
"Lihat kamu aja udah sering bikin lemah iman. Gimana kalau dipaksa, rontok sudah iman gue."
^^^^^^^^^
Tok Tok Tok
Gue langsung membuka kedua mata gue secara spontan saat mendengar suara pintu kamar kost gue diketuk. Kaget saja begitu, karena gue baru saja berbaring dan bersiap untuk memasuki alam mimpi, tapi diganggu oleh pengetuk pintu yang entah siapa. Awas aja kalau mahasiswa sebelah kamar yang mau minjem barang. Bakalan gue jambak rambutnya. Bodo amat deh siapa pun itu.
Sambil meringis menahan nyeri, gue akhirnya bangun dari kasur dan membuka pintu dengan perasaan tidak rela. Betapa terkejutnya gue saat mendapati Arkan yang berdiri di hadapan gue saat ini. Lah, ini seriusan Arkan? Kok dia di sini?
"Kamu ngapain di sini?" tanya gue tak percaya.
Semenjak obrolan gue sama Bang Bima tempo hari, gue memang sengaja menghindari dia. Bukan apa-apa, cuma takut kalau gue lemah iman aja sih. Jadi, untuk sementara dihindari dulu lah. Gue selalu menolak kalau diantar-jemput Arkan, telfon maupun pesan yang dikirim Arkan pun beberapa hari ini sering gue cuekin.
"Jengukin kamu. Gimana keadaan kamu? Lumayan parah ya kayaknya, muka kamu sampai pucet gitu? Kamu nggak sampai kekurangan HB gara-gara menstruasikan?" cerocos Arkan panjang.
Tanpa sadar gue tersenyum. Arkan cute juga ya kalau cerewet gini. Jadi pengen meluk. Kan, lemah iman banget gue kalau udah berurusan sama Arkan.
"Masuk dulu!" kata gue lalu mempersilahkan Arkan masuk.
Kebetulan kostan gue ini kost campur dan Ibu kost yang sekarang, orangnya nggak terlalu banyak aturan maupun larangan untuk bawa pacar mereka. Asal bayar tepat waktu mah, terserah mau bawa pacar mereka masuk ke dalam, asal nggak dibolehin nginep gitu aja sih.
"Aduh!" seru gue saat tak sengaja menabrak punggung Arkan. Gue pikir Arkan udah duduk di kasur, tahunya masih berdiri di dekat pintu. "duduk di ranjang sana dong, Ar. Itu juga ada kursi kan? Kenapa berdiri di sini sih, udah tahu badannya gede," gerutu gue sambil mengusap-usap hidung gue yang membentur punggungnya. "Sakit, loh ini!"
Arkan menoleh ke arah gue dengan wajah terkejutnya. Membuat kening gue mengerut heran. Abis liat hantukah ini orang?
"Itu apa?" tanya Arkan sambil menunjuk ranjang.
"Kasur."
"Yang di atasnya?"
"Sprei, bantal, gu--"
"Yang warna merah itu, Adeeva," potong Arkan tak sabaran.
Warna merah?
Astaga!
Jangan bilang gue tembus?
Dengan cepat gue menggeser tubuh Arkan dan berjalan mendekat ke arah kasur. Wajah gue langsung pucet. Sprei gue warnanya putih. Dan gue lagi datang bulan itu suka nggak tanggung-tanggung. Dan yang mergoki Arkan. Astaga. Mau ditaruh mana muka gue!
"S.sorry, b.bisa kamu keluar dulu?" Gue menoleh ke arah Arkan dengan pandangan tak enak.
Sumpah. Ini adalah moment paling memalukan yang pernah gue alami.
"Kenapa?"
"Aku malu," geram gue gemas.
"Enggak perlu. Aku juga perlu tahu hal-hal semacam ini, biar nanti pas kita udah nikah, akunya enggak kaget. Sekarang kamu mending ganti dulu, biar aku bantu lepas spreinya. Kamu masih ada sprei bersih?"
Gue mengangkat wajah gue dengan ekspresi terkejut. Arkan mau gantiin sprei gue yang kena darah menstruasi? Gila. Enggak boleh!
"Jangan dong!" tolak gue tegas, "enggak sopan."
"Enggak papa."
"Tapi..."
"Enggak papa, Adeeva. Mending sekarang kamu ganti."
Gue memandang Arkan ragu. Arkan tersenyum sembari mengangguk, meyakinkan gue untuk segera berganti. Membuat gue akhirnya pasrah dan menurutinya.
"Thanks," cicit gue sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Arkan mengangguk sekali lagi, bedanya kali ini sambil mengacungkan jempolnya.
Saat gue keluar kamar, sprei gue sudah berganti dan terlihat rapi.
"Maaf," lirih gue dengan perasaan bersalah. Kepala gue masih tertunduk dan masih berada di depan pintu kamar mandi. Sumpah, gue rasanya kayak mau mensodakohkan muka gue, saking malunya.
"Enggak papa. Sini duduk!"
Arkan menepuk kasur, mengintruksi gue agar duduk di sebelahnya. Dengan gengsi yang masih tersisa gue berjalan mendekat ke arahnya dengan sedikit ragu.
"Kamu enggak kerja?" tanya gue memulai obrolan. Nggak kebayang aja kalau dia bahas tragedi tembus gue.
Arkan menggeleng, tangan kanannya menyingkirkan anak rambut yang mengenai wajah gue.
"Aku baru pulang dari Surabaya. Kamu susah banget dihubungin akhir-akhir ini, jadi aku nggak ngabarin kalau pergi ke Surabaya, terus pas aku cari ke tempat kerja kamu katanya kamu sakit. Makanya aku langsung ke sini. Kamu marah sama aku, ya?"
Gue menggeleng.
"Terus kenapa kamu kayak menghindari aku? Aku bikin salah?"
"Enggak. Kamu enggak bikin salah. Aku cuma ngetes kamu, gimana kalau kita enggak ketemu, apa kamu kangen sama aku atau enggak. Jadi, gimana kangen aku enggak?"
Gue sengaja berbohong demi menjaga perasaannya. Enggak mungkinkan gue bilang kalau gue lagi meragukan dirinya.
"Enggak kangen," jawab Arkan tanpa keraguan dan membuat bibir gue manyun. "Tapi kangen banget," imbuhnya kemudian, lalu merangkul bahu gue dan memberikan kecupan ringan di atas kepala. Mendadak hati gue menghangat.
Arkan tertawa. "Aku juga enggak mau kalah sama kamu dong."
"Iya, deh. Yang nggak mau kalah, jadi oleh-oleh buat aku mana? Katanya dari Surabaya?" todong gue sambil mengulurkan kedua tangan gue.
"Enggak beli oleh-oleh. Aku ke sana kerja, setelah semua urusan selesai aku langsung terbang ke Jakarta karena kamu enggak bisa dihubungi, mana sempet beli oleh-oleh."
"Alesan."
"Beneran," ujar Arkan tak terima.
"Tapi aku enggak percaya, tuh."
"Ya, terserah. Yang penting kamu percaya sama Tuhan, percaya sama aku musyrik. Iya, kan?"
Gue mendengkus tak percaya. "Udah makin pinter ngomong ya, sekarang."
"Kan kamu yang ngajarin."
Gue melotot tak terima. Sementara Arkan justru memasang wajah cengengesannya.
"Katanya kamu udah dua hari enggak masuk kerja, bener itu?"
Gue mengangguk membenarkan. Sudah dua hari gue nggak masuk kerja cuma karena menstruasi.
"Kamu udah ke dokter?"
Gue langsung menoleh ke arahnya dengan ekspresi kaget. "Ngapain?"
"Periksa dong, Adeeva. Masa dua hari enggak kerja cuma gara-gara menstruasi. Terus tadi juga kamu sampai tembus segitu banyaknya. Padahal ini masih lumayan pagi, kamu belum ganti dari kemarin?"
Pulang dari Surabaya kok bikin Arkan cerewet gini, ya?
"Udahlah, enak aja. Aku enggak sejorok itu kali."
"Udah ganti tapi masih tembus sebanyak itu? Kamu yakin itu normal, Adeeva?"
Gue tersinggung. Apaan itu maksudnya ngatain gue nggak normal? Cari perkara ini manusia, udah tahu perempuan PMS itu seremnya kayak apa tapi berani ngatain. Wah, udah kebanyakan pahala pasti terus pengen cepet-cepet masuk surga.
"Kamu ngatain aku enggak normal?"
"Bukan gitu."
"Terus?" desak gue tersinggung.
"Maksudnya gini, menstruasikan siklus normal yang dialami setiap perempuan di dunia ini kan? Tapi kalau sampai mengganggu aktivitas harian jelas itu enggak biasa, Adeeva. Aku cuma khawatir kalau ada apa-apa sama kamu. Aku ngajak kamu ke dokter cuma buat mastiin kalau kamu emang baik-baik saja. Lalu minta saran dari ahlinya biar siklus bulanan kamu ini enggak mengganggu aktifitas harian kamu lagi. Kamu pahamkan maksud aku?"
Gue terpana. Selama gue kenal Arkan, perasaan ini kalimat terpanjangnya, dan ekspresinya terlihat penuh perhatian.
"Adeeva, plis, kita ke dokter, ya? Aku punya sepupu dokter spesialis Obgym, dia perempuan kok. Aku bikinin janji, ya?" pinta Arkan dengan ekspresi memohon.
Ini pertama kalinya gue melihat ekspresi memohonnya.
Gue memandangnya ragu lalu menggeleng.
"Aku cuma..."
"Adeeva. Jangan menyepelekan penyakit!"
"Ini bukan penyakit, Ar!" seru gue emosi.
Gue cuma nyeri haid, bukan sakit. Jelas gue tersinggung.
"Iya, emang ini bukan penyakit, tapi kalau kamu abaikan, bisa jadi penyakit," balas Arkan sedikit ikut emosi.
"Kamu nyumpahin aku kena penyakit?"
"Astaga! Bukan begitu, Adeeva. Mak--"
"Udah mending kamu pulang sana! Bikin badmood aja," usir gue jengkel.
"Adeeva, jangan kamu pikir aku enggak bisa memaksa, ya," ucap Arkan dengan nada memperingatkan. Ekspresinya terlihat jelas tidak bersahabat sama sekali.
"Dan kamu pikir aku juga bakalan nurut gitu aja sama kamu? Enggak bakalan!" balas gue tak mau kalah.
"Oke."
Arkan langsung berdiri dan mengangkat tubuh gue secara tiba-tiba. Membuat gue langsung menjerit secara reflek.
"Arkan!! Mau ngapain kamu?!"
"Aku sudah bilang, aku bisa memaksa, Adeeva."
"Oke. Kita ke rumah sakit, tapi turunin aku dulu!" jerit gue frustasi.
Arkan langsung menurunkan tubuh gue. "Sekarang kamu ganti baju, aku telfon Silvi dulu. Bikin janji."
Setelah mengatakan itu dia langsung berjalan menjauh dari gue sambil mengotak-atik ponselnya. Sementara gue berjalan gontai mengambil celana jeans dan juga kemeja.
Sialan. Kenapa dia pinter banget ngancem gitu sih?
Tbc,