
######
Selepas menunaikan ibadah salat subuh tadi, aku tidak bisa kembali memejamkan kedua mataku, padahal semalam aku tidur jam dua pagi. Ah, aku ingin tidur lagi meski sebentar, tapi kenapa susah sekali rasanya. Karena tidak bisa tidur, aku kemudian memutuskan untuk jogging sekitar hotel, tempat kami menginap. Setelah dirasa lebih segar, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Aku perlu mempersiapkan untuk acara ijab qobul nanti.
Aku terkejut bukan main saat keluar dari pintu lift dan menemukan semua keluargaku berkumpul di depan kamarku, mulai dari Mama, Papa, Bang Ferdi, Damian, hingga Irin yang sambil menggendong Rafka.
Aku kemudian berjalan menghampiri mereka. "Ini ada apaan, kok pada ngumpul di sini?" tanyaku heran. Sebelah tanganku mengusap dahiku yang berkeringat menggunakan handuk kecil.
Di luar dugaan, Mama tiba-tiba memukulku keras. Hingga menimbulkan sensasi nyut-nyutan yang luar biasa. Ini salahku apa, kenapa aku tiba-tiba dipukul begini?
"Sakit, Ma. Kok Naren tiba-tiba dipukul?" protesku tidak terima.
"Mama ngira kamu kabur, Kak," komentar Irin.
Aku mengernyit kebingungan. Kenapa aku harus kabur?
"Udah, sana! Buruan mandi!" gertak Mama lalu mengajak Papa meninggalkan kami.
Aku menggaruk kepalaku bingung. "Salah gue di mana sih, Bang?"
Bang Ferdi terkekeh. "Salah lo, karena lo laki-laki. Pokoknya kalau lo laki, salah deh, intinya. Betewe, lo abis dari mana sih?"
"Jogging. Biar seger gitu, gue abis subuh ngantuk, tapi nggak bisa tidur lagi. Ya udah, gue lari pagi deh."
"Gue kira lo lari dari kenyataan," ejek Bang Ferdi bergurau. Ia menepuk pundakku dan kembali ke kamarnya.
Sekarang tersisa Irin, Damian, dan Rafka. Irin kemudian menyerahkan Rafka pada Damian, lalu menyuruh keduanya kembali ke kamar mereka. Dan sekarang hanya ada aku dan Irin. Aku merasakan aura yang tidak mengenakkan secara tiba-tiba.
"Mau masuk?" tawarku kemudian.
Irin menggeleng sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kak Arkan masuk aja, mandi terus siap-siap."
"Terus kenapa kamu masih di sini? Kenapa nggak balik ke kamar kamu?"
"Aku..." Irin menjeda kalimatnya dan menatapku serius, lalu menggeleng.
Aku balas menatapnya serius lalu menghela napas. "Masuk dulu!" ajakku sambil membukakan pintu, dan mempersilahkan Irin masuk.
Irin tidak langsung menuruti perkataanku, dan hanya menatapku. Karena mulai kehilangan kesabaran, aku kemudian mendorong pelan tubuhnya agar masuk ke kamarku.
"Duduk dulu, Kakak mau mandi sebentar," kataku lalu mengambil handukku dan berjalan menuju kamar mandi.
Tepat saat aku sampai di bibir pintu, Irin bersuara. "Jangan bikin Eva sedih dan kecewa, ya, Kak," ucapnya tiba-tiba.
Nada suaranya terdengar sangat serius. Membuatku akhirnya menghentikan niatku untuk masuk ke kamar mandi dan berbalik menghampirinya.
Aku mengambil posisi duduk di sebelahnya. "Kakak nggak bisa janji kalau itu, Irin, Kakak manusia biasa. Meski begitu, Kakak akan berusaha untuk tidak mengecewakan Eva."
Aku mengangguk paham. Terkadang aku pun merasa demikian. Bersalah dengan Adeeva karena masa laluku itu. Bisa dibilang, aku ini bukan tipekal pria yang optimis dan cukup percaya diri. Sering kali aku merasa rendah diri karena masa laluku itu, tapi dengan cara unik Adeeva, ia bisa saja menaikkan kepercayaan diriku. Rasanya kalau aku tidak memberikan yang terbaik untuk Adeeva, aku akan terlihat kejam bukan? Meski lagi-lagi aku harus mendapat predikat budak cinta. Siapa yang perduli akan hal tersebut, kalau kamu melakukan untuk orang yang kalian cintai?
"Kalau saja aku tahu lebih awal, aku pasti nggak akan kenalin kalian."
Aku menatap Irin serisu. "Kamu nyesel ngenalin kita, Rin?"
Irin menggeleng. "Enggak tahu, Kak. Kadang ada kalanya aku senang, bangga dan juga puas punya inisiatif ngenalin kalian. Tapi, tidak dapat dipungkiri kalau aku kadang juga suka ngerasa nyesel. Kalau saja kalian nggak aku kenalin, Eva mungkin--"
"Hei! Aku ini Kakakmu, Rin," potongku sedikit tersinggung.
"Aku tuh malu sama Eva, Kak. Kenapa sih Kak Arkan nggak bilang dari dulu kalau Kakak punya anak?" Suara Irin tiba-tiba meninggi, membuatku tersentak kaget. Namun tak lama setelahnya ia kembali menurunkan nada bicaranya. "Beberapa hari ini aku mikir, apa benar keputusan kalian untuk menikah ini benar? Kakak dengan masa lalu Kakak membuatku takut, Kak. Aku takut masa lalu Kakak nantinya akan jadi bumerang buat hubungan kalian."
Aku menerjap. "Rin, kamu ngeraguin Kakak?"
"Aku takut, Kak. Meski kadang suka blak-blakan, Eva itu kadang susah ditebak, Kak."
"Rin, kamu mungkin mengambil peran penting di awal pertemuan kami, tapi setelahnya itu sepenuhnya keputusan kami. Kamu nggak usah takut, Rin. Kami serius dan yakin akan menikah, karena kami saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan semua ini. Kami bahagia, Rin. Bisa kamu percayai Kakak, kalau Kakak bisa bahagiain Eva?"
Irin menatapku serius. "Kak Arkan janji bakalan bahagiain dia? Nggak bakalan kecewain Eva?"
Aku mengangguk. "Kakak akan berusaha yang terbaik untuk Eva."
Irin mengangguk. "Aku seneng denger jawaban Kak Arkan, sekarang aku bisa ikhlas ngelepas Eva buat Kakak. Jawaban Kakak cukup memuaskan. Ternyata bener, Kakak beneran sayang sama Eva. Aku seneng dan lega sekarang."
Aku menggaruk pelipisku dan tersenyum kecut. "Kalau aku nggak beneran sayang sama Eva, Kakak nggak mungkin mau nikahin dia, Rin."
"Iya, iya, nggak usah judes-judes. Udah sana, mandi! Aku balik ke kamar, mau ngurusin Damian sama Rafka. Ingat, ya, Kak, aku berperan penting dalam hubungan kalian. Kalau Kak Arkan nyakitin Eva, aku bakalan jadi orang pertama yang menghajar Kakak. Ngerti?"
Aku menyampirkan handukku di pundak dan memasukkan tanganku pada saku celana trainingku. "Memangnya kamu berani sama Kakak?"
"Ya, pokoknya Kakak nggak boleh nyakitin Eva! Ngerti?!"
"Iya, sana, keluar! Urusin anak sama suami kamu!" usirku lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Saat aku keluar kamar, Irin sudah tidak ada di kamarku. Aku kemudian mengosok rambutku menggunakan handuk kecil dan duduk di tepi ranjang lalu berpikir. Sepertinya, bukan wanita sembarangan yang akan kunikahi nanti. Eva dikelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya, bahkan keluargaku sendiri siap pasang badan kalau aku berani berulah sedikit. Kok kedengerannya agak ngeri, ya.
Tbc,
πππ entahlah, aku kehilangan kepercayaan diri untuk ngelanjut ini cerita. aku mendadak putus asa, gaes. Kok arkan mendadak bucin. sumpah, sampai detik ini kepikiran terus, meski dari awal aku emang bkin konsep begitu, tapi rasanya aku mendadak kayak kehilangan kepercayaan diri gitu lho. aku seperti gagal jadi penulis, ****, mendadak? masa sih segitu mendadaknya? pdhal aku udah coba jelasin di awal. tpi ttp aja perasaan bersalah mendadak menghantuiku. aku sampai bkin part hapus, bkin lagi hapus lagi. bener-bener kehilangan kepercayaan diri aku, rasanya sampai kayk mau, berhenti di sini aja. gila! aku seenggak konsisten itu ya sampai kata-kata mendadak terus dilebeli ke karakter Arkan? iya, ya, aku seenggak konsisten itu? apa enggak usah dilanjutin aja sih ini cerita? enggak, aku serius tanya sekarang? aku beneran bersalah lho jadinya, serius. soalnya ini konsep emang aku bkin begini, salah ya, aku bikin begini? berarti berbulan-bulan aku bikin ini konsep, percuma?
ya udah klo salah, aku delete aja ini sekuel. trs kpn-kapan aku coba revisi lagi, entah itu kapan, gitu? apa harusnya emang bgtu sih? π€π€π€ aku tuh, mendadak galau tahu, ku tunggu pendapat kalian deh.
*nngis di pojokan. alamat gagal tembus target nih