
"Satu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini. Kecewa."
\=\=\=\=\=\=
"Jaga kesehatan kamu! Kalau sudah siap, hubungi aku."
"Ya. Kamu juga."
"Oke. Aku tutup. Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam."
Gue menghela napas setelah mengakhiri sambungan telfon dengan Arkan. Pria itu benar-benar membuat gue kacau. Setelah mengakui mulai jatuh cinta sama gue dia malah bilang punya anak, dan membuat hubungan berada di ambang kehancuran, lalu dengan seenaknya dia memberikan perhatian-perhatian yang tidak seharusnya. Gue bingung, sumpah. Benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Maunya itu apa gitu lho.
Karena tidak mau makin pusing mikiran Arkan, gue memilih untuk segera mandi dan berangkat kerja. Dari pada mikirin Arkan, yang ada stress sendiri gue. Lebih baik cari duit.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, gue langsung keluar kostan, mengeluarkan sepeda motor gue dari kostan, dan betapa terkejutnya gue saat menemukan Ardit di depan pintu gerbang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, tersenyum cerah saat kedua mata kami saling bertatapan.
Loh, ngapain ini makhluk hidup di mari?
"Hai!" sapa Ardit sambil mengangkat tangan kanannya.
Gue yang masih diliputi rasa terkejut hanya menatapnya saja sambil menggeleng, kemudian memejamkan mata. Kali saja kan gue sedang berhalusinasi. Namun saat gue membuka mata Ardit, masih di depan gue dan sambil tersenyum makin lebar.
"Kaget, ya?"
"Banget. Kok lo di sini?"
"Ya, mau jemput kamu."
Gue mendengkus. Bukannya dia udah nyerah?
"Belum dong. Aku ini pantang menyerah sebelum benar-benar kalah. Aku tahu aku belum kalah, makanya belum menyerah. Kalau kamu berpikir kemarin aku udah nyerah, kamu salah. Kemarin kantor sibuk, jadi ya, aku nggak ke sini atau nge-chat kamu," jelas Ardit, yang sukses membuat mulut gue menganga lebar.
Bukan. Gue bukan terpesona sama kegantengannya atau senyum manisnya sekarang ini. Tapi lebih kepada kepekaan Ardit yang sejak dulu belum memudar. Dia bisa begitu dengan mudah menebak isi kepala gue. Ini salah satu hal yang membuat gue dulu memilih bertahan sama dia karena sifat agak posesifnya.
"Mau berangkat sekarang?"
Gue menggeleng. "Gue berangkat sendiri. Naik motor."
"Iya. Aku juga."
Hah? Juga? Maksudnya?
Ardit tersenyum sekali lagi, lalu menggeser tubuhnya dan menujuk motor scopy berwarna abu-abu yang gue tebak itu milik Nisa, adiknya.
"Itu motor Nisa?"
Masih sambil tersenyum Ardit mengangguk, membenarkan.
"Yuks, berangkat," ajaknya kemudian. Ia kemudian memakai helm dan langsung naik ke motornya.
"Bentar, bentar, ini maksudnya gimana?"
"Aku mau mau ke kantor sambil motoran sama kamu. Kan kamu nggak mau aku anter pake mobil, jadi biar tetep bisa ke kantor bareng kamu ya, aku pinjem motornya Nisa."
"Astaga, Dit, lo nggak harus sampai segininya juga lah. Terus ini si Nisa ke kampus naik apa?"
"Ojol. Kan Nisa belum terlalu mahir bawa mobil, aku takut mobilku kenapa-kenapa. Jadi aku suruh dia naik ojol tapi aku yang bayar kok."
Gue kembali melongo. Sifat royal Ardit belum hilang. Royal untuk sesuatu hal yang tidak penting semacam ini. Dan ini adalah salah satu sifat yang tidak gue sukai darinya. Dia rela melakukan apapun untuk orang yang dia sayang. Tunggu, berarti gue termasuk orang yang disayang dong.
"Kok malah ngalamun? Ayo, berangkat, Va?" ajak Ardit yang kini udah nangkring di sepeda motornya.
"Lo dahuluan!" kata gue.
Ardit menggeleng. "Ladies frist," katanya sambil memamerkan senyum terbaiknya, yang dulu suka banget bikin gue kangen.
Sialan. Ini kenapa gue jadi nostalgia masa-masa gue pacaran sama Ardit sih?
Karena tak ingin makin membayangkan apa saja yang udah gue lewatin bareng Ardit, gue akhirnya memilih untuk segera menstarter motor gue, lalu Ardit menyusul setelahnya.
"Kenapa nggak dijemput yang waktu itu?"
Gue langsung menoleh dan membuka kaca helm gue, tersenyum getir lalu menggeleng. Saat ini kami sedang berhenti di lampu merah.
"Berantem."
"Oh, beneran, ya?"
Gue kembali menoleh. "Apanya?"
"Pacarannya."
"Oh."
Tin Tin Tin
"Duluan," kata gue kembali melajukan motor.
Saat gue melirik ke arah spion, Ardit masih mengikuti dari belakang. Bahkan sampai di tempat kerja gue.
"Aku langsung ya, Va? Takut telat," kata Ardit sambil tersenyum.
Gue mengangguk. "Thanks."
"Sama-sama. Besok lagi ya?"
"Enggak," tolak gue dengan tegas.
"Kenapa? Besok kemungkinan udah dijemput lagi? Emang udah baikan?"
"Bukan urusan kamu, Dit. Udah ah, sana kamu berangkat, nanti telat ke kantornya baru tahu rasa kamu."
"Thanks," ucap Ardit tiba-tiba, membuat gue mengernyit heran.
"Buat apalagi kali ini?"
"Sudah kembali ke aku-kamu lagi," jawab Ardit sambil tersenyum senang.
Gue mendengkus. "Udah sana berangkat!" kata gue mengusirnya.
"Galau lagi?"
Bang Bima mendengkus tak percaya sambil menggeleng prihatin sebelum mendudukkan pantatnya di kursi yang ada di hadapan gue. Gue hanya meliriknya sekilas, lalu memilih mengabaikannya.
"Astaga, Va, lo itu cantik, kalau yang kemarin prospeknya nggak bagus ya udah lah, nggak usah dipaksa. Mending sama dudes kemarin."
Gue berdecak sambil melotot tajam ke arahnya. Ini manusia nggak peka banget sih kalau gue lagi nggak mood diajak bercandaan begini.
"Bang, serius, gue lagi males lo ajak bercanda. Plis, ngertiin gue."
"Lo nggak secantik itu untuk gue ngertiin," ucap Bang Bima.
"Rese lo!" amuk gue langsung memukul pundaknya.
Bang Bima mengaduh sambil melotot ke arah gue. "Lo lagi pms ya?" ia kemudian berdecak kesal.
"Iya. Jadi kalau lo masih pengen ketemu anak istri lo, mending lo nggak usah gangguin gue," ketus gue.
"Lagi? Bukannya kemarin udah? Lo lancar banget deh mens-nya nggak kehabisan darah lo?"
"ABIMANA FAHREZA!!"
Bang Bima meringis kemudian berlari keluar ruko, membuang putuk rokoknya yang masih panjang dan menginjak-nginjaknya untuk mematikan api. Baru setelah padam, ia kembali menghampiri gue lagi.
"Kali ini berat ya?" tanya Bang Bima kali ini lebih hati-hati.
Gue menghela nafas lalu mengangguk pelan.
"Cerita! Gue emang nggak bisa kasih nasehat, tapi gue siap mendengarkan. Katanya orang galau cuma butuh itu."
Gue merasakan kedua pipi memanas, sumpah gue rasanya pengen nangis.
"Va, mumpung gue masih kosong ini. Cerita! Nanti keburu siswa gue dateng."
"Bener kata lo, Bang."
"Kata gue? Kata gue yang mana?"
"Belum menikah nggak ada jaminan kalau pria itu masih perjaka," lirih gue sambil tertawa miris.
"Hah? Maksudnya? Yang... itu udah nggak perjaka?"
Masih sambil tertawa miris gue mengangguk. Gue bukan nggak mau sama yang udah nggak perjaka, tapi anaknya itu lho. Astaga, kalau inget gue mau nangis rasanya.
Ekspresi Bang Bima berubah antusias, membuat gue mengernyit heran ke arahnya.
"Dan lo kecewa?"
Gue mengangguk. Gimana gue nggak kecewa kalau tahu gebetan lo ternyata udah nggak sesuai ekspektasi gue, udah nggak percaya bonus punya buntut. Astaghfirullah!
Bang Bima tertawa. "Kok lo bisa tahu?"
"Dia yang bilang."
"Berapa sih umurnya?"
"31."
"Pantesan. Udah lah, Va, ikhlasin lah. Cuma nggak perjaka aja lo segitu galaunya. Gimana kalau dia ngehamili anak orang. Bisa-bisa kena serangan jantung lo."
Gue kembali tertawa miris. "Alhamdulillah, enggak sampai kena serangan jantung."
Bang Bima langsung menoleh ke arah gue. "Hah? Maksudnya?"
Gue mengangguk. "Dia udah."
"Udah?!" pekik Bang Bima dengan wajah shocknya.
Gue mengangguk.
"Pas lagi deket sama lo?"
Gue menggeleng, "Dulu."
"Dia ngaku?"
Lagi-lagi gue hanya mengangguk.
"Keren," desis Bang Bima masih belum bisa menutupi wajah terkejutnya.
Gue mendengkus. "Keren dari mananya?"
"Dia ngaku, Va, mengakui kesalahan itu bukan hal mudah loh. Butuh jiwa ksatria untuk bisa melakukannya. Jangan diremehin!"
"Tapi gue kecewa, Bang. Gue sakit hati, gue nggak terima."
"Ya udah, sama teman gue yang dudes itu."
"Bang!"
Bang Bima berdecak. "Lah, salah gue di mana? Lo bilang nggak terima kan? Ya udah sih, sama yang lain aja."
"Gampang banget sih lo ngomongnya, Bang, mentang-mentang tinggal mangap."
"Di dunia ini nggak ada yang sempurna, Va."
"Udah tahu."
Bang Bima menatap gue lalu menggeleng. "Anaknya udah gede?" tanyanya kemudian.
Gue menggeleng. "Gue belum tahu pasti. Dia baru ngaku punya anak dari masa lalunya. Gue langsung shock dan belum sanggup denger secara detail."
"Jadi, ibarat sebuah cerita lo baru denger prolognya doang?"
"Bisa dibilang begitu."
"Bego!" maki Bang Bima emosi.
Gue melotot tak terima.
"Lo harus denger semuanya, Va, biar otak lo nggak bikin asumsi sendiri. Biar lo nggak galau begini."
"Tapi gue takut, Bang. Gue nggak sanggup." Gue menggeleng, "gue belum siap."
"Terserah lo, cuma kalau lo mau denger saran gue, mending lo temuin dia dan denger semuanya. Gue cabut!" Bang Bima langsung beranjak dari kursi dan meninggalkan gue.
Mendadak gue bingung. Benar kata Bang Bima, gue emang butuh denger semuanya, bukan setengah-setengah begini. Dan gue butuh tahu semuanya sesegera mungkin, gue tidak bisa menunda-nunda lagi. Dengan gerakan cepat gue mengetikkan pesan untuk Arkan.
Me:
Ar, ayo bertemu!
Aku mau denger versi lengkapnya.
Tbc,
Kira-kira nanti apa yang akan terjadi pada hubungan Eva dan Arkan, ya 🤔
Â