh.


"Kamu yakin? Nggak bohong?"


"Enggak," jawab Adeeva cepat.


"Enggak yakin apa enggak bohong?" desakku tak sabaran.


"Eng... enggak bohong kok."


Meski merasa ada yang sedikit aneh. Aku tetap mengangguk, mengiyakan dan aku berusaha percaya. Toh, Adeeva pun terlihat baik-baik saja, tidak terlihat seperti orang yang sakit. Mumpung itu memang benar hanya suplemen biasa. Astaga, kenapa otakku mendadak sinetron banget sih tadi?


"Oke, aku percaya. Aku suami kamu, Adeeva, kamu jelas tahu kalau aku berhak tahu kalau seandainya kamu sedang tidak sehat bukan? Karena kamu tanggung jawabku. Mengerti?"


Sambil tersenyum Adeeva mengangguk. "Iya, ngerti kok. Aku baik-baik saja, Mas, dan akan baik-baik saja kok. Tenang aja. Kamu nggak usah khawatir."


Aku mengangguk. "Iya, maaf kalau aku tadi sempet khawatir berlebihan."


"Enggak, aku tahu kok, Mas, dan itu wajar. Kalau aku jadi kamu, aku pasti sama khawatirnya," balas Adeeva.


Aku tersenyum. "Syukur deh kalau kamu ngerti. Aku berharap apa yang kamu ucapkan tadi memang sebuah kejujuran."


"Eh?"


"Kenapa? Kamu bohong?" Aku menatap Adeeva serius.


Adeeva menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya. "Enggak kok. Ayo, kita sarapan nanti kamu keburu kesiangan berangkat ngantornya."


Aku mengangguk setuju. Benar, kami terlalu banyak mengobrol dan sampai lupa dengan sarapan yang ada di hadapan kami. Lalu, sambil tersenyum cerah, aku mengajak Adeeva untuk segera menyantap sarapan kami.


"Nanti kamu ke kantornya duluan, ya, nggak usah nganter aku," ucap Adeeva di sela makan.


Aku mengangkat wajahku dan menatapnya bingung. Merasa tak biasa dengan sikapnya barusan. "Kenapa? Tumben? Biasanya juga barengkan?"


"Iya, tapi kerjaan rumah aku belum selesai. Aku belum selesai beres-beresnya, jadi mending aku ke tokonya nanti sendiri aja."


"Terus naik apa?"


"Gampang, Mas, kan ada ojek online."


"Yakin? Nggak aku tungguin aja?" tanyaku.


"Enggak usah, nanti kamu malah telat ngantornya, Mas. Aku berangkat sendiri aja, nggak papa. Nggak usah khawatir."


"Apa gini aja, nanti aku berangkat duluan soalnya aku ada meeting sama Pak Teguh, terus kalau kamu udah mau berangkat ke toko kasih kabar ke aku. Biar aku kirim supir buat nganter kamu?" tanyaku mencoba menawarkan solusi.


"Enggak usah lah, aku berangkat sendiri aja. Kamu nggak usah khawatir. Aku bisa kok berangkat sendiri."


Karena sudah bersikukuh, aku tidak bisa menolak dan hanya bisa mengiyakan. "Ya udah, kalau gitu. Terserah kamu," jawabku sekenanya.


**Tbc,


sengaja up setengah bab biar kalian pada nebak-nebak πŸ˜‚ sesekali gitu lohhhh😚😚😚😚😚


See you next part πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Jangan lupa jaga kesehatan 😘😘😘😘😘**