![Adi [AdinDa]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/adi--adinda-.webp)
"apaan lagi?" sahut dinda emosi gak jadi mematikan telpon dari babas.
"emmm... gimana tangan lu?" tanya babas sedatar mungkin biar dinda gak ke GeeRan.
"khawatir nih ceritanya?" ledek dinda.
tuh kan bener, nyesel gue nanya. dumel babas dalam hati.
"gue cuman mau ngingetin kalo tangan lu kenapa-kenapa gak ada onderdilnya buat ganti."
"ckk..... emang gue motor butut lu" hardik dinda.
"udah tau kawan sakit, dateng kek bawa buah, ini cuman nanya doang, gak manfaat lu jadi kawan." sindir dinda.
"bodooo...., dah ah... jagan nelpon gue lagi ya lu. gak faedah" ucap babas menirukan dinda. lantas mematikan telponnya.
"somplak tuh si babas, dia yang nelpon juga, dia yang matiin, dasar gak sopan." maki dinda.
÷÷÷÷÷
"nonton film apaan lu?" tanya dinda, yang tak dijawab oleh andra, karena andra masih dengan pikirannya sendiri tentang tangan dinda.
"woyyyy.... adek songong, ditanya malah diem, mogok ngomong lu?" dinda sengaja memarahi andra biar cepetan sadar.
"gue tau lu sayang banget sama gue kak, walau lu sering galak sama gue." sahut andra, yang membuat dinda terdiam sejenak.
"mending gue mandi, dari pada ketularan angong kaya lu" ucap dinda pergi meninggalkan andra. malas soalnya nanti malah tambah emosi di buat andra. "ngomong apaan lagi tu anak tadi???" dinda tampak tersenyum.
÷÷÷÷÷
"gue telpon bunda dulu lah, nanti bunda curiga pula" ucap dinda saat ingat kata-kata andra bahwa bundanya menelpon.
_____________________
Nelpon Bunda Sayang
dinda memberi salam pada bunda, bunda membalas salam dinda.
"tadi kata andra kamu lagi tidur?" taya bunda.
"ya sekarang udah bangun bun, ini makanya dinda nelpon bunda. kenapa bun? kangen ya sama dinda?"
"iya kangen pingin ngomelin kamu"
"bun, bun, tega amat kali sama anaknya"
"gimana sekolah kamu? andra gimana?"
"lancar seperti biasa bun, andra baek-baek aja, noh lagi nonton film kesukaan dia" dinda memberitahu bunda.
"gak ada kejadian aneh-aneh kan?" tanya bunda curiga
biasa namanya emak-emak kan pasti punya firasat kalo anak-anaknya ada apa-apa.
dinda sempat terdiam, tapi langsung tersadar, takut bunda curiga beneran.
"gak ada lah bun, ngapain juga aneh-aneh. kita baik-baik aja bun. kapan bunda pulang? dinda sama andra kangen nih bun" dinda sengaja mengalihkan pembicaraan biar bunda tenang dan gak curiga.
"iya sabtu depan bunda sama ayah pulang. baik-baik di rumah ya dinda, jangan lupa jagain adiknya."
"siap bunda ku"
_____________________
acara telponan pun berakhir dengan damai. "untung aja bunda gak curiga. setidaknya minggu depan pasti memar di muka andra udah sembuh, kalo tangan gue mah gampang, pake baju lengan panjang aja, udah deh beres." ucap dinda meyakinkan diri sendiri.
÷÷÷÷÷
"non," tina mengetuk pintu kamar dinda.
ceklek.., dinda membuka pintu kamar, terlihat rambut dinda masih basah setelah selesai mandi. dinda masih mengelap rambutnya menggunakan handuk.
"ngapa tin?"
"di bawah ada temen non" tina memberitahu.
"siapa?" tanya dinda penasaran. soalnya dinda gak ada janji dengan siapapun. lagi pula teman dinda jarang main ke rumah, kalau pun mau datang pasti telpon atau chat dinda dulu.
"tina gak tau non, lupa nanya namanya" tina menunduk takut salah.
"apa si james ya?" dinda bertanya dalam hati. "tapi ngapain si james kesini?".
dinda turun hendak menuju ke ruang tamu, tina bilang tadi temannya menunggu di sana, dinda mengenakan pakaian santai, kaos oblong dan celana pendek selutut.
ketika sampai ruang tamu, dinda tidak melihat siapa pun di sana. "kata tina tadi ada temen gue? lah ini gak ada siapapun". lalu dinda memilih ke dapur untuk mengambil ice cream.
÷÷÷÷÷
"enak juga sore gini makan ice cream" dinda sudah menelan ludahnya sendiri melihat ice cream vanilla dengan banyak choco chips. dinda mengambil 3 skop ice cream, dan membawanya menuju ruang keluarga.
"babas...." kaget dinda melihat babas sudah di ruang keluarga nonton film superhero bersama andra, sambil makan camilan pula.
"gerandong ngapain lu di rumah gue??" tanya dinda judes. langsung duduk di sebelah andra, memakan ice creamnya.
keranjang itu berukuran cukup besar, sebesar dua kali dus air mineral gelas. keranjang itu sengaja diletakkan di lantai dekat sofa. babas melarang tina membawanya ke belakang, kata babas itu adalah pesanan dinda.
dinda tampak heran, kapan dia pernah meminta sesuatu pada babas. "bas kalo ngimpi tar malem aja pas tidur, ini masih sore. kapan gue nyuruh lu ke sini, pake bawa apaan lagi itu?" sangkal dinda pada babas, karena merasa ucapan babas tadi mengada-ngada.
"dek, lagian ngapain lu kasih nih gerandong masuk, pake duduk di sini lagi?" tanya dinda pada andra dengan sewotnya.
"emang kenapa kak? kok kak tino gak boleh masuk? dia anak om bram sama tante sinta kan? sahabat ayah bunda? sahabat kakak juga di sekolah?" andra malah balik nanya, tanpa menoleh dari layar televisi dan masih mengunyah camilan. ngeselin banget menurut dinda.
begitu pula dengan babas, yang malah asik makan camilan dan nonton film yang sedang di putar. dinda pun mencebikan mulutnya kesal.
"kayaknya enak nih" babas sudah merebut gelas ice cream yang di pegang dinda.
"woy...... itu punya gue" teriak dinda pada babas.
babas malah cuek memakan ice cream itu. "emmm... enak banget di, lu tau aja kesukaan gue" celoteh babas masa bodo dengan dinda yang sudah menahan kesal.
tanpa diketahui dinda, sejak tadi babas memperhatikan kondisi lengan dinda.
malas meladeni babas, dinda melirik pada keranjang yang di bawa babas. penasaran juga apa yang di bawa oleh babas.
dinda mendekati keranjang itu, duduk berjongkok untuk membuka keranjang itu. babas sempat melirik dinda sekilas. lantas fokus lagi makan ice cream.
"bas.......ss....... apa-apaan lu???"
babas yang mendengar teriakan dinda pun kaget, hampir saja gelas ice cream di tangannya terjatuh.
"rese lu, ngagetin, suara lu lebih parah dari mak lampir" omel babas.
dinda menghampiri babas, langsung menjewer kuping babas, menyeret babas bak anak meong mendekat ke keranjang yang di bawa babas.
"sakitttt.... di" keluh babas memegangi kupingnya yang masih di jewer dinda.
"itu apa?" dinda melotot sambil mengarahkan mata ke keranjang yang dibawa babas.
"lepasin di, sakittt....." pinta babas yang merasa kupingnya denyut.
"jawab dulu" ucap dinda masih melotot.
"KDRT nih namanya, gue laporin ke BKKBN lu ya" ucap babas ngaur.
dinda yang mendengar ucapan babas, menghela napas panjang, "otak lu pinter, tapi gesrek" hardik dinda.
"mana ada orang lapor ke BKKBN soal KDRT, mending lu ke RSJ aja sono.
dinda melepaskan jeweran pada kuping babas. malah memegang leher babas, masih seperti memegang anak meong.
"di lu kira gue anak kucing apa? ampe gini amat. nasib-nasib" dumel babas.
"sekarang lu bilang, ngapain lu bawa itu?" tunjuk dinda pada keranjang yang di bawa babas.
"kan lu yang minta di, makanya gue kesini bawain, lu gak ingat apa yang lu bilang di telpon, lu bilang gini : (udah tau kawan sakit, dateng kek bawa buah, ini cuman nanya doang, gak manfaat lu jadi kawan).
begitulah kira-kira babas menirukan suara dinda saat di telpon.
"terus dimana salah daku wahai cinderella?"
dinda mengehempaskan babas, "gue emang ngomong kaya gitu bas, tapi gak juga lu bawain gue buah beginian" ucap dinda kesal dengan babas yang super duper nyebelin. tapi babas teman terbaik menurut dinda.
"apa yang salah sih di, ini kan juga buah di"
"gue tau ini buah, tapi mana ada orang sakit makan buah beginian bas. mana bawa sebanyak ini, lu kira gue mau jualan"
"di ini banyak vitaminnya loh, wangi lagi" ucap babas sok iyes.
"vitamin pala lu peyang, bawa pulang sono"
"gak mau, kan itu gue bawa buat ayang cinderella"
"arrgghhhh..... bisa ikut gesrek gue gara-gara lu" dinda mengacak rambutnya sendiri.
"cie.... cinderella gemezz.... ya sama pangeran, ampe seneng gitu"
"BA......BA......SSSSSSS........." teriak dinda marah.
babas refleks menutup kedua telinganya menggunakan tangan, mendengar teriakan dinda.
tina yang lagi di belakang sampe lompat, langsung berlari menemui dinda. takut kalo non dinda kesurupan, bisa bahaya kan. gak kesurupan aja kalo marah serem, apalagi kalo kesurupan. ihhhhhhh.....
"buang semuanya bas" ucap dinda tegas.
"yah non sayang, jangan dibuang, ini enak loh non" tina nyamber aja, gak ngeliat muka dinda yang sedang marah. tina tampak berbinar melihat isi keranjang yang di bawa babas.
"ambil sono semuanya kalo lu mau" menatap tina tajam. tapi yang ditatap malah gak tau. sudah terhipnotis dengan buah-buahan di dalam keranjang.
dinda memilih pergi masuk ke kamarnya, bisa gila beneran kalo lama-lama debat dengan babas.
andra yang sedari tadi mendengar perdebatan babas dan dinda sama sekali tidak terusik, andra tetap fokus pada film yang di tontonnya serta camilan di tangannya.
÷÷÷÷÷