![Adi [AdinDa]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/adi--adinda-.webp)
"nenek......" dinda datang dan langsung memeluk nenek tersayang, dulu dinda sempat tinggal dua tahun bersama nenek ketika dia masih di sekolah dasar. jadi dinda cukup dekat dan manja dengan neneknya.
"cucu nenek udah dateng," nenek mencium pipi dinda kiri dan kanan. "pipi kamu tambah tembam dinda." nenek mencubit kedua pipi dinda.
dinda terlihat mengaduh, cubitan nenek cukup membuat pipi dinda berdenyut.
"nenek, andra gak di peluk?", protes andra yang baru masuk sambil menggeret koper.
"ohhh sini andra cucu nenek," ucap nenek sambil memeluk andra. andra bergelayut manja pada nenek.
"nenek lihat kak dinda tidak membawa kopernya, jadi andra yang harus membawanya." andra mengadu. "kak dinda itu manja sekali kan nek, tidak seperti andra yang kuat." andra tersenyum membanggakan dirinya.
dinda mencibir, mendengar ucapan andra.
"dasar tidak pernah mengaca, siapa sebenarnya yang manja di sini." omel dinda.
nenek tersenyum dan mengelus kepala andra. "cucu laki-laki nenek memang harus kuat. andra harus bisa menjaga dan melindungi kak dinda." nenek memberitahu.
"kak dinda tidak perlu andra lindungi nek, kakak bisa melindungi dirinya sendiri, kan kakak jago berantem." ucap andra tanpa sadar dan langsung menutup rapat mulutnya.
dinda langsung tersedak, "uhuk......uhuk......"
nenek yang melihat dinda terbatuk, kemudian memberikan segelas air pada dinda.
dinda memium air yang diberikan nenek.
dinda mentap andra dengan tatapan seperti akan menerkam.
"nek dinda lapar", ringis dinda yang sudah menarik neneknya ke arah dapur, meninggalkan andra di sofa.
"nenek.... andra kok di tinggal." andra merajuk.
"baiklah, mari kita makan, nenek sudah masak makanan kesukaan kalian." mereka makan dengan lahap. "masakan nenek selalu enak," puji dinda. "iya nenek pasti membuat ini karena teringat andra kan." timpal andra.
"ckkk...... PD banget sih lu dek, dasar carper." ejek dinda.
andra tertawa melihat dinda yang mulai kesal. entah mengapa andra sangat suka menjahili kakaknya.
selalu saja senang jika berdebat dengan dinda. tapi andra akan ciut sendiri kalo dinda sudah mulai marah. makanya andra selalu bercanda yang dia tau dan yakin tidak akan membuat dinda marah, kecuali kelepasan ngomong kaya tadi.
÷÷÷÷÷
selama mereka berlibur di rumah nenek, mereka bermain dan bersenang-senang sepuasnya. tidak rerasa liburan tinggal dua hari lagi, dan setelah itu mereka harus pulang untuk kembali masuk sekolah.
andra yang selalu mengganggu dinda dan mengekori kemana pun dinda pergi, membuat dinda sedikit terbiasa dengan sikap manja dan absurd adiknya.
andra pun tau kalau kakak perempuannya itu sangat menyayanginya walau sering terlihat cuek dan sedikit kasar, bahkan terkesan tidak perduli. padahal sangat amat perduli pada andra.
seperti waktu mereka sedang di pasar membeli belanjaan yang disuruh neneknya. pada saat itu ketika arah pulang andra hendak membeli es cincau, namun dinda memilih menunggu di pinggir jalan dan tidak menemani andra.
setelah selesai membeli es cincau, andra hendak menghampiri dinda, tapi ada dua preman menghadang andra.
"kalo lu mau lewat sini, lu mesti bayar sama kita." kata salah satu preman itu.
"kenapa saya mesti bayar bang?, kan ini jalanan umum." sahut andra.
kedua preman itu tertawa, "kalo lu gak mau bayar, lu gak boleh lewat sini." ucap preman itu.
andra gak perduli dan tetap berjalan melewati preman itu. tangan andra dicekal oleh preman itu, dipelintir kebelakang, membuat es cincau yang di pegang andra jatuh dan tumpah.
andra mengaduh, tangannya terasa sakit.
preman yang satunya sibuk merogoh kantong celana andra, mencari uang mungkin atau apapun yang berharga.
andra berteriak, "lepasin.... sakit..... mau apa kalian. lepasin......"
dinda yang mendengar suara andra menoleh kebelakang dan melihat andra sedang meringis kesakitan. diletakan belanjaan yang dibawa dinda di stang motor. dipakai topi kupluk ke kepalanya.
"lepasin adek gue." ucap dinda mengancam.
kedua preman itu langsung melepaskan andra.
andra berlari ke sisi dinda. "mereka mau malak aku kak." andra mengadu, mengusap lengannya yang sakit.
"siapa lu?, gangu aja." ucap salah satu preman.
"gue kakaknya. mau apa lu pada? berani, sini lu." ancam dinda.
kedua preman itu sedikit ciut melihat dinda yang penuh dengan aura kemarahan.
tubuh dinda yang tinggi dan berisi, cukup membuat lawan yang melihat menjadi mundur duluan sebelum maju. dinda sangat bersyukur dengan tubuhnya.
"kak... es cincau andra tumpah tu." tunjuk andra pada es cincau yang bercecer di jalan.
"kenapa lu tumpahin?" tanya dinda.
"mereka yang buat es cincaunya tumpah, pas tangan andra di pelintir." andra merengek. "beliin lagi kak..." pinta andra.
"hei...... tunggu." panggil dinda pada kedua preman itu. kedua preman itu pun berhenti, membalikan badannya menghadap dinda.
dinda mendekati mereka, ditarik kerah baju salah satu preman itu, "balikin es cincau adek gue, cepet...." dinda mencengkram kerah baju dengan kuat, terlihat pereman itu mengaduh.
"ii....iiya.... bang, kita ganti es cincaunya." jawab preman itu.
"sono beliin yang baru, gue tunggu disini." dinda menghempas kan tubuh preman itu hingga terdorong kebelakang.
"ehh... lu tunggu sini, nanti kalo lu bedua pergi beli es, malah kabur lagi." ucap dinda pada preman satunya.
setelah membeli es, preman itu menyerahkan kepada dinda. "ini bang esnya." dinda mengambil es itu. "tunggu sini lu pada. berani kabur awas lu ya." ancam dinda.
"kenapa lagi bang? kan kita udah ganti es adeknya abang." ucap preman itu.
"gue bilang tunggu ya tunggu, gak denger lu." ucap dinda tegas.
"ii....iya.. bang." jawab preman itu.
"dek ni es lu, sana tunggu gue dimotor," perintah dinda.
andra mengambil es cincau dengan wajah tersenyum, "makasih ya kak." andra langsung pergi menunggu di atas motor.
dinda kembali menemui kedua preman itu. berapa "harga es cincau tadi?" tanya dinda pada preman itu.
"se..pu..luh.. ribu bang..." jawab preman itu takut.
"kenapa lu malak adek gue?" tanya dinda
"e...eemm.. maaf bang, kita khilaf." jawab preman itu.
dinda menatap tajam, gak puas atas jawaban preman itu. melihat tatapan dinda kedua preman itu saling senggol-senggolan.
"maaf... bang... kami ----- gak akan ngulangin perbuatan kami lagi," sahut preman yang satunya.
"gue harap gitu, karena asal kalian tau, perbuatan kalian itu gak baik, dan itu bisa membuat kalian di benci oleh orang lain. kalo kalian butuh uang, seharusnya kalian kerja, jangan malah mengambil hak orang lain dengan paksa."
"i...iya.... bang kami janji gak bakal malak orang lagi."
dinda mengeluarkan uang lima puluh ribu rupiah dari kantong celananya. nih.... dinda memberikan kepada preman itu.
kedua preman tu tidak ada yang berani mengambil uang yang dinda sodorkan, mereka saling tatap.
"maaf bang ini maksudnya apa?" tanya preman itu takut.
"ambil, ini buat ganti beli es cincau adek gue, sisanya ambil buat kalian, sana beli es cincau, biar kepala kalian adem. jadi bisa mikir bener, gak cuman bisa malak aja. ingat kerja yang halal kalo mau dapet uang jangan malak lagi." dinda mengingatkan.
"i..iya..bang. makasih ya bang." ucap preman itu menunduk.
(kita malak adiknya, kenapa malah kita di kasih duit sama kakaknya ya? iya, kayaknya kita emang salah, kita berhenti malak aja ya. enakkan jadi orang baik, dari pada jadi orang jahat. iya, lagian selama ini banyak yang benci sama kita, gara-gara kita suka malakin orang kan. bener. besok kita balik kerja jualan di pasar aja. lebih enak dapat uang halal kan. betul.)
÷÷÷÷÷
"kak... kita ke pasar malam yuk." ajak andra.
"ckk... malas." jawab dinda yang sedang asik berbalas whatsapp dengan salsa dan lyli.
"ayo lah kak, temanin andra. andra mau melihat pasar malam itu seperti apa." rengek andra sambil menggoyangkan lengan dinda.
"pergi sendiri sana, udah gede ini, laki-laki pula. awas ahh... sana.... gue malas." dinda menepis tangan andra, dan memiringkan tubuhnya menghindari andra.
andra gak menyerah, "kakak,............" andra masih merengek. dinda yang paling gak bisa mendengar orang merengek jadi pusing sendiri.
"apaan sih dek, rusuh banget sih lu. lagian ngapain sih ke pasar malem, kurang kerjaan amat, di gondol kolong wewe mau lu." dinda menakuti.
"kalo kak dinda gak mau nemenin andra, andra aduin sama bunda nih." ancam andra.
dinda mendengus kesal, adik lelakinya yang satu ini selalu saja seperti itu. menyebalkan sekali. kenapa dulu waktu lahir dia gak jadi perempuan aja sih. dumel dinda dalam hati.
"coba kalo lu perempuan pasti lu gak serewel ini dek." ledek dinda.
÷÷÷÷÷