Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode EMPAT



jam sudah menunjukan pukul 12 malam. dinda masuk kerumah dengan cara yang sama saat dia keluar rumah.


dinda sudah mengirim pesan pada tina, anak bi ijah. untuk menunggunya di dalam kamar, tanpa berbuat apapun atau menyentuh apa pun dikamarnya. dengan catatan harus diam-diam jangan sampai ketahuan siapa pun di rumah.


tina pun sudah duduk di salah satu kursi dikamar itu, sudah 15 menit tina menunggu.


dinda muncul dengan tiba-tiba, membuat tina terkejut. dikira dinda hantu yang ingin memakannya.


"orang rumah udah pada tidur tin?" tanya dinda


"udah non." jawab tina


"lu bawa yang gue suruh?" tanya dinda.


"iya non. ini udah saya bawa."


tina tampak menunjukan kotak p3k yang di bawanya.


tina tidak banyak bertanya, dia hanya menuruti semua yang di perintahkan oleh dinda.


dulu saat pertama dinda menyuruh tina seperti saat ini, tina memang bertanya. tapi dinda menjawab menakuti tina.


"gue suka orang yang penurut dan tidak ikut campur urusan orang lain. jika ingin tetap bernapas, maka jangan pernah bertanya lagi, dan lakukan apa yang gue suruh"


begitulah kira-kira isi ancaman dinda pada tina. sejak saat itu tina tidak pernah bertanya apapun, dan hanya melakukan apa yang di perintahkan oleh dinda. sama seperti malam ini.


tina membersihkan luka dinda. mencuci dengan air hangat, mengompres luka lebam dan kemudian memberikan obat.


"udah selesai non." ucap tina.


"makasih tin."


"besok jangan lupa seperti biasa."ucap dinda


tina menganguk dan meninggalkan kamar dinda.


dinda menarik selimut dan mulai terlelap dalam mimpinya.


÷÷÷÷÷


"dinda sudah bangun bi?" tanya bunda sama bi ijah. belum sepertinya bu.


"anak ini, entah niru siapa, kalo bangun kesiangan terus." omel bunda.


bunda seperti biasa masuk kamar dinda, tanpa mengetuk, membangunkan dinda.


"ya ampun dinda," bunda sudah berteriak.


"kamu apain kamar kamu?" tanya bunda sambil melotot melihat kamar dinda yang sudah seperti terkena badai.


makanan sama minuman berantakan gini, trus ini buku juga berserak.


"semalam kan dinda udah bilang mau ngerjain PR bun." ucap dinda dengan malas, karena masih mengantuk.


"cepatan kamu bangun, terus mandi, nanti terlambat ke sekolah."


"siap komandan." ucap dinda sambil hormat pada bundanya.


bunda sama sekali tidak melihat luka pada wajah dinda, karena dinda menggerai rambutnya hingga menutupi wajahnya sebagian.


dinda masuk ke kamar mandi. membersihkan dirinya, sudah rapih dengan seragam sekolah.


bi ijah mengetuk kamar dinda.


"siapa?"


"ini bibi, non, mau bersihin kamar non."


"panggil tina aja bi, biar tina yang bersihin." ucap dinda dari dalam kamar.


tina sudah datang ke kamar dinda, dengan membawa kotak berukuran sedang.


"cepet tina, nanti gue kesiangan." ucap dinda.


iya non.


kotak yang di bawa tina, adalah kotak alat-alat make up. dengan lihai tina memoles beberapa alas bedak dan pelapis di wajah dinda. sehingga luka lebam di wajah dinda tertutupi dengan sempurna. tanpa ada yang akan menyadari.


"sudah beres non."


dinda melihat wajahnya di cermin.


"makin pandai ya lu, tin."


tina tersenyum malu mendapat pujian dari dinda.


"non udah di tunggu sama bapak dan ibu untuk sarapan." ucap bi ijah yang berdiri di depan kamar dinda.


"iya bi," sahut dinda


"sekali lagi makasih ya tin." ucap dinda


"iya non, sama-sama."


"kamu di suruh apa sama non dinda." tanya bi ijah pada anaknya.


"nih..." tina menunjukan kotak make up.


"non dinda minta didandanin." tanya bi ijah yang keheranan.


tina hanya menganggukan kepala.


"ya sudah sana kamu siap-siap, ada kelas kursus kan hari ini. belajar yang benar, jangan sia-siakan kepercayaan ibu dan bapak yang sudah ngebiayain kamu." ucap bi ijah.


"iya mak."


÷÷÷÷÷


mereka telah selesai sarapan. bunda sudah mengantar ayah ke depan rumah. dua orang anggota ayah sudah besiap menunggu ayah. satu sudah duduk di balakang kemudi, dan yang satu berdiri di sebelah mobil, membuka pintu penumpang untuk ayah.


"ayah udah berangkat bun?" udah tu barusan pergi.


"andra mana bun?" udah berangkat juga tadi diantar supir.


"bun, dinda boleh bawa motor ya?"


"gak," bunda menggeleng. "nanti ayah kamu marah."


"ya kalo bunda gak ngomong, ayah kan gak tau bun." "lagian dinda kan pulang duluan sebelum ayah."


"ya bun..." dinda masih terus merayu.


"di antar supir aja lah dinda," ucap bunda


"please.... bun, klo naek motor cepat bun, naek mobil macet bun." dinda membuat alasan yang masuk akal.


"bun, dinda udah punya sim loh, dinda udah tujuh belas tahun. ya... boleh ya.. bunda ku ya baik hati sedunia."


bunda menghela napasnya, selalu saja kalah kalau anak-anaknya sudah merenggek meminta sesuatu.


"ya udah, tapi pulang sebelum ayah kamu pulang ya." ancam bunda.


÷÷÷÷÷


dinda begitu senang ke sekolah mengendari motor kesayangannya. motor sport berwana hitam metalik itu, hadiah ulang tahun ke-17 dari om bayu, kakak kandung bundanya.


sebenarnya ayah dinda keberatan, tapi karena menghargai kakak iparnya, jadi ayah membiarkan dinda menerima hadiah itu.


dinda tau, sampai kutub es mencair pun, ayahnya tidak akan pernah membelikan dinda motor sport. alesan klise, bahwa dinda anak perempuan.


÷÷÷÷÷


seperti biasa dinda sudah memakai jaketnya, juga helm biru dongker kesayangannya. dinda sudah keluar gerbang rumahnya. berjalan pelan mengendarai motor itu, saat di persimpangan dia melihat tina.


"kamu mau kursus ya?" tanya dinda.


"iya non." jawab tina.


tina sudah tau betul orang dibalik helm itu adalah dinda, anak majikannya.


"ayo naik, berangkat bareng gue aja." ucap dinda.


"gak usah non, saya naik angkot aja."


"lu mau nunggu angkot di sini? mana ada yang lewat tina. udah naik buruan. anggap aja ucapan terimakasih gue, karena lu udah bantuin gue."


"gak ngerepotin non?"


"bawel, cepet, nanti gue telat ke sekolah."


dengan segera tina naik ke atas motor. tina nampak bingung, dia baru pertama kali naik motor sport seperti ini.


"kenapa lagi tin?"


"non, ini duduknya kok nungging ya. terus gak ada pegangan, saya takut jatoh non." ucap tina polos.


dinda hanya mendengus, "pegang aja pinggang gue," ucap dinda. tina malah mengerutkan dahi tambah bingung, akan terasa aneh memegang pinggang nona dinda.


kalau memegang pinggang cowok, mungkin deg deg ser. nyaman enak gitu. tapi ini non dinda loh.


kalo gak di turutin nanti si non marah.


"atau lu boleh pegang bahu gue," ucap dinda kemudian.


itu pilihan yang lebih baik buat tina, dari pada harus memegang pinggang nonanya.


buat orang yang tidak tahu, maka pasti mengira non dinda adalah laki-laki. tidak tampak perempuan sama sekali, kecuali dia melepas helmnya.


÷÷÷÷÷


dinda memacu motor dengan cepat, tina sudah pucat ketakutan diboncengin dinda. tina berusaha tidak protes atau mengeluh. toh percuma non dinda tidak bisa di bantah.


tangan tina memegang erat bahu dinda, dinda sampai sedikit meringis merasakan tina yang meremas bahunya begitu kuat. dinda tau tina ketakutan.


saat udah samai tempat kursus tina, dinda mengerem, spontan tina terkejut dan memeluk pinggang dinda dengan erat, sambil menutup matanya.


"tin,.. tina." panggil dinda.


"udah sampe, turun."


"eh.. iya non. ma..makasih ya non."


terdengar suara tina bergetar menyisakan ketakutan.


"hemm," dinda hanya berdeham. lalu pergi tancap gas menuju sekolah.


÷÷÷÷÷


"ciee.... dianter cowok lu ya tina." ucap salah seorang teman tina yang sempat melihat dari kejauhan tina yang di antar dinda.


"bukan," jawab tina singkat.


"kalo bukan kok peluknya erat banget." ejek temannya lagi.


"itu anak majikan gue, gak sengaja tadi ngerem, refleks lah gue peluk." ucap tina menjelaskan.


"woww... hebat lu tina, berhasil ngegaet anak majikan." "bisa jadi cinderella dong."


"kalian ini ngebuli gue aja." udah ayo masuk.


"kalo lu gak demen sama anak majikan lu, buat gue aja tin." ucap temannya yang masih tidak menyerah.


"ambil sono," ucap tina yakin.


"serius lu, sayang loh tin, kakap itu."


"serius gue, bahkan seratus rius."


"ambil buat lu pada. lagian anak majikan gue gak suka perempuan." ucap tina dan berlalu meninggalkan teman-temannya.


sontak mereka terkejut mendengar ucapan terakhir tina. "ihhh... serem ya keren gitu gak suka perempuan." teman tina bergedik ngeri.


"jaman sekarang ya, cowok keren itu gak jaminan." mereka segera berjalan mengejar tina yang sudah masuk ruangan kursus.


÷÷÷÷÷


"pagi adi," tampak salsa yang baru sampai berjalan mensejajarkan tubuhnya dengan dinda. "pagi sa."


salsa bergelayut di tangan dinda.


"apaan sih sa, cari cowok sana." ucap dinda.


"ck... cowok yang gue suka gak peka di. di tolak mulu."


"cari yang lain lah, emang stock cowok di sekolah dah abis tah."


"abis sih enggak, tapi gak ada yang sekeren james." ucap salsa manja.


kalau sudah nyebut nama james bisa mendayu-dayu gitu suara si salsa.


mereka sudah masuk kelas, "udah lepas sih sa. lenjeh banget." salsa memukul lengan dinda. "lu itu perempuan gak ada manis-manisnya." ledek salsa.


dinda hanya membalas dengan senyuman. dilihat james sudah duduk di kursinya.


"hai james," sapa dinda.


"hai adi,"


james menghampiri dinda.