Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode TIGAPULUHSATU



"andra..." dinda mengetuk kamar andra. tapi andra gak menyahut. "ndra, gue masuk ya." ucap dinda.


"kenapa lu?" tanya dinda


"gak ada." jawab andra memalingkan wajahnya.


"yakin gak mau cerita?" dinda bertanya lagi.


"gue lagi banyak PR kak, udah sono gih, gue mau ngerjain PR, kalo kak dinda nanya terus nanti PR gue gak selesai." andra mendorong dinda keluar kamar.


"kenapa si andra??? tumben banget gak cerita, biasanya juga belon ditanya udah ngadu duluan." pikir dinda.


"bodo amat lah, udah gede ini. nanti juga kalo dia mau cerita pasti ngomong." dinda pergi ke kamarmya.


÷÷÷÷÷


"andra lu kenapa ngehindarin gue?" tanya cinta yang duduk di depan meja andra.


"gue punya salah ya? kalo gue punya salah, gue minta maaf ya ndra. lu jangan ngejauhin gue lagi ndra. kita kan temen ndra, masa musuhan sih."


andra hanya diam saja tidak menjawab cinta.


cinta yang tadinya berniat baik ingin membujuk andra, jadi kesal karena di cuekin andra.


"ya udah kalo lu gak mau temenan lagi sama gue, gue juga gak mau temenan lagi sama lu." ucap cinta marah lalu pergi meninggalkan andra.


"ta..." panggil andra pelan. cinta pun menghentikan langkahnya. "lu gak punya salah kok." jawab andra.


cinta kembali duduk, tapi sekarang pindah duduk di sebelah andra.


"terus kalo gue gak salah kenapa sikap lu sekarang berubah sama gue?. terus kalo ada kerja kelompok sekarang lu gak pernah satu kelompok lagi sama gue. kenapa ndra??"


"gue gak bisa jelasin sekarang ta," jawab andra murung.


"tapi kita tetap temenan kan ndra?" tanya cinta


andra menganggukan kepalanya.


bel berbunyi, cinta kembali ke tempat duduknya.


"maafin gue ya ta, gue gak bisa bilang ke lu, kalo kakak lu yang ngelarang gue temenan sama lu." ucap andra dalam hati.


÷÷÷÷÷


Pesan WhatsApp


"adi, boleh minta tolong gak? nanti sore anterin gue ke bandara." (angel)


sudah sejam yang lalu angel mengirim pesan pada dinda, tapi dinda belum membacanya.


"apa adi sibuk ya? kok pesan gue gak di bales? dibaca aja belum." angel bertanya dalam hati.


"apa gue minta tolong dodi aja ya."


"ahh... naek ojol aja deh."


angel pun sudah mengemas pakaian dan barang yang akan di bawa untuk mengikuti tournamen.


bel jam istirahat berbunyi, dinda dan yang lainnya sudah berkumpul seperti biasa di kantin.


dinda membuka ponselnya, membaca pesan dari angel, kemudian membalasnya.


Pesan WhatsApp


"sorry gel baru bales, tadi masih di kelas. jam berapa mau di anter gel?" (adi)


tring...tring.. tring...


notifikasi hp angel berbunyi. angel membaca pesan balasan dari dinda.


Pesan WhatsApp


"jam 3.30 di" (angel)


"oke, nanti pulang sekolah langsung gue jemput" (dinda)


"cie.... chat ama siapa sih di? serius banget." tanya lyli.


"temen gue." jawab dinda kemudian memasukan hp ke saku baju.


"temen tapi mesra ya di?" salsa ikut nimbrung.


james dan babas langsung berhenti mengunyah makanannya, seperti menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut dinda.


"temen latihan gue. dia mau pergi ikut tournamen taekwondo." dinda memberitahu.


terlihat wajah james dan babas begitu lega mendengar jawaban dinda, kemudian mereka melanjutkan makan.


salsa dan lyli hanya ber ohhhh.... saja.


÷÷÷÷÷


angel menunggu dinda di teras rumah, tapi dinda belum juga datang, memang masih 5 menit lagi dari waktu yang di bilang angel, biasanya dinda datang selalu on time.


"angel..." panggil angga yang lewat di depan rumah angel.


"hemm..." jawab angel.


angga menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah angel.


"kok bawa ransel? mau kemana gel?" tanya angga.


"ada tournamen, gue mau ke bandara." ucap angel.


"gue anter ya gel?" tawar angga. berharap angel mau diantar olehnya.


"makasih nga, tapi gue udah janjian sama temen gue." angel memberitahu.


brum.... brum....


dinda datang dan motornya berhenti tepat di depan motor angga.


angel yang melihat dinda sudah datang, langsung mengambil ransel dan memakainya. kemudian sedikit berlari kecil menghampiri dinda.


"thanks ya adi udah jemput." ucap agel tersenyum.


dinda hanya menganggukan kepalanya.


angel naik ke motor dinda.


"ngga gue pergi dulu ya." ucap angel.


angga tampak marah dan tidak suka melihat dinda, angga merasa sangat kesal.


"angel selalu saja nolak ajakan gue hanya karena si adi." geram angga.


÷÷÷÷÷


"andra gue balik duluan ya," ucap cinta pada andra.


andra menjawab dengan senyuman.


"ikut gue, jangan ngelawan, atau lu bakal nyesel." ucap kedua kakak kelas yang mengapit andra di kiri dan kanan.


mereka membawa angga kebelakang sekolah.


"udah gue bilang jangan deketin adek gue, dan lu masih gak ngerti juga ya." angga sudah mencengkram kerah baju andra.


"gu...e... gak deketin cinta kok kak." jawab andra terbata karena angga mencengkram leher andra dengan cukup kuat.


"lu kira mata gue buta, tadi gue liat lu senyum sama adek gue." ucap angga marah.


"gue udah jauhin cinta kak, kalo kakak gak percaya tanya aja sama cinta."


angga melihat mata andra, sepertinya andra gak bohong akan ucapannya.


andra memang tidak berbohong, sejak angga mengancamnya di lorong sekolah waktu itu, andra sudah menjauhi cinta, tapi cinta lah yang selalu berusaha mendekati andra.


angga menghempaskan andra, hingga tubuh andra menghantam tembok di belakangnya.


tiba-tiba angga menghantam wajah andra, menyebabkan sudut bibir andra mengeluarkan darah.


andra mengaduh, tapi dia diam saja. kalau pun andra membalas pasti akan kalah juga, satu lawan tiga andra sudah pasti kalah telak.


"kenapa lu diem aja, gak berani lu lawan gue, dasar anak kecil." maki angga lalu memukul wajah andra lagi.


andra tersungkur ke tanah, angga mencengkram kerah baju andra, mengangkat kepala andra.


"kalo lu berani ngadu sama guru, gue bikin muka lu lebih babak belur lagi." ancam angga.


"sana ngadu sama kakak lu, bilang angga sanjaya yang mukulin lu, dan angga sanjaya juga nantangin buat duel." ucap angga lantang.


"gue tunggu besok setelah pulang sekolah di lapangan belakang. awas kalo kakak lu gak dateng. lu yang bakal gue gebukin." ancam angga.


angga dan kedua temannya sudah pergi meninggalkan andra sendirian di sana.


andra merasakan pedih dan berdenyut di wajahnya. andra menyeka darah yang ada di sudut bibirnya. andra duduk menyandarkan punggunya pada tembok.


÷÷÷÷÷


mang bowo sudah cukup lama menunggu andra di depan sekolah, tapi tak kunjung melihat andra keluar. akhirnya mang bowo mencoba menghubungi hp andra, tapi hp andra tidak aktif.


lalu mang bowo turun dari mobil, dan menanyakan pada satpam sekolah. satpam bilang andra sudah pulang dengan kedua temannya.


mang bowo pun bingung, kok tumben den andra gak ngabarin kalo mau pulang bareng temannya. biasanya den andra selalu ngabarin. mungkin den andra lupa. pikir mang bowo.


akhirnya mang bowo pulang ke rumah.


"loh... mang andra mana?" tanya dinda.


"katanya tadi pergi dengan temannya non." jawab mang bowo.


÷÷÷÷÷


andra mengambil hp di dalam tasnya, dilihat hpnya mati, kehabisan batre.


andra mengambil power bank, kemudian mengisi batre ponselnya. tak lama andra menghidupkan ponselnya.


andra langsung menelpon nomor dinda.


dinda yang mendengar bunyi hpnya langsung melihat siapa yang menelpon. dilihat nama andra yang tertera.


dinda mengangkat telpon dari andra, dan berniat mengomeli andra, karena pergi gak bilang dulu.


"dimana lu dek? pulang sekolah kelayapan bukan langsung pulang. gak ngomong lagi." omel dinda.


"kak....." andra meringis...


"ndra?? lu kenapa dek?" tanya dinda.


"kak... jemput gue di belakang sekolah ya..." ucap andra pelan.


dinda langsung mematikan telpon, mengambil jaket dan helmnya. kemudian langsung menuju ketempat dimana andra berada.


÷÷÷÷÷


dinda menghentikan motornya, ketika melihat andra terduduk di atas tanah.


dinda segera menghampiri andra.


"dek, lu kenapa?" tanya dinda membuka helmnya.


"kak....." andra mulai menangis. "hiks....hiks......" lantas memeluk dinda.


dinda membalas pelukan andra, menenangkan andra.


dinda melepaskan pelukan andra, memeriksa wajah andra.


melihat wajah andra ada sedikit memar, dan sudut bibir andra yang ada noda darah. dinda tau apa yang terjadi dengan adiknya. dinda mengepalkan tangannya.


"siapapun yang bikin adek gue kayak gini, bakal gue bales lebih parah." janji dinda dalam hati.


dinda mengajak andra pulang.


setelah sampai di rumah, dinda menyuruh tina membantu mengobati luka andra.


"den andra kenapa, kok luka begini?" tanya tina yang sedang membersihkan luka andra.


andra diam saja tidak menjawab.


setelah menganti baju, dinda masuk ke kamar andra.


"tin, cepet ngobatinnya, jangan kebanyakan nanya." ucap dinda tegas.


"i...iya..... non." jawab tina sedikit takut melihat raut wajah non dinda yang kaya mau makan orang.


tina selesai mengobati andra, dan langsung memilih pergi keluar dari kamar itu.


"tina, jangan bilang siapa-siapa. ngerti??" ancam dinda.


"iya non." jawab tina mengerti.