Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode DELAPAN



dinda menghembuskan napasnya. melirik dari spion motor ke arah salsa.


mendengus kesal, pantes aja lah ibu bapak tadi ngomong kaya gitu, si salsa udah kaya lintah meluknya lengket amat.


dinda menepikan motornya, "sa.. salsa..." panggil dinda sambil menggoyangkan bahunya, agar salsa membuka matanya.


"udah sampe ya di?" tanya salsa dengan wajah yang masih ketakutan.


"lah, ini dimana di? kok kita berhenti di sini? kita kan mau ke rumah wayan di, rumah wayan masih jauh di."


"lu lepasin dulu ini tangan lu," dinda melihat tangan salsa yang memeluk pinggangnya.


salsa melepaskan pelukkannya, menegakkan badan agak sedikit menjauh dari dinda.


"udah, ngapa di?"


dinda membuka helmnya, untuk bicara sama salsa.


"lu bisa gak, pegangannya biasa aja. jangan meluk gue kaya gitu," dinda memberitahu.


"lah emang kenapa di??? gue kan cuman takut jatuh, lu bawa motor kaya pembalap gitu." protes salsa.


"lagian kita sama-sama cewek kali di, mana berasa gue meluk lu. kalo yang gue peluk ayang james iya juga, pasti deg... deg... ser... jantung gue."


salsa membayangkan kalo dia naek motor diboncengin james.


"jangan-jangan lu..... ad-----"


dinda menjitak kening salsa.


"auch.. sakit adi... jahat buanget sih, nanti kalo benjol gimana, gue gak bisa tebar pesona lagi." omel salsa.


"gue juga tau sa, kita sama-sama cewek, lagian gue masih demen laki kali sa. cuman kan orang ngeliat kita gak gitu."


"terus????", salsa menunjukan wajah penuh tanda tanya


dinda jadi teringat perkataan tina, soal mengatakan kalo dia seandainya seorang cowok.


"argghh..." dinda menggelengkan kepalanya.


"emang lu gak denger kata-kata ibu bapak di lampu merah tadi." tanya dinda.


wajah salsa menunjukan ekspresi makin bingung.


dinda mulai kesal ngomong sama salsa, lama bener nyambungnya. dinda menghela napasnya.


lantas dinda menceritakan kronologis di lampu merah tadi.


________________________________


"bu itu loh lihat, cewek itu meluk cowoknya erat banget. mbok ibu meluk bapak kaya gitu toh".


"bapak ini wes tua, masih aja genit.


mereka ya wajar mesra begitu, wong anak muda.


dulu juga waktu kita muda, naek motor pelukan gitu".


"emang kalo udah tua gak boleh pelukan bu?"


"malu sama cucu pak. sing waras pak".


"pengendara lain ada yang berbisik sambil melihat ke arah kita, ada yang senyum-senyum, ada juga yang terlihat tidak suka dengan membuang wajah mereka".


__________________________________


salsa tertawa terbahak-bahak, mendengar cerita dinda.


"ck.. kok lu malah ketawa sih." dinda merasa kesal.


"lu ini di, kaya gitu aja di masukin hati, cuekin aja napa, mereka kan cuman ngeliat dari luar aja. mereka gak tau sebenarnya, makanya mereka kaya gitu."


"lagian tumben lu peduli, biasanya juga lu cuek aja, gak pernah peduli orang ngomong apa, apa lagi ngomong yang gak penting kaya gitu." ucap salsa mengingatkan sikap dinda selama ini.


dinda tampak berpikir, bener juga yang di bilang si salsa.


dinda adalah orang yang cuek, dan gak perduli orang ngomong apa, yang penting dia gak melakukan kesalahan atau merugikan orang lain.


bahkan orang jungkir balik di depan dia pun, kalo bukan urusannya dia gak akan mengambil sikap, kecuali itu sudah mengusiknya secara langsung, atau harus menolong orang yang tertindas.


"udah,... bengong lagi. buru lah berangkat, yang lain pasti udah pada nungguin." ucap salsa.


dinda kembali melajukan motornya, tapi dia gak ngebut lagi, dia melaju dengan kecepatan sedang.


dengan begitu salsa gak merasa takut, dan tidak memeluk seperti tadi. pikirnya.


ternyata benar, salsa gak ketakutan kaya tadi. bahkan duduk tegak memegang bahu dinda, sambil melihat pemandangan jalan raya.


÷÷÷÷÷


"dari mana aja sih lu pada, baru nyampe jam segini?," cerca babas yang melihat dinda dan salsa baru sampe rumah wayan.


"ni si adi, bawa motor kaya bawa becak." ledek salsa


dinda otomatis langsung membelalakkan matanya, merasa tidak terima di fitnah dengan kejam oleh salsa.


dinda memberikan tatapan tajam sama salsa.


salsa malah melengos, sambil senyum-senyum


"di???" babas menunggu penjelasan


adi yang dikenal, gak mungkin bawa motor kaya bawa becak. bahkan kalo udah dijalanan pembalap internasional bisa di sainginya.


"ya elah bas, lu percaya ama si salsa, sama aja lu percaya dengan omongan nitizen. pedes cabe aja kalah pedes sama mulut si salsa." umpat dinda


hahaha, babas tertawa ngakak sambil memegang perutnya.


"iya bener lu di, pedes banget, nyampe buat sakit perut, terus moncrot-moncrot."


"rese lu bas," salsa melempar babas pake bantal. yang langsung di tangkep sama babas. "eits... gak kena," "we...." babas mengejek salsa.


"ishhh udah si bas, gak ada lawan imbang tah, ribut sama cewek terus." abi menengahi.


lyli dan wayan hanya tertawa melihat tingkah babas dan salsa. kalo james jangan di tanya, sedang asik sama hpnya.


÷÷÷÷÷


"bas mending lu gak usah ikut aja deh study tour," ucap salsa. "alesan apa kek sana. kucing lu lahiran tah, tetangga lu lagi bangun rumah tah, satpam lu lagi mencret tah, apa kek, pokoknya lu gak usah ikut." sahut salsa


haha, babas ketawa. yang lain memandang salsa bingung. padahal dia yang kemaren bilang semua harus ikut. dan mengancam awas aja kalo gak ikut.


"cih... pede abizzz lu dekil..." ejek salsa.


"gue gak butuh lu, kan udah ada----" salsa mengedipkan mata ke arah james.


james gak menanggapi, tetap asik dengan ponselnya.


babas ketawa makin kencang.


"mungkin bedak lu kurang menor sa, jadi doi gak ngelirik." ledek babas.


"masa sih bedak gue kurang menor? perasaan udah dandan total gini." ucap salsa dalam hati.


"udah lah, kita mau ngebahas apa nih." ucap abi.


"wayan, lu gimana, udah bilang ama ortu lu mau pergi study tour?." tanya abi.


"beres, gue dah telepon mereka semalem."


"ya udah berarti yang lain pada beres semua ya sama ijin. lu adi??"


yang lain menatap ke arah dinda, menunggu jawaban.


"adi... jangan bilang ayah lu gak ijinin." lyli langsung protes.


mereka semua tau bener ayah dinda itu super duper ketat soal peraturan, dan tegas. sekali ngomong tidak berarti tidak. tidak bisa terbantahkan.


dinda sendiri jadi taat sama peraturan, dia gak bakal melanggar, karena sudah tau hukumannya apa, kecuali gak ketahuan. itu lain hal.


dinda menunduk, melirik teman-temannya, wajah mereka pada tegang menunggu jawaban dinda.


dinda tersenyum, "beres guys..."


mendengar itu, semua bernapas lega.


"gue kira lu gak dibolehin ayah lu di," keluh lyli


"kalo gak ada lu gak asik nanti di." ucap wayan


"iya bener gak asik," jawab james yang masih tetap fokus pada ponselnya.


"nyaut juga lu james, gue kira lu molor." ledek babas


"gue udah bilangkan, kalo adi gak ikut, gue males ikut." ucap james tetap fokus pada hp.


"iya.. iya.. kita pada tau kok, klo lu ekor si adi." sahut babas


÷÷÷÷÷


****Pesan WhatsApp****


"dinda pulang sekarang, ayah lagi di jalan udah arah pulang." (bunda sayang)


"iya bun." (dinda)


"gerak-geriknya mau balik duluan nih," ucap lyli yang melihat dinda bangun dari duduknya setelah membaca pesan dari bunda.


"biasa bunda, nyuruh pulang." jawab dinda.


"masa anak lanang pulang cepet din, masih sore nih." ledek salsa sambil mengedipkan mata.


"ngapa mata lu, bintitan sa." sahut babas


"mulut lu tuh bas kutilan." balas salsa


james menghentikan kegiatan bermain hp, dia memasukan ponsel ke saku celana. lalu bangun dari posisi tidurannya.


"adi..., nih ekor lu dah mau ikut." teriak babas


"siapa ekor??" tanya james


"ya lu lah," jawab babas


"gue haus yan, dikulkas lu ada minuman apa?" tanya james.


"liat aja sono, kalo gak ada apa-apa, itu air keran banyak." sahut wayan.


"lumayan lah, dari pada mati kehausan kan." sahut james.


babas dan wayan saling liat. mereka menepuk jidat. james jangan di lawan. sahut mereka bersamaan, lantas tertawa dan tos lima jari.


÷÷÷÷÷


"ayah belum pulang kan bun?" tanya dinda yang baru sampe rumah.


"belum," jawab bunda.


tin..tin.. "nah itu dia ayah pulang."


"panjang umur si ayah, baru di omongin udah nongol.


udah sono naik, mandi." perintah bunda.


÷÷÷÷÷


"bunda, udah ngomong sama dinda kita mau pergi ke acara yang ayah bilang tadi pagi?"


bunda tersenyum, "belum yah, bunda tadi banyak kerjaan, lupa deh yah."


"dinda dimana?" tanya ayah


"itu di kamar yah, kayanya lagi mandi."


"ya udah, ayah mau mandi dulu, nanti biar ayah yang ngomong sama dinda."


"iya yah."


"ada apa yah, kata bunda ayah mau ngomong ya?" tanya dinda yang sudah duduk di sofa berhadapan sama ayah.


ayah menutup koran yang dibacanya.


kamu siap-siap nanti malam ikut ayah sama bunda ke acara teman ayah." perintah ayah.


'tapi yah, din----"


ayah sudah menatap dinda tajam.


"iya, nanti dinda ikut." jawab dinda pasrah.


udah tau ayah gak bisa di bantah, masih pake ngucap tapi, sia-siakan. dumel dinda dalam hati