
######
Adeeva langsung berdiri di sisiku saat Milla mendekat ke arah Aurine, sepertinya ia sedang memberi wejangan pada putri sulungnya. Aku kemudian langsung merangkul pundak Adeeva dengan senyum cerah.
"Terima kasih, kamu melakukannya dengan sangat baik. Aku bangga sama kamu," bisikku pada Adeeva.
"Aurine cantik dan pintar, dia juga ramah dan sopan. Aku nggak bisa nolak pesonanya yang benar-benar luar biasa itu. Dia juga asik kok diajak ngobrol, jadi aku nggak mungkin membencinya. Aku malah berharap dia benar-benar akan tinggal sama kita."
Aku mengangguk sambil mengelus pundaknya. "Aku pun demikian, tapi maaf, sayang. Kita nggak punya hak untuk itu."
"Aku tahu."
Aku menghela napas panjang dan merangkul pinggangnya. Lalu berbisik, "Kayaknya, aku harus cepet-cepet bikin kamu hamil deh."
Adeeva tertawa keras lalu menyingkirkan tanganku yang tadi sempat melingkar di pinggangnya.
"Puasa sementara, Mas, kan Aurine mau tinggal sama kita."
"Kan bisa di kamar sebelah, yang. Aurine udah cukup gede untuk tidur sendiri." Aku menggeleng, kurang setuju dengan idenya.
Adeeva memelototiku tajam. Seperti tidak terlalu setuju dengan ideku. Bibirnya hendak terbuka dan melayangkan aksi protesnya, namun harus tertahan karena Milla dan Aurine menghampiri kami.
"Ingat, ya, sayang, nggak boleh nakal selama Mama tinggal. Nurut apa kata Tante Eva dan Ayah Rendra. Paham! Begitu semua selesai, Mama akan dateng dan jemput kamu."
Aurine berdiri di antara aku dan Eva. "Kalau Mama dateng sendiri dan nggak ngajak Daddy, mending Mama nggak usah jemput Aurine."
Kami semua terkejut dengan kalimat yang Aurine ucapkan.
Aurine mendongak ke arah Adeeva. "Tante nggak keberatan kan kalau aku tinggal sama Tante?"
"Hah?" Adeeva kebingungan. Ia melirikku dan Milla secara bergantian, lalu berkata, "boleh aja sih. Cuma--"
"Oke. Berarti Mama nggak usah jemput aku kalau semisal Daddy nggak ikut."
Dari nada bicara Aurine, terdengar kecewa dan sedikit marah.
Aku menatap Milla dengan perasaan iba. "Mil, percaya aja, kamu pasti bisa bawa Will jemput Aurine," ucapku mencoba menyemangatinya.
Milla mengangguk lalu berjongkok di hadapan Aurine. "Mama janji akan berusaha bawa Daddy kamu. Kamu jangan lupa bantu berdoa sama Tuhan, ya."
Aurine mengangguk paham, lalu memeluk Milla. "I love you, Ma. Aurine sayang Mama."
"Mama juga sayang Aurine."
######
"Yang, kayaknya Aurine mulai ngantuk deh. Kamu pindah belakang, ya?"
Aku memang sedari tadi memperhatikan Aurine dari layar spion. Aurine kudapati beberapa kali menguap, dengan kedua mata yang terkantuk-kantuk. Aku masih fokus pada jalan, sedang Adeeva menoleh ke arah bangku belakang.
"Ya udah, nepi dulu, biar aku pindah."
Aku menurut, setelah merasa jalan agak sepi. Aku menepikan mobilku, Adeeva langsung keluar dan masuk ke pintu belakang. Lalu aku kembali melajukan mobil.
"Ngantuk, ya?" tanya Adeeva, "sini bobo di pangkuan Tante."
Aku memerhatikan keduanya melalui kaca spion, Aurine terlihat ragu-ragu. Seperti ingin mengiyakan tapi sungkan.
Adeeva menepuk pahanya. "Sini, nggak papa!Kan Tante pindah mau nemenin Aurine tidur."
"Enggak ngerepotin?"
"Enggak dong," jawab Adeeva yakin.
Aurine kembali berpikir, namun kali ini tidak lama. Karena setelahnya, ia mendekat ke arah Adeeva dan membaringkan kepalanya pada paha Adeeva. Lagi-lagi hatiku menghangat saat melihatnya.
"Makasih, sayang. Kamu memang yang terbaik," ucapku tulus.
Adeeva hanya tersenyum saat membalasku, lalu geleng-geleng kepala setelahnya. Tak lama setelahnya, kami sampai di tempat parkir apartemen kami. Adeeva hendak membangunkannya, namun aku larang. Dengan gerakan buru-buru, aku membuka pintu mobil dan menyuruh Adeeva membantuku mendudukkan Aurine, agar aku bisa menggendongnya dengan mudah. Namun, hal ini justru membuatnya terbangun.
"Apa kita udah nyampe?" tanya Aurine sambil mengucek sebelah matanya.
"Iya, kita udah nyampe. Turun yuk! Jalan sendiri apa digendong Ayah?" tawar Adeeva kemudian.
Aurine tidak langsung menjawab, ia melirikku ragu. Sebelum akhirnya menjawab, "Aku udah tujuh tahun, sudah besar. Jadi jalan sendiri aja," tolaknya kemudian.
"Anak pinter," puji Adeeva sambil mengacak rambut Aurine gemas, ia kemudian membimbing Aurine untuk turun dari mobil.
Aku mendesah kecewa.
Adeeva menepuk pundakku dan berbisik, "Pelan-pelan, Mas."
Aku menoleh ke arahnya, pura-pura memasang wajah tak paham. "Emang kita mau ngapain?"
Adeeva berdecak kesal lalu menepuk pundakku pelan. "Yuk, jalan!" perintahnya kemudian.
Aku tertawa lalu mengekor di belakang mereka. Iya, mereka, Adeeva dan Aurine. Astaga, kenapa mereka bisa begitu akrab sampai aku benar-benar diacuhkan begini. Kalau begini rasanya aku yang jadi Ayah tirinya, sedang Adeeva Ibu kandungnya. Astaga! Astaga, lihat saja cara mereka bergandengan tangan. Seperti pasangan yang sedang kasmaran. Lagian aku heran deh, apa sih yang telah Adeeva lakukan untuk Aurine, sehingga ia terlihat begitu menyukai Adeeva?
#######
"Ayah, boleh aku bertanya sesuatu?"
Aurine baru saja keluar dari dapur. Ia kemudian menghampiriku yang sedang menonton acara berita. Aku menatapnya ragu. Dalam hati, aku mulai harap-harap cemas dengan pertanyaan apa yang akan ia ajukan. Ah, semoga saja bukan pertanyaan sulit.
"Ya, kamu mau tanya apa, sayang?" Aku sedikit mencondongkan tubuhku ke arahnya, kedua mataku menatapnya antusias. Ini bisa jadi kesempatan untuk kami dekat, dan aku tidak boleh menyia-yiakannya.
"Apa malam ini, Tante Eva boleh tidur bersamaku?"
"Apa?"
Kedua mataku membulat sempurna, pertanyaan macam apa itu barusan? Tidur bersama dengan Adeeva? Lalu bagaimana denganku?
"Aku tidak berani tidur sendiri."
"Tapi Mama-mu bilang, kamu punya kamar sendiri di California. Kenapa mendadak nggak berani tidur sendiri?"
"Aku memang biasa tidur sendiri kalau di California, tapi kalau di Indonesia, biasanya selalu ada yang nemenin. Tadi aku udah tanya Tante Eva, katanya Tante Eva boleh, terus aku disuruh tanya Ayah. Boleh kan, Yah?"
Aku menggaruk kepalaku bingung. Lalu menyadari Adeeva berdiri di belakang Aurine sambil menyilangkan kedua tangannya, sudut bibirnya terlihat berkedut, seperti sedang menahan tawanya. Aku langsung menatapnya kesal.
"Boleh kan, Yah?" tanya Aurine sekali lagi.
"Ya, sudah, kita tidur bertiga."
Di luar dugaan, Aurine tiba-tiba mengibaskan kedua tangannya. "Enggak, Yah, Aurine nggak minta Ayah ikut tidur bareng kok. Tante Eva aja cukup kok yang nemenin."
"Kok gimana, Yah? Ya, Ayah tidur sendiri dong. Emang Ayah nggak berani tidur sendiri?"
"Bu--"
"Iya, Ayahmu kan penakut, Rin, jadi mana berani tidur sendiri," ledek Adeeva sambil terkikik geli, ia kemudian duduk di samping Aurine.
"Serius, Ayah takut tidur sendiri? Ayah takut hantu? Jadi, kita tidur bertiga?" tanya Aurine dengan wajah polosnya, mengundang gelak tawa renyah dari Adeeva.
Aku mendengkus keras. "Enggak, ya, Ayah berani tidur sendiri. Ya, udah kalau kamu cuma mau tidur sama Tante Eva. Ayah mau tidur sendiri," rajukku kesal.
Aku kemudian berdiri dan masuk ke kamar utama. Tak lama setelahnya, Adeeva menyusulku sambil tertawa.
"Seneng banget kamu?" sindirku kesal.
"Iya, berasa punya anak cewek aku, Mas."
"Kok kamu nyebelin gitu sih?" protesku kesal. "Beneran tega kamu biarin aku tidur sendiri?"
"Kan anak kamu yang minta, Mas, masa aku tolak."
"Jadi, kamu lebih milih anak tiri kamu ketimbang suami kamu sendiri?" Aku benar-benar tidak suka dengan kondisi ini. "pokoknya nanti malem, kalau Aurine udah tidur. Kamu langsung ke kamar kita, kalau aku udah tidur, baru kamu boleh ke kamar Aurine lagi."
"Mas, kamu bercanda kan ini?"
Aku melirik Adeeva sinis. "Emangnya keliatannya aku lagi bercanda? Kamu nggak liat wajah kesalku dari tadi?"
"Astagfirullah, Mas. Yang mau aku temenin itu anak kamu sendiri lho, anak kandung kamu dengan wanita lain, bukan sama aku." Adeeva berdecak kesal.
Apa aku keterlaluan?
"Yang," bujukku sambil berusaha untuk memeluknya, tapi Adeeva terus menjauh.
"Nggak usah peluk-peluk!" serunya kesal.
"Aku minta maaf, aku cuma--"
"Tahu lah, serah kamu." Setelah mengatakan itu, Adeeva langsung keluar kamar begitu saja.
Aku mengacak rambutku frustrasi. Lalu berlari keluar kamar dan menyusul Adeeva. Saat aku keluar kamar, aku sudah tidak menemukan siapa pun di sana, tidak ada Adeeva, tidak ada Aurine. Sepertinya, Adeeva langsung mengajak Aurine masuk ke kamar.
Aku menghela napas pendek dan kembali masuk ke dalam kamar. Aku kemudian langsung merebahkan tubuhku dan menyelimuti tubuhku menggunakan selimut. Baiklah, sebaiknya aku tidur.
Lima belas menit berlalu
Aku tetap tidak bisa tidur. Aku sudah mengusahakan agar kedua mata ini terlelap, tapi sepertinya semua itu sia-sia. Karena bukannya mengantuk, aku malah merasa gelisah. Karena tak tahan, aku kemudian memutuskan turun dari ranjang dan keluar dari kamar utama, berpindah ke kamar sebelah, di mana ada Adeeva dan Aurine.
Saat aku membuka pintu kamar, baik Adeeva dan Aurine sama-sama belum tidur. Keduanya terlihat terkejut saat melihat keberadaanku.
"Ada apa, Yah? Ayah takut tidur sendiri?" tanya Aurine, lagi-lagi memasang wajah polosnya.
Ah, kenapa aku merasa agak kesal saat melihat wajah polosnya itu, meski kenyataannya dia ini putri kandungku sendiri yang harus kudapatkan hatinya.
Aku berdehem. "Ayah nggak takut tidur sendiri--"
"Tapi Ayah nggak berani tidur sendiri," sambung Adeeva cepat.
Aurine mengernyit kebingungan. "Bukankah intinya sama?" ia menoleh ke arahku dan Adeeva secara bergantian.
"Iya, sama, tapi itu nggak benar. Ayah cuma pengen tidur sama Aurine, boleh?"
Aurine mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Terserah Ayah sih, kan ini tempat tinggal Ayah. Aurine cuma numpang."
Aku meringis, karena pelototan tajam dari Adeeva. Lalu ikut bergabung dengan mereka. Aku sengaja mengambil posisi tengah agar dekat dengan keduanya. Namun, diprotes Adeeva tentu saja.
"Yang tengah Aurine dong, Mas."
"Kenapa? Kamu masih marah? Nggak mau tidur deket aku?"
"Kamu pikir aku anak kecil yang sering ngambek. Enggak lah. Aku nggak pendendam, ya."
"Terus kenapa kamu nggak ngebolehin aku tidur di tengah?"
"Ya, karena Aurine masih kecil dong, Mas. Masa Aurine yang kecil tidur di pinggir, nanti kalau jatuh gimana?"
Aku menoleh ke arah Aurine. "Kamu kalau tidur banyak gerak enggak?"
Aurine menggeleng sebagai tanda jawaban.
"Tuh, aman, yang. Aku di tengah, ya?"
"Mas, kamu jangan kayak anak kecil begini dong. Masa gitu sih?" protes Adeeva terlihat kesal.
Loh, memangnya salahku di mana sampai Adeeva sekesal ini?
"Ayah sama Tante lagi berantem, ya?"
"Enggak!" koor aku dan Adeeva kompak.
"Terus?"
"Enggak papa, sayang. Bobo, yuk! Katanya besok mau ketemu nenek," ajak Adeeva.
Aurine mengangguk setuju, menggeser tubuhnya ke samping. "Tante yang di tengah, biar Aurine sama Ayah yang di samping." ia tiba-tiba terkikik geli. "Ayah takut kalau nggak tidur sama Tante, bukan takut sama hantu. Selamat malam Ayah, selamat malam Tante!"
"Hayo, ada yang lupa nggak?" celetuk Adeeva tiba-tiba.
Secara spontan, Aurine kemudian bangun dan duduk bersila, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sambil memejamkan kedua matanya. Ia berdoa dengan khusyuk selama beberapa menit lalu membuka kedua matanya dan mencengir lebar ke arah Adeeva.
"Aurine udah selesai berdoa. Makasih Tante, udah ingetin Aurine."
"Sama-sama, sayang. Bobo yang nyenyak, ya."
Aurine mengangguk, sambil menarik selimutnya dan mulai memejamkan kedua matanya. Adeeva ikut melakukan hal serupa, berbaring di sebelah Aurine dan memejamkan kedua matanya. Mau tidak mau, akhirnya aku melakukan hal serupa.
**Tbc,
hehe, kali ini mau curcol ah. curcolnya agak panjang, ya, jadi kalau misal males langsung diskip aja.
mon maap up-nya telat, maklum, kondisi perut kenyang, udara syahdu-syahdu gimana gitu, denger suara kodok nyanyi-nyanyi riang bawaannya ngantuk ππ alhasil, untuk ngilangin ngantuk nonton acara ragam korea di youtube. hehe, knowing brother, acara ragam fav-ku. seru sih nontonnya, lucu, menghibur dan seru. bener-bener ngocok perut tanpa bikin penasaran π abis mau nntn drama pasti bikin penasaran, kudu maraton trs begadang, bkin ngantuk trs kasian jg tubuhnya. masa diajak begadang yg unfaedah terus. iya, enggak?
oke, udah kepanjangan keknya curcolnya. sampai segini aja dulu. kalau mau koreksi boleh, keknya jg butuh banyak dikoreksi sih. udah mulai ngantuk lagi, see you next part aja deh. pokoknya tetep jangan lupa jaga kesehatan, musim lagi gk nentu, nyamuk-nyamuk nakal suka gigit sembarangan. kalian waspada, ya. kesehatan tetep yang utama.
bubay....... muachhhhhhhhhh ππππππππππππππππππππ**