Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |20| Berita Mengejutkan



####


"Sarapannya seadanya ya, Mas."


Aku tersenyum dan mengangguk tak masalah. Lalu menerima sepiring nasi goreng yang Adeeva sodorkan. Hari ini kami terlambat bangun, karena dalam rangka 'lembur', entahlah meski biasa tidur larut, tak biasanya Adeeva sampai terlambat bangun. Alhasil, Adeeva hanya sempat membuat nasi goreng sisa nasi semalam dan telur dadar. Adeeva termasuk yang jarang memberiku sarapan nasi goreng, bahkan selama menikah ini pertama kalinya aku sarapan nasi goreng. Karena biasanya, Adeeva lebih suka memasak sayur dan lauk pauk dari subuh. Entah sayur tumis atau sayur kuah.


"Enggak papa, yang penting masih bisa sarapan," jawabku sambil menyendok nasi gorengku dan melahapnya.


Meski tidak melulu sarapan berat, aku sudah terbiasa dengan sarapan pagi sejak kecil. Jadi, kalau tidak sarapan, rasanya akan terasa aneh dan seperti ada yang kurang. Aku pasti akan kesulitan untuk berkonsentrasi dengan baik selama bekerja, kalau aku melewatkan sarapan di pagi hari.


"Bawa bekelnya libur, ya?" ucap Adeeva sambil menyantap nasi gorengnya.


Aku lalu mengangguk tidak masalah. Adeeva memang biasanya membawakan aku bekal untuk makan siang. Selain karena lebih hemat, dibawakan bekal masakannya membuatku merasa begitu diperhatikan. Aku merasa begitu beruntung sekali menikahinya.


"Apa nanti aku kirim lewat Go-food?" tawar Adeeva tiba-tiba.


Aku berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Enggak usah lah, nanti aku makan di luar aja sama yang lain. Sesekali makan di luar juga nggak papa."


Adeeva mangguk-mangguk setuju. "Oke, kalau gitu. Berarti nanti aku masaknya pulang dari toko aja? Buat makan malem aja?"


Aku kembali menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutku dan menggeleng. "Sesekali libur masak juga nggak papa, sayang. Nanti kita makan di luar, biar kamu agak santai sehari."


"Setiap hari aku juga santai, Mas. Emang aku ngapain coba sampai nggak bisa nyantai?"


"Banyak. Ngurus toko kue, ngurus aku, ngurus apartemen. Riweh banget kerjaan kamu tahu perasaan, aku kadang sampai suka nggak tega liatnya." Aku menyuap sesedok nasi terakhirku.


Adeeva terkekeh geli, sambil geleng-geleng kepala. "Ngurus kamu sama apartemen itu kewajiban aku, Mas."


"Tapi tetap aja, kamu itu kayak kebanyakan kerjaan ketimbang santainya. Makanya aku pengen kamu sehari ini nyantai dikit."


"Iya, deh, aku sebagai makmum yang baik, manut sama imam rumah tangga aja."


Aku mangguk-mangguk setuju lalu berdiri. "Memang harusnya begitu." Membawa piring kotor dan gelas kami menuju wastafel dan mencucinya.


Adeeva sendiri langsung ke kamar untuk bersiap-siap. Setelah kami sama-sama siap, aku langsung mengantarkannya ke toko, sedang aku langsung berangkat ke kantor.


#####


Aku melirik ponselku yang tampak berkedip, mengernyit sesaat sebelum akhirnya meraih benda pipih itu. Bukan nama Adeeva yang kutemukan di layar ponsel, melainkan nomor tak kukenal. Aku kemudian melirik jam tanganku, baru pukul 10.59 WIB.


Aku berpikir sejenak, siapa yang menelfonku pada jam segini? Karena penasaran, aku berniat untuk menjawabnya. Namun, sebelum jempol ini menyentuh tombol hijau, panggilan itu sudah diakhiri. Tak lama setelahnya, sebuah pesan dengan nomor sama masuk.


+62852631xxxxxxx


Hai, Ren. Ini aku Milla.


Kamu lagi sibuk?


Milla?


+62??


Itu artinya Milla di Indonesia. Tanpa banyak berpikir, aku kemudian langsung menghubunginya. Tak butuh waktu lama, panggilanku terjawab.


"Hai!" sapa Milla, begitu sambungan terhubung.


"Kamu di Indonesia?" tanyaku to the point.


"Hmm," responnya seadanya.


"Ada apa?" tanyaku khawatir.


Entah kenapa, perasaanku mendadak tidak enak.


"Aku mau ketemu kamu, kapan-kapan, kalau nggak sibuk. Boleh?"


"Sendiri?"


"Hmm, aku mau ngomong sama kamu. Berdua."


"Boleh. Kapan?"


"Kalau siang ini?"


Aku mengangguk secara reflek. "Oke, kita ketemu pas jam makan siang nanti. Mau ketemu di mana?"


"Oke. See you later!"


"Hmm." Lalu Milla mengakhiri sambungan telfonnya begitu saja.


Aku merasa semakin curiga. Dari nada suaranya tadi, Milla terdengar aneh, tidak seperti biasanya. Maksudku, tidak seperti dulu, saat kami masih lumayan sering berkomunikasi dulu. Aku jadi khawatir, semoga saja semua baik-baik saja.


Begitu waktu menunjukkan jam makan siang, aku langsung keluar dari ruanganku. Bahkan beberapa staffku sampai kaget dengan kelakuan tak biasaku ini, aku memang biasanya lebih sering makan siang di ruangan karena Adeeva membawakanku bekal. Bisa dibilang aku tipekal yang agak workaholic, yang kadang suka makan sambil kerja.


Aku langsung celingukan mencari keberadaan Milla begitu masuk ke dalam Cafe. Tak butuh waktu lama, aku langsung menemukannya. Ia sedang tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya. Aku membalas senyumnya dan langsung menghampirinya.


"Gimana kabar kamu, sehat? Aurine sama Daisy gimana kabar mereka?" tanyaku berbasa-basi, sebelum duduk di hadapannya.


"Sehat, Aurine sama Daisy lagi main sama Neneknya."


Aku memperhatikan gelagat Milla. Kedua tangannya saling bertautan satu sama lain, pertanda kalau ia sedang gelisah.


"Will apa kabar?" tanyaku kembali berbasa-basi.


Dapat kutangkap raut wajah tegang saat ia mendengar nama Will kusebutan, bahkan jari-jemarinya yang saling bertautan itu kini terlihat saling meremas satu sama lain. Membuatku menjadi semakin curiga. Sebenarnya ada apa ini?


"Mil," panggilku ragu.


Milla tersenyum sambil menyembunyikan kedua telapak tangannya di bawah meja, lalu mengangguk. "Kita pesen makan dulu, yuk! Kamu belum makan siang kan?"


Aku menatap Milla penuh curiga, meski demikian aku tak bisa berbuat banyak selain mengangguk dan mengiyakan.


"Iya, kebetulan tadi bangun kesiangan, jadi istri aku nggak sempet bikinin bekel buat aku," kataku sambil mengangguk, mengiyakan.


Milla tampak terkejut lalu melirik jari manis yang kini sudah ada cincin kawin yang melingkar di sana. Sambil tersenyum aku kemudian mengangkat tangan kananku.


"Udah taken dong," ucapku bangga.


"Kapan?"


"Baru sebulan."


"Astaga, kok bisa nikah nggak ngundang-undang?" protes Milla terlihat kecewa, ia kemudian mengangkat sebelah tangannya, untuk memanggil pelayan.


"Ya..." Aku kebingungan mencari alasan, "kamu nikah sama Will juga nggak undang-undang dulu kan?" jawabku setelah pelayan yang mencatat pesanan kami pergi.


"Iya, kan kamu..." Milla menjeda kalimatnya, sambil garuk-garuk kepala bagian belakangnya.


Aku tersenyum maklum. "Hubungan kita terlalu rumit untuk saling mengundang ke acara nikahan satu sama lain, Mil. Bener?"


Milla mengangguk setuju, dengan wajah sedihnya. "Iya, hubungan kita terlalu rumit dulu. Kalau aja--"


"Udah, yang lalu biar lah berlalu. Kita hidup tidak di masa lalu, tapi kita hidup untuk masa depan yang lebih baik," kataku sok bijak. "Ngomong-ngomong kamu mau ngomong apa ngajak aku ketemuan? Mau bahas tempat sekolah buat Aurine?"


"Aku ada rencana mau sekolahin dia di Bandung."


"Bandung? Kalian ada rencana pindah ke--"


"Aku dan anak-anak yang pindah ke Indonesia."


"Terus gimana sama William?"


"Aku sama Will mau cerai."


"APA?!"


**tbc,


rencana ini part mau aku bikin agak panjng, tapi gk tau knp sebelah tanganku lgi gk bisa dikondisiin dgn baik. mendadak kayak gemeter gitu, rasanya buat ngetik gk nyaman banget lagi, agak lemes-lemes gmn gtu. ah, mungkin aku mulai lelah πŸ˜† mon maap, ya πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™ ohya, sama ini, maap juga buat di part sebelumnya buat yg flashback italicnya ilang, padahal aku udh ngedit berulang-ulang, tpi msh aja ttp ilang, akhirnya aku nyerah deh. maap ✌✌✌ udah sih gitu aja, jangan lupa jaga kesehatan buat kalian, di daerahku lagi musim sakit. semoga imunku yang sering kali lemah ini tdk mudah ketularan kali ini. Aamiin. πŸ˜†πŸ˜†


*makanya jan keseringan begadang, woy!


begadangku kepaksa, cuy. mikirin buat ubah alur yg mengecewakan iniπŸ˜† keknya udh pada bosen ya kalian mau bacanya πŸ˜… ah, pusing aku tuh. berasa pen... ah, syudahlah ntar dikatain kang baper lagi aye. kabur aja udah deh, mandi terus mau bobo syantik. ah, pen nntn drakor. betewe, lama kali aku gk nntnin stok drakor. eh, kok mlah curcol πŸ˜†πŸ˜† mon maap sekali lagi, khilaf πŸ™


udah, gk akan ku perpanjang lagi cuap-cuap unfaedahnya. aku mau istirahat.


see you next part 😘😘😘 buat segelintir manusia yg masih menunggu 😝😝😝**