![Adi [AdinDa]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/adi--adinda-.webp)
"gini james," dodi duduk di sebalah james.
"nanti malem kita ada balapan motor. nah dinda itu butuh motor lu buat balapan." jelas dodi.
"serius lu di?" tanya james yang terkejut.
dinda menganggukan kepalanya.
"balap liar maksud lu?" tanya james lagi
"ya gak juga sih james, yang jelas gak rusuh lah."
"tapi di, itu bahaya." james memperingati.
"ayo lah james, tolongin gue." pinta dinda.
"apa sih yang bikin lu ngotot mau ikut? kalo cuman buat keren-kerenan gue gak setuju di."
"hadiahnya lumayan james," ucap dodi
"jadi kalian mau balapan gara-gara hadiah."
"lu lagi butuh duit di? lu butuh berapa?"
"bukan gitu james." dinda bingung mau cerita sama james.
"dod, lu bisa tolong beliin gue minum, dinda mengeluarkan duit 50 ribu. gih pergi sama ipul."
"yoi," dodi mengambil uang itu dan ngajak ipul pergi beli minuman.
"es dawet yang di depan gang ya dod." teriak dinda.
"beres," jawab dodi
÷÷÷÷÷
dinda menceritakan kepada james alasan dia ikut balapan, memang selain hobby, dinda memiliki maksud lain. dinda tau, kalo dia mau buat james minjemin motornya, dia harus mengatakan yang sejujurnya pada james.
james mendengarkan cerita dinda dengan seksama, berusah untuk mengerti maksud baik dinda.
"emang kapan balapannya di?" tanya james, setelah mendengarkan cerita dinda
"nanti malem," jawab dinda
"ah... lu gila di, beneran di, lu gak waras ya. besok itu kita mau berangkat study tour, nanti kalo lu kenapa-kenapa gimana?" james mulai khawatir sama dinda
"ya kalo gitu lu harus dukung gue james, plus jangan lupa doain gue menang." dinda tersenyum.
"kalo lu emang gak mau pinjemin motor lu, ya udah gak apa-apa, gue gak akan maksa lu lagi." dinda pasrah
james bener-bener gak tau harus mendukung dinda atau sebaliknya.
kalo james bilang dia gak setuju, toh dia tau persis sifat dinda. pasti dinda tetap ikut balapan itu. dinda yang keras kepala gak mungkin nyerah gitu aja cuman gara-gara gak dapat motor james.
"oke. lu boleh pake motor gue. tapi dengan satu syarat."
dinda menunggu apa kiranya syarat dari james.
"gue harus ikut. titik."
"lu yakin, tanya dinda memastikan"
"ya.."
"oke, lu boleh ikut."
"nanti malem tunggu gue di tempat kemaren."
"oke."
ipul membawa es dawet yang sudah di tempatkan di gelas. mereka menikmati es dawet yang makyus itu.
dodi melirik pada dinda.
dinda mengacungkan jempolnya.
dodi tersenyum.
"ya udah gue balik dulu ya," ucap dinda.
÷÷÷÷÷
seperti sebelumnya, dinda membuat alasan untuk bisa tidur cepat dan gak di ganggu, dengan alesan mau persiapan buat study tour besok.
dinda sudah mengepak koper buat berangkat besok, dia sudah mempersiapkan semuanya.
mereka sudah di tempat balapan.
terlihat ramai dan riuh dengan anak-anak muda seumuran dinda, dan ada juga yang udah senior dari dinda.
james gak pergi sedetik pun dari sisi dinda, mengekor kemana pun dinda pergi.
semua pembalap sudah bersiap di posisinya, kalian tau, dinda satu-satunya pembalap wanita.
dinda melihat kesisi kanan dan kiri, matanya bertemu dengan apa yang dicari. "dino"
dinda menatap tajam tepat ke arah dino. tersenyum penuh arti di balik helm yang di pakainya.
seolah berkata, "nikmati kekalahan lu".
balapan kali ini, di ikuti sekitar 12 orang pembalap. dua orang pemenang terakhir akan menentukan final, dan menentukan siapa pemenangnya.
di urutan nomor sepuluh, ada sepasang mata yang menatap tajam pada dinda. berusaha mengingat sosok yang di tatapnya. jaket itu, helm itu, seperti pernah lihat, tapi motor yang di gunakan kali ini berbeda. tapi teringat dengan jelas postur tubuh itu.
dinda tidak tau bahwa ada yang memperhatikannya.
÷÷÷÷÷
"gue cuman pesan satu, lu harus idup, gak boleh lecet sedikit pun." james memperingati, tepat berbisik di telinga dinda.
"yang pasti gue gak bakal ngelepasin motor lu. malah gue udah gak sabar, bawa pulang motor si dino." ucap dinda melirik dino.
"gue rela kasih lu motor gue, asal lu mau mundur dari balapan ini." ucap james.
"terlambat, gue udah di sini. pantang mundur sebelum perang." sahut dinda mantap.
balapan pun dimulai, mereka memacu kendaraan masing-masing dengan kecepatan penuh, berusaha menjadi pemenang.
saat di belokan kedua, dinda di pepet oleh pembalap lain, orang itu tak lain yang sejak tadi memperhatikan dinda.
hampir saja motor dinda selip, jika dinda tidak dengan sigap menginjak rem.
dinda tidak menyerah, dia memacu motor dengan cepat, melewati beberapa pembalap lain, termasuk yang hampir memepetnya tadi.
dinda tidak membuang kesempatan,dia memanfaatkan saat itu untuk melewati dino, dan akhirnya dinda menjadi pemenang pada balapan itu.
semua pada bersorak dan bertepuk tangan, meneriakkan nama adi.
________________________
"ternyata benar dia, adi"
_________________________
bisa dinda lihat wajah dino yang kesal luar biasa, kehilangan motor kesayangannya.
dinda menyuruh dodi membawa motor dino, motor itu di suruh di taro di gudang panti, nanti kalo dinda udah balik dari study tour baru di urus lagi penjualannya.
dodi dan ipul sudah pergi membawa motor itu sesuai dengan perkataan dinda.
nguing....nguing.... terdengar suara sirine mobil polisi.
semua yang ada di area itu pada kocar kacir melarikan diri termasuk dinda dan james.
untung saja mereka bisa dengan cepat melarikan diri, jika tidak bisa gawat kalau dinda sampai tertangkap.
saat sudah cukup jauh, ada mobil melintas, hampir saja dinda menabrak, kalau dinda tidak membelokan motornya. tapi dia harus menabrak tiang listrik, sehingga dinda dan james terjatuh.
helm dinda sempat terlepas, dengan segera dinda bangkit dan memakai helmnya, begitu pula dengan james.
james sendiri sudah gemetar ketakutan. beruntung dinda lah yang mengendari motor.
÷÷÷÷÷
mereka sudah di persimpangan jalan rumah dinda, jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari.
"sorry james buat yang tadi," ucap dinda dengan penyesalan
"lu gimana? ada yang sakit?" tanya james.
james tau tadi dinda terjatuh cukup keras, jadi gak mungkin dinda gak mengalami luka.
"gue baik-baik aja." ucap dinda menenangkan.
"dah lu balik gih," pinta dinda. "thanks banget ya james buat malem ini." ucap dinda tulus.
james melihat sisi lain dari dinda, berbeda dari yang dia lihat saat dinda mematahkan jari tio.
"sampe ketemu di sekolah ya." ucap james.
"sipp....." balas dinda.
÷÷÷÷÷
dinda mengambil ponselnya, dia menelpon tina.
sudah tiga kali dinda mencoba menelpon tina, tapi tina gak mengangkat telponnya.
pasti tina sudah tidur. dinda gak menyerah menelpon tina kembali. tina pasti bangun kalo berkali-kali di telpon. benar saja di panggilan ke tujuh tina menjawab.
"tina," panggil dinda di telpon
"hem.."
"tina buka mata lu, ini gue dinda."
tina membuka matanya, menatap layar ponselnya, benar disana tertulis nama non dinda.
"iya non, ada apa."
"cepet lu bawa kotak obat ke kamar gue, inget jangan sampe ada yang tau. sekarang tin." perintah dinda.
mau tak mau tina bangun, menuruti. padahal matanya berat banget, ngantuk parah.
dinda sudah menunggu tina di depan pintu.
"non.." tina hendak mengetuk pintu.
"stt... jangan berisik, cepat masuk." dinda menarik tangan tina masuk.
dinda membuka jaketnya, kemudian melempar jaket itu asal. "lu tunggu sini, gue ganti baju bentar." ucap dinda berlalu masuk kamar mandi.
dinda sudah menganti pakaiannya, dengan celana pendek dan baju tanpa lengan.
tina terkejut bukan main melihat dinda, hampir saja ia berteriak, kalau dinda tidak dengan sigap menutup mulut tina dengan tangannya.
"gue bilang kan jangan berisik," ucap dinda pelan.
"nanti kalo ayah sama bunda bangun gue gantung lu ya di tiang bendera," ancem dinda
tina menganggukan kepalanya. dinda melepaskan bungkaman tangannya pada mulut tina.
"non dinda kenapa? kok luka-luka gini?," tina bersuara pelan.
"gue pernah bilanga apa???," tanya dinda
"jangan banyak tanya," jawab tina
"pinter.." sahut dinda
"udah buruan lu obatin luka gue." pinta dinda
dengan perlahan dan hati-hati dinda mengobati luka dinda. siku tangannya lecet, dekat pinggulnya sedikit lebam. bahu kanan juga lebam, kedua telapak tangannya ada lecet halus.
dinda meringis,
"maaf non, sakit ya,?," tina merasa kasihan melihat keadaan non dinda.
"gue gak apa-apa."
"lu kasih salep ya tin semua yang lebam, gue sambil baringan ya."
"iya non, non baringan aja."
ternyata dinda tertidur saat tina mengobati luka lebam itu. tina melihat wajah non dinda, memperhatikan baik-baik.
"oalah non, non itu cantik banget tau, bahkan tina aja iri sama kecantikan non, tapi kok non sering banget kayak gini. sebenarnya apa sih yang non lakuin di luar sana."
"cepat sembuh ya non." tina menyelimuti tubuh dinda.
"apa sebaiknya gue tidur disini aja ya jagain si non."
akhirnya tina tidur di sofa yang ada di kamar dinda, sesekali dia mengecek keadaan dinda.