
####
Akhirnya kami benar-benar pergi ke rumah sakit setelah adzan subuh berkumandang. Kami bahkan sempat salat berjamaah dahulu sebelum akhirnya pergi ke rumah sakit. Aku semakin khawatir melihat Adeeva dengan wajah pucat dan tubuh lemasnya.
"Kuat jalan?" tanyaku bersungguh-sungguh.
Adeeva terlihat sangat lemas karena habis muntah beberapa kali, ditambah dia yang kecapekan dan kurang tidur. Perpaduan yang sempurna, sehingga membuatnya terlihat seperti tidak sanggup berjalan dan seperti hampir pingsan.
Adeeva tertawa lirih. "Masih."
"Yakin nanti nggak tiba-tiba pingsan? Apa aku gendong aja?"
"Enggak. Enggak usah lebay deh," tolak Adeeva sambil memakai jaketnya.
Ia tersenyum dengan bibir pucatnya dan mengangguk, meyakinkanku kalau ia baik-baik saja. Tapi tetap saja, aku tak yakin kalau ia baik-baik saja. Ini bukan perkara berlebihan. Tapi masalahnya sekarang, Adeeva benar-benar terlihat pucat, dan aku benar-benar khawatir.
Setelah selesai memakai jaketnya, kami turun ke lantai bawah. Di bawah, kami berpapasan dengan Ibu.
"Loh, pada mau ke mana subuh-subuh begini?"
"Rumah sakit, Bu, Eva dari semalam muntah-muntah sama demam. Aku khawatir dia dehidrasi atau gimana, makanya mau aku bawa ke RS."
"Menantu Ibu ternyata lebih lebay dari dugaan Eva, Bu. Ah, jadi ngerasa nyesel kenapa aku nikahnya sama kamu, Mas," sahut Adeeva bergurau.
Aku dan Ibu langsung menoleh ke arah Adeeva dengan tatapan tajam kami, lalu Ibu mengomel.
"Kalau ngomong kok suka sembarangan! Tunggu bentar, kalian duduk dulu. Ibu ganti baju bentar, Ibu mau ikut."
"Ibu di rumah aja, Eva ada suami kan sekarang. Nggak usah ikut, lagian cuma mau periksa aja."
"Terus kalau kamu sudah punya suami, kamu bukan anak Ibu lagi, begitu?" balas Ibu kesal.
Aku menatap Adeeva sambil menggeleng. "Nggak boleh gitu dong," bisikku pada Adeeva.
"Tapi Ibu pasti kecapekan, Mas, mumpung ini masih subuh biar Ibu istirahat lagi aja. Kalau ikut kita, kan Ibu nggak bisa istirahat."
Benar juga sih perkataan Adeeva. Tapi, aku juga tidak enak kalau melarang Ibu ikut kami. Bagaimana pun juga, Ibu pasti khawatir dengan kondisi Adeeva yang terlihat pucat ini. Selelah-lelahnya seorang Ibu, kalau anaknya sakit, mana bisa istirahat dengan tenang?
"Ini beneran Ibu nggak boleh ikut?" tanya Ibu memastikan sekali lagi.
Dengan wajah yakinnya, Adeeva mengangguk. "Nggak usah, Bu, istirahat aja di rumah. Tidur. Nanti kita langsung pulang kok."
"Ya udah, kalau begitu hati-hati aja. Kalau ada apa-apa jangan lupa langsung telfon Ibu. Paham?"
"Iya, Bu, Ibu naik aja lagi ke kamar. Hari ini libur aja bangun paginya," ucap Adeeva sambil merangkul lenganku.
"Kita berangkat, Bu. Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam. Hati-hati!"
"Iya, Bu."
#####
"Jahat kamu sama mertua aku. Masa gitu sih?" protesku sambil memakai seatbeltku.
Adeeva melakukan hal yang sama. "Ibu cerewet, Mas, nanti pasti mau ngomel-ngomel. Kuping kita bisa panas dengerin ceramahnya, mending nggak usah diajak. Biar aku nggak makin pusing."
Aku kemudian mengulurkan tanganku dan menempelkannya pada dahi Adeeva. Masih panas. Aku menghela napas pendek.
"Tidur aja dulu, nanti kalau udah sampai aku bangunin."
"Hmm."
Aku kemudian menyalakan mesin dan mengemudikannya menuju rumah sakit terdekat. Begitu sampai, aku langsung membangunkan Adeeva.
Adeeva mengeliat, lalu membuka kedua matanya. "Udah nyampe?"
"Hmm. Langsung turun, yuk!" ajakku sambil membuka seatbeltku.
Kami kemudian langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam UGD. Adeeva langsung disuruh berbaring di atas brankar, lalu seorang perawat muda datang menghampiri kami untuk mengecek tekanan darah dan juga mengukur panasnya menggunakan termometer. Perawat muda ini cukup ramah, meski terlihat kelelahan dan sedikit mengantuk, ia tetap tersenyum ramah kepada kami. Tak lama setelahnya dokter menghampiri kami.
"Berapa tensinya?"
"90/20 dok, demamnya agak tinggi 39,6 derajat."
"Ini demamnya sejak kapan?"
"Kemarin pagi sih, dok."
"Sudah minum apa saja?"
"Paracetamol. Tiap abis minum turun, tapi abis itu tiba-tiba naik lagi."
Aku hanya diam saja mendengarkan. Perasaan bersalah tiba-tiba menghantuiku, aku bahkan baru tahu kalau Adeeva demam itu semalam.
"Diperiksa dulu, ya. Keluhannya apa saja?"
Dokter dengan perawakan tinggi putih ini langsung memeriksa Adeeva menggunakan stestoskop.
"Pusing sama mual."
"Muntah tidak?"
"Iya, muntah, dok, sampai tiga atau empat kali kalau tidak salah." Kali ini aku yang menjawab.
"Wah, sering juga, ya. Lemes, Mbak?"
"Lumayan."
"Mau saya kasih infus dulu satu kantong? Biar Mbaknya nggak dehidrasi, soalnya udah muntah lebih dari dua kali, terus Mbaknya juga keliatan lemes banget. Nanti kalau agak siangan dan petugas laboratorium udah dateng kita coba cek darah, biar sekalian. Buat jaga-jaga, kalau mau, kalau pun enggak, bisa langsung pulang. Gimana?" Dokter itu kembali mengalungkan stestoskopnya di lehernya.
Aku menatap Adeeva, meneliti wajahnya, apa memungkinkan dibawa pulang langsung atau tidak. Adeeva menggeleng tegas, menolak tawaran sang dokter. Tapi, aku merasa dokternya benar juga. Adeeva terlihat lemas, kasian kalau langsung aku bawa pulang.
"Iya sudah, gitu juga nggak papa, dok," kataku kemudian sambil mengangguk.
Adeeva jelas langsung memprotes, "Pulang aja lah, Mas, nanti Ibu nyariin."
"Nanti aku telfon Ibu. Dokternya bener, kamu keliatannya udah lemes banget lho, biar diinfus aja, cuma satu kantong terus pulang. Seenggaknya kamu nggak lemes-lemes amat, daripada nanti malah kenapa-kenapa gimana? Acara ngunduh mantu bisa keundur lho."
Dengan wajah cemberutnya, Adeeva menggurutu, "Kamu doa'in aku kenapa-kenapa?" tanyanya sengit.
"Ya, enggak gitu juga, sayang. Maksudnya, biar kamu cepet pulih gitu lho," kataku mencari alasan.
"Tapi kalau Mbaknya nggak mau juga nggak papa, Mas, nggak diharuskan kok. Saya hanya memberi saran," ucap dokter itu menengahi.
"Tuh, dokternya bilang nggak harus, Mas. Pulang aja deh, tidur di rumah sendiri itu lebih nyaman."
Aku menatap Adeeva galak. "Saran dari dokter lebih bagus, Adeeva. Mereka tahu yang terbaik buat pasiennya, kamu tinggal nurut aja."
"Mas," rengek Adeeva manja.
Kali ini aku mengabaikannya. "Sekali aja kamu dengerin aku kenapa sih? Aku suami kamu lho, masih mau ngebantah?"
"Sekali apanya?" Tiba-tiba Adeeva memprotes.
"Masih mau ngebantah?" Aku menatap Adeeva tajam.
"Enggak," balas Adeeva pasrah.
Dokter yang menangangi Adeeva pun tersenyum, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku snelli-nya dan memanggil salah satu perawat lain, karena perawat yang sempat menemaninya tadi mendadak harus ke toilet.
"Wan, pasang infus saline nacl, ya, di bed tiga! Kalau udah selesai jangan lupa kasih suntikan Metoclopramide 10 mg."
"Beres, dok. Siap, laksanakan!"
#####
Kami pulang setelah cairan infus Adeeva habis tanpa cek darah lebih dahulu. Kami tadi sempat debat karena hal ini, menurutku untuk berjaga-jaga lebih baik tes darah sekalian, mumpung kami masih di rumah sakit. Tapi, Adeeva dengan sifat keras kepalanya menolak keras untuk melakukan hal tersebut. Katanya ia belum membutuhkan tes darah karena demamnya baru mulai sejak kemarin pagi, belum lebih tiga hari. Kali ini Adeeva bersikekeuh untuk menolak tanpa bisa kubantah, alhasil kami langsung pulang setelah menebus obat.
Saat sampai di rumah, kami disambut Ibu dengan wajah paniknya. Beliau langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri Adeeva.
"Gimana kata dokter?" tanya Ibu khawatir.
"Enggak papa, Bu."
"Alhamdulillah, yuk, langsung masuk aja. Ibu bikinin bubur buat kamu," ajak Ibu sambil membimbing Adeeva masuk ke dalam.
"Mau di sini apa langsung ke kamar?" tawarku saat sampai di ruang tengah. Ibu sendiri sudah berbelok menuju dapur.
"Sini dulu, deh," jawab Adeeva sambil mendudukkan pantatnya di sofa.
Aku kemudian ikut duduk di sebelahnya sambil meletakkan plastik berisi obat dan kunci mobil.
"Mau--" Aku tidak jadi bertanya saat mendengar suara Ibu dari dapur.
"Va, air panas biasa apa teh?" tanya Ibu dengan suara sedikit berteriak.
"Air biasa aja, Bu," balas Adeeva ikut berteriak.
Kalau didengar dari nada suara barusan, sepertinya kondisi Adeeva sudah mulai pulih.
Ia menoleh sambil menyentuh lenganku. "Tadi kamu mau ngomong apa, Mas?" tanya Adeeva sambil meraih remote dan menyalakan televisi.
"Mau nanya yang Ibu tanyain tadi."
Adeeva ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. Tak berapa lama Ibu datang dengan nampan berisi mangkuk bubur, air putih dan lauk pauk.
"Sarapan dulu sana kamu, Ayahmu tadi sudah sarapan kok."
Aku tersenyum canggung. "Iya, Bu, nanti aja."
Ibu kemudian mengangguk maklum dan membongkar plastik obat dan membacanya satu persatu. Aku nyaris berpikir kalau Ibu dulu seorang apoteker karena pengetahuan beliau. Ibu bahkan tahu ada obat yang perlu diminum sebelum makan padahal aku belum memberitahu. Dengan cekatan ia membuka bungkusnya dan memberikan kapsul kunyah itu untuk Adeeva, meski awalnya Adeeva sempat menolaknya.
"Nanti aja, Bu," tolaknya tadi.
Ibu langsung melotot tajam. "Mau nunggu kapan? Mau dipelihara dulu itu penyakit? Biar tambah parah dulu," sindir beliau pedas.
Akhirnya dengan wajah pasrahnya, Adeeva menerima kapsul yang Ibu sodorkan lalu mengunyahnya perlahan.
Lalu Ibu kembali menggerutu, "Kalau nggak mau minum kenapa tadi dibeli?"
"Mas Arkan yang beli, Bu," jawab Adeeva dengan santainya.
"Kamu ini masih bisa aja jawab, itu buruan dimakan buburnya!"
"Enggak mau, Eva liatnya aja bikin eneg, Bu," rengek Adeeva menolak.
"Namanya mual ya, begitu, tapi tetep harus dipaksain dikit-dikit, biar nggak kosong perutnya."
Adeeva menoleh ke arahku, untuk meminta bantuan. "Mas!"
"Aku baru kemarin jadi menantunya, yang, mana berani ngelawan. Udah nurut aja dulu," bisikku pelan.
Adeeva langsung berdecak dan mengataiku payah.
######
Aku melirik ke arah jam dinding, waktu baru menunjukkan pukul setengah sebelas siang, tapi rasanya aku sangat mengantuk karena semalam tidak bisa tidur nyenyak. Ingin tidur, tapi di kamar sedang ramai dengan beberapa sanak saudara Adeeva yang sedang menjenguknya. Ingin ikut bergabung dengan mereka, tapi rasanya aku sangat ingin berbaring. Karena tak tahan, akhirnya aku memutuskan untuk ke kamar Ardian.
Ardian sedang sibuk dengan laptopnya saat aku ke kamarnya. Saat aku intip apa yang sedang ia kerjakan, ternyata ia sedang sibuk mengedit prewedding. Bukan fotoku dan Adeeva, tapi entahlah, aku tidak mengetahui itu foto siapa, mungkin milik salah satu kliennya.
"Gue numpang baringan bentar, ya?" tanyaku sambil duduk di tepi ranjang.
"Tidur juga boleh, Mas," balas Ardian tanpa menoleh ke arahku.
Aku mengangguk setuju dan mulai berbaring di atas ranjangnya. Saat aku hendak memejamkan kedua mataku, ponsel Ardian tiba-tiba berbunyi, membuatku tidak jadi memejamkan mata.
"Hmm," sahut Ardian seadanya, begitu sambungan terhubung.
"...."
"Enggak bisa, sibuk gue. Besok aja bareng gue."
"...."
"Ya, kan itu kemarin, sekarang udah beda hari, ya udah nggak berlaku lah."
"...."
"Bareng gue, tapi besok."
"...."
"Ada lah kerjaan, gue kan orang sibuk."
"...."
"Jam berapa?"
"...."
"Gue anter."
"...."
"Lo kan emang gitu, suka ngerepotin."
"...."
"Gue anter. Ketahuan berangkat sendiri gue botakin rambut lo!"
"...."
"Oke, gue ralat. Gue seret lo ke KUA."
Aku menatap Ardian serius. Kalau didengar dari interaksi keduanya, aku yakin yanh menelfon barusan gadis manis yang bernama Alin-alin kemarin.
"Siapa, Ar? Cewek lo?" tanyaku saat Ardian menyudahi sesi telfonnya.
Ardian kembali memfokuskan pandangannya pada layar laptop. "Bukan, Mas, temen. Yang kemarin itu lho."
"Itu cewek lo nggak papa lo giniin?"
Sebut diriku terlalu kepo dengan urusan adik iparku, tapi aku benar-benar ingin tahu. Interaksi keduanya benar-benar terlihat seperti orang berpacaran, bahkan kalau dilihat dari cara mereka memperlakukan satu sama lain, orang akan yakin kalau mereka berdua berpacaran. Tapi kenapa saat ditanya, mereka hanya berteman.
Ardian menoleh ke arahku dengan tatapan bingungnya. "Maksudnya?"
"Ya, gitu. Lo deket sama cewek, akrab banget lagi. Cewek lo nggak cemburu gitu?"
"Cemburu tanda cinta, Mas. Kalau cewek gue cemburu, berarti tandanya dia cinta sama gue," balas Ardian santai.
Aku tercengang. Kok jawabannya begitu amat.
"Ar, Kakak sama Ibu juga perempuan lho. Lo nggak bisa bersikap begini. Kasian cewek lo," kataku tidak terima. Menurutku Ardian sedikit keterlaluan, dan ini tidak benar.
"Ini pilihan dia sendiri, Mas. Selagi dia belum nyerah, dan dia sendiri nggak mempermasalahkan. Gue sih, enggak masalah."
"Maksudnya?" tanyaku bingung sekaligus penasaran.
"Kalau nggak bisa tidur di kamar gue, mending tidur di kamar tamu aja, Mas. Lebih tenang di sana," ucap Ardian, mengusirku secara tidak langsung.
Aku kemudian berdiri. "Sorry, gue pindah deh kalau gitu." aku mengusap tengkukku karena merasa tak enak, "sorry juga kalau tadi gue terlalu ikut campur."
Ardian tersenyum datar. "Santai aja, Mas. Udah biasa, lo bukan yang pertama."
"Oh, oke. Sorry deh sekali lagi," ucapku masih merasa tak enak.
Baru setelahnya, aku langsung keluar dari kamar Ardian. Ah, harusnya aku tidak terlalu ikut campur tadi.
**Tbc,
Hhhmm, aku mendadak kok kepo sama Ardian-Alin dan cewek Ardian ya πππ wakkasss, enggak bener nih. cabut aja mending saya. bye bye, see you next part
mon maap ya, klo isi partnya masih terasa hambar. belum dpt feel bagus soalnya ππππππ
ps:blom di edit, hehe, mon maap ya. peace βββ**