
#####
Orang bilang menikah itu tidak enak, tapi enak banget. Aku setuju sih dengan ungkapan itu. Ya, bisa dibilang aku cukup menyesal karena sempat meragukan Adeeva dulu. Buktinya, sekarang aku nyaris seperti tidak bisa hidup tanpanya. Terdengar berlebihan memang, tapi mau bagaimana lagi, yang kuungkapkan barusan memang fakta. Semua keperluanku Adeeva yang menyiapkan, aku hanya tinggal terima beres. Bahkan hal remeh-temeh pun kadang kala masih dibantu olehnya. Memakaikan dasi contohnya, atau memotong kuku dan membersihkan telinga, tak jarang aku meminta Adeeva yang melakukan untukku. Seperti yang sedang ia lakukan sekarang ini, membersihkan telingaku sambil mengobrol.
Kalau nyaris semua dibantu Adeeva begini, bagaimana bisa coba aku hidup tanpanya? Jelas tidak bisa kan.
"Yang."
"Hmm," respon Adeeva seadanya.
Ia masih fokus untuk membersihkan kotoran pada telingaku. Saat ini aku tengah berbaring di atas pahanya sebagai bantalan, posisi ternyamanku.
"Aku..."
Aku kebingungan mencari kosa kata yang tepat untuk menjelaskan masalah Aurine. Harus kumulai dari mana, ya?
"Ngomong aja, Mas!"
Aku masih terdiam. Masih bingung harus mulai dari mana.
"I'm still waiting you, Mas," ucap Adeeva dengan nada suara datar. "Ganti sebelah kanan!" sambungnya mengintruksiku agar berbalik badan.
Aku menurut, mengubah posisiku menjadi, menghadap Adeeva. Melingkarkan sebelah tanganku pada pinggangnya, dan memeluknya erat.
"Masih belum berani ngomong?" Adeeva kembali memecah keheningan.
"Nanti deh, kalau udah selesai," kataku kemudian. Aku semakin mengeratkan pelukanku sambil memejamkan kedua mataku.
Tak lama setelahnya, Adeeva kembali bersuara, "Udah selesai."
"Makasih, sayang. Mau gantian?" tawarku sambil merenggangkan pelukanku. Aku mendongak ke arah Adeeva.
"Enggak, makasih. Aku sih masih mampu kalau cuma ngebersihin kuping sendiri, cuma dua ini. Jadi nggak perlu minta bantuan kamu, Mas."
Aku hanya tertawa saat mendengar sindiran Adeeva, lalu kembali memeluknya erat. Ah, aku suka kenyamanan ini.
"Mas, kamu tadi bilang mau ngomong lho."
Adeeva berdecak sambil menyisir rambutku menggunakan jari-jemarinya. Aku tidak terlalu menggubrisnya, masih anteng memeluknya.
Aku perlu mengumpulkan keberanian saat ini.
"Mas!!" jerit Adeeva kesal, kedua tangannya berusaha melepaskan kedua tanganku yang kini masih memeluknya erat.
Aku berdecak, lalu meliriknya sinis. "Bentar dong! Sabar!"
"Kamu kelamaan, Mas, kayak cewek tahu nggak. Bikin penasaran aja," gerutunya kesal.
Aku menghela napas dan mulai mengumpulkan keberanian. "Aku mau Aurine tinggal di sini sementara, boleh?" tanyaku hati-hati.
Seketika tubuh Adeeva langsung menegang, terlihat sekali kalau ia sedikit kesulitan mengendalikan diri. Ia terkejut, jelas iya.
Aku kemudian duduk dan meraih kedua tangannya, lalu menggenggamnya erat. "Adeeva," panggilku kemudian.
"Maaf, aku, tadi agak terkejut, Ar, eh, Mas maksudku." Adeeva masih belum menguasai dirinya.
Aku tersenyum maklum dan mengangguk.
"Jadi, kapan dia ke sini?" tanya Adeeva kemudian, ia mengubah ekspresinya secara drastis, seolah-olah sedang antusias padahal aku yakin dia pasti sedang merasa gelisah.
Aku menghela napas, karena perasaan bersalah. Demi Tuhan, ini tidaklah benar.
"Adeeva, kamu tidak harus memaksakan diri! Kalau emang kamu ngerasa berat, bilang sama aku. Aku nggak akan maksa kamu," ucapku bersungguh-sungguh.
Aku tahu betul, ini tidaklah mudah untuknya.
Adeeva menggeleng. "Enggak, Mas, aku tadi cuma kaget kok. Jauh sebelum aku memutuskan pake cincin ini lagi, aku tahu, cepat atau lambat hari ini pasti akan datang. Hanya saja harinya datang lebih cepat dari dugaanku." Ia mencoba memaksakan senyumnya, lalu mengangguk, meyakinkanku agar aku tidak perlu khawatir.
Tapi bagaimana aku bisa tidak khawatir, kalau ekspresi Adeeva saat ini menggambarkan kekhawatiran. Ah, aku jadi semakin bersalah dan juga tidak enak.
Aku menyingkirkan anak rambutnya ke belakang telinganya. "Kamu yakin bisa mengatasinya?"
Meski bibirnya terus berkata tidak apa-apa, aku tidak yakin kalau hatinya semudah itu untuk mengatakan kalau dirinya tidak masalah.
"Ini nggak akan mudah, Adeeva. Aku takut kamu akan kesulitan."
"Bisakah kamu percaya sama aku, Mas. Sekali lagi," pinta Adeeva sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Sekali lagi, Mas, kamu percaya sama aku, kalau aku bisa belajar menerima semua masa lalu kamu. Berhenti merasa bersalah dan jangan raguin aku! Bantu aku menghadapinya!"
Aku tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar ungkapan hatinya. Yang dapat kulakukan selanjutnya hanya memeluknya erat dan mengucapkan terima kasih. Aku tahu Adeeva memang seluar biasa ini, tapi perasaan takut dan bersalah tetap saja menghantuiku. Ya, aku memang sepengecut ini.
"Aurine itu gimana anaknya, Mas. Makanan kesukaannya apa? Yang nggak dia suka--"
"Sayang, jangan bikin aku semakin terlihat seperti Ayah yang buruk karena tidak tahu apapun tentang putrinya," ucapku memotong ucapan Adeeva dengan sedikit snewen.
Aku kemudian berdecak kesal setelahnya. Meski kenyataannya, aku memang Ayah yang seburuk itu. Tapi tetap saja, aku tidak suka dengan kenyataan ini. Ini terlalu memalukan.
"Woah, kamu benar-benar bukan tipe Ayah yang baik, ya, Mas." Adeeva malah gencar menggodaku.
"Adeeva!!" seruku penuh nada peringatan.
"Iya, iya, maaf, cuma bercanda, Mas. Sensi amat sih. Kalau kamu nggak tahu, ya udah, nanti kita bisa tanya langsung ke Ibunya."
Aku menatap Adeeva serius. "Kamu udah siap ketemu mereka?"
"Siap enggak siap, aku harus siap. Toh, cepat atau lambat aku dan mereka harus bertemu bukan?"
Aku mengangguk setuju. Memang benar, cepat atau lambat mereka memang harus segera bertemu.
Aku berpikir sejenak. Haruskah aku memberitahu tentang rencana Milla yang ingin menceraikan William? Sebenarnya, Adeeva tidak perlu tahu, tapi kalau ia tidak kuberitahu mungkin ia akan berpikir aku menyembunyikannya dari Adeeva. Dan ini bisa jadi masalah untuk kami. Baiklah, aku akan memberitahunya saja. Biar tidak ada kesalahpahaman di antara kami.
Aku kemudian mengangguk dan menggenggam telapak tangannya. Kening Adeeva langsung mengernyit saat aku menggenggamnya, kedua matanya sontak menyipit curiga.
"Masih ada lagi?" tanyanya menebak.
Aku kemudian mengangguk dengan ekspresi wajah bersalah. "Aku nggak tahu hal ini perlu kamu ketahui atau enggak. Tapi, aku rasa kamu perlu sekedar untuk tahu."
Adeeva melepaskan sebelah tangannya yang tadi sempat kugenggam, lalu meraba dadanya. "Mendadak perasaanku nggak enak. Kamu yakin aku perlu tahu, Mas?"
Keningku mengkerut. "Kamu nggak pengen tahu?"
Adeeva menimbang, lalu melirikku ragu. "Ini tentang Milla, ya?" tebaknya kemudian.
Aku mengangguk, sebagai tanda jawaban.
"Dia akan bercerai dengan suaminya," ucapku tanpa sadar.
Secara spontan, Adeeva menarik sebelah tangannya lagi dan menatapku tajam.
Aku mengertakkan gigiku, menahan erangan. Astaga, kenapa aku tidak berhati-hati dan langsung mengatakannya begitu saja.
"Dia akan bercerai dengan suaminya dan langsung mencarimu?" Kedua sorot mata Adeeva terlihat kosong.
"Adeeva dengarkan aku! Sekalipun kita tidak ingin menemui satu sama lain, tapi kita tetap akan bertemu. Kamu tahu kenapa? Karena Aurine, dia tanggung jawabku juga. Dari awal harusnya dia menjadi tanggung jawabku, dan karena dia akan bercerai dengan suaminya, maka aku harus bertanggung jawab atas hidupnya."
"Kamu menyesal menikahiku?" tanya Adeeva tidak nyambung.
Aku menghela napas. "Tidak, tidak sekalipun aku merasa menyesal telah menikahimu. Perceraian mereka tidak akan mempengaruhi hubungan kita, kamu akan tetap jadi istriku--"
"Dan jadi ibu tiri dari putrimu," sambung Adeeva cepat. Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatapku tajam, "kalau kamu memang merasa perceraian mereka tidak akan mempengaruhi pernikahan kita, harusnya kamu tidak bilang." nada bicaranya masih terdengar normal, sampai akhirnya dia sedikit berseru keras, "Kamu memberitahuku, itu hanya akan membuatku berpikiran buruk tentang dia, Mas."
"Adeeva, dengarkan aku! Milla tidak seburuk itu, di orang baik."
Adeeva tidak bisa tenang. Kali ini ia berteriak dan meluapkan emosinya. "Kamu pernah diduakan oleh dia, Mas. Dia pernah berselingkuh saat dia masih memiliki kekasih, dia berhubungan badan denganmu sampai menyebabkan dirinya hamil di luar nikah. Tapi akhirnya dia menikah dengan kekasihnya itu dan meninggalkan kamu. Dia adalah orang yang secara tidak langsung telah menghancurkan hidup kamu, dan kamu bilang dia orang baik. Kamu bercanda, Mas?"
"Adeeva, bukankah ucapan kamu barusan sedikit keterlaluan?"
Aku merasa egoku tersentil mendengar semua ucapannya. Menurutku, ucapan Adeeva barusan sedikit keterlaluan. Secara tidak langsung ia juga membicarakan keburukanku, meski kenyataannya memang buruk, tapi semua ini tidak seburuk yang ia ucapkan.
"Kamu lebih memilih membelanya?" Ia terdengar menyindirku. Nada bicaranya terdengar ketus.
Aku menghela napas frustrasi. Aku harus tenang. Setidaknya salah satu di antara kami harus ada yang bersikap tenang, dan kali ini orangnya itu harus aku.
"Aku akan keluar cari angin sebentar, kalau udah ngerasa tenang, panggil aja aku!"
Aku kemudian meninggalkan Adeeva dan berjalan menuju balkon kamar sebelah. Adeeva berteriak kesal memanggilku saat aku mulai berjalan menjauh darinya, tapi aku tetap melanjutkan langkah kakiku dan tidak berbalik sedikit pun. Bukan karena aku tidak peduli, hanya saja, aku takut jika aku berbalik, akan terjadi cek-cok di antara kami. Tidak menutup kemungkinan kami akan saling berteriak satu sama lain, dan itu jelas akan mengacaukan semuanya. Karena ingin aman, aku memilih menjauh darinya sebentar.
Hampir satu jam aku berdiri di balkon kamar, tapi Adeeva tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan menyusulku. Ini pertama kalinya pertengkaran kami selama menikah, masing-masing dari kami sama-sama belum terlalu hafal menenangkan satu sama lain. Solusi pertengkaran selama pacaran tentu akan berbeda dengan setelah menikah bukan?
Aku menghela napas dan masuk ke dalam, mencari keberadaan Adeeva di setiap sudut apartemen tapi tidak menemukannya. Satu tempat yang belum kucari tahu keberadaannya, yaitu kamar kami. Aku kembali menghela napas dan membuka handle pintu kamar kami. Saat pintu terbuka, aku menemukan Adeeva tengah berbaring dengan posisi meringkuk.
Aku kemudian ikut berbaring di sisinya. Aku tidak berani memastikan apakah ia sudah terlelap atau belum. Hanya ikut berbaring di sebelahnya dengan posisi saling membelakangi, sampai akhirnya aku terlelap begitu saja.
Aku bangun saat mendengar suara alarm adzan subuh yang kami pasang di ponsel masing-masing. Aku mematikan suara adzan pada ponselku dan membiarkan milik Adeeva tetap menyala hingga usai. Adeeva sendiri sudah tidak berada di dalam kamar, mungkin sudah sibuk dengan dapur dan spatulanya.
Aku segera beranjak dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan mengambil air wudhu. Setelah aku selesai menunaikan ibadah salat subuh, aku berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan Adeeva. Aku menemukannya sedang sibuk berdiri di depan kompornya.
Aku kemudian menyapanya dengan sedikit canggung dan berpamitan untuk pergi jogging. Adeeva hanya membalasku seadanya. Aku mencoba maklum dan langsung bergegas meninggalkan apartemen.
######
Saat aku kembali, aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Adeeva sudah menyiapkan pakaian yang akan kukenakan, semuanya, termasuk memilihkan dasi untukku. Biasanya, ia akan membantuku memakai dasi, tapi kali ini sepertinya aku harus memakainya sendiri.
Setelah selesai mengancingkan kancing pada lengan kemejaku, aku meraih dasiku dan hendak memakainya sendiri. Tapi dengan tiba-tiba Adeeva muncul dan membantuku memakainya, ekspresinya masih sedatar tadi, tidak ada kalimat basa-basi, seulas senyum tipis maupun gerutuan kesalnya. Ah, padahal aku merindukan salah satunya.
"Sarapan udah siap," ucap Adeeva, ia hendak berjalan menjauh dariku, namun kutahan.
Keningnya mengernyit sambil melirik ke arah pergelangan tangannya yang kucekal. "Ada apa?" tanyanya sedatar mungkin.
Aku tidak berkata apa-apa, hanya menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Adeeva jelas langsung memprotes.
"Mas, aku belum mandi nanti kemeja kamu bau terus kusut," protesnya sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku, namun jelas saja tak kuizinkan.
"Mas," rengek Adeeva terdengar mulai kesal.
Aku semakin mengeratkan pelukanku. "Maafkan sikapku yang semalam kalau keterlaluan," bisikku penuh penyesalan.
Setelah kupikir-pikir, rasanya semalam aku memang keterlaluan.
Adeeva mendengkus. "Bukan kalau, kamu semalem keterlaluan banget, Mas. Gimana bisa kamu ninggalin aku gitu aja padahal aku lagi emosi-emosinya. Mana kamu nggak balik-balik lagi. Ngapain aja kamu semalam di luar?" ia masih berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku, "sebat?"
Aku melonggarkan pelukanku dan menatapnya sengit. "Emang semalem kamu cium bau rokok dari aku?"
"Ya, mana aku tahu. Semalem kan kamu tidurnya nggak peluk aku, jauh-jauhan gitu, terus paginya juga nggak cium-cium, mana aku tahu coba," gerutunya mulai pasrah.
Aku terkekeh, lalu mendaratkan kecupan kilat pada bibirnya.
Adeeva merengut. "Sekarang kamu udah gosok gigi, jelas nggak kecium dong baunya."
"Yang penting bibirnya masih bisa dicium," balasku santai, lalu kembali mengecup bibirnya sekali lagi. Tapi kali ini lebih lama.
Adeeva sedikit terengah-engah dan mendorong tubuhku pelan. "Aku belum gosok gigi, Mas."
"Emang biasanya udah? Belum kan?" Aku meraih kedua pipinya, berniat untuk sedikit melanjutkannya, namun ditolak oleh Adeeva.
"Aku mau mandi. Aku juga udah bikinin kamu kopi, buruan diminum nanti keburu dingin," katanya sambil berdecak gemas.
"Kopinya masih bisa nunggu, tapi aku enggak."
"Aku belum gosok gigi, Mas," seru Adeeva semakin gemas.
"Terus siapa yang peduli?"
"Aku lah!"
"Tapi aku enggak." Aku kembali mendekatinya, namun Adeeva semakin menjauhi. "Kamu masih marah?" tanyaku mulai kesal.
"Bukan itu, Mas. Astagfirullah! Aku perlu mandi dulu, kamu ini lho, Mas, masih pagi juga," gerutunya kesal.
Aku berdecak kesal. "Ya udah, sana mandi! Nggak usah lama-lama, kita perlu ngelanjutin yang tadi," kataku sambil berjalan meninggalkan kamar.
Adeeva tiba-tiba berseru kesal, "Mas!!"
Aku terkekeh sambil menolehnya. "Maksudnya obrolan kita, sayang, yang dilanjutin. Cuma semisal kamu pengen yang barusan banget dilanjutin, aku sih oke aja."
"Serah kamu, Mas!"
**Tbc,
mon maap, part sebelumnya gk aku kash judul gegera kelupaan ππππ kemarin mau aku revisi sih, tpi takut lama, ya udah aku biarin, eh, pas udh lolos akunya yg bingung mau ksh jdul apa. soalnya kan alurnya mulai melenceng dari outlite, gegara drama kmren π. periode ku udh selesai, semisal mau protes bisa skrng. tpi klo mau protes harus beserta ksh solusi ya, gk boleh protes trs akunya disuruh mikir sendiri. lah, klo jg gtu aku jg udh mkir sendiri kan, ngapain kau protes? iya kan?
udh, gitu aja. Moga-moga gk ada yg kelewat, review gk lama, dan typo masih bisa dimaafkan. trs kalo ada yg aku italic gk ilang. trs msh ada yg mau baca plus komen. Aamiin. π
See you next part, jangan lupa jaga kesehatan! π€πππππ
lup lup lup ππππππππππ**