Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode TIGAPULUHTUJUH



Pesan WhatsApp


"adi....., coba tebak gue dapat apa?" (angel)


"emas" (adi)


"kok tau?" (angel)


"keliatan dari muka lu seneng banget" (adi)


"idih si adi becanda kali ya, gue kan chat sama dia, gimana bisa tau muka gue seneng. di kiran vidio call kali." dumel angel di sebrang sana.


"dari mana tau gue lagi seneng?" (angel)


"tau lah, soalnya besok ada yang mau traktir gue jalan-jalan sama makan" (adi)


"hahahah.... masih ingat ya, kirain lupa" (angel)


"gak bakal" (dinda)


"besok pulang sekolah gue jemput" (dinda)


"baiklah, gue traktir sampe kenyang :-)" (angel)


÷÷÷÷÷


Nelpon Andra


"dek gue udah depan sekolah lu"


"iya kak, ni lagi beresin buku"


"cepetan gak pake lama, gue tinggal nih"


"iya, udah kaya bunda aja, bawel"


÷÷÷÷÷


"tina kemaren ngapain lu di klinik?" tanya teman tina. mereka lagi kumpul di tempat kursus.


tina yang di tanya malah mikir.


"kemaren gue sempet liat lu di klinik, tapi gue gak sempet negur lu, soalnya buru-buru."


"owgh itu, gue nemenin anak majikan gue berobat."


"yang waktu itu nganterin lu naek motor keren?"


"ehehhh..."


"gue kira lu yang sakit, anak majikan lu gak ngapa-ngapain lu kan?" tanya teman tina kelewat kepo.


"ya gak lah, gila aja lu pada"


"tin beneran anak majikan lu gak suka perempuan?" tanya teman tina sedikit ragu.


"ya iya lah, non dinda masih normal kali, masa suka perempuan"


"tadi lu bilang apa tin??? non???"


"iya non dinda, kenapa? ooooooo.......?????? lu kira anak majikan gue laki ya? dasar otak lu ngaur"


teman tina hanya nyengir, merasa selama ini salah sangka. mereka kira anak majikan tina itu seorang lelaki.


"tin tapi kalo naek motor kaya waktu itu gak keliatan kaya perempuan ya"


"iya emang, non dinda itu tomboy, tapi kalo pake baju cewek cantik banget tau. udah ahh... kepo banget sih kalian, gue mau balik dulu, dah sore"


÷÷÷÷÷


hari ini dinda meminta mang bowo untuk menjemput andra sejam sebelum andra pulang sekolah. dinda harus memastikan adiknya baik-baik saja.


dinda dan angel pergi jalan-jalan setelah pulang sekolah. mereka pergi ke wahana permainan. setelahnya mereka pergi makan.


"gel, lu kenal orang yang namanya angga? angga sanjaya?" tanya dinda pada angel saat mereka sedang makan di cafe.


"kenal lah, tetangga gue. lu pernah ketemu dia kok" ucap angel.


dinda tampak berpikir, "kapan?" tanya dinda.


"waktu lu jemput gue pas mau ke bandara"


dalam hati dinda baru ingat, pantas saja wajah angga seperti tidak asing. tapi yang masih menjadi tanda tanya besar buat dinda adalah kenapa angga begitu tidak menyukai dirinya.


"woyy... kok jadi ngelamun di? si angga itu kakaknya cinta, kan waktu itu lu juga pernah jemput adik lu andra di rumah angga." anggel masih menjelaskan, sedang dinda masih berpikir.


"kenapa sih emangnya di? lu ada masalah sama si angga? apa si angga yang bikin masalah?" tanya angel sambil menyeruput jus strawberry.


"hemmm" dinda hanya berdehem.


"terus???"


"dia gebukin adek gue, andra."


"hajar balik aja di" ucap angel santai.


"udah" jawab dinda enteng.


awalnya angel sedikit terkejut, tapi karena dia mengenal dengan baik sifat dinda, akhirnya angel biasa aja.


"bonyok gak?" timpal angel masih santai.


"lumayan lah, rumah sakit mungkin" dinda mengangkat bahunya.


sebelum jam enam dinda dan angel sudah kembali ke rumah masing-masing.


bagaimana dinda dan angel tidak cocok, mereka sama-sama jago bela diri, cuek, dan tidak ambil pusing sama urusan yang ada. namun memiliki rasa perduli dan setia kawan yang tinggi.


÷÷÷÷÷


setelah sampai di rumah dinda menemui andra. "dek si angga dan teman-temannya gak ganggu lu lagi kan?" tanya dinda.


"gak kak, mereka udah dua hari ini gak masuk" andra memberitahu.


"nanti kalo mereka masih nganggu lu, bilang ke gue, jangan diem aja kaya kemaren, denger lu" dinda memperingati.


"iya kak".


setelah memastikan adiknya baik-baik aja, lantas dinda pergi menuju kamarnya untuk mandi.


"non" panggil tina.


"ngapa tin?"


"ada paket buat non" tina memberitahu.


"paket dari siapa?" tanya dinda.


"gak tau non, paketnya gede banget"


"ya udah nanti abis mandi gue lihat"


÷÷÷÷÷


dinda turun ke lantai bawah untuk melihat paket yang tina bilang tadi.


"iya non"


"apaan nih? gede amat, siapa yang ngirim???" tanya dinda dalam hati.


walau sedikit ragu dengan paket yang ada di depannya tapi dinda tetap membuka paket tersebut. paket itu diikat oleh sebuah pita merah, kemudian di lakban atasnya. kardus besar tapi ada lubang-lubang kecil di sisi kiri dan kanan seperti buat udara.


dinda memperhatikan paket itu, melihat bolak balik, tapi tidak ada nama pengirim di paket itu.


dinda sudah membuka tali pita pada paket itu. ketika dinda ingin membuka lakban, dinda mengurungkan niatnya.


"tin... tina...." panggil dinda.


tina segera memghampiri dinda. "ada apa non?"


"jam berapa paket ini sampai?"


"sekitar jam 5 sore non"


"siapa yang nganter paket ini?" tanya dinda dengan wajah serius.


"kurir non"


"pakai baju seragam kurirnya?"


"emmm.... orangnya pake kemeja putih terus pake topi"


dinda makin curiga, jangan-jangan isi paketnya --------???????


"oya non, di punggung dan topi kurirnya ada tulisan peres pruuit" ucap tina belibet. (aslinya tertulis fresh fruits).


kecurigaan dinda menghilang, diganti bingung dan heran. pasalnya kata yang tina sebutkan tadi adalah sebuah supermarket besar yang khusus menjual buah segar.


"ambil gunting tin" perintah dinda.


tina mengambil gunting, dan memberikan pada dinda.


dengan cepat dinda membuka kardus besar itu.


kening dinda berkerut melihat isi kardus tersebut. sedang tina malah berbinar senang, pasalnya tina tidak pernah melihat buah sebanyak itu.


"wuahhhhh.... banyak banget non, seger-seger lagi" ucap tina senang.


"siapa yang ngirim ya tin? apa teman ayah ya tin?" tanya dinda agak bingung.


"gak mungkin teman bapak, non. kan kurirnya tadi bilang ini paketnya buat adinda cinderella. gitu katanya non." tina menirukan ucapan kurir saat menyebut nama dinda.


dinda menghela napasnya, saat mendengar kata cinderella, dia tau betul ini ulah siapa ini. dinda pun teringat ucapannya kemarin kepada babas.


"ini pasti kerjaan si gerandong" gumam dinda.


notifikasi hp dinda berbunyi, ada pesan wa masuk. dinda membuka aplikasi wa dan melihat dari siapa pesan itu.


Pesan WhatsApp


"Babas"


"hemmm.... panjang umur nih anak". lantas dinda membaca pesan wa dari babas.


"jadi gue udah di maapin kan di?" (babas)


dinda hanya membaca dan tak berniat membalasnya.


tak lama babas malah menghubungi dinda melalui vidio call. dengan malas dinda mengangkatnya.


"hai ayang cinderella" sapa babas nyengir sambil lambaikan tangan.


"hemm" hanya itu tanggapan dinda.


"gimana? anggurnya udah nyampe kan" tanya babas


"udah"


"jadi gue udah di maapin kan?"


"hemmm"


"co cuittt... banget cih ayang cinderella, wajahnya biasa aja dong, seneng banget ya dapet anggur dari pangeran"


tutttt.... dinda mematikan vidio call babas.


babas yang di sebrang sana malah tertawa terbahak. menurut babas, wajah dinda yang marah dan jutek sungguh menggemaskan.


"astaga mikir apa sih gue" babas melempar hp ke atas tempat tidur.


÷÷÷÷÷


tengah malam lagi pulesnya tidur, dinda diganggu dengan suara hpnya yang terus saja berbunyi. dinda mengabaikan dan malah menutup telinga dengan bantal. tapi hp dinda tak berhenti berbunyi. dengan kesal dinda melempar bantal.


"siapa sih yang ganggu malem-malem gini." geram dinda.


dinda meraih hpnya. "hallo" ucap dinda marah.


"adi, syukur lu ngangkat. di cepetan ke sini. dodi kecelakaan" ipul memberitahu dengan panik.


dinda langsung membuka matanya, melihat jam di dinding kamarnya. jam 2 pagi.


seakan seluruh nyawa sudah terkumpul di badan dinda, langsung mengambil segelas air di atas meja, meminumnya.


"dimana?" tanya dinda tegas.


"di rumah sakit bla....bla....bla...." jawab ipul cepat. kemudian panggilan itu berakhir.


dinda mengganti pakaiannya. mengambil kunci motor dan langsung pergi menuju rumah sakit. walau ada insiden sedikit tadi dengan satpam rumah. tapi akhirnya dinda bisa pergi juga.


÷÷÷÷÷


ketika melihat dinda, ipul segera berlari menghampiri.


"gimana keadaan dodi?"


"gak tau di, masih di dalem ditangani dokter"


dinda mengusap wajahnya kasar. ada kesal, cemas, marah, dan campur aduk semuanya. tapi dinda berusaha untuk tenang. dinda duduk di kursi panjang yang ada di lorong rumah sakit. ipul mengikuti.


"gimana ceritanya" tanya dinda datar.


"dodi ngotot ikut balapan, padahal gue udah ngelarang dia. pas di arena motornya selip, terus terguling, dodi pingsan makanya gue bawa ke sini." ipul menceritakan.


"balapan???" dinda terlihat kesal.


"iya di, balapan yang waktu itu dodi kasih tau ke lu, tapi lu bilang gak mau ikut"


"emaknya dodi udah tau?"


"belum di" jawab ipul lirih.


"nanti aja kasih taunya, tunggu kabar dari dokter"


dinda dan ipul masih menunggu dokter keluar dari ruangan dimana dodi di periksa.


tak lama dokter keluar, memberitahu keadaan dodi. dokter mengatakan bahwa dodi baik-baik saja, hanya luka ringan.


tampak dinda dan ipul merasa lega.