![Adi [AdinDa]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/adi--adinda-.webp)
pesan WA
"adi, lu dimana? ada masalah sama ipul. cepet lu ke sini ya." (Dodi)
"kenapa lagi tu anak." ucap dinda dalam hati saat membaca pesan dari sahabatnya yang lain.
"setengah jam lagi gue otw." (adi)
saipul (ipul) dan dodi adalah sahabat dinda yang lain, tidak satu sekolah dengan dinda.
ipul sebenarnya anak panti. dodi teman dinda sewaktu duduk di bangku sekolah dasar. saat ini dodi satu sekolah dengan ipul.
÷÷÷÷÷
"guys gue cabut dulu ya, ada urusan bentar." ucap dinda pada sahabatnya.
"mau kemana lu, baru juga nongkrong sebentar. maen cabut aja. cabut singkong." ucap babas.
dinda mentoyor kepala babas. "mulut lu mao gue semen."
"dih perempuan galak amat, laki mana yang mao deketin lu adi. makanya ubah tu nama, perempuan kok nama adi." celetuk babas.
"namanya adinda, bas. cewek banget gitu." jawab abi.
"gue ikut lu ya." jawab james.
"lah si james malah ikut si adi. ngapain sih lu kerjanya nempel sama adi terus?" tanya babas
dinda melempar bantal ke babas.
"woy... muka ganteng gue nanti rusak, maen lempar aja." protes babas.
james sudah menghentikan permainan game di hp, memasukan hp ke kantong celananya.
"ngekor aja sama si adi, udah kaya kembar gencet lu bedua. awas nanti dikawinin." ledek babas.
dinda sudah melotot. menarik kerah baju babas, mengepal tangannya, "lu mau yang kanan apa kiri?" ancam dinda.
"kiri, rumah sakit."
"kanan, kuburan."
"buegh... sabar di, gue kan cuman becanda." ucap babas yang ketakutan liat dinda marah.
dinda melepaskan babas, lalu pergi bersama james.
÷÷÷÷÷
"james lu bawa apa? motor?, mobil?" tanya dinda.
"motor di." jawab james sambil menunjuk motor sport warna merah.
"mana kuncinya?" tanya dinda
james memberikan kunci motor pada dinda.
dinda mengambil kunci motor itu.
"biar gue yang nyetir." ucap dinda.
"oke." jawab james.
dinda memang mahir mengendarai motor dan mobil, bahkan diem-diem dia pernah ikut balapan liar. tentu tanpa sepengetahuan keluarganya. apalagi ayahnya, bisa di gantung di tiang bendera depan rumah kalo sampe ketahuan.
dinda memakai jaket hitamnya, kemudian memakai topi kupluk menutupi rambut panjang yang di kuncirnya.
"buru james, lama banget."
"dompet gue gak ada di," ucap james.
"gak bawa kali lu."
"iya kali ya, gue lupa."
"ya udah, ayo lah berangkat." ajak james.
dinda menyetir motor dengan kecepatan sedang.
"adi, lambat amat nyetir motornya." ucap james.
kayak naek delman gue.
"berisik." ucap dinda.
dinda tancap gas, dengan kecepatan tinggi.
kemudian tiba-tiba menurunkan kecepatannya, melambat dan jalan di pinggir.
james yang sedari tadi ketika dinda ngebut sudah mencengkram jaket dinda, menahan napas karena sedikit takut. padahal james sudah sering diboncengin dinda.
"kok ngelambat." tanya james.
"ya lu, ngapain pake pegangan. takut lu?" tanya dinda
"sa..sapa yang takut." ucap james agak gemetar.
"ya udah lepasin jaket gue." ucap dinda.
"ya elah, gak sengaja tadi gue cuman pengen numpang ngelap doang." jawab james ngeles.
dinda hanya mendengus kesal. kemudian tancap gas lagi membelah jalanan.
÷÷÷÷÷
"adi,.." teriak dodi yang melihat dinda turun dari motor serta membuka helm.
"ada apa sama ipul, dod?" tanya dinda.
dodi melirik pada james. lalu melirik pada dinda.
dinda tau maksud dodi. "tenang, ini james, sahabat gue. dia aman, gue jamin." ucap dinda.
james mengulurkan tangan pada dodi, dan di balas oleh dodi.
dodi membisikan sesuatu ke telinga dinda.
dinda terkejut bukan main saat mendengarnya. matanya sudah akan keluar dari tempatnya, tangannya mengepal geram.
"dimana ipul?" tanya dinda.
"di dalem," jawab dodi.
mereka menuju ke dalam panti untuk menemui ipul.
james mengikuti di belakang dinda.
ipul terbaring lemah di atas tempat tidur. mukanya babak belur penuh luka. dinda sudah makin panas dengan amarah melihat keadaan ipul seperti itu.
"siapa?" tanya dinda pada ipul dan dodi
"Tio sama anak buahnya." jawab dodi.
"udah di obatin di, nanti juga sembuh." jawab ipul.
"lu tenang aja gue pasti bales mereka. cari mati mereka berani mukulin lu." ucap dinda yang menahan emosi.
"gak usah di, jangan lu bales. kalo di bales nanti gak ada berhentinya."
"kalo kita gak bales, mereka pikir kita pengecut pul. lu tenang aja, gue janji gak bakal rusuh. bakal gue bikin si tio patah tulang."
james yang berdiri tak jauh dari dinda, hanya bisa mendengarkan, dia tidak mengerti apa yang terjadi. tapi tampak wajah james biasa saja, saat mendengar kata-kata dinda.
mungkin karena james belum pernah melihat dinda yang sebenarnya.
"dod, siapin nanti malem." ucap dinda
"oke di." jawab dodi
"pul, lu istirahat aja ya, nanti kalo lu butuh apa-apa wa gue aja." ucap dinda.
ipul hanya menganggukan kepala.
"makasih ya di." ucap ipul.
"gue balik dulu ya." dinda dan james berjalan keluar, di ikuti oleh dodi.
"kenapa bisa si ipul ampe bonyok gitu." tanya dinda.
"tio bilang ipul gak mau bayar jatah, jadi digebukin." jawab dodi.
"emang ipul masih jualan di sana? gak sekolah dia? kan udah gue suruh berenti." ucap dinda.
"dia jualan pas udah balik sekolah, katanya buat tambahan, dia gak mau terus ngerepotin elu." ucap dodi.
"kita kasih pelajaran tambahan buat tio nanti malam." ucap dinda. dodi mengangguk setuju.
"gue gak mau ada senjata tajam dod, bawa balok kayu aja." ucap dinda.
"beres di." jawab dodi.
"ajak anak-anak ya, jangan banyak, buat jaga-jaga aja." ucap dinda.
"oke." jawab dodi
"gue balik dulu," ucap dinda.
dinda dan james sudah meninggalkan area panti.
÷÷÷÷÷
dinda memberhentikan motor di sebuah mini market.
"turun," perintah dinda pada james.
"mau ngapain disini di?" tanya james
"mau bangun rumah." jawab dinda asal
james malah angguk-angguk
"mana rumahnya di?" tanya james
dinda mentoyor kepala james, "lu lemot jangan kebangetan sih. bisa gak?" tanya dinda
"kata lu mau bangun rumah, ya gue nanya lah, dimana rumahnya, emang gue salah." ucap james.
dinda menghela napasnya. "gue mau beli camilan, bentar." ucap dinda. dinda masuk ke dalam mini market meninggalkan james yang masih memegangi helm dan berdiri di sebelah motor.
kasir mini market dan beberapa karyawan menatap curiga pada dinda.
dinda sudah tak heran melihat tatapan itu. dia masuk dan berjalan biasa. mengambil beberapa camilan dan minuman ringan.
"semuanya delapan puluh tiga ribu mba," ucap kasir pada dinda.
dinda mengeluarkan uang seratus ribu, memberikan pada kasir.
"hai cantik, godain kita dong, nanti kita bayarin belanjaannya." ucap laki-laki berkulit coklat dengan kedua teman di belakngnya. tampang mereka lebih mirip seperti preman.
dinda tak menghiraukan ucapan laki-laki itu, dia mengambil kembalian, dan hendak pergi.
laki-laki itu mencekal tangan dinda. "buru-buru amat sih."
"lepasin gue," ucap dinda galak.
"ishh galak amat, makin ngegemesin deh. ya gak kawan-kawan." ucap lelaki itu pada kedua temannya.
ada seorang lelaki bertubuh tinggi, berdiri di ujung dekat kulkas minuman, memperhatikan kejadian tersebut.
lelaki yang mungkin preman itu hendak menoel dagu dinda, dengan cepat dinda memelintir tangan lelaki itu hingga di belakang punggungnya.
aww... lelaki itu mengaduh.
"pergi atau gue patahin tangan lu." ucap dinda.
"i..iya.. lepasin gue." ucap lelaki itu.
dinda kemudian melepaskan lelaki itu, mendorong kedepan hingga tersungkur.
"dasar sampah." umpat dinda.
sedangkan kasir wanita sudah ketakutan, memeluk tubuhnya sendiri berdiri di pojokan. karyawan mini market yang lain juga ketakutan.
lelaki yang tersungkur itu memberi isyarat pada kedua temannya.
dinda berjalan membuka pintu untuk keluar, lelaki yang satunya mengambil botol minuman ringan yang terbuat dari kaca, hendak menghantamkan pada kepala dinda.
saat itu juga lelaki yang berdiri di ujung kulkas menghalangi dengan menangkap lengan pria yang hendak memukul dinda. memelintir dan membantingnya ke lantai.
dinda yang sudah akan keluar mini market, menoleh kebelakang.
"beraninya cuman sama perempuan." ucap lelaki yang membantu dinda.
dinda hanya melihat punggung lelaki itu, karena posisinya membelakangi dinda. tanpa perduli lagi, dinda memilih meninggalkan mini market.
"udah," tanya james.
dinda menyerahkan belanjaannya pada james. james menangkap belanjaan dinda.
"buat apa sih lu beli beginian, di rumah lu pasti banyak kan." ucap james.
"berisik, udah buruan naek. gue mau balik." ucap dinda.
dinda pulang menuju rumahnya, tak lupa dia membuka jaket dan topi kupluk, memasukan kedalam tas.
"trims ya james. dah balik sono." ucap dinda.
"gak di suruh mampir gue." jawab james
"nanti lu minta minum lagi, bis tu minta makan. ahh... lama." udah sono cepetan balik. ucap dinda seraya mengusir.