Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |12| The Engagement



######


Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Baik aku, Adeeva, dan keluarga kami. Kalau ditanya bagaimana perasaanku saat ini, yang jelas aku bahagia dan juga tegang di saat yang bersamaan. Keduanya seimbang, tidak ada yang lebih dominan. Aku memang sangat tegang, tapi di sisi lain, aku juga sangat bahagia.


Aku menghela napas panjang, guna mengusir rasa gugupku. Mematut diri di depan cermin sambil membenarkan kerah kemeja batikku. Beberapa menit lagi, aku dan rombongan harus pergi ke tempat acara lamaran.


Ah, kok mendadak deg-deganku bertambah, ya.


Tok Tok Tok


"Ya!" sahutku sedikit berteriak.


"Masih lama, Ren? Ini yang lain udah siap. Kalau udah selesai langsung turun, ya!" seru Mbak Anis dari luar.


"Iya, Mbak, aku udah siap. Bentar lagi turun," balasku sedikit berteriak.


Aku mengangguk yakin, menyemangati diriku sendiri sebelum keluar dari kamar dan turun ke bawah.


Saat aku sampai di bawah, Mama tiba-tiba menghampiriku dan memelukku sambil menangis.


"Eh, Ma, kok malah nangis sih? Ini kan hari bahagia Naren, hari bahagia kita. Mama jangan sedih dong, Naren nggak ke mana-mana. Masih tetep di Jakarta nanti, nggak pindah ke Semarang juga."


Dengan kedua mata berkaca-kaca, Mama menggeleng. "Mama nggak sedih, Nak, justru Mama bahagia. Janji, ya, sama Mama, kamu nggak boleh bikin sedih Eva. Kalau sampai kamu bikin sedih dia, atau bikin dia kecewa, Mama bawa kamu ke tukang sunat, biar disunatin lagi," ancam Mama tidak main-main.


Aku mengangguk. "Iya, Ma, insha Allah, Naren akan berusaha untuk bahagiain menantu Mama, semampu Naren."


"Janji?"


"Hmm. Udah, ah, nanti make-up nya luntur lho, dimarahin Irin," kataku sambil memeluk Mama sekali lagi.


"Mama-mu itu memang aneh, Ren. Kemarin pengen anaknya cepet-cepet nikah, eh, giliran udah mau nikah malah ditangisi," komentar Papa sambil geleng-geleng kepala, nada suaranya terdengar sedikit meledek Mama.


Aku tersenyum lalu menimpali, "Perempuan, Pa." Kembali mengusap pundak Mama.


"Tahu Mama ini, aneh deh. Udah ada yang mau sama Kak Arkan tuh, harusnya Mama seneng dong. Bukannya malah sedih."


"Iya, Mama seneng kok," balas Mama sambil menerima seembar tisu yang Mbak Anis sodorkan.


"Berangkat sekarang aja?" tanyaku kemudian.


Aku menatap semuanya satu persatu, semua sudah lengkap kecuali Bang Ferdi. Ke mana dia?


"Bang Ferdi ke mana, Mbak?" tanyaku pada Mbak Anis.


Mbak Anis hendak menjawab, namun tak lama setelahnya Bang Ferdi muncul sambil menepuk pundakku. "Ikut gue sebentar!" ajaknya kemudian.


Meski dengan kerutan bingung di dahi, aku akhirnya tetap memutuskan untuk mengekor di belakang Bang Ferdi.


"Kenapa, Bang?"


"Lo udah hafalin kata-kata yang harus lo ucapin di acara nanti?"


Aku mengangguk. "Udah, Bang, santai. Udah hafal kok gue."


"Nih, lo bawa contekan juga, buat jaga-jaga."


Bang Ferdi kemudian menyodorkan kertas kecil padaku. Aku menerimanya dengan ragu.


"Harus banget bawa beginian, Bang?" tanyaku tidak yakin.


"Buat jaga-jaga doang, Ren. Kalau butuh ya, lo baca, kalau enggak ya udah sih, nanti tinggal dibuang. Khawatir gue, soalnya sambutannya lumayan panjang."


Aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Lalu memasukkan kertas kecil yang Bang Ferdi sodorkan tadi ke dalam saku celanaku.


"Ya udah, yuk, langsung berangkat aja. Takutnya nanti keburu macet."


######


"Tenang, Ren, jangan panik! Bismillah aja," bisik Bang Ferdi sambil menepuk pundakku.


Aku tersenyum canggung karena mulai merasa tegang. Lalu, setelahnya kami dan rombongan masuk ke dalam restoran. Kami mengambil lokasi restoran di Blue Jasmine, di Daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Aku suka dengan tempatnya. Nuansa restorannya serba putih dan banyak tanaman hijau di area semi outdoor.ย Karena venue yang sudah begitu cantik, jadi kami tak perlu banyak menambah dekorasi. Ah, tempat ini sangat aku rekomendasikan bagi kalian yang tinggal di Jakarta dan memilih tema Rustic untuk acara lamaran kalian.


Aku dan keluarga kami di persilakan untuk di kursi yang sudah di siapkan. Adeeva belum berada di kursinya, masih menunggu dipanggil MC. Ah, aku semakin tegang rasanya.


Beruntung tak lama setelahnya, Adeeva diampit dua saudara sepupunya, masuk ke dalam ruangan. Aku belum bisa melihatnya secara jelas karena masih ada kain penghalang yang menutupinya. Ah, sial aku tidak suka ini. Apa lagi si MC terus saja menggodaku, menanyaiku, apakah aku sudah siap melihat calon istriku apa belum. Dalam hati aku berdecak kesal, kalau aku belum siap aku tentu saja tidak akan di sini.


"Baik, karena si calon pria sepertinya sudah tidak sabar. Kita buka kain penghalangnya. Kita hitung bareng-bareng, ya," seru si pembawa acara dengan suara hebohnya.


Tak lama setelahnya pun, semua tamu yang hadir menghitung dengan seru dan kompak.


"1... 2... 3..."


"Buka!"


Seketika tubuhku mematung. Aku terpesona dengan senyuman manis Adeeva yang kali ini terlihat seperti malu-malu. Balutan kebaya abu-abu yang dipilihnya beberapa minggu yang lalu, tampak cantik dan pas di tubuh langsingnya. Riasan di wajahnya pun tidak terlalu berlebihan, membuatnya semakin cantik dan juga anggun dengan sanggul kecil di kepalanya. Ya, Tuhan apakah ini yang disebut dengan bidadari tak bersayap?


"Wah, wah, wah, Mas calon pengantin tampaknya terpesona dengan Mbak calon pengantin. Tatapan matanya, udah kayak mau narik ke kamar aja. Duh, Mas, sabar! Prosesinya masih super panjang, ya, sebelum bisa narik ke kamar."


Lalu suasana mendadak pecah dengan gelak tawa. Aku merasakan kedua pipiku memanas karena ledekan si pembaca acara.


Astaga, pikiran gue nggak gitu-gitu amat kali.


Ditambah lagi dengan tepukan ringan Irin di pundakku, lalu kemudian ia berbisik, "Liatnya biasa aja, Kak, jangan malu-maluin."


"Diem!" balasku sedikit kesal.


"Oke, berhubung calon pengantin prianya keliatan udah nggak sabar langsung lanjut ke acara selanjutnya, ya." Si pambawa acara menjeda kalimatnya dan terkekeh, "silahkan Mas Arkana Narendra untuk menyampaikan maksud dan tujuannya mengundang kami semua di sini."


Seseorang kemudian menyodorkan sebuah mic untukku, aku menerimanya, lalu berdiri ragu-ragu. Sumpah, aku mendadak gerogi, bahkan puisi yang Bang Ferdi berikan untukku bacakan, yang sejak kemarin sudah kuhafal kini mendadak hilang dan aku bahkan tidak ingat satu kata pun. Astaga, kenapa jadi begini?


Si pembaca acara tiba-tiba terkekeh saat melihat gelagatku, ia kemudian mendekatkan mic ke dalam bibirnya dan berkata, "Kalau lupa boleh, contekannya boleh dibuka, Mas. Boleh kok, nggak akan dosa," guraunya membuat suasana kembali pecah dengan gelak tawa.


Aku meringis canggung, kemudian mengusap tengkukku. Baru setelahnya aku merogoh kantong celanaku dan mengeluarkan kertas kecil yang Bang Ferdi berikan tadi. Huh, untung saja tadi Bang Ferdi memberiku contekan, coba kalau tidak? Astaga, aku tidak sanggup membayangkannya ya Tuhan.


"Bisa langsung dimulai Mas Arkana?"


"Ya."


Aku mengangguk yakin. Menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Baru setelahnya, aku mulai membaca puisi yang Bang Ferdi berikan.


"Kuceritakan sebuah kisah. Tentang hati yang telah menemukan cintanya. Tentang cinta yang mengajariku apa itu bahagia.


Mengenalkanku pada kata setia, yang selalu ia jaga. Menuliskan cerita indah yang selalu ingin ku lalui bersamanya. Sinar wajahnya memancarkan ketulusan, begitu teduh, begitu nyaman. Dalam canda. Dalam tawa. Dalam suka maupun duka. Bahkan ketika aku dilanda amarah, ia begitu sabar menenangkanku dengan kelembutanya."


Dalam hati aku terkekeh geli. Tidakkah kata-kata ini sedikit dilebih-lebihkan? Adeeva tidak sesabar itu saat menenangkanku kalau aku sedang marah, apa lagi dengan kelembutan.


Astaga, Bang Ferdi, kenapa nyariin kata-kata yang begini amat.


"Sungguh, ia bagaikan khayalan yang menjadi kenyataan. Kata-kata cintaย yang ku'ucapkan bukan hanya sebatas godaan, bukan pula sebatas rayuan, melainkan lebih dari itu, inilah ungkapan dari hatiku. Teruntuk belahan jiwa yang selalu ingin ku jaga. Dan, di hari ini. Dia ada di sini, tepat di hadapan mataku, mata yang hanya bisa melihatku. Dan di hari ini, inginku bertanya?" Aku menjeda kalimatku dan menatap Adeeva intens. "Adeeva Fatya, maukah kiranya engkau menikah denganku? Menjalani bahtera rumah tangga dalam ikatan suci yang abadi. Bersamaku selamanya."


"Bagaimana Mbak Adeeva Fatya? Bersedia?"


"Ya, saya bersedia," jawab Adeeva tanpa keraguan.


Lega. Itu lah kata yang menggambarkan perasaanku saat ini.


**Tbc,


udah, udah, udah, nggak sanggup aku nerusinnya. nyerah, nyerah, nyerah. bodo amat, nyambung enggak nyambung, pas enggak pas, sesuai gk sesuai, mau aku up, gk mau ngedit dulu. belom sanggup ngedit aku, gk kuat ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† astagfirullah aku! ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ gaje, gaje deh. bodo amat. kaborrrrr ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ**