Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |17| Malam Pertama Yang Gagal



######


Setelah selesai berganti pakaian dan memakai sepatu pantofelku, aku berjalan menuju kamar sebelah sambil memakai jam tanganku, untuk melihat Adeeva yang sedang dirias. Saat aku masuk ke kamar, ternyata Adeeva sudah selesai dirias dan sudah berganti pakaian. Ia tampak cantik dan anggun dengan gaun pengantinnya yang berwarna krim coklat pudar, senada dengan jas yang kupakai. Kali ini riasannya jauh lebih tipis ketimbang riasannya tadi siang, dan aku lebih suka dengan penampilannya sekarang.


Masih belum mengenakan sepatu haknya, Adeeva bergaya di depanku. "Gimana? Memuaskan?"


Aku mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolku. "Puas banget, kamu cantik. Nggak kayak yang tadi siang." ups!


"Jadi, tadi siang aku nggak cantik?" rajuk Adeeva sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, pura-pura memasang wajah cemberutnya.


Aku tertawa lalu memeluknya. "Cantik. Cuma tetep aja, cantikan yang sekarang sih," akuku jujur.


"Seriusan yang tadi siang nggak cantik?"


"Cantik, sayang. Udah buruan, sekarang pake sepatunya dulu!" kataku mengintruksinya, "terus kita foto bareng," ajakku antusias.


"Ini bukan sepatu, Mas, tapi heels. Sling back heels."


"Iya, maksudnya itu. Aku mana paham begituan sih?" decakku kesal.


Adeeva kemudian duduk di salah satu kursi, dan mendongak ke arahku. "Nggak mau makein?"


Aku sedikit membungkuk dan memiringkan wajahku. "Biar kayak princess?"


"Gitu juga boleh. Lumayan kan, buat koleksi feed Instagram," usul Adeeva sambil memangku heels-nya. Kedua matanya menatapku antusias, dengan alis yang dinaik-turunkan.


Mendapati ekspresinya yang begitu, aku bisa apa selain mengiyakan. "Aku panggil Ardian dulu," kataku lalu keluar kamar.


"Cari siapa, Nak?" tanya Ibu, saat tak sengaja berpapasan dengan beliau.


"Ardian, Bu. Ibu liat?"


"Ada di bawah tadi. Kenapa?"


"Enggak, Eva mau minta tolong fotoin kita."


Ibu ber'oh'ria. "Udah selesai diriasnya?"


"Sudah, Bu."


"Ya sudah, Ibu mau liat Eva dulu."


Aku mengangguk, mempersilahkan Ibu masuk ke dalam kamar. Lalu aku berlari kecil menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan Ardian.


Ardian masih di ruang tamu, mondar-mandir tidak jelas dengan mulut menggerutu tak jelas. Bahkan, sesekali aku mendengarnya mengumpat kesal, khas lelaki. Aku menggaruk kepalaku ragu, sepertinya suasana hatinya sangat buruk.


"Eh, kaget gue, Mas!" Ardian tersentak kaget saat menyadari aku berada di belakang. "Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Lo lagi sibuk?"


"Enggak sih, kenapa? Butuh bantuan?" Ardian mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Aku mengangguk. "Eva minta difotoin."


"Kan ada lo, Mas. Kenapa nyari gue?" tanya Ardian kebingungan.


"Kan lo fotografer, jago motret. Lagian gue juga perlu ikut difoto kan?"


"Oh, ya udah. Ayo!" Ardian kemudian mengajakku untuk segera naik ke lantai atas.


#####


"Capek? Mau minum?" tawarku pada Adeeva yang terlihat kecapekan.


Aku kemudian meringis ngilu, saat melirik heels-nya yang terlihat menggangguku. Aku yakin seratus persen, kedua kakinya pasti sudah merasa pegal karena berdiri berjam-jam. Wajahnya pun terlihat kelelahan meski ia menutupinya dengan senyuman.


"Dikit."


"Mau aku ambilin minum? Mumpung agak sepi ini?"


Adeeva menggeleng sebagai tanda penolakan. "Enggak haus."


Aku hendak menyuruh Adeeva duduk, namun tidak jadi karena ada tamu yang menyalami kami.


"Mbak Eva, selamat, ya!" ucap gadis itu. Lalu mereka berpelukan dan cipika-cipiki khas perempuan.


"Aduh, makasih, Lin. Kok bisa di sini?" tanya Adeeva terlihat terkejut lalu mengurai pelukan mereka, "dari tadi Dian coba ngehubungin kamu lho, katanya nggak bisa. Itu anak misuh-misuh terus dari tadi. Udah ketemu dia belum?"


Oh, jadi ini yang bikin Ardian misuh-misuh dari tadi. Pantesan aja Ardian sampai sebegitunya, orangnya ternyata cantik dan manis.


"Udah, Mbak, tadi masuk ke sininya juga dijemput Ardi kok," balas gadis itu sambil tersenyum.


"Terus sekarang orangnya ke mana?" tanya Adeeva.


Mereka terlihat akrab. Bahkan saking akrabnya mereka, aku bahkan sampai dicuekin dan tidak diajak ngobrol.


"Mau dikasih apaan, Mbak, nyariin gue?" celetuk Ardian tiba-tiba muncul sambil membawa kameranya.


Adeeva mendengkus lalu memukul lengan Ardian. "Nih, mau gue kasih itu. Spesial buat lo."


"Kejem lo, Mbak! Galak. Untung ada yang mau sama lo. Semoga aja Mas Arkan nggak tiba-tiba talak lo, pas dia sada--"


"Ardian, bercandanya nggak lucu," kataku memperingatkannya.


Ardian mencengir sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V. "Peace, Mas, bercanda doang. Sorry." ia kemudian menoleh ke arah Alin. "Jadi foto bareng Kakak ipar nggak?"


"Jadi, dong."


Alin kemudian mengeluarkan ponselnya dan langsung menyerahkan pada Ardian, namun ditolak pria itu.


"Pake kamera gue aja, lebih bagus."


"Hape gue juga bagus kameranya, ya."


"Filternya?"


"Enak aja! Kalau ngomong kok suka bener."


"Iya lah, emang yang bisa bener cuma cewek aja."


"Harusnya sih gitu, udah buruan fotoin kita! Jangan banyak protes!" tegas Alin tak ingin dibantah.


Lalu, dengan wajah betenya, Ardian menerima ponsel Alin dan menoleh ke arahku. "Kapan, ya, Mas, kaum kita menang ngelawan kaum mereka? Susah banget perasaan mau ngebantah ucapan cewek."


Ah, aku juga penasaran. Kapan, ya, hal ini terjadi pada kaum kami? Apakah mungkin bisa?


"In your dream, boy!" seru mereka berdua dengan kompak.


#####


"Perutku kok rasanya nggak nyaman, ya, Mas," keluh Adeeva sambil mengelus perutnya.


Ia baru saja keluar dari kamar mandi, dengan stelan piyamanya. Ekspresinya terlihat tidak nyaman.


Aku bangun dari posisi rebahanku. "Nggak nyaman gimana?"


"Enggak tahu, nggak enak gitu lho."


"Kamu salah makan kali? Tadi makan abis makan apa?"


"Sama kayak kamu," jawab Adeeva yakin.


"Masuk angin kali."


Aku kemudian mendekat ke arah Adeeva dan menyentuh dahinya. Dapat kurasakan hawa panas, saat aku menempelkan telapak tanganku di dahinya.


"Kamu kayaknya demam deh." Aku kemudian mengecek dahiku, lalu kembali mengecek dahi Adeeva lagi. Dapat kurasakan hawa berbeda di antara kami. "Tuh, kan! Iya, demam ini kamu, yang. Masuk angin makanya perutnya nggak nyaman."


"Masa sih?" Adeeva kemudian ikut menempelkan telapak tangannya di dahinya sendiri, "enggak deh kayaknya," sambungnya kemudian.


"Iya, sayang, coba deh kamu cek punya aku!" Aku memajukan wajahku, lalu Adeeva mengulurkan tangannya dan menyentuh dahiku. "Beda kan? Punya kamu panas?"


"Iya."


Aku menyibak selimut dan turun dari ranjang. "Aku ambilin paracetamol dulu, masih ada kan yang tadi kamu minum?"


Adeeva mengangguk. "Masih. Ada di dapur, ya, di lemari gantung yang bagian tengah. Ada kotak obat gitu di sana, kalau nggak tahu coba minta cariin Dian. Biasanya dia belum tidur jam segini, ketuk aja pintu kamarnya kalau dia udah nggak ada di ruang tengah."


"Aku cari sendiri aja. Masa mau bangunin orang tidur," kataku lalu keluar kamar.


Saat sampai di dapur, aku kebingungan mencari kotak obat yang Adeeva maksud. Aku sudah membuka semua pintu lemari gantung yang ada di dapur, namun sampai detik ini belum menemukan keberadaannya. Dan itu cukup membuatku frustrasi.


"Cari apaan, Mas?"


"Astagfirullah!"


Aku tersentak kaget, saat tiba-tiba mendengar suara Ardian mengagetkanku. Dengan wajah tak bersalahnya, Ardian malah terkekeh.


"Kaget, Mas?"


"Iya, lah, kayak hantu lo, tiba-tiba nongol," decakku sebal.


"Sorry, nggak ada maksud, Mas. Jadi, nyari apaan? Masa pengantin baru bukannya di kamar malah keluyuran di dapur. Mbak Eva bocor, ya?"


"Enggak! Jangan, jangan dulu dong! Ini gue mau nyari paracetamol, di mana sih narohnya. Kata Mbakmu ada di lemari gantung, tapi semua pintu lemari gantung udah gue buka tapi nggak nemu juga."


"Ngantuk, ya, Mas?" tanya Ardian tiba-tiba, bukannya membantu mencari kotak obatnya malah bertanya hal yang tidak jelas.


"Hah?"


Ardian kemudian membuka lemari yang ada di hadapan kami dan mengeluarkan satu kamplek Paracetamol lalu menyerahkan padaku.


"Loh, kok?"


"Ngantuk sih Mas Arkan, makanya nggak liat. Udah ah, gue mau tidur."


"Eh, bentar! Ada termometer nggak?"


"Ada. Di lemari yang itu juga kok, cari aja!"


"Oke, thanks."


"Hmm."


Setelah mendapatkan yang kucari, aku kembali ke kamar. Saat aku sampai di kamar, aku mendengar suara orang muntah. Buru-buru aku meletakkan nampan berisi nasi dan air putih yang kubawa, lalu berlari menuju kamar mandi.


"Are you okay?" tanyaku tak yakin. Aku berniat untuk masuk ke dalam kamar mandi, namun dicegah oleh Adeeva.


"Berhenti di situ, Mas!" seru Adeeva di sela muntahnya.


Aku mengernyit bingung. "Kenapa? Aku mau bantu kamu lho."


Adeeva tak menjawab karena fokus mengeluarkan isi perutnya. Ia hanya mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat agar aku tetap di tempatku.


"Akhirnya keluar juga, agak lega sekarang rasanya, Mas."


"Udah enakan?" tanyaku sambil membantu Adeeva berdiri dan membimbingnya menuju ranjang.


"Lumayan." Adeeva mengangguk.


"Aku bawa nasi sama obatnya nih, mau dimakan sekarang?"


Adeeva menggeleng dengan tubuh lemasnya. "Nanti deh, Mas, aku baringan bentar."


Aku kemudian menumpuk bantal dan menyuruh Adeeva bersandar. "Mau pake minyak angin?"


"Enggak. Kulitku agak sensitif sama minyak angin," tolaknya sambil menggeleng, "maaf ya, Mas. Malam pertama kita gagal. Ah, sumpah nggak lucu banget deh, masa kita baru aja gelar ijab qobul aku nya langsung sakit."


"Ssst, nggak boleh ngomong gitu, ah. Tidur aja udah!" kataku kemudian.


Aku kemudian membaringkan tubuhku di sebelahnya, lalu Adeeva memelukku dan mulai terlelap. Tak lama setelahnya aku pun ikut terlelap.


######


"Mau ke dokter aja apa gimana?" tanyaku mulai khawatir pada Adeeva, sambil membantunya kembali rebahan.


Setelah terlelap sesaat, Adeeva kembali muntah. Wajahnya kali ini benar-benar terlihat pucat dengan keringat dingin sebesar biji jagung. Aku jadi semakin tak tega melihatnya.


"Jam berapa sekarang?"


Aku menegok ke arah jam dinding. "Setengah tiga pagi, tapi UGD buka 24 jam, yang. Nggak usah khawatir! Kamu udah muntah tiga kali lho, sekarang muka kamu pucet banget lagi. Aku nggak tega lihatnya. Ke rumah sakit aja, ya?"


"Nanti aja, kalau udah adzan subuh. Kasian dokter jaganya kalau kita bangunin jam segini."


Astaga, masih sempat-sempatnya mikirin dokter jaga.


**Tbc,


gk usah bkin cuap-cuap kali, ya, biar gk ngelantur macem kemarin πŸ˜†πŸ™πŸ™


see you next part aja dah, akoh mau ngelanjut makan dulu. bye! Moga-moga kepublishnya malem ini. jangan lupa jaga kesehatan buat kalian semua, ya. kesehatan itu tetap nomor uno. **wakss, kek orang bener aja dah gue. lupa kli ya, sama pola hidupnya yg acakadul πŸ˜†πŸ˜***