
####
Teman Hidup:
Hari ini aku berangkat sendiri,
nggak usah kamu anter
Aku langsung berdecak kesal saat membaca chat yang Adeeva kirimkan. Ternyata Adeeva masih marah denganku, gara-gara yang semalam. Sambil mendesah putus asa, aku kemudian memilih untuk menelfonnya. Butuh waktu sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Adeeva menjawab telfon dariku.
"Masih marah?" tanyaku to the point.
"Wa'allaikumussalam!"
Oh, tidak. Aku lupa mengucap salam lebih dulu. Adeeva pasti tambah ngambek, nih.
"Hehe, iya, Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam. Ada apa nelfon? Kan aku tadi udah nge-chat kamu, mau tanya apa lagi?"
"Kamu masih marah?"
"Masih?" Suara Terdengar sedang menyindirku, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, "emang siapa yang marah-marah kemarin, bukannya kamu?"
Aku marah-marah? Terus yang banting pintu siapa? Ingin rasanya aku membalas seperti itu, tapi aku sadar betul, kalau aku menjawab demikian, makan semua akan bertambah kacau. Yang ada bukannya berbaikkan, Adeeva malah semakin marah. Aku menggaruk kepalaku yang mendadak gatal. Bingung harus kujawab apa sindirannya itu. Kubenarkan kalau aku kemarin marah, dia pasti kesal. Kuelak pun, itu justru membuatnya semakin bertambah marah. Huh, pusing!
"Kenapa diam aja?"
"Bingung mau jawab apa," akuku jujur.
"Cuma pertanyaan begitu saja bingung?" sindir Adeeva ketus.
Kan! Tetep salah.
"Oke, aku minta maaf soal yang kemarin. Tapi, berangkat ke tokonya, aku yang anter, ya?"
"Enggak usah!" tolak Adeeva masih ketus, "aku bareng Karin aja."
"Ya udah, kalau itu memang mau kamu, oke. Tapi pulangnya aku jemput, ya?" kataku mengajaknya untuk bernego.
"Lihat nanti," balas Adeeva terdengar ogah-ogahan.
Aku berdecak sambil mengusap wajahku frustrasi. Menghadapi perempuan yang sedang ngambek itu susah, bawaannya serasa ingin melambaikan tangan pada kamera atau sekedar mengibarkan bendera putih, tanda menyerah. Lalu berteriak aku tidak sanggup, ya Tuhan.
"Sayang!"
"Nggak usah ngerayu! Nggak bakalan mempan," ketus Adeeva.
Dan tahu-tahu... Tut... Tut... Tut
Sambungan telfon diputus sepihak. Sepertinya Adeeva memang semarah itu.
Huft...
Aku menghembuskan napas pendek, lalu mendudukkan pantatku di tepi ranjang. Aku dan Adeeva jarang bertengkar, tapi sekalinya bertengkar susah akurnya. Butuh kerja keras dan kesabaran extra untuk mengajaknya berdamai.
"Ren, dipanggil dari tadi kok nggak nyaut? Nggak ngantor apa gimana?"
Aku langsung mengangkat wajahku saat menemukan Mama menyempulkan kepalanya di balik pintu kamarku.
"Ngantor kok, Ma, ini lagi siap-siap."
Aku kemudian berdiri dan meletakkan ponselku di atas ranjang.
"Ya udah, buruan turun! Kita sarapan bareng-bareng," ajak Mama sebelum menutup pintu kamarku dan menghilang di balik pintu.
"Iya, nanti nyusul, Ma," balasku sedikit berteriak.
Aku kemudian melanjutkan kegiatanku yang tadi sempat tertunda, karena pesan singkat yang Adeeva kirimkan. Setelah selesai bersiap, aku kemudian turun ke lantaiΒ bawah, menuju dapur. Di dapur Papa dan Mama sudah duduk manis di kursi masing-masing, aku kemudian bergabung dengan mereka setelahnya.
"Pagi, Ma, Pa," sapaku sambil menarik salah satu kursi dan mendudukinya.
"Mau makan apa, Ren?" tanya Mama lalu berdiri, berniat mengambilkan roti atau nasi goreng yang menjadi menu sarapan kami.
"Roti aja, Ma, biar bisa dimakan di jalan," jawabku setelah meneguk jus apokut.
"Buru-buru?" tanya Papa sambil menoleh ke arahku.
Aku menggeleng.
"Eva yang lagi buru-buru?" Kini giliran Mama yang bertanya sambil mengoleskan selai kacang di atas rotiku.
Kalian jangan menertawakan kelakuanku yang makan masih dilayani Mama, ya. Aku sebenarnya kalau bisa memilih, jelas lebih suka mengambil sarapanku sendiri. Tapi Mama dan sikapnya yang selalu ingin melayani anak-anaknya, membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain menikmatinya. Jangankan aku yang masih sendiri a.k.a belum menikah, Damian, yang notabene-nya Menantu plus sudah punya Irin yang siap melayaninya saja, masih suka dilayani Mama. Apalagi aku yang anaknya dan belum punya istri? Peraturan di rumah ini memang begitu, saat kami semua masuk area dapur Mama, yang bertugas melayani ini dan itu harus Mama sendiri. Itulah sebabnya kenapa Damian atau Bang Ferdi tidak terlalu suka makan di sini.
"Bareng Karin hari ini," jawabku sekenanya, lalu meraih gelasku dan meneguk isinya untuk menyamarkan perasaan gugupku.
Dapat kurasakan tatapan mata tajam dari Papa. Beliau tidak bertanya apapun, tapi aku yakin kalau Papa curiga akan sesuatu.
"Tumben?" tanya Mama penasaran.
Aku meringis canggung. "Biasa, Ma, cewek. Butuh me time."
"Yakin?" desak Mama sambil menyodorkan roti selai untukku, "nggak lagi berantem tapi kan?"
Aku mengangguk, lalu berdiri. "Enggak. Kalau gitu, Naren berangkat sekarang, ya," pamitku kemudian.
"Buru-buru banget? Habisin dulu itu rotinya!" tegur Papa sambil geleng-geleng kepala.
"Nggak papa, tinggal dikit kok, Pa."
"Ya udah, penting hati-hati. Nggak usah ngebut! Air minum di mobil masih ada enggak?"
"Masih," jawabku sambil mencium punggung tangan Mama, baru kemudian punggung tangan Papa. "Naren, berangkat. Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam!"
Setelah semua kerjaanku selesai, aku langsung memacu mobilku menuju toko Adeeva. Seharian ini aku cukup sibuk, jadi tidak sempat menghubunginya. Jujur, aku sedikit agak ngeri sih kalau-kalau Adeeva makin ngambek gara-gara aku tidak mencoba menghubungi hampir seharian ini. Tapi aku mencoba untuk tetap optimis, kalau malam ini juga kami akan berbaikan. Ya, semoga saja.
Aku langsung bernapas lega, saat mendapati Adeeva masih berada di toko. Dia sedang melayani pembeli, ada sekitar dua pembeli yang mengantri. Karena itu aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi, yang memang disediakan oleh toko untuk pengunjung yang ingin makan kue langsung di sini. Di sini kita juga bisa memesan minuman. Ada macam-macam sih, mulai dari jenis-jenis kopi, sampai minuman kekinian pun ada. Lengkapkan? Tapi, jadi terdengar seperti bukan toko kue kalau menurutku. Hampir-hampir mirip Cafe soalnya.
"Selamat datang di *** Bread & Mini Cafe! Mau pesen apa, Kaka?"
Aku langsung menoleh ke asal suara.
"Eh, Mas Arkan? Hehe, kirain pelanggan. Mau jemput Mbak Eva, ya?"
Aku mengangguk. "Iya, tapi boleh deh. Espresso satu, ya."
"Siap! Cemilannya enggak sekalian, Mas?" tawar Puri, yang langsung kujawab dengan gelengan kepala.
Pandangan mataku lalu beralih pada Adeeva lagi. Dia sedang melayani pembeli, dan pembelinya pria. Keduanya terlihat mengobrol cukup akrab, seperti saling kenal. Bahkan Adeeva sempat tertawa malu-malu. Saat pria itu sudah selesai melakukan pembayaran, pria itu tidak langsung pergi. Membuatku jadi curiga. Saat pria itu sudah pergi, aku langsung menghampiri Adeeva.
"Siapa tadi?"
Ekspresi Adeeva terlihat terkejut saat menyadari keberadaanku. Senyum cerahnya mendadak langsung hilang begitu aku berada di hadapannya.
"Pembeli," jawab Adeeva seadanya. Ia bahkan terlihat enggan menatapku.
"Orang kayak akrab gitu."
"Temen."
"Kenal di mana?"
"Temennya Bang Bima."
Sebentar, seingatku Bima itu adalah rekan kerjanya di tempat kursus mengemudi dulu, deh.
"Bima temen kerja kamu dulu?"
"Iya."
"Kok bisa kenal?"
"Enggak kenal-kenal banget kok. Ketemu juga baru tiga kali hari ini."
"Kok kayak kenal akrab."
"Perasaan kamu aja kali."
Aku menatapnya curiga. "Dia naksir kamu, ya?"
Sebenarnya, aku tidak terlalu serius menanyakan ini. Hanya bermaksud untuk menggoda saja. Tapi melihat perubahan wajah Adeeva yang mendadak gugup, membuatku menjadi ikutan gugup. Eh, itu tidak benerkan?
"Iiih, Mas Arkan, dicariin juga. Itu espresso-nya udah siap. Diminum dulu."
"Iya, thanks ya, Pur."
Pandanganku kini beralih ada Adeeva lagi. "Bener?"
"Itu mending Espresso kamu diminum dulu, aku mau siap-siap. Kamu ke sini mau jemput aku kan?"
"Jawab dulu!" desakku tak sabaran.
"Kamu mau jawaban yang kayak apa dari aku?" Suara Adeeva sedikit meninggi, membuat beberapa karyawannya dan juga pengunjung menatap ke arah kami.
Karena risih, aku akhirnya mengalah dan langsung duduk di bangku dan menikmati Espresso-ku. Tak berapa lama Adeeva muncul, ia hanya menatapku sekilas lalu melewatiku begitu saja. Karena masih dalam suasana ngambek, aku akhirnya langsung berinisiatif menyusulnya.
"Kamu harus banget, ya, ngajak ribut di depan anak-anak dan pelanggan kami?" sembur Adeeva, saat aku masuk dan duduk di bangku kemudi. Napas Adeeva terdengar memburu, ketara sekali kalau dia sedang mati-matian menahan diri agar tidak membunuhku.
Aku memandangnya datar, lalu meraih botol mineral dan menyodorkan untuknya. Adeeva tidak langsung menerimanya, ia justru malah melototiku. Aku mendesah lalu membuka tutup botol itu sebelum kembali menyodorkan untuknya.
"Minum!" kataku kemudian.
Adeeva masih bergeming.
"Lumayan, buat meredakan emosi. Kamu kelihatan kayak mau bunuh aku, daripada beneran kejadian, mending agak diredain dikit. Biar nggak kejadian."
"Apa kamu bilang?!"
"Bercanda, sayang!"
Aku kemudian mengelus punggungnya dan menyuruhnya minum.
"Jangan marah-marah terus, ah! Aku tuh, beneran pusing kalau kamu marah. Bingung. Takut salah terus."
"Nggak sadar siapa dulu yang mulai," guman Adeeva menyindirku.
"Iya, aku salah. Aku minta maaf, kita baikan, ya?" pintaku kemudian. "Sayang!!" rengekku karena tidak mendapatkan respon dari Adeeva.
"Buruan nyalain mobilnya, kita langsung pulang," kata Adeeva mengalihkan pembicaraan.
Aku menatapnya datar.
"Pulang, aku udah mulai laper ini lho," rengeknya tiba-tiba.
Aku tersenyum samar lalu geleng-geleng kepala, saat mendengar perubahan nada suaranya yang mendadak manja. Lah, udah gitu aja ini acara ngambeknya? Gitu aja banget?
Tbc,
Yang pernah penasaran dengan nama kontak yang pernah ditulis Adeeva, kali ini terkuak, ya. meski di Adore You! Tante Ajeng pernah nyeletuk, ada yng sadar gk? π
ya udah, gitu aja. see you next part ππππππππ