![Adi [AdinDa]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/adi--adinda-.webp)
aduh sampe lupa,... dinda ke dapur mencari tina.
"tina mana bi?" tanya dinda sama bi ijah.
"di belakang non, lagi nyiram taneman."
"kalo udah selesai tolong suruh ke kamar saya ya bi." perintah dinda
"iya non."
÷÷÷÷÷
"mak, tina udah selesai nyiram tanaman. tina mau mandi dulu ya mak."
"kamu di cari non dinda tuh, di suruh ke kamarnya, sana cepetan."
"entar aja mak, abis mandi aja. badan tina lengket, bau, mak."
"kamu gak bikin masalah kan sama non dinda?" selidik emak. "ya gak lah mak, paling non dinda manggil tina suruh beresin kamar."
"awas ya kalo kamu cari gara-gara sama non dinda, inget siapa kamu, dan emak." bi ijah memperingati tina.
"iya mak, tenang aja. tina ini tau diri kok mak, tina kan anak emak," tina menampakan senyumnya.
"udah kamu langsung ke kamar non dinda aja, nanti mandi nya." perintah emak.
"nanti non dinda kelamaan nungguin kamu."
"ishh.. nanti tina malah di usir mak, nemuin non dinda bau ketek kayak gini. non dinda kan gak suka bau. si non aja harum terus gitu sepanjang hari."
"ya udah, cepet sana mandinya. jangan nyanyi aja di kamar mandi, kasihan sama si beo, bisa sakit telinga denger suara kamu."
"idihhh... si emak, sungguh teganya, suara tina merdu kali mak, kaya diva internasional." tina berlalu menuju kamar mandi.
"oalah tina..tina.. ngayal kol ketinggian, nanti kalo jatuh sakit nduk."
÷÷÷÷÷
tok... tok....
"non, ini saya tina. non manggil saya?"
"iya tina, masuk. gak di kunci."
tina membuka pintu kamar dinda perlahan.
"ada apa ya non?" tanya tina.
"tolong obatin lagi luka gue tin. coba lu liat, udah mendingan belum."
"iya non." jawab tina.
tina melakukan apa yang di perintahkan dinda. dengan hati-hati tina mengobati memar di muka dinda.
"langsung make up aja tin, kaya tadi pagi, nanti takut ayah sama bunda lihat."
sambil melakukan keahliannya, tina merias wajah dinda, tina ingin bercerita kejadian di tempat kursus saat dia diantar dinda.
"non, tadi ada cerita lucu. boleh gak tina cerita." tina meminta ijin dinda.
dinda hanya menjawab. "hemm...."
tina melirik dinda dari cermin, dalam hati tina gak mengerti jawaban dinda yang hanya berdehem.
dinda sedang duduk besandar di kursi sambil memejamkan matanya, karena tina sedang memoles wajahnya.
"berdehem berarti iya kan. kalo non gak ngebolehin cerita pasti gak jawab hemm." pikir tina.
"tadi pas non anter tina ke tempat kursus, temen-temen di sana pada ngeliat non.
mereka pada kepo non, dikira mereka, non itu cowok tina. mungkin karena non pake jaket sama helm ya."
"tina udah bilang kalo non bukan cowok tina, eh... mereka gak percaya non. katanya kalo bukan cowok tina, masa peluknya erat banget."
"itu pasti gara-gara non ngerem mendadak, tina jadi kaget deh, terus gak sengaja meluk non."
"jadi lu nyalahin gue tin?" tanya dinda datar
"ee... enggak non, bukan gitu maksud tina." tina sudah merasa bersalah, karena salah ngomong. aduh... bisa direbus sama si emak, gue, kalo non dinda sampe marah.
"tina mana berani non, masa tina nyalahin non." ucap tina dengan suara memelas. "tina aja yang kampungan non, seumur hidup baru sekali itu naek motor bagus kaya gitu non."
"maaf ya non, tina aja yang ketakutan, abis non ngebut sih bawanya."
"tuh kan lu nyalahin gue lagi" ucap dinda menahan senyum di bibirnya.
"ee...enggak non, beneran tina gak nyalahin non."
aduh... ini mulut. tina memukul mulutnya sendiri pakai tangan beberapa kali.
"maapin tina ya non, tina salah ngomong, maklum non ini mulut tina gak pernah makan bangku sekolahan." ucap tina yang makin merasa bersalah.
"ngapain kamu makan bangku sekolahan, keras tin. emang kamu kuda lumping. enak juga makan nasi sama ayam goreng buatan bi ijah." ledek dinda.
ee... tina bengong sebentar. lantas sadar non dinda hanya bercanda. tina tersenyum.
"non bisa aja."
dinda tersenyum, karena udah ngerjain tina.
"non... tapi kalo non dinda ini cowok beneran, pasti banyak cewek yang pada ngantri ngedaftar jadi pacar. jangan kan jadi pacar, jadi gebetan aja udah seneng banget dah."
"ni ya non, kalo tina bayangin, wajah non ini cowok, wah... non ini cowok tampan seperti artis di tv itu non, kaya yang di sinetron emak suka tonton."
"apa lagi liat non bawa motor yang keren itu, ahh.. pasti cewek-cewek pada kelepek-kelepek non."
"tapi kalo di pikir, ahh... non, lebih tampan dibanding artis-artis itu, den andra aja tampan, apa lagi non kan.
udah gitu non kan suka olah raga, pasti kan kalo non cowok, badan non kotak-kotak tuh ya. kaya model yang suka jalan di atas panggung."
"terus, siapa itu temen non yang suka heboh, non salsa, wah... pasti dia orang pertama yang bilang suka sama non. non salsa bisa ngikutin kemana pun non pergi. kerjanya pasti gelayutan aja."
tina cekikikan sendiri dengan khayalan dikepalanya.
"iya kan non???" tanya tina meyakinkan apa yang di ungkapkannya.
celetak.., dinda menyentil jidat tina dengan sisir.
"jangan kebanyakkan ngayal tin."
"aduhh..." tina memegang keningnya.
ini mulut emang harus di plester biar diem. harus cepetan kabur nih.
"udah selesai non," tina memberitahu kalo riasan menutupi lebam di wajah dinda sudah selesai.
"ada gunanya juga ya tin kamu kursus merias." ucap dinda. tina hanya tersenyum.
"tina permisi ya non, mau bantu emak nyiapin makan malem."
dinda mengangguk.
sebelum keluar kamar dinda, tina mebalikkan badan muncul sedikit kepalanya di depan pintu.
"ee... non... tapi non gak marah kan." tanya tina takut.
"marah?? marah kenapa??"
"itu yang tina cerita tadi, yang non... bilang---- tina nyalahin non."
"gak tina.."
"terus yang tina--- bayangin non jadi cow---"
"gue gak marah. tapi kalo lu masih nanya lagi, gue berubah pikiran nih." ucap dinda tegas.
"hehe, sekali lagi maaf ya non." tina langsung ngacir dari hadapan dinda.
÷÷÷÷÷
****Pesan WhatsApp****
adi, lu lagi apa? jadi ngumpul di rumah wayan kan? jemput gue ya di, please... adi baik deh. (salsa)
supir lu kemana? (adi)
sakit gigi, jd gak masuk. (salsa)
30 menit lagi gue otw. (adi)
"chat sama siapa kamu?" tanya mama salsa
"adi, mam"
"siapa itu adi? mama baru denger"
"eh.. maksud salsa dinda."
"boong ya kamu sa?"
"gak mam, nanti mama liat aja, yang jemput salsa si dinda."
÷÷÷÷÷
tin..tin..
suara klakson motor dinda. dinda sudah di depan rumah salsa.
"mam, salsa pergi dulu ya, mau ke rumah wayan, bahas study tour." pamit salsa
"itu si adi udah jemput, eh.. dinda maksudnya mam."
"teman kamu sudah datang?" tanya mama
"udah tu di depan," tunjuk salsa ke arah gerbang rumah
"kamu boongin mama ya," mama menjewer telinga salsa.
"aduh.... sakit mam. salsa boong apa sih mam?"
"itu yang di depan siapa?"
"itu si dinda mam," sambil megangin kuping yang di jewer mama.
"dinda apa adi???" tanya mama
"sama aja kali mam."
"apa yang sama?"
"nama si dinda kan adinda, klo di sekolah itu di panggilnya adi mam." jelas salsa
"masa nama bagus gitu dipanggil adi?" protes mama
"ya gak tau lah mam, orangnya yang minta di panggil gitu."
"udah ahh.. mam salsa berangkat dulu."
salsa mencium tangan mama, dan kemudian mencium pipi kanan dan kiri mama.
÷÷÷÷÷÷
salsa memakai helm yang di berikan dinda.
"tadi kata wayan yang lain udah pada dateng di," salsa memberitahu.
seperti biasa dinda mengendarai motornya ngebut, membuat salsa menciut ketakutan.
salsa yang tadi hanya memeluk pinggang adi, jadi mengeratkan pelukannya, memeluk erat dinda dari belakang.
saat di lampu merah, salsa tak melepaskan pelukkannya, malah menyandarkan wajahnya di bahu dinda, sambil memejamkan matanya.
ada pengendara motor disebelah dinda, yaitu sepasang suami istri yang terlihat lebih tua dari orang tuanya. langsung berkomentar melihat salsa yang memeluk dinda dari belakang.
"bu itu loh lihat, cewek itu meluk cowoknya erat banget. mbok ibu meluk bapak kaya gitu toh."
"bapak ini wes tua, masih aja genit.
mereka ya wajar mesra begitu, wong anak muda.
dulu juga waktu kita muda, naek motor pelukan gitu."
"emang kalo udah tua gak boleh pelukan bu?"
"malu sama cucu pak. sing waras pak."
begitulah kira-kira yang dinda dengar dari kedua orang tua itu.
dinda mengedarkan pandangan kepada pengendara yang lain, dari yang dinda lihat, ada yang berbisik sambil melihat ke arahnya, ada yang senyum-senyum, ada juga yang terlihat tidak suka dengan membuang wajah mereka.
÷÷÷÷÷