Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |25| Berkunjung Ke Rumah Nenek



######


Pagi ini suasana apartemen kami sedikit berbeda. Kalau biasanya dapur hanya akan terdengar suara teletan beradu dengan pisau, maka kali ini sedikit berbeda. Ada tambahan suara imut Aurine yang sibuk bertanya ini dan itu. Dari kejauhan aku hanya memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat akrab. Benarko-benar terlihat seperti Ibu dan anak kandung. Adeeva benar-benar mampu menyayangi Aurine dengan baik, begitu pula dengan Aurine. Gadis kecil itu terlihat sangat menghormati Adeeva. Benar-benar pemandangan yang menyenangkan. Ah, aku ingin melihatnya setiap hari.


"Mas, jangan nonton tv terus, mandi dulu sana! Jangan mentang-mentang hari libur, jadi kamu bisa males-malesan!"


Aku berdecih samar mendengar suara Adeeva yang berseru agak kencang. Bagaimana bisa ia bilang aku males-malesan, sedangkan tadi sehabis subuh aku sudah lari pagi.


"Mas!" Adeeva kembali berseru kesal, saat aku tidak menanggapinya.


"Iya, ini mau otewe ke kama," balasku ikut berteriak.


"Sekarang, Mas! Nanti kita mau ke rumah Mama lho."


Aku kemudian mengangkat pantatku dari sofa dan berjalan masuk ke kamar. Adeeva pasti akan terus-terusan berteriak kalau aku tidak segera mematikan televisi dan beranjak dari sofa.


Setelah kegiatan mandiku selesai, aku langsung bercukur. Begitu selesai bercukur, baru kemudian aku keluar kamar dan memakai baju dan celana. Aku menarik kaos dan celana pendek pada tumpukan paling atas, karena tidak ingin Adeeva mengomel karena tumpukan baju yang ia tata aku acak-acak. Setelah selesai berpakaian, aku kemudian mampir di meja rias Adeeva sebentar. Mengambil sisir dan menyisir rambutku sambil berkaca, baru setelahnya aku keluar kamar.


Saat aku keluar kamar, aku menemukan Aurine sedang asik menonton acara kartun televisi. Aku celingukan mencari keberadaan Adeeva.


"Tante Eva ke mana, Rin?" tanyaku pada Aurine.


Aurine menoleh ke arahku sebentar lalu menunjuk ke arah pintu. Fokusnya kembali ke arah layar televisi.


"Ke mana?" tanyaku tak paham.


"Buang sampah."


Aku ber'oh'ria lalu duduk di sampingnya. "Kamu suka film kartun?"


"Semua anak suka kartun, Yah," jawab Aurine tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.


Aku menggaruk kepalaku salah tingkah. Iya, juga ya. Anak kecil mana yang tidak suka dengan film kartun, sejauh yang kuketahui, mereka semua menyukai kartun, bahkan orang dewasa pun demikian. Sebut saja Adeeva sebagai contohnya.


"Udah selesai, Mas?"


Aku menoleh ke arah pintu dan menemukan Adeeva kembali entah dari mana.


"Dari mana?" tanyaku.


"Buang sampah, Yah. Kan tadi Ayah udah tanya Aurine, udah dijawab juga sama Aurine kan. Masa lupa," sahut Aurine.


Adeeva tertawa mendengar jawaban polos Aurine. Astaga, ini anak mirip siapa sih?


"Sarapan dulu, yuk, abis itu nanti mandi terus ke rumah Nenek," ajak Adeeva.


"Apa aku boleh menonton film ini dulu sebelum kita sarapan?" Aurine mengalihkan pandangannya dari layar televisi, menoleh ke arah Adeeva dan menatapnya penuh permohonan.


"Boleh, tapi nanti setelah jeda iklan kita sarapan, ya?"


"Oke, deal."


"Kenapa kita nggak sarapan di sini aja, sambil nonton tv?" tawarku mengusulkan.


Aurine menoleh ke arahku dengan ekspresi antusiasnya, namun beberapa detik kemudian ia menggeleng tegas.


"Kata Mama nggak boleh makan sambil nonton tv, kalau mau nonton tv, nonton aja dulu, abis itu makan. Soalnya kalau makan sambil nonton tv, nanti makannya jadi lama, terus kata Mama bikin Aurine jadi nggak disiplin."


Wow. Aku terkesima. Milla benar-benar membesarkan Aurine dengan sangat baik.


Adeeva tersenyum sambil mengelus rambut Aurine. "Pinternya," pujinya tulus.


"Kan Aurine udah besar," sahut Aurine membanggakan diri.


Aku tertawa kecil mendengar nada percaya dirinya. Lalu berceletuk, "Tuh, udah jeda iklan. Matiin tv-nya, kita sarapan terus mandi terus ke mana?"


"Ke rumah Mamanya Ayah."


Aku dan Adeeva saling berpandangan.


Adeeva tersenyum lalu mengelus rambut Aurine sekali lagi. "Mamanya Ayah, berarti Neneknya Aurine dong."


Aurine menatapku dan Adeeva secara bergantian. Ia tidak merespon apa pun, hanya mengajak kami untuk segera sarapan. Sejenak, aku berpikir, apakah Aurine merasa cemas akan bertemu dengan Mama nanti?


"Mas!"


"Ya?"


"Ayo, sarapan!" ajak Adeeva.


Aku mengangguk, lalu menyusul mereka menuju ruang makan yang terhubung dengan dapur.


######


Setelah selesai sarapan, Aurine mandi dibantu oleh Adeeva. Sedangkan aku duduk manis di ruang tengah sambil menunggu keduanya selesai bersiap-siap. Karena bosan menunggu keduanya, aku kemudian berinisiatif menelfon Mama.


Butuh waktu sedikit lama, sampai akhirnya sambungan telfon terhubung.


"Ya, hallo. Kenapa, Ren? Akhir minggu lho ini, kenapa nggak main ke rumah?"


Aku mengusap tengkukku lalu menyandarkan punggungku ke sandaran sofa. "Iya, ini Eva lagi siap-siap. Nanti kita main ke sana kok."


"Yang bener kamu?"


"Iya, bener kok, Ma."


"Ya, udah Mama tunggu. Kalian udah sarapan? Mau Mama masakin apa?"


"Enggak usah, kita udah sarapan di rumah." Aku menjeda kalimatku lalu kembali bersuara, "Ma," sambungku memanggil Mama.


"Ya?"


"Nanti Naren nggak dateng sendiri, ya?"


"Ya, iya lah, udah punya istri, ya jelas ajak istri kamu. Kamu ini gimana sih? Aneh," gerutu Mama dari seberang.


"Maksudnya, nggak cuma sama Eva."


Di seberang, Mama kembali menggerutu. Kali ini gerutuannya tidak sejelas tadi. Aku hanya mendengarnya secara samar-samar. "Ngomong sih kamu ini, ngaco. Nggak jelas." Kurang lebih begitu lah gerutuan Mama.


"Ma," panggilku dengan hati-hati.


"Hmm." Mama terdengar ogah-ogahan saat merespon panggilanku.


"Naren sama Eva mau ajak Aurine, anak Naren yang pernah Naren ceritain."


Hening. Tidak ada sahutan apapun dari seberang. Mambuatku mendadak cemas.


"Ma, Mama masih di sana?" tanyaku mulai khawatir.


"Kamu tadi bilang apa?"


Aku bernapad lega saat mendengar sahutan dari Mama. Setidaknya, Mama baik-baik saja.


"Naren mau ke sana kenalin Mama sama Aurine. Putri Naren."


"Dia... dia... cucu Mama, ada di apartemen kalian?"


"Iya, Ma. Dia di sini, lagi mandi sama Eva."


"Bukannya kamu bilang dia di luar negeri?"


Aku kebingungan. Harus kujawab apa sekarang?


"Ren," panggil Mama terdengar tidak sabaran.


"Aurine.... dia... sedang liburan, Ma, di sini."


"Bagaimana dengan Ibu-nya?"


"Dia akan tinggal dengan kalian?"


"Siapa yang akan tinggal dengan kami?"


"Putrimu."


"Enggak, dia hanya sementara tinggal bersama kami. Mungkin... mungkin dia akan kembali ke California." atau mungkin juga dia akan ke Bandung.


Meski kenyataannya aku sangat ingin ia kembali ke California saja. Bukan karena tidak suka keberadaannya yang dekat denganku, aku justru senang kalau ia tinggal dekat denganku. Tapi, kalau ia tinggal di Bandung itu artinya hubungan Milla dan William berakhir. Aku tidak rela. Kasian Aurine.


"Ya sudah, buruan siap-siap! Mama tungguin!"


"Iya."


########


Aku, Adeeva, dan Aurine langsung disambut Mama, bahkan saat kami baru saja turun dari mobil. Papa tidak ikut menyambut kami di luar seperti Mama. Enyahlah, aku tidak tahu apa alasannya.


Aurine mendadak bersembunyi di belakang Adeeva saat Mama berjalan mendekat ke arah kami. Kedua mata beliau terlihat berkaca-kaca, terlihat jelas kalau Mama sedang menahan diri agar tidak menangis.


"Dia... dia Cucu Mama?" tanya Mama dengan suara sedikit bergetar.


Aku mengangguk, lalu menyuruh Aurine mencium punggung tangan Mama. Dengan malu-malu, Aurine kemudian meraih telapak tangan Mama dan mencium punggung tangan beliau. Detik selanjutnya, Mama menangis tersedu-sedu sambil memeluk Aurine.


"Ma, jangan bikin anak aku takut begitu, ah."


Secara spontan, Mama langsung melepaskan pelukannya. Mama kemudian mengusap pipinya yang basah, lalu bertanya dengan lembut, "Siapa nama kamu, sayang?"


"Aurine. Umurku tujuh tahun."


"Pinternya," puji Mama sambil mengelus pipi Aurine.


Aurine pun ikut melakukan hal serupa, mengelus pipi Mama untuk menghapus bekas air mata Mama.


"Don't cry, please! I do not like to see grandma sad."


"Enggak, Nenek nggak sedih. Nenek seneng akhirnya bisa ketemu sama Aurine."


Ada perasaan bersalah saat melihat interaksi keduanya. Aku merasa benar-benar tidak bisa jadi anak dan juga Ayah yang baik. Aku buruk di kedua hal, dan itu membuatku kecewa terhadap diriku sendiri.


"Masuk, yuk!" ajak Mama pada Aurine.


Mama berdiri lalu menggenggam telapak tangan Aurine dan mengajaknya masuk ke dalam. Nyaris mengabaikan aku dan juga Adeeva.


"Mas," panggil Adeeva tiba-tiba, ia merangkul lenganku, "kamu baik-baik aja, Mas?"


Aku mengangguk. "Cuma agak bersalah dikit."


"Mas," panggil Adeeva dengan nada memperingatkan.


Aku tersenyum kecil, lalu melepaskan rangkulannya pada lenganku dan kemudian merangkul pinggangnya.


"It's okay, sayang. Aku baik-baik saja, rasa bersalah itu wajib dimiliki setiap orang. Kenapa kamu ngelarang aku?" aku bertanya dengan nada suara keheranan, lalu mengajaknya untuk segera masuk ke dalam rumah. "yuk, masuk! Nggak baik mesra-mesraan di luar."


Kali ini Adeeva tidak protes, cenderung menurut, meski tetap saja bibirnya tak bisa untuk tidak maju beberapa senti. Ck, sengaja sekali mancing-mancing.


Saat kami masuk ke dalam rumah, Papa sedang mengajak Aurine ngobrol. Aku ingin ikut bergabung, namun tidak jadi karena Mama tiba-tiba menghampiriku.


"Dia anak yang baik dan pintar, Ren," celetuk Mama tiba-tiba, "Ibunya benar-benar membesarkannya dengan sangat baik. Lain kali bawa Ibunya juga, ya, Mama mau kenalan."


"Iya, nanti kalau ada waktu, aku kenalin ke Ibunya." Aku mengangguk setuju, tidak masalah sama sekali.


"Bagaimana dengan Eva?" tanya Mama tiba-tiba.


Aku mengangguk. "Dia baik, keduanya cepet akrab, Ma. Malah aku ngerasa kalau Aurine lebih akrab sama Eva ketimbang aku. Udah kayak Eva itu Ibu kandungnya, sedang aku Ayah tirinya," curhatku kemudian.


"Itu salah kamu pasti," sahut Mama tiba-tiba.


Kok aku?


Aku menoleh ke arah Mama dengan ekspresi tidak terima.


"Mama perhatikan, dia anak yang mudah akrab dengan siapa aja. Liat aja tuh!" Mama menunjuk Aurine yang kini sedang duduk di pangkuan Papa, "cepet banget kan akrabnya. Berarti kalau anak kamu sendiri nggak bisa akrab sama kamu, udah jelas, kamu yang salah. Pendekatan kamu kurang, kamu ini payah banget sih, Ren. Dulu sebelum nikah sama Eva, yang deketin Eva. Masa sekarang anak sendiri, harus gitu juga?" Mama berdecak tidak percaya sambil geleng-geleng kepala, baru setelahnya ia bergegas menuju dapur.


Aku menggaruk-garuk kepalaku bingung. Apa iya aku sepayah itu?


"Kenapa, Mas?" tanya Adeeva sambil menyerahkan sepotong kue ke dalam mulutku.


Aku menatapnya ragu, lalu mengigit ujungnya dan mengunyahnya secara perlahan. "Enggak. Cuma agak heran."


"Sama?"


Aku menunjuk Aurine dan Mama menggunakan daguku. Adeeva mengalihkan pandangannya dariku ke arah yang kutunjuk. Keningnya mengernyit heran saat tahu apa yang kutunjuk.


"Apa yang bikin heran?" tanyanya kebingungan.


"Aurine cepet akrab banget sama Mama, sama kamu, sama Papa juga. Tapi kalau sama aku enggak."


"Enggak gimana?"


"Ya, coba deh kamu inget-inget. Dari kemarin aku tuh belum pernah ngobrol lama begitu sama Aurine, tapi sama Papa udah, sama Mama juga, kamu apa lagi. Lah, kok kalau sama aku enggak sih?"


"Ya, kamu nggak ajak dia ngobrol gimana mau ngobrol lama sih, Mas," decak Adeeva mengejekku.


Aku hendak memprotesnya, namun tidak bisa karena Adeeva yang tiba-tiba menyodorkan kue ke dalam mulutku. Kali ini aku langsung memprotesnya kesal.


"Yang, aku mau ngomong dulu lho, kenapa malah kamu kasih kue sih?" protesku kesal, dengan mulut penuh.


"Nggak sopan makan sambil ngomong, nanti keselek. Itu dikunyah yang bener baru ditelen," ujar Adeeva sok menasehatiku.


Aku mendengkus kesal, lalu meraih es sirup yang Mama buatkan dan menegaknya hingga tandas. Aku kemudian melirik Adeeva sinis dan menggerutu, "Jahat kamu."


"Dasar ngambekan," cibir Adeeva.


Aku tidak peduli. "Kan kamu yang bikin aku begini."


"Eh, kenapa jadi nyalahin aku?" protes Adeeva tak terima, "Mas, kalau kamu emang beneran pengen deket sama anak kamu sendiri. Deketin dia dong!" imbuhnya jelas-jelas mengejekku.


Lagi-lagi aku ingin memprotes, tapi melihat Adeeva yang seperti sedang teringat sesuatu membuatku urung. Bahkan dengan wajah penasaran aku bertanya, "Kenapa?" Apa dia melupakan sesuatu hal yang penting hari ini.


"Enggak, aku baru inget, Mas. Kan kamu payah untuk bagian deketin. Baru inget, kita bisa nikah juga karena usaha aku deketin kamu. Coba kalau enggak, ya mungkin aku udah jadi jodoh orang lain, ya, mungkin."


Astagfirullah! Seketika wajahku langsung memerah, antara menahan amarah pun sedang menahan malu. Astaga, jadi aku benar-benar sepayah itu, ya, ternyata?


"Kenapa, Mas? Kamu baru inget juga sama kelemahan kamu yang ini?" Adeeva pura-pura menatapku antusias, padahal saat ini jelas-jelas ia terlihat sedang menahan diri agar tidak menertawakanku habis-habisan.


Aku merengut kesal.


"Udah, nggak usah cemberut terus, temenin anaknya main sana! Aku mau bantu Mama siapin makan siang." Adeeva berdiri dan mengelus pundakku. "Sana!"


Aku ikut berdiri lalu mendorong tubuh Adeeva pelan. "Kamu juga sana! Aku mau buktiin kalau aku nggak sepayah yang kamu pikir."


Adeeva mendengkus samar. "Udah tahu aku, Mas, tanpa kamu buktiin," balasnya jumawa.


Aku menggeleng tidak setuju, sebagai tanda penolakan. Baru kemudian Adeeva mengangguk pasrah.


"Iya, iya, terserah kamu, Mas. Yang penting kamu bahagia," ujar Adeeva langsung bergegas menuju dapur.


Aku menatap kepergiannya sebentar, sebelum akhirnya bergabung duduk dekat Aurine.


**Tbc,


huaaaaa, aku nangis, semalem akhirnya beneran ketiduran. Aku kesel banget rasanya, padahal semalem aku tuh udah ngusahain biar tetep melek sebelum up, tapi apa lah daya, mataku sedang tidak bisa diajak kerja sama. mon maap, ya, aku cukup menyesal. sedih juga rasanya. ya udah, kali ini gk akan panjang-panjang curcolnya, dikit aja, segini aja. see you next part. jangan lupa jaga kesehatan! yang sering berpergian pake motor sedia ujan ya, jangan lupa, kayaknya ujan lagi seneng banget nyapa Hari-hari kita. kemarin aja nyaris seharian ujan, gk mau pisah sama akohh. iya, dari sebelum subuh sampai jelang dzuhur. reda berapa jam, eh, ujan lagi. ups, keceplosan, kok curcol lagi πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ˜†πŸ™ mon maap, gk sengaja. udh see you again deh.


lup lup πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ˜πŸ˜πŸ’•πŸ’“πŸ˜˜**