Adore You!

Adore You!
Adore You! : t i g a p u l u h



"Kalau kata Dilan, cemburu itu tanda seseorang yang tidak percaya diri. Tapi kalau kata aku, cemburu itu justru bikin aku jadi percaya diri. Iya, percaya diri kalau kamu emang beneran cinta sama aku."



Operasi pengangkatan miom gue, alhamdulillah berjalan lancar. Meski sempat ada drama diundur jadwal operasinya, karena tekanan darah gue yang tiba-tiba naik. Tapi selepas itu semua berjalan lancar tanpa kendala. Dian, adik satu-satunya gue pun sudah tiba di Jakarta beberapa jam sebelum gue masuk ruang operasi. Dan sekarang sedang tidur di sofa dengan posisi meringkuk, posisi favoritnya saat tidur. Ayah dan Ibu sendiri sedang keluar cari makan untuk sarapan, sementara Arkan lagi mandi di kamar mandi ruangan gue.


Cklek!


Gue langsung menoleh ke arah kamar mandi, dan menemukan Arkan keluar dari sana dengan wajah segarnya. Handuk kecilnya kini tersampir di pundaknya, tersenyum super samar lalu berjalan mendekat ke arah gue.


"Kenapa tidak tidur?" tanya Arkan lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang.


"Udah pagi masa mau tidur terus?"


"Ya, enggak papa, kamu kan pasien. Lagian semalam kan kamu enggak bisa tidur," balas Arkan.


Memang setelah efek obat biusnya habis, gue emang enggak bisa tidur karena mulai merasakan nyeri setelah operasi. Kedua mata gue sih, emang gue paksa untuk terpejam, tapi tetap saja, gue enggak bisa tidur. Giliran bisa tidur, eh, malah ada dokter visit. Kan jadinya gue enggak tidur.


"Udah, sekarang tidur dulu. Sarapan sama obatnya udah dimakankan?"


Gue mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Assalamualaikum!" seru Ayah dan Ibu saat memasuki ruangan.


"Wa'allaikumssalam," balas gue dan Arkan kompak.


Arkan kemudian turun dari ranjang dan mengembalikan handuknya ke dalam kamar mandi.


"Ayo, sini, Nak Arkan! Kita sarapan dulu," ajak Ibu sambil meletakkan dua kantong kresek di atas meja.


"Iya, Bu," jawab Arkan singkat.


"Di, bangun! Udah siang ini," omel Ibu sambil memukul pantat Dian. "ayo, sarapan dulu!"


Dian melenguh lalu bangkit berdiri, tapi setelah itu ia membaringkan tubuhnya di atas lantai begitu saja. Membuat kami semua melongo melihatnya.


"Dasar kebo!" cibir gue sambil geleng-geleng kepala.


"Kamu mau bubur ayam, Va?" tawar Ibu, yang gue jawab dengan gelengan kepala.


"Ayo, Nak Arkan, kita sarapan dulu!" ajak Ayah sambil menjawil pundak Arkan.


Arkan membalasnya sambil tersenyum sungkan. "Iya, Yah, Arkan nanti aja."


"Kok nanti, ini udah dibeliin Ibu sekalian loh. Apa kamu enggak suka sama pilihan Ibu? Ibu juga beli nasi bungkus kok ini."


Ekspresi Arkan terlihat serba salah. Mungkin agak sungkan karena makan sarapan yang dibeliin Ayah sama Ibu. Tapi enggak enak juga kalau menolak.


"Udah, sarapan dulu. Katanya abis ini kamu meeting sama klien," bujuk gue, yang langsung dituruti Arkan.


Keuntungan sakit gue ya, ini, Arkan gampang nurut sama gue.


Tepat saat bongkong Arkan hampir mendarat di sofa, gue memanggilnya.


"Arkan!"


"Ya?"


"Ambilin hape Dian dong," pinta gue sambil mengedipkan mata genit.


"Tidur aja to, Va, kenapa malah mau main hape. Semalamkan kamu enggak tidur," ujar Ibu membuat Arkan mengurungkan niatnya untuk berdiri.


"Nanti, ah, masih terlalu pagi buat tidur. Ar, minta tolong ini loh. Jahitanku kan belum kering, masi--"


"Iya." Arkan kemudian langsung berdiri dan berjalan menghampiri gue sembari merogoh kantong celananya.


"Nih, pake hape aku aja," ujar Arkan sambil menyodorkan ponselnya ke gue.


Gue tak langsung menerimanya, justru menatapnya dengan dahi mengkerut. "Ada gamenya?" tanya gue ragu.


"Game?" beo Arkan.


Gue mengangguk.


"Enggak ada. Ya udah, download aja. Kuotanya masih banyak kok."


Arkan kemudian kembali ke sofa, bergabung dengan Ayah dan Ibu.


"Kalau aku pake youtubean boleh?"


"Boleh."


"Nonton drakor?"


"Boleh."


"Makasih."


Arkan hanya membalasnya dengan anggukan kepala, kemudian melanjutkan sarapannya yang tadi sempat gue ganggu.


Gue sendiri langsung menekan tanda power, lalu menggeser tanda gembok untuk membuka kunci. Gue agak terkejut saat mendapati wallpaper-nya yang kini sudah berganti, bukan pemandangan sunset plus foto wanita yang membelakangi kamera lagi. Melainkan foto tangan gue yang memakai cincin pemberiannya, yang pernah di-post di Instagramnya. Tanpa sadar gue tersenyum bahagia, bahagia dengan hal-hal sederhana yang Arkan lakukan.


Sekedar info ya, Arkan belum pulang ke rumahnya lho, dia terlalu setia nungguin gue. Bahkan beberapa pakaiannya atau keperluannya yang lain pun, yang ngambil Shirin, bukan Arkan sendiri. Padahal status gue baru jadi calon istrinya loh, belum jadi istri sahnya. Gimana kalau udah, apa lebih spesial atau justru cuek lagi?


"Kenapa senyam-senyum?" celetuk Ibu berhasil membuyarkan lamunan gue.


Gue tersentak kaget sambil meringis, kemudian menggeleng. Tepat saat jari gue ingin menyentuh ikon youtube, sebuah panggilan dari Om Hito masuk. Membuat gue secara reflek cemberut.


"Kenapa?"


Kini giliran Arkan yang bertanya. Tangannya kembali menyuap sesendok nasi beserta lauk.


"Om Hito telfon," kata gue sambil menyodorkan ponselnya.


Arkan kemudian berdiri dan berjalan menghampiri gue.


"Papa," ujar Arkan sebelum menyentuh ponselnya.


Gue mengernyit heran. Apaan itu maksudnya?


"Ya, hallo, Pa? Wa'allaikumussalam."


"...."


"Masih di RS."


"...."


"Naren, emang enggak ke kantor, tapi nanti ketemu investor dari A Grup. Kebetulan--"


"...."


"Tapi, Pa, masa--"


"...."


"...."


"Ya, udahlah, terserah. Bawahan kayak Naren bisa apa selain nurut atasan."


"...."


"Ya, nanti disalamin. Wa'allaikumussalam."


Arkan kembali menyodorkan ponselnya ke gue.


"Kenapa?" tanya gue.


"Papa titip salam buat kamu."


Gue langsung ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Ya, udah sana terusin sarapannya. Kamu juga perlu siap-siap kan buat kete--"


"Enggak jadi," sahut Arkan cepat.


Gue menoleh ke arahnya dengan ekspresi bingung. "Apanya yang enggak jadi?"


"Meetingnya."


"Loh, kenapa?"


"Papa yang mau kesana."


"Terus kamu?"


"Di sini."


"Enggak ngantor juga?" tanya gue belum sepenuhnya paham.


Arkan menggeleng lalu berjalan menuju sofa, kembali meneruskan sarapannya.


"Loh, kenapa enggak ngantor, Nak Arkan?" tanya Ayah.


"Dilarang Papa, Yah," jawab Arkan sebelum menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Om Hito ngelarang kamu?"


Bukannya menjawa pertanyaan gue, Arkan justru berdecak lalu menoleh ke arah gue dengan kedua mata yang melotot.


"Papa, Adeeva," koreksi Arkan.


"Apaan sih, kamu aja belum lamar aku beneran lho, gimana ceritanya Papa kamu udah jadi Papa aku," gerutu gue dengan bibir mengerucut.


"Udah. Arkan udah ngelamar ke Ayah kok, lagian Arkan aja udah manggil kita Ayah Ibu loh," celetuk Ibu.


"Hah?" Gue menatap Arkan dan Ayah bergantian. "Beneran udah?" tanya gue enggak percaya.


Kedua pria beda usia itu menjawab dengan anggukan kepala dengan kompaknya. Wow. Bakalan jadi Mertua dan Menantu yang kompak itu kelihatannya.


*******


"Itu orangnya, Va?" bisik Bang Bima, ia kemudian sedikit menoleh ke arah Arkan yang kini duduk di sofa.


Gue mengangguk sebagai tanda jawaban.


Bang Bima kemudian terkekeh. "Pantesan lo sampai segalau itu, ganteng gitu."


"Jelaslah, kalau enggak ganteng mana mau gue," canda gue yang langsung disambut gelak tawa renyah dari Bang Bima. Yang langsung membuat Arkan menoleh ke arah kami dengan tatapan tidak sukanya.


"Jadi kalau enggak ganteng, enggak mau?"


"Ya, enggak tahu juga," kekeh gue sambil tertawa.


Ehem ehem


Gue dan Bang Bima langsung menoleh ke arah Arkan dengan tatapan heran. Tapi Arkan sendiri terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Kenapa dia?"


"Sakit tenggorokan, mungkin." Gue menjawabnya dengan asal.


"Ah, masa? Bukan karena cemburu kan?"


"Ngaco! Enggak lihat mukanya sedatar tv itu." Gue kemudian menunjuk tv yanga ada di ruang rawat inap gue.


"Wah, jam istirahat udah habis, udah pada mulai kerja ini harusnya, bukannya malah gosip," celetuk Arkan tiba-tiba. Membuat gue dan Bang Bima saling menatap heran.


"Itu barusan nyindir gue, ya?" tanya Bang Bima sambil terkekeh geli.


Gue kembali mengangkat kedua bahu gue, tanda tidak tahu. "Kenapa, Ar?" tanya gue kemudian.


"Enggak, ini loh..."


"Gue cabut dulu deh," ucap Bang Bima tiba-tiba, lalu berdiri. "Cepet sembuh, ya, gue galau enggak ada lo di kantor," guraunya kemudian.


Ehem ehem


Arkan kemudian berdehem kembali.


"Tuh, cemburu tuh," bisik Bang Bima sebelum keluar dari kamar inap gue. Berpamitan dengan Arkan lalu keluar dari kamar inap gue.


Setelah Bang Bima keluar, Arkan kemudian berjalan menghampiri gue.


"Siapa sih dia?"


"Tadi kan udah kenalan," jawab gue cuek.


"Tapi maksudnya apa kalau kamu enggak ke kantor, dia galau? Kalian--"


"Jadi, kamu beneran cemburu sama Bang Bima ya?"


"Apaan sih, siapa juga yang cemburu?"


"Kamu lah," balas gue sambil tersenyum senang.


"Emang kenapa kalau aku cemburu, masalah?" tantang Arkan dengan wajah mendongak.


"Ya, enggak papa. Aku malah suka. Kalau kata Dilan, cemburu itu tanda seseorang sedang tidak percaya diri. Tapi kalau kata aku, cemburu itu justru bikin aku jadi percaya diri."


"Kenapa begitu?"


"Karena itu tanda kamu beneran cinta sama aku."


Arkan berdecak. "Kepedean," gumannya dengan wajah jengkel.


"Biarin. Kalau aku enggak pede, kamu enggak akan berani beliin aku cincin ini." Gue kemudian mengangkat tangan gue dan menunjukkannya pada Arkan.


"Bisa banget deh," gerutu Arkan sambil tersenyum samar seperti biasa.


**Tbc,


Mohon maaf karena akhir2 ini partnya super garing binti gajeπŸ™πŸ™πŸ™ bin agak maksa. Tetep tungguin kelanjutannya ya!!!πŸ˜‰πŸ˜πŸ˜˜πŸ™**