![Adi [AdinDa]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/adi--adinda-.webp)
"emang mau kemana sih bun? kok tiba-tiba gini."
"ke acara ulang tahun pernikahan temen ayah."
"temen kerja ayah bun?"
"bukan,"
"terus?"
"kalo gak salah teman ayah yang ini---, itu pengusaha gitu, pengusaha properti, itu loh din yang terkenal suka bangun perumahan sama apartement. siapa ya namanya, ahh... bunda lupa din."
"kata ayah, mereka itu sahabat sejak sma. dulu waktu kamu masih kecil, pernah ketemu sama dia, tapi udah lama banget kan, ya bunda juga udah lupa."
"terus kenapa dinda mesti ikut sih bun," protes dinda.
"kenapa gak ajak andra aja."
"katanya, temen ayah itu mau ngenalin anaknya sama kamu."
"whats....????"
"gak salah tu bun." dinda berteriak tak percaya.
"maksudnya, dinda mau di jodohin gitu bun?"
"mungkin," bunda menunjukan wajah tampak berpikir.
"bunda..." renggek dinda
"emang kamu ngarep di jodohin ya?"
"ya gak lah bun, siapa juga yang mau di jodohin, dinda masih kecil bun. lagian ini bukan cerita siti nurbaya bun, pake di jodohin segala."
"ya udah, lagian siapa yang mau jodohin kamu, kamu aja yang mikirnya gitu."
"bunda..." dinda merajuk
"bunda ngerjain dinda ya?"
"udah ah.. sana cepet ganti baju, udah bunda siapin, bunda taro di atas tempat tidur kamu.
nanti make up, bunda minta tolong tina aja."
÷÷÷÷÷
"adi, ada perlombaan balap," (dodi)
"dimana?" (adi)
"tempat biasa," (dodi)
"kali ini taruhannya gede," (dodi)
"berapa?" (adi)
"motor pembalap." (dodi)
"kapan?." (adi)
"besok malem," (dodi)
"nanti gue hubungin lu lagi," -adi)
"ok," (dodi)
"lu harus ikut di, ada dino." (dodi)
dinda mengepalkan tangannya, mendengar nama dino.
dinda masih ingat, dino pernah mengalahkannya, karena berbuat curang saat itu. sejak kejadian itu dinda memang menunggu waktu yang tepat kapan bisa membalas dino.
kali ini waktu untuk ngebales perbuatan dino, kalau taruhannya motor pembalap? maka motor dino tidak bisa di remehkan, bahkan cukup menggiurkan, motor sport keluaran terbaru, warna abu metalik. pasti harganya juga gak murah.
tapi waktunya mepet, lusa paginya dinda mesti berangkat study tour.
dinda memegang kepalanya, gak pusing, tapi lagi mikir, cara buat ikut balapan tanpa ketahuan ayah, dan motor siapa yang bisa di pake buat balapan??
gak mungkin pakai motor yang dari om bayu. ayah bisa tau, dipastikan titik duluan sebelum koma.
÷÷÷÷÷
dinda memakai baju yang di siapin bunda, dia melihat dirinya di cermin. gaun panjang tiga perempat, pas dengan tubuhnya yang jenjang, gaun berwarna cream dengan hiasan renda di list bagian bawah.
pasti efek gaun lebay ini, jadi otak gue buntu. rutuk dinda melihat dirinya di cermin.
bunda masuk ke kamar dinda bersama tina.
"wah, cantiknya anak bunda." puji bunda
dinda melupakan sejenak soal perlombaan balap itu.
"bun... yang bener aja, emang harus ya dinda pake baju kayak gini?"
"emang kamu mau pake celana jeans robek-robek mu itu untuk ke pesta," ucap bunda.
dinda tampak cemberut.
"non dinda cantik banget loh pake gaun itu, feminim banget non," puji tina dengan mata berbinar
dinda melotot ke arah tina, membuat tina langsung terdiam, menutup mulutnya rapat.
"tina, cepat tolong bantu dinda make up ya." perintah bunda. "tipis aja, biar keliatan natural."
"baik bu." jawab tina sambil menunduk.
÷÷÷÷÷
sepanjang jalan dinda hanya cemberut, dia merasa risih mengenakan gaun yang di pilihin bunda.
belum lagi rambutnya yang terurai, di blow ikal bagian bawahnya. buat dinda penampilan seperti ini hanya menyusahkannya saja.
kenapa perempuan mesti dandan kaya gini sih, laki-laki itu coba liat simple, pake celana sama jas, udah tinggal sisir rambut. gak perlu rambut di uwel-uwel kaya gini, dinda memelintir rambutnya sendiri. gak perlu pake bedak segala.
"jangan digituin dinda rambutnya," ucap bunda
"nanti berantakan lagi." bunda memperingatkan
berkali-kali dinda menghembuskan napasnya, melihat keluar jendela.
"kak....," andra menyenggol lengan dinda.
"kakak cantik tau kaya gini."
dinda langsung menatap andra tajam.
"tapi tetap wajah kakak galak," bisik andra di telinga dinda.
peletak, dinda menjitak andra.
"bun...." andra mengaduh dan merengek sama bunda.
"dinda.." bunda udah melotot.
"kenapa kepala adiknya di jitak?, kamu ini..."
"bun..." andra merengek, menyandarkan kepalanya dipundak bunda, dengan sayang bunda mengelus kepala andra.
"dih... manja amat, kaya bukan laki. lembek." maki dinda dalam hati.
÷÷÷÷÷
"selamat bram, makin harmonis ya." ucap ayah dinda.
teman ayah yang bernama bram itu berpelukan dengan ayah, terlihat mereka sangat akrab.
kalo dilihat, muka om bram seperti gak asing, pernah liat, tapi dimana dinda lupa. terus rambut om bram itu, mirip seseorang, "siapa ya??" dinda memperhatikan sekilas penampilan om bram.
sedangkan bunda cepika cepiki dengan istri om bram, tante sinta. langsung asik mengobrol berdua, entah apa yang di gosipin, hanya emak-emak yang tau.
" ini puteri mu?" tanya om bram pada ayah
"iya, ini dinda."
ayah menuntunku untuk mendekat. aku pun bersalaman dengan teman ayah. tidak lupa tersenyum, menunjukan kesopanan dan ramah tamah ku.
"wah, puteri mu cantik sekali, mirip seperti ibunya." ucap om bram.
bunda yang sedang asik mengobrol dengan tante sinta, langsung menagkap sinyal pujian.
bunda otomatis langsung sumringah menampakan senyum malu-malu meong.
"yang ini putera ku, andra."
ayah memperkenalkan andra pada om bram.
sama seperti ku, andra juga berlaku sopan dan ramah.
÷÷÷÷÷
mereka semua asik mengobrol, andra entah udah ngacir kemana, mungkin mencicipi satu persatu makanan yang ada.
sedangkan dinda, kasihan, seperti lampu taman, diam berdiri di samping ayah. tanpa tau harus ngapain.
melihat sekeliling gak ada yang kenal. lebih banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang seumuran ayah dan bunda.
"kamu tau dinda, dulu om terakhir melihat mu, kamu masih segini." om bram menunjukan tangannya mengukur sampai sedengkulnya.
"sekarang kamu udah jadi gadis cantik." puji om bram
dinda hanya tersenyum, membalas pujian om bram.
"oya, dimana anak mu bram?" tanya ayah
om bram melihat kesana kemari mencari anaknya.
"kemana tino, tadi dia di sini."
"mah, tino kemana?" tanya om bram pada isterinya.
"tadi katanya mau ke toilet pah, bentar lagi juga balik."
"anak muda, biasa kalo pesta orang tua kaya kita, mana betah mereka, banyak cari alesan buat menghindar." ucap om bram.
"tapi anak mu, kulihat sangat baik, mau mereka ya menemani kalian." om bram melihat pada ku.
bunda hanya mneyengir, kalo ayah jangan ditanya, wajahnya datar aja.
dinda juga terpaksa ikut ke pesta, kalo bukan karena ayah mana mungkin dinda rela pakai gaun pergi ke pesta kaya gini, alhasil dinda berada di sini sekarang. gerutu dinda dalam hati
÷÷÷÷÷
"nah itu tino, tino sini," om bram memanggil anaknya.
"kenalin ini sahabat papah waktu SMA, dan itu puterinya, dinda."
"tino???"
"dinda???"
mereka saling melihat, memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"gue gak salah liat nih???" (dinda dan tino tampak terkejut satu sama lain)
bedanya dinda masih menunjukan wajah yang biasa aja. sedangkan tino, sudah melongo, tampak terkejut sekaligus kagum.
"cantik ya..,??" om bram menaik turunkan alisnya, melirik pada tino
"i...iya.. pah, cantik....." jawab tino tanpa sadar sambil manggut-manggut.
"hei, son." om bram menepuk bahu tino.
"kedipkan mata mu dan tutup mulut mu, nanti lalat bisa masuk." om bram menggoda tino yang terpaku melihat cewek di hadapannya.
tino langsung tersadar, memperbaiki ekspresinya.
berdehem, pura-pura menghilangkan grogi.
astaga, kesambet apa gue, bisa jatuh pesona gue, kok sempat-sempatnya bengong kaya tadi. maki tino dalam hati.
"kenalan dong, kalo di lihat aja gak bakal kenal kan."
perintah om bram, menyenggol lengan tino
"aa.... i...iya pah." jawab tino tergagap
"kenalin gue tino."
tino mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan dinda, dinda membalas dengan mengulurkan tangannya, bersalaman dengan tino.
"dinda..."
"nah gitu, kalo udah kenalan kan bisa lanjut ngobrol, terus tukaran nomor hp." ledek om bram pada tino
yang di ledek malah tersenyum malu gak jelas.
tino masih menatap dinda, berkali-kali mlirik.
seperti biasa dinda hanya cuek gak mau ambil pusing.
"nak, sekarang kamu ajak dinda berkeliling. cewek cantik kok dianggurin." om bram memberi kode pada tino.
tino dan dinda sudah menjauh dari keramaian, mereka ada d ruang keluarga, di dalam rumah tino. untung pesta berada di taman belakang dekat kolam renang.
÷÷÷÷÷
"bram, bukannya kau punya dua putera?" tanya ayah
"ya, putera sulung ku terlalu sibuk dengan urusannya," jawab om bram sedikit ada rasa kecewa disana
"putera sulung mu sudah berkerja?" ayah bertanya lagi
"ya.. bisa di bilang begitu." om bram tampak enggan membahas putera sulungnya.
"kemarin dia kembali ke paris untuk menlanjutkan kuliahnya. biasalah mencoba bisnis kecil-kecilan."
"kurasa dia sama seperti mu bram." ucap ayah
"dulu kau dengan gigih membangun bisnis mu, hingga besar seperti sekarang. wajar saja anak mu mengikuti jejak mu. bukan kah buah jatuh tak jauh dari pohonnya."
om bram tertawa, di ikuti dengan ayah yang tertawa.