Adore You!

Adore You!
Adore You! : d u a p u l u h t i g a



"Semua orang punya hak untuk tidak bisa menerima masa lalu pasangannya, kamu pun demikian. Kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa. Jangan memaksakan diri!"


~Arkana Narendra


&&&&&&&&&&


"Aku... punya anak."


Gue berdehem keras, mencoba menyingkirkan asumsi-asumsi aneh yang berputar di otak gue. Gue kemudian melepaskan cekalan tangan Arkan dengan mudah dan kembali duduk di sampingnya. Gue melirik wajah Arkan yang terlihat kacau lalu menggeleng miris.


"Kamu nggak bakat buat ngerjain orang, Ar, apalagi orangnya itu aku."


Arkan menoleh ke arah gue lalu melemparkan pandangan tak percayanya.


"Aku nggak bercanda, Adeeva," tegas Arkan sambil menggeleng kuat.


Rasa takut tiba-tiba menyergap dalam diri gue. Kalau Arkan tidak bercanda itu artinya.... enggak, enggak mungkin.


Kini giliran gue menggeleng kuat, kemudian mendesis. "Aku nggak percaya. Nggak mungkin kamu bisa punya anak sementara kamu masih perjaka, kecuali kamu mengadopsi mereka. Eh, tunggu, jadi anak yang kamu maksud ini anak a--"


"Anak kandung aku, Adeeva. Darah daging aku sendiri," potong Arkan.


"Kamu duda?!" bentak gue emosi.


Arkan menggeleng.


"Suami orang?"


Arkan menggeleng sekali lagi.


Napas gue rasanya tercekat. Air mata gue luruh setelahnya, setelah mendapat pengakuan cinta, apa ini yang harus gue dapatkan? Gue menangis kencang untuk melampiaskan amarah dan juga rasa kecewa gue.


"Maaf," bisik Arkan lirih, ia kemudian merengkuh tubuh gue.


Gue yang sedang tidak bisa berpikir jernih pun hanya mampu terisak dalam pelukannya. Sementara Arkan tak berhenti mengucap maaf sambil terus menciumi pucuk rambut gue.


"Shirin bilang kamu masih perjaka, lalu kenapa kamu sekarang bilang punya anak. Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Aku kebobolan."


Gue menjauhkan diri gue dari pelukan Arkan, mendengkus tak percaya lalu mencemoohnya, "Kebobolan?" desis gue menggulang kalimatnya untuk menyindirnya.


Arkan mengangguk. "Itu kecelakaan."


"Kalian melakukannya pas lagi mabuk?"


Gelengan lemah yang Arkan tunjukkan makin menampar gue ke dalam dunia nyata, dunia nyata yang kejam adanya. Gue membisu. Bibir ini kelu untuk sekedar mengatainya brengsek.


"Kami melakukannya dengan kesadaran penuh, atas dasar mau sama-sama mau."


"Dia mantan kekasihmu?"


"Bukan. Tapi kami dekat dan merasa nyaman satu sama lain. Aku memilih untuk nggak mengikatnya dalam sebuah hubungan, karena tahu hubungan kami tidak akan berhasil. Jadi hubungan kami hanya sebatas with benefit saja."


Brengsek!


Gue memejamkan kedua mata gue, demi meredam emosi gue. Gue lelah sungguh. Dan gue belum siap mendengar semuanya. Gue perlu waktu. "Aku mau pulang. Aku akan dengar semua penjelasan kamu tentang ini, tapi tidak sekarang. Kasih aku waktu."


Arkan mengangguk maklum, kemudian mencoba memaksakan senyumannya.


"Aku antar."


Gue tidak menolak sama sekali. Membiarkan Arkan membimbing tubuh gue keluar dari apartementnya. Lalu tahu-tahu gue sudah berada di depan gerbang kostan. Astaga, sepertinya gue terlalu banyak melamun sampai tidak sadar kalau sudah sampai.


Gue langsung melepas seatbelt, dan ingin langsung turun setelah mengucapkan terima kasih. Kalau saja tangan Arkan tidak mencekal lengan gue secara tiba-tiba. Dengan dahi mengerut gue menoleh, memandang Arkan penuh tanya.


"Aku sayang kamu, Adeeva," ucap Arkan pelan namun tegas.


Seandainya Arkan bilang itu sebelum pengakuan tadi, hati gue pasti saat ini berbunga-bunga saat ini. Tapi sayang, semua itu tidak terasa membahagiakan lagi. Bahkan terdengar menyakitkan, gue merasa dikhianati.


Gue memaksakan senyum getir gue. "Terima kasih udah nganter. Kamu hati-hati pulangnya. Kalau udah sampai kabarin," ucap gue, meloloskan cekalan tangan Arkan dengan mudah.


"Iya. Kamu langsung tidur, maaf bikin semua jadi kacau."


Gue diam.


"Semua orang berhak untuk tidak menerima masa lalu pasangannya, termasuk kamu. Kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa. Jangan memaksakan diri! Aku sayang kamu. Langsung tidur, ya!"


Sebisa mungkin gue memaksakan senyum gue sekali lagi. Gue mengangguk ragu, baru kemudian turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kost. Sesampainya di kamar gue langsung melemparkan tas gue ke sembarang arah, menjatuhkan diri di samping kasur dan menangis tersendu-sendu setelahnya. Kenapa rasanya sesakit ini ya, Tuhan?


Ting


Gue menyeka air mata gue yang sudah membanjiri kedua pipi gue, lalu meraih tas gue yang terjatuh di samping kasur, mengeluarkan benda pipih dari dalam sana dan membaca pesan yang Arkan kirimkan.


Aku udah sampai.


Kamu langsung tidur!


Kita bicara setelah kamu siap.


Gue hanya membaca pesan itu tanpa berniat membalasnya. Dan lebih memilih kembali meneruskan acara menangis gue sambil memeluk lutut. Gue tidak tahu pasti apa yang sedang gue tangisi saat ini, yang jelas gue hanya ingin menangis semalaman sampai ketiduran. Berharap gue dapat melupakan kejadian hari ini.


T_T  T_T  T_T


Tok Tok Tok


"Mbak, Mbak Eva!"


Gue mencoba membuka kedua mata gue yang terasa lengket dan sulit terbuka, efek menangis semalam. Gue tidak inget berapa lama gue menangis, yang jelas lama karena gue merasa mata gue bengkak.


"Mbak! Mbak Eva di dalem!" teriak seseorang dari luar sambil menggedor-gedor pintu kamar gue.


Gue mengerang lalu beranjak dari posisi berbaring. Kepala gue rasanya seperti dihantam saat gue memaksakan diri untuk bangun. Sekali lagi gue mengerang. Astaga. Apes amat nasib gue, ya Tuhan!


Dengan langkah terseok gue berjalan menghampiri pintu, memutar kunci sebelum akhirnya memutar knop pintu sehingga pintu kamar gue terbuka dan menampilkan wajah panik Karin.


"Astaghfirullah!" pekik Karin sambil membekap mulutnya, di detik kemudian dia meringis sambil mensensor ujung kaki sampai ujung kepala gue, "Mbak Eva abis ditolak Mas Ganteng, ya?" tanyanya prihatin.


Gue tersenyum miris kemudian menggeleng pelan. Andai saja gue cuma ditolak, gue mungkin nggak akan semerana ini.


"Gue dapat pengakuan cinta dari Arkan."


"Terus kenapa Mbak Eva sekacau ini?"


"Lo kenapa bangunin gue pagi-pagi begini?" tanya gue mencoba menghindari topik pembicaraan ini. Bukan karena gue memilih untuk menyimpan masalah gue sendiri, hanya saja gue belum siap untuk cerita.


"Oh iya, Mas Ardi tadi telfon Mbak Eva, tapi katanya nggak Mbak angkat. Terus Mas Ardi minta tolong aku suruh tanyain ke Mbak Eva."


"Gue baru bangun, nggak tahu kalau ada telfon."


Dengan wajah polosnya Karin mangguk-mangguk maklum.


"Ya udah, Mbak Eva telfon balik Mas Ardi aja. Siapa tahu ada hal penting. Aku mau balik ke kamar ya, Mbak," pamit Karin.


Gue mengangguk, mempersilahkan Karin kembali ke kamarnya setelah tadi gue mengucapkan terima kasih. Setelah tubuh Karin menghilang di balik pintu kamarnya, baru gue kembali masuk ke dalam dan menutup pintu. Berjalan menghampiri ponsel gue yang tergeletak di tepi ranjang. Ada dua panggilan suara tak terjawab dan satu panggilan video tak terjawab dari Dian.


Gue langsung menghubunginya.


"Kemana aja sih, Mbak? Ditelfon susah amat, lo kerja di Jakarta apa di hutan deh," sembur Dian begitu sambungan terhubung.


Tanpa sadar gue langsung tersenyum mendengar nada suaranya yang ketus, entah kenapa tiba-tiba gue kangen Dian.


"Kenapa? Kangen? Mbak pulang kok lebaran nanti."


"Perasaan gue nggak enak, lo sehat, Mbak? Semua aman kan?"


Tanpa bisa gue cegah, akhirnya setetes air mata gue akhirnya lolos juga. Dian itu sifatnya hampir-hampir mirip Arkan, cuek-cuek judes tapi perhatian, plus tambahan dia itu peka.


"Aman."


"Ya udah, kalau belum siap cerita. Nggak usah dipaksa! Doain gue ya, hari ini gue sidang."


"Sidang? Sidang apaan, woy? Lo bikin masalah?"


"Lo beneran udah bangun belum sih, Mbak? Ya, sidang skripsi dong, masa iya sidang perceraian, nikah aja belum masa udah mau cerai aja," gerutu Dian misuh-misuh.


Gue menggaruk kepala baru ingat. Kenapa nggak kepikiran ya tadi. "Sorry, lupa gue kalau lo ini udah jadi mahasiswa tingkat akhir," cengir gue kemudian.


Di seberang Dian mendengkus sebelum izin untuk mematikan telfon.


"Jaga kesehatan, jauh dari gue mau pun keluarga. Kalau lo sakit, kita yang repot," pesan Dian sebelum benar-benar mematikan telfon.


"Iya. Bawel amat sih lo, Dek."


"Nggak usah manggil-manggil Dek, kalau nggak ada Ayah atau Ibu. Serem. Assalamualaikum!"


"Wall--"


Tut Tut Tut


Ck. Kebiasaan deh ini orang. Matiin sambungan sebelum gue selesai jawab salamnya. Gerutu gue dalam hati, lalu meletakkan ponsel gue di atas kasur. Gue harus segera mandi. Namun, gue harus mengurungkan niat tersebut karena ponsel gue kembali berbunyi, gue berbalik dan meraih ponsel gue kembali dan menemukan nama Arkan yang tertera di layar itu. Seketika tubuh gue menegang.


Gue harus bagaimana?


Tbc,