
#####
Setelah memantapkan diri, aku akhirnya memberanikan diri untuk bicara dengan Mama dan juga Papa. Aku sudah bertemu dengan Dokter Lukman, beliau kebetulan adalah dokter yang biasa menangani kesehatan Papa. Berhubung hasil chek-up Papa bagus, aku semakin mantap untuk membicarakan hal ini pada beliau.
"Tumben kamu jam segini di rumah, nggak ngajak Eva keluar?"
Aku hanya meringis mendengar pertanyaan Mama, lalu memilih untuk duduk di sofa seberang Mama.
"Naren mau ngomong, Ma, Pa."
"Mau bahas acara lamaran Eva?" sahut Papa.
Waduh! Mendadak aku merasa panik. Perasaan ragu-ragu tiba-tiba hadir tanpa bisa kucegah. Aku bimbang. Haruskah aku mengatakannya sekarang, atau besok-besok saja, atau bahkan membiarkan Papa mau pun Mama tidak tahu tentang hal ini? Astaga, apa yang harus aku lakukan, aku bingung, ya Tuhan.
"Kok malah ngelamun? Jadi, ngomong enggak? Ini mumpung sinetron kesukaan Mama lagi iklan lho."
Aku mengangguk. "Jadi, Ma."
"Ya, udah, buruan ngomong!"
Sekali lagi aku mengangguk. Menarik napas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Aku kembali melirik Mama dan Papa secara bergantian, sebelum akhirnya memantabkan diri untuk bicara.
"Naren mau mengakui kesalahan masa lalu, Ma, Pa. Papa dan Mama mungkin akan sangat kecewa dengan hal ini, Naren siap kalau seandainya Naren harus dipukul atau dihajar atau pun yang lainnya. Naren ikhlas. Naren nggak akan ngehindar."
"Kamu ini mau ngomong apa sih, Ren, bikin Mama sama Papa ketakutan begini. Kesalahan apa yang udah kamu lakukan dulu sampai kami harus menghajar kamu yang sudah setua ini."
Ekspresi Mama berubah. Terlihat cukup jelas kalau beliau sedang resah mau pun gelisah, dengan fakta yang akan kuungkapkan. Aku tahu ini berat, tapi, aku tidak punya pilihan lain. Mama dan Papa harus tahu yang sebenarnya, aku tidak bisa terus-terusan membohongi keduanya. Tidak boleh! Aku harus berani mengakuinya, aku tidak boleh lari dari kenyataan.
"Yang penting sekarang kamu mau berusaha berubah lebih baik, Nak, yang lalu biarlah berlalu. Kalau dirasa itu terlalu sulit untuk kami maafkan, lebih baik kamu simpan dan terus kamu ingat sebagai pembelajaran. Terkadang, sebuah rasa penyesalan bisa jadi salah satu hukuman atas perbuatan yang telah kita lakukan."
Aku mendadak langsung bungkam. Perasaan bimbang kembali kurasakan, aku kembali kebingungan untuk memilih mengatakannya atau tidak. Apa yang harus kulakukan?
"Papa ini lho, kok malah bicara begitu. Enggak, udah terlanjur bikin penasaran masa iya, nggak diomongin. Enggak, Mama nggak sependapat dengan Papamu, lebih baik kamu ungkapkan sekarang, biar Mama tahu harus mengambil langkah bagaimana."
"Ma, terkadang sesuatu yang menyakitkan itu tidak perlu kita ketahui, agar kita tidak merasakan rasa sakit itu. Udah lah, mungkin ini terlalu sulit untuk--"
"Lalu kita hidup bahagia dalam kepalsuan, begitu?" potong Mama sinis, "Mama nggak setuju. Mama lebih memilih sakit tapi tahu kebenarannya."
"Oke, Naren akan bicara jujur."
"Harus. Memang harusnya begitu," sahut Mama cepat.
Aku mengangguk. "Naren punya anak, Ma, Pa."
Suasana berubah hening. Ekspresi Papa tidak terbaca, sedang Mama, beliau langsung menatapku marah. Jujur, di dalam situasi ini aku cukup bernapas lega, karena Papa tidak menunjukkan tanda-tanda yang sempat aku khawatirkan kemarin.
"Anak gimana? Kamu ngehamili Eva gitu?"
Aku menggeleng. "Bukan."
"Terus, kamu selingkuh di belakang Eva, sampai perempuan itu hamil dan punya anak dari kamu, begitu?"
"Tidak, Ma. Anak Naren sebelum kenal Eva," cicitku takut-takut.
Papa masih diam, ekspresinya benar-benar tidak bisa kutebak. Sedang Mama, sudah terlihat marah dengan rahang menggeras.
"Maksud kamu?!" Mama langsung berdiri, kedua matanya menyorotku tajam.
"Maafin Naren, Ma," sesalku dengan bersungguh-sungguh.
Plak!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kananku. Mama menangis, menjerit dan juga memakiku. Aku diam dan mendengarkan dengan seksama, karena aku tahu, itu memang pantas aku dapatkan. Atau mungkin ini memang belum seberapa untuk menggantikan rasa kecewa Mama dan juga Papa.
Isak tangis Mama makin menjadi. Aku yang melihat makin tersayat pilu. Ya Tuhan, betapa buruknya aku menjadi seorang putra.
"Maafin Naren, Ma," sesalku sambil bersimpuh di depan Mama.
Mama memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu kembali duduk di sofa.
"Maafin Naren!"
Kali ini aku ikut menangis. Merasa bersalah sekaligus berdosa terhadap Mama dan juga Papa. Di samping Mama, Papa masih diam tak bersuara. Mungkin, beliau sedang mencerna apa yang terjadi. Tidak papa, asal Papa tidak tiba-tiba pingsan aja, aku sudah sangat bersyukur.
"Mama kecewa sama kamu. Kamu kebanggaan kami, Ren. Kami membesarkan kamu tidak untuk menjadikan kamu manusia seperti itu, di mana rasa tanggung jawabmu sebagai seorang laki-laki? Di mana?"
"Enggak, Ma, bukan Naren ingin lari dari tanggung jawab. Tapi, perempuan yang mengandung anak Naren tidak ingin aku nikahi."
"Lalu bagaimana dengan Cucu kami?"
"Namanya Aurine, dia tumbuh menjadi anak yang aktif dan juga ceria. Dia lancar berbahasa Indonesia dan juga sangat sopan, meski dia lahir dan besar di luar negeri."
"Bagaimana dengan Ibunya?"
"Dia sudah menikah--"
"Apa?!"
"Mama!!" koor aku dan Papa secara bersamaan.
Aku panik. Aku belum selesai berbicara, kenapa Mama malah pingsan?
"Angkat Mama, Ren!"
Papa berteriak, mengintruksiku. Aku yang masih setengah sadar dengan situasi ini hanya mampu mengangguk, baru kemudian langsung membopong Mama dan membawa beliau menuju kamar. Tak lama setelahnya, Papa menyusul sambil mengutak-atik ponselnya.
"Papa sudah telfon dokter Lukman. Kamu ke bawah, bikinin teh buat Mama mu."
Aku mengangguk pasrah, lalu berjalan keluar kamar. Namun, sebelum aku sampai di depan pintu, aku kemudian berbalik dan berkata, "Pa, maafin Naren, ya, untuk yang tadi."
Papa memandangku sebentar lalu berkata, "Nanti kita bahas masalah ini."
Sekali lagi aku mengangguk, baru setelahnya aku benar-benar keluar kamar dan berjalan menuju dapur dan membuatkan Mama teh hangat. Saat aku kembali ke kamar, dokter Lukman sedang memeriksa Mama. Aku meletakkan cangkir berisi teh di atas meja nakas dan berdiri di samping Papa.
"Gimana keadaan istriku, Man?"
"Enggak papa, tekanan darah sedikit naik. Tapi nggak banyak kok. Habis ngapain to emang? Kaget? Ada berita buruk?"
Dokter Lukman kemudian melirikku dan terkekeh samar, sambil menulis resep obat yang harus kami tebus untuk Mama. "Enggak papa, mungkin cuma sedikit shock. Dibaik-baikin nanti juga insha Allah kembali sehat. Ini resep obat yang harus ditebus."
Aku mengangguk lalu menerima secarik kertas yang dokter Lukman sodorkan.
"Langsung pamit, ya, To."
"Iya, terima kasih, ya."
"Iya. Santai."
"Mari, dok, saya antar."
Aku kemudian langsung berjalan di belakang Dokter Lukman untuk mengantarkan beliau.
Tbc,
nggak tahu ini ke publishnya kapan, yang penting aku up dulu, masa bodo. aku ngambek πππ