
#####
Aurine langsung menoleh ke arahku, saat aku duduk di sebelahnya. Pandangannya kemudian beralih ke sekitar, ia kembali menatapku saat sepasang matanya tidak menemukan keberadaan yang lain kecuali aku. Mama dan Adeeva sudah ke dapur sedang Papa, entahlah, aku tak yakin ke mana perginya beliau.
"Tante Eva ke mana, Yah?"
"Di dapur. Bantuin Nenek nyiapin buat makan siang nanti."
Aurine kemudian turun dari sofa. "Aurine mau ikut Tante Eva aja, boleh?"
"Di sini aja lah, sama Ayah. Kita main bareng, Aurine mau main apa?"
Aurine menatapku ragu, kemudian menggeleng pelan. "Aurine mau bantu Nenek sama Tante Eva aja. Aurine janji nggak akan nakal kok." Dengan wajah innocent-nya ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk huruf V.
"Kalau Aurine nakal, nanti Aurine dihukum deh. Janji," ujarnya dengan ekspresi sedikit memohonnya. Ia menurunkan kedua jarinya, lalu mengantinya dengan jari kelingking dan mendekatkannya padaku. "Janji jari kelingking," imbuhnya kemudian.
Aku menghela napas kalah. Jadi, aku benar-benar tidak bisa mendekati putriku sendiri. Bukankah ini sedikit memalukan?
"Ayah," panggil Aurine ragu-ragu.
"Ya, udah, iya." Aku akhirnya menautkan jari kelingkingku ke jari kelingking Aurine. Gadis itu tersenyum senang, membuatku mau tidak mau akhirnya ikut tersenyum.
"Makasih, Ayah. Aurine sayang Ayah."
Dalam hati aku berpikir, apakah Aurine benar-benar telah menganggap aku ini Ayahnya?
"Ayah."
Aku sedikit tersentak kaget saat tiba-tiba mendengar suara Aurine memanggilku, telapak tangannya meraih jari telunjukku, menggenggam dan menggoyangkannya.
"Yuk, nyusul Tante Eva," ujarku lalu mengajaknya menuju dapur.
Aurine langsung menghampiri Mama saat kami sampai di dapur. Aku sendiri hendak langsung meninggalkan dapur, namun ditahan Adeeva.
"Katanya mau deketin anaknya, kok diajak ke sini sih, Mas?" protes Adeeva sedikit berbisik kepadaku.
Aku menggaruk-garuk kepalaku, lalu berkata, "Dia nyariin kamu. Ya, udah aku ajak ke sini."
Adeeva berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Kamu beneran payah, ya, Mas, kalau urusan beginian."
Aku mengangguk. "Kayaknya gitu."
Plak!
Adeeva memukul pundakku gemas, tidak terlalu keras sih, memang, tapi tetap saja menimbulkan sensasi nyut-nyutan.
"Makanya usaha dong. Jangan nyerah gitu aja, nanti kalau dia keburu dijemput Mamanya baru kamu nyesel. Selagi ada kesempatan digunain kenapa sih, Mas?" omel Adeeva.
Aku tahu, apa yang Adeeva katakan memang benar. Memang seharusnya aku mulai mendekatkan diri pada Aurine, mumpung dia masih tinggal denganku. Tapi apa mau dikata, Aurine telalu susah untuk kudekati. Entah hanya perasaanku atau bagaimana, aku merasa dia seperti masih belum bisa menerima kenyataan kalau aku ini Ayah kandungnya, jadi Aurine seperti menjaga jarak denganku. Mungkin dia sudah terbiasa memanggilku Ayah, tapi entah kenapa aku hanya merasa itu hanya formalitas demi sopan santun, karena tahu aku ini Ayahnya. Mungkin sisi terdalamnya, ia masih kecewa dengan kenyataan ini. Kalau memang demikan, aku jelas tidak bisa memaksakannya bukan?
"Mas!"
Aku menoleh ke arah Adeeva. Istriku kini melototiku dengan tajam, membuat bulu kudukku meremang secara mendadak. Adeeva memang seseram itu kalau sedang marah.
"Kenapa?" tanyaku kebingungan.
"Kamu nggak dengerin aku?"
Aku menerjap kebingungan. "Dengerin apa?" tanyaku makin tak paham. Aku menggaruk-garuk kepalaku bingung.
"Tahu lah, Mas. Bodo amat, kesel aku sama kamu. Terserah deh!"
Setelah mengatakan itu, Adeeva kembali bergabung dengan Mama dan Aurine. Sedangkan aku hanya mengaruk kepalaku bingung dan meninggalkan dapur.
Aku kemudian berjalan ke ruang tengah, lalu menghempaskan tubuhku di sofa yang ada di sana. Mengeluarkan ponsel yang mengganjal dari saku celanaku dan meletakkannya di meja.
"Di mana Cucuku?" tanya Papa.
Entah muncul dari mana, aku tidak tahu karena tadi aku sempat memejamkan kedua mataku.
Aku menegakkan tubuhku. "Di dapur, sama Mama dan Eva. Mau ngebantuin katanya."
"Kalian belum akrab, ya?" tanya Papa tiba-tiba.
Kali ini aku diam, tidak menjawab pertanyaan Papa. Karena tanpa kujawab pun, Papa pasti tahu jawabannya.
"Masa kalah sih sama istri kamu. Papa lihat dia lebih akrab sama Eva ketimbang kamu, padahal kamu yang Ayah kandungnya."
"Aurine susah dideketin, Pa. Entah cuma perasaan Naren, tapi Naren ngerasa dia masih kayak... yah, belum terima kalau aku ini Ayah kandungnya."
Papa mangguk-mangguk paham. "Dia masih terlalu muda. Mungkin memang berat bagi dia, Ren, untuk mengetahui apa itu Ayah kandung dan Ayah tiri. Kamu yang sabar saja, jangan mentang-mentang dianya susah dideketin kamu nggak usaha sama sekali," saran Papa.
Aku mengangguk. "Iya, nanti Naren usahain buat lebih giat deketin dia."
"Iya, kuncinya yang penting sabar. Deketin anak kecil itu gampang-gampang susah."
"Iya, Pa."
"Tuh, angkat dulu telfonnya! Ada telfon masuk kayaknya."
Aku kemudian mengintip ke layar ponselku, memang benar ada panggilan masuk. Tanpa berpikir panjang, aku langsung meraihnya. Menggeser tombol hijau setelah memastikan siapa yang menelfon, baru kemudian menempelkannya pada telinga kiriku.
Aku kemudian berdiri dan menjauh dari Papa, lalu keluar rumah.
"Ya, halo. Kenapa, Mil?"
"Hei. Gimana, Aurine dia nggak ngerepotin kan?"
"Enggak lah, ngerepotin apa sih, Mil, dia kan juga anakku."
"Iya juga, ya."
"Eva memperlakukan Aurine dengan sangat baik kok. Tenang aja, istriku nggak kayak di film Cinderella, yang jadi Ibu tiri. Mereka lebih akrab malah, tepat sesuai dugaanku."
Di seberang, Milla tiba-tiba tertawa. "Lebih akrab ketimbang kamu?" tebaknya kemudian.
Aku mengangguk, meski kenyataannya Milla tidak bisa melihatku. "Ya, gitu deh. Kayak sungkan gitu sama aku, Mil." Aku menghela napas sedih sambil memasukkan sebelah tanganku ke dalam saku celana.
"Sabar, Ren, mau gimana pun, ini tetap berat untuk Aurine. Dia masih sangat kecil untuk memahami situasi kita, belum dengan pertengkaran yang terjadi sama aku dan Will. Ya, jelas ini nggak mudah buat dia."
"Iya, ngomong-ngomong, gimana urusan kamu sama Will. Kamu udah coba ngomong sama dia?"
"Iya, kita udah ngobrol. Baru aja selesai, terus aku nelfon kamu. Ada sesuatu hal yang perlu aku kasih tahu ke kamu."
Mendadak perasaanku tidak enak.
"Berita baik atau berita buruk?"
"Bisa jadi dua-duanya."
"Kalian..."
"Kami memutuskan untuk tidak bercerai. Ternyata benar, aku yang terlalu gegabah dan kurang percaya sama suamiku sendiri. Dia barusan jelasin semuanya, beserta bukti-buktinya. Ternyata aku memang yang keliru."
Aku bernapas lega. Seenggaknya, harapanku maupun Aurine terkabul. Dan aku senang mendengarnya, ini benar-benar berita bagus.
"Syukurlah, seneng aku dengernya, Mil. Aurine pasti seneng nih, mau ngomong sama dia? Aku panggilin," tawarku kemudian.
"Lagi apa dia? Kangen juga sih sebenarnya, ini kan pertama kalinya aku jauhan sama dia. Rasanya nggak tenang."
"Lagi di dalem, bantuin Mama sama Eva nyiapin buat makan siang. Bentar aku masuk--"
"Eh, eh, nggak usah! Aku perlu ngasih tahu kamu sesuatu," cegah Milla.
"Tentang?"
"Aurine."
"Kenapa?"
Hening. Milla tidak menyahut. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di seberang, yang jelas aku tidak mendengar Milla bersuara.
"Mil," panggilku, "kamu masih di sana?"
"Ya."
"Jadi?"
"Sebelumnya, sorry, ya, Ren."
"Besok, Will akan berangkat dari sini ke Jakarta, ya, jemput Aurine."
Aku mematung sesaat. Mencerna setiap kata yang Milla lontarkan barusan. Apa, Aurine sudah akan dijemput? Secepat inikah aku harus berpisah dengan putriku?
######
Setelah obrolanku dengan Milla kemarin, aku jadi banyak melamun. Aku terus-terusan kepikiran dan merasa sedih. Aku bahkan belum berhasil dekat dengan Aurine, tapi kenapa sekarang dia sudah akan dijemput?
"Mas? Kamu baik-baik aja? Aku perhatiin sepulang dari rumah Mama, kamu jadi banyak melamun? Ada masalah?"
Adeeva yang baru saja keluar dari kamar Aurine, setelah menemani putriku tidur, kini duduk di sebelahku. Kedua matanya menatapku penuh khawatir.
Aku menggeleng sedih, lalu menyandarkan kepalaku pada pundaknya. Aku menghela napas berat sambil memejamkan kedua mataku. Dengan gerakan sigap dan menenangkan, Adeeva merangkul pundakku lalu menepuknya pelan.
"Aku sedih. Aurine bentar lagi dijemput Daddy-nya. Rasanya aku belum rela ditinggal dia, Va. Aku ngerasa ini nggak adil, masa kita cuma dikasih tiga hari buat bareng dia."
"Masalah mereka sudah selesai?" tanya Adeeva.
Aku hanya mengangguk, sebagai tanda jawaban. Aku tidak mengatakan apapun, hanya mencari posisi ternyamanku berada di sandaran Adeeva.
"Berarti kemungkinan besok hari terakhir kita bareng Aurine?"
"Hmm."
"Cepet banget, ya."
"Makanya itu."
"Udah nggak usah sedih, kan aku nggak ke mana-mana. Nanti kapan-kapan, kalau kita ada waktu kita main ke rumah mereka yang ada di California. Gimana?" usul Adeeva.
Aku mengernyit sesaat, lalu kemudian mengangguk setuju. Aku rasa tidak buruk juga usulnya.
"Dalam rangka bulan madu yang ketunda kemarin?"
Adeeva berdecih samar. "Bulan madu apaan sih? Siapa juga yang nunda bulan madu?" ia geleng-geleng kepala sembari menyingkirkan kepalaku dari pundaknya.
"Terus? Mau nanti kalau babymoon sekalian?" tanyaku serius.
Namun, Adeeva tidak meresponnya demikian. Ia malah terbahak. "Hamil aja belum, udah mikirin babymoon. Ngaco kamu, Mas."
"Ya udah, ayo!"
Adeeva menatapku horor. "Ke mana?" tanyanya pura-pura tak paham.
"Ke kamar."
"Ngapain?"
"Lembur dong, biar cepet hamil kamunya. Biar kita nggak kesepian."
"Tidur, yuk, ngantuk nih," ajak Adeeva sambil berdiri.
Aku cemberut. Adeeva tertawa. Ia kemudian menarik lenganku, memintaku agar segera berdiri. Dengan sedikit ogah-ogahan, aku akhirnya berdiri.
"Ke mana?"
"Tidur, Mas."
"Di mana?"
"Kamar lah."
Kedua mataku berubah berbinar. Namun, semua itu tidak berlangsung lama, karena setelah itu Adeeva kembali membuatku kesal.
"Sekamar sama Aurine," sambung Adeeva.
"Kan, kan, sekarang kamu yang nggak peka. Padahal aku usaha keras biar jadi peka, kenapa sekarang--"
"Mas, nggak usah kebanyakan protes deh. Kamu ini lho, katanya sedih mau ditinggal Aurine bentar lagi. Kenapa sekarang... begini? Nyebelin kumat begini."
"Ya udah, ayo, ayo, kita tidur. Tidur sekamar sama Aurine." aku kemudian langsung mengajaknya masuk ke kamar. "nggak usah ngomel!"
"Siapa yang ngomel?"
"Aku. Udah kelar kan?"
Adeeva mendengkus kesal, lalu mendahuluiku untuk masuk ke dalam kamar. Baru setelahnya, aku menyusulnya.
#####
"Aku akan keluar sebentar," ucap Adeeva lalu berdiri.
Ia menatapku sambil mengangguk, baru setelahnya ia keluar dari kamar. Meninggalkan aku dan Aurine berdua saja. Aurine duduk di tepi ranjang dengan kepala menunduk, kedua tangannya asik memainkan ujung mini dress bercorak bunga-bunga yang dibelikan Adeeva. Aku kemudian duduk di sampingnya.
Selama beberapa menit kami duduk berdampingan, namun aku masih belum membuka suara. Masih bingung mau mengatakan apa.
"Ayah," panggil Aurine. Sepertinya, dia mulai tak tahan dengan keheningan yang kuciptakan.
Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum. "Ayah ada berita bagus."
Aurine tak menjawab, hanya menatapku dengan ekspresi penasarannya. Aku tersenyum sekali lagi dan mulai memberitahukan berita bagusnya.
"Mama dan Daddy kamu tidak akan jadi berpisah."
"Really? *T*hat's good news."
Aku mengangguk, mengiyakan. Aurine kemudian merangkak ke tengah kasur, menyatukan kedua telapak tangannya sambil memejamkan kedua matanya.
"Terima kasih Tuhan, karena telah mengabulkan doa Aurine. Habis ini Aurine janji, nggak akan nakal. Aurine janji akan jadi anak yang baik, jadi kakak yang baik juga untuk Daisy. Mulai sekarang Aurine enggak akan males kalau Mama ajak ke gereja. Aurine janji. Tuhan, jaga Ayah dan Tante Eva untuk Aurine selama Aurine pulang. Amin."
Setelah menyelesaikan doa nya, Aurine membuka kedua matanya dan tersenyum ke arahku. Beberapa detik kemudian ia langsung berhambur ke pelukanku.
"Ayah sedih?" tanya Aurine.
"Sedikit. Kita belum dekat, tapi kenapa Daddy kamu sudah mau ke sini dan bawa kamu pulang?"
"Karena rumah Aurine bukan di sini."
"Kamu nggak suka tinggal di sini sama Ayah, sama Tante Eva?"
"Suka. Tapi Mama nggak di sini, Daddy juga nggak di sini, temen Aurine enggak, Daisy juga. Semuanya nggak di sini Ayah, jadi Aurine harus pulang. Nanti kalau liburan, Aurine janji akan ajak Mama ke sini." Aurine kemudian menyodorkan jari kelingkingnya dan tersenyum, "janji jari kelingking."
Aku tertawa tanpa sadar. Lalu menautkan jari kelingkingku ke jari kelingkingnya. Aku kemudian memeluknya erat, menghujami pucuk rambutnya dengan kecupan.
"Aurine harus tahu, meski selama ini Ayah nggak pernah ada di dekat Aurine, bukan berarti Ayah nggak sayang Aurine, ya. Ayah sayang Aurine, tapi, keadaan tidak bisa membuat Ayah dekat Aurine selama ini. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu akan mengerti."
Meski tidak terlalu paham, Aurine tetap mengangguk. Ia kemudian membalas, "Ayah juga harus tahu, meski kita nggak bisa dekat, bukan berarti Aurine nggak sayang Ayah, ya."
"Hmm, sekarang Ayah tahu."
"Jangan buat sedih Tante Eva, ya, Yah. Terus nanti kalau Ayah sama Tante Eva udah punya dedek bayi, jangan lupa diajak main ke rumah Aurine, ya. Nanti Aurine kasih mainan Aurine yang ada di rumah, sama punya Daisy juga."
"Oke."
"Janji jari kelingking?" Aurine kembali mengacungkan jari kelingkingnya.
Aku lagi-lagi tertawa. Mau tidak mau akhirnya mengangguk sambil menautkan jari kelingkingku ke jari kelingking Aurine.
"Janji jari kelingking," seru Aurine.
Aku tersenyum sambil mangguk-mangguk. "Iya, janji jari kelingking."
"Jadi, kapan Daddy akan menjemputku?"
"Besok."
"Ha? Besok?"
**tbc,
π΅π΅π΅π΅π΅π΅ part gaje apaan ini dah ππππ kabor, kabor, sebelum ditimvuk
gk usah pake cuap-cuap keknya part ini. see you next part aja. yg selow nunggu konfliknya. karena udah jelas, konflik yg saya bikin gk akan meregang nyawa, pun menguras air mata, a.k.a B ajah πππ pokoknya intinya akan kek cerita saya yg lainnya klo alurnya ringan tanpa konflik berat. itu aja sih. oke. jangan lupa jaga kesehatan ππππππ
lup lup π€**