
######
Sepulang dari acara kondangan, aku dan Adeeva sepakat untuk mampir ke rumah Mama sebentar.
"Nanti langsung pulang?" tanyaku pada Adeeva, saat kami sama-sama turun dari mobil. Aku kemudian berjalan mendekat ke arahnya.
"Ya, singgah bentar dong, Mas. Masa mentang-mentang cuma mampir, bentaran doang terus pulang, kan kurang sopan."
"Oke."
Aku mangguk-mangguk setuju tanpa membantah. Lalu kami berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum!" seru kami saat memasuki ruang tengah.
"Wa'allaikumussalam!" balas seseorang dari dapur, yang ternyata Damian bersama Rafka.
"Aunty!!" seru Rafka langsung berlari menghampiri Adeeva dan memeluknya. Dan, seperti biasa Adeeva langsung mengangkat tubuh ponakan kami dan mencium kedua pipinya secara bergantian. "Aunty abis dari mana, kok cantik?"
"Jalan-jalan sama Om dong," balas Adeeva sambil menurunkan Rafka dari gendongannya, lalu ia memegangi pinggangnya dan pura-pura memasang wajah kesakitan. "Aduh, aduh, ponakan Aunty udah makin berat ya sekarang. Pinggang Aunty jadi sakit ini lho abis gendong kamu."
"Iya, dong, kan Rafka pinter mau makan sayur jadi bentar lagi Rafka bakalan besar dan tinggi kayak Om sama Papa."
Aku terkekeh geli lalu duduk di salah satu sofa, tak lama setelahnya Damian menyusulku. Adeeva jelas saja langsung pergi menemani Rafka bermain.
"Udah mau sayur sekarang si Rafka?" tanyaku berbasa-basi.
"Iya, baru tiga harian ini sih kalau enggak salah. Kalian abis dari mana? Rapi amat, abis kondangan?"
"Iya, abis kondangan. Deket sini, di komplek sebelah. Adeeva ngajak mampir, ya udah, gue iya in aja."
Damian hanya mangguk-mangguk paham sebagai respon. Tak lama setelahnya suasana menjadi hening. Baik aku maupun Damian sama-sama tidak membuka percakapan lagi, larut dengan gadget kami masing-masing.
"Ngomong-ngomong Mama sama Papa ke mana? Kok enggak keliatan?"
Aku mulai tersadar setelah duduk beberapa menit dan tidak menemukan keberadaan Mama atau pun Papa.
"Tadi sih katanya mau pergi pergi ke acara syukuran tetangga. Tapi gue lupa acara syukuran apa."
"Kalau Irin, tumben gue belum denger teriakannya dari tadi."
"Di kamar dia. Teler."
"Hah? Sakit maksudnya?" Aku mendadak khawatir dengan keadaan adik bungsuku.
Sambil tersenyum tipis Damian menggeleng. "Biasa, hamil muda."
Aku mangguk-mangguk maklum sambil ber'oh'ria. "Oh, gue kirain sakit. Kalau gara-gara hamil sih, ya, syukur deh. Berarti gue mau nambah pona--" tunggu sebentar, apa tadi gue bilang?
Aku menatap Damian ragu. Ekspresiku saat ini jelas tergambarkan kalau aku sedang sangat terkejut. Masih dengan senyum tipisnya, Damian mengangguk, seolah mengiyakan semua spekulasi yang ada di otakku. Kalau ia membenarkan semua spekulasiku, itu artinya...
"Iya, Irin hamil lagi. Usia kandungan baru jalan delapan minggu. Bentar lagi lo mau nambah ponakan dan Rafka bakalan jadi Kakak," kata Damian menjelaskan.
Aku tersenyum senang. "Wah, congrats deh! Nggak nyangka gue, kalau bakalan disalip kalian."
"Apaan sih, nggak ada salip menyalip untuk urusan begituan, wahai Kakak ipar."
Aku mengangguk, mengiyakan. Membenarkan ucapan Damian. Benar, menikah dan punya anak itu bukan ajang balapan.
"Belum ada tanda-tanda, ya?" tanya Damian hati-hati.
Aku menghela napas sembari menggeleng. "Belum. Enggak tahu juga sih, padahal kita udah cek ke dokter. Hasilnya pun bagus kok, Silvi bilang meski Adeeva sempet kena miom, ia tetep punya peluang besar untuk hamil karena dia udah dioperasi. Pun dengan lokasi miomnya dulu masih terbilang aman katanya. Silvi cuma minta kita buat sabar, berusaha dan berdoa. Sama ini sih, ngelarang Eva biar nggak stress." Aku menatap Damian. "Cuma lo bayangin aja, setiap kita ke acara apa aja, atau ketemu temen, atau pas ketemu kerabat sekalipun dia terus-terusan ditanya udah hamil apa belum. Gimana nggak tertekan terus stress sih kalau digituin terus?"
Aku menyandarkan punggungku ke sandaran sofa sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada, pandanganku menerawang ke masa lalu. "Kadang gue sampai mikir gini, apa ini salah satu karma dari perbuatan gue di masa lalu. Kalau pun iya, rasanya kayak nggak adil aja gitu kalau harus Eva yang nanggung."
"Enggak lah, Ren, lo ngomong apaan sih? Emang mungkin belum rejekinya kalian aja sih. Yang penting lo jangan patah semangat lah, jangan lupa kasih support dan dukungan buat Eva."
Aku mengangguk setuju. Di saat-saat begini support dariku memang yang paling dibutuhkan biar dia nggak makin tertekan.
Aku kemudian berdiri. "Balik aja lah, gue."
"Eh, nggak mau nunggu Mama sama Papa pulang dulu?"
"Enggak, ah. Mau bikin anak gue, biar anak gue ntar seumuran sama anak kalian," gurauku dengan ekspresi datar, lalu mencari keberadaan Adeeva.
Di tempat duduknya, Damian terdengar menertawakanku. Aku tidak terlalu menggubrisnya, dan lebih memilih mencari keberadaan Adeeva.
"Pulang, yuk!" ajakku pada Adeeva, saat sudah menemukan keberadaan, yang ternyata sedang sibuk bermain lego di lantai atas.
"Seka--"
"Enggak boleh!" jerit Rafka memotong kalimat Adeeva. "Aunty Eva masih mau main sama Rafka, Om. Om jangan nakal dong! Nanti aku aduin Nenek," ancamnya kemudian. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah marahnya.
Aku menggaruk-garuk kepalaku frustrasi. Ini anak kalau sudah mode ngambek begini, persis seperti Mamanya.
"Kapan-kapan deh kita main lagi, Aunty Eva harus pulang dulu. Oke?" bujuk Adeeva merayu.
"Enggak mau," tolak Rafka tak ingin dibantah.
"Enggak mau ya udah, pokoknya Aunty Eva harus pulang seka--"
Dengan gerakan brutal, Rafka langsung membanting susunan berbentuk robot dari lego yang digenggamnya lalu berdiri kesal. Detik berikutnya ia menangis histeris dan lari ke lantai bawah mencari keberadaan Ayahnya.
"Ayah!! Om Arkan nakal!!"
"Kamu sih, Mas, kan bisa dibujuk baik-baik dulu," omel Adeeva.
"Itu anak kalau ngambek kayak emaknya, ngelunjak. Nanti keterusan. Udah, ayo pulang!" ajakku sambil mengulurkan sebelah tanganku ke arah Adeeva.
"Kayak gitu kok pengen punya anak," gerutu Adeeva pelan.
Aku mengabaikannya. Memilih langsung bergegas untuk menuruni anak tangga.
"Langsung pulang, nggak usah pamitan. Nanti malah ribet," kataku sambil menarik tangan Adeeva agar langsung keluar dari rumah.
"Masa nggak pamit sih?" protes Adeeva tak setuju.
"Yang, kamu kayak baru kenal Rafka aja deh. Nanti kalau dia kita pamitin, yang ada nangis kejer lagi. Ribet urusannya. Males aku dengernya, bikin pusing."
"Ya udah, ayo pulang!" ajak Adeeva pada akhirnya.
Sepanjang perjalanan, aku melirik Adeeva beberapa kali. Mendadak aku penasaran, kira-kira Adeeva sudah tahu belum, ya, tentang kehamilan Irin.
"Yang," panggilku ragu-ragu.
"Hmm."
"Kamu... udah tahu tentang kehamilannya Irin?" tanyaku hati-hati.
Tanpa menoleh ke arahku dan masih fokus dengan ponselnya, Adeeva mengangguk. "Tadi dikasih tahu sama Rafka."
"Kamu... baik-baik aja?"
"Ya, aku baik-baik saja, Mas." Kali ini Adeeva menoleh ke arahku meski hanya sekilas.
"Yakin?" tanyaku memastikan kembali.
"Iya, seperti yang kamu bilang sebelumnya, kalau mungkin emang belum rejeki kita."
Aku menghembuskan napas lega. "Alhamdulillah, aku seneng kamu mulai optimis."
Adeeva terlihat sedikit memaksakan senyumnya. "Ya, semoga aja kita tetep optimis terus, ya, Mas."
Aku mengangguk. "Harus itu."
#######
Aku langsung keluar dari lift saat pintu terbuka. Seperti biasa, rutinitas pagiku selalu kuisi dengan lari pagi. Rasanya kalau tidak olahraga pagi, tubuhku mendadak akan jadi malas bergerak, alhasil aku hanya akan tiduran di sofa atau kasur.
Saat aku hendak keluar lobi, aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan yang kutebak seumuran Adeeva, sedang menggerutu sambil memungut barang bawaannya yang jatuh berserakan. Karena tidak ada yang membantu, aku kemudian berinisiatif untuk membantunya.
"Saya bantu, Mas," ucapku langsung membantu perempuan itu memungut beberapa barang yang berserakan di lantai.
Perempuan itu tersenyum senang saat aku menawarkan bantuan. "Wah, makasih, Mas. Maaf ngerepotin."
Aku membalas senyumnya. "Enggak, Mbak, sama sekali nggak ngerepotin. Mbaknya penghuni baru di gedung ini?"
"Iya, Mas, baru dua minggu sih. Terus saya juga jarang pulang, jadi Masnya nggak pernah lihat."
Aku mangguk-mangguk paham, lalu kembali fokus memungut barang. "Oh, ini suplemen yang sama kayak diminum istri saya," ucapku saat memungut botol obat yang sama persis milik Adeeva.
Aku tersenyum lalu menatap perempuan itu. "Ini belinya di mana, ya, Mbak, kayaknya punya istri saya udah mau habis deh. Saya jadi kepikiran buat beliin."
Wajah ramah perempuan itu mendadak canggung. Ia seperti terkejut dengan apa yang baru saja kukatakan. Eh, memangnya ada yang salah dengan kalimatku barusan? Aku kan hanya ingin terlihat romantis untuk istriku, dengan cara membelikan suplemen yang biasa ia minum.
"Maaf, Mas, istrinya Mas juga minum pill ini?" tanya perempuan itu terlihat berhati-hati.
Aku mengernyit sesaat, karena merasa aneh. Namun, beberapa detik kemudian aku mengangguk, mengiyakan.
"Kira-kira saya harus nyari di mana, ya, Mbak untuk suplemen itu?"
"Mas yakin obatnya kayak gini, sama persis?"
Aku mengangguk yakin. "Iya, sama persis kok, Mbak."
"Obat ini nggak dijual di sembarang, Mas. Biasanya harus pake resep dokter."
Jantungku mendadak berdegup kencang. Ini aneh, kenapa suplemen daya tahan tubuh harus pake resep dokter?
"Suplemen daya tahan tubuh sekarang ada yang pake resep dari dokter, Mbak?"
Perempuan itu tampak gelisah dan mendadak canggung. Ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ia juga terlihat ragu-ragu.
"Aduh, gimana, ya, Mas. Saya sebenarnya nggak harus ikut campur, tapi... tapi kayaknya Masnya perlu tahu deh."
"Maksudnya? Perlu tahu apa?"
Perasaanku semakin tidak enak.
"Ini bukan suplemen daya tahan tubuh, Mas."
Aku menatapnya ragu. "Ah, saya tahu, ini suplemen biar cepet hamil, ya, mbak?" aku semakin gugup.
"Maaf, Mas, saya belum menikah. Pill ini milik saya, saya jelas nggak mungkin minum pill agar cepat hamil sedangkan saya belum memiliki suami."
"Lalu ini obat apa?"
Perempuan itu menghela napas sambil mengangkat kardusnya. "Sebenarnya saya malu untuk mengakuinya, tapi, saya akan coba kasih tahu Masnya karena Masnya sudah bantuin saya. Anggap saja informasi yang saya kasih ini sebagai ungkapan terima kasih saya."
"Jangan bertele-tele, Mbak!" Aku kehilangan kesabaran.
"Ini... ini obat penenang, Mas."
"Apa?"
"Masnya mungkin shock, tapi--"
Aku langsung berdiri dan meninggalkan perempuan itu, berlari ke dalam gedung dan langsung mencari lift yang kosong. Begitu mendapat lift yang kosong aku langsung masuk dan memencet angka 7 menuju apartemenku. Selama di dalam lift aku benar-benar gelisah. Dalam hati aku terus berdoa, semoga botol obat milik Adeeva ternyata beda dengan perempuan tadi.
"Loh, nggak jadi jogging, Mas?" sambut Adeeva saat mendapati aku kembali pulang tak lama setelah pamit.
Aku sedikit mengabaikannya dan langsung berlari masuk ke dalam kamar. Mencari keberadaan botol obat milik Adeeva di dalam laci. Setelah mendapatkannya aku langsung membaca tulisan pada botol. Tulisannya sama persis dengan milik perempuan tadi. Tapi aku tidak boleh langsung percaya, kali saja perempuan itu yang salah.
Dengan tangan yang sedikit gemetar aku membuka laptopku dan mencari informasi tentang obat milik Adeeva melalui google.
Alprazolam adalah obat untuk mengatasi gangguan kecemasan dan gangguan panik. Obat ini dapat mengurangi ketegangan psikologis yang dirasakan, sehingga membuat orang yang mengonsumsinya dapat merasa lebih tenang.Β
Seketika tubuhku langsung ambruk saat membacanya. Tatapan mataku mengabur karena air mataku yang mulai menggenang. Detik ini juga, aku merasa hancur sehancurnya. Adeeva yang kupikir baik-baik saja ternyata menyimpan kegelisahan yang sebesar ini. Dan yang membuatku hancur adalah, kenapa dia harus memilih pill itu untuk menenangkan kegelisahannya, sementara ia masih punya aku? Dianggap apa aku selama ini?
**Tbc,
oke oke, arraseo, karena alurnya makin membosankan dan membuat kalian jenuh, kita segera saja akhiri kisah mereka. happy ending apa malah sad ending? Entahlah, aku pun nggak tahu, karena ini alur bener-bener melenceng jauhhhh dari outlite. waksss, Arkan-Eva, plis! nggak usah kasih kejutan buat Authormu, ya. karena Authormu gk terlalu suka kejutan πππ
hehe, see you next part
jangan lupa jaga kesehatan buat kalian semua. lup lup, akoh mau donlot eps Romantic Doctor 2 eps terakhir. doain ya, Moga-moga lancar, soalnya tadi app yang biasanya aku download ngajak gelud πππ**