Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode EMPATPULUHTUJUH



"udah hayo turun, anak bunda sudah cantik kalau seperti ini, masa mau ketemu tamu penampilan kamu kaya preman, seperti ini kan lebih anggun, tampak kalau kamu itu perempuan" ledek bunda yang sudah mengandeng tangan dinda turun ke lantai bawah.


"ckk.... memang selama ini dinda apa??? bunda gak lucu tau." dinda memasang wajah cemberutnya.


"senyum dong, masa cemberut gitu" ucap bunda mencubit pipi dinda.


"ishh...bun, dinda bukan anak kecil ya" dinda menghentakan kakinya. bunda hanya tersenyum melihat tingkah dinda.


tante sinta yang melihat dinda langsung memeluk kemudian cipika-cipiki. terlihat tante sinta sangat menyukai dinda. "dinda kamu cantik sekali" puji tante sinta.


dinda yang dipuji hanya tersenyum saja. dinda bertanya dalam hati kenapa mamah babas ada di rumahnya, bukannya bunda bilang mengundang teman ayah. apakah teman ayah yang di maksud adalah orang tua babas, berarti dinda selamat, ini bukan acara perjodohan, seperti yang dikatakan andra. senyum dinda pun makin terlihat lebar.


"jeng dewi, anak perempuan mu cocok jadi menantu ku ini" ucap tante sinta antara serius dan bergurau. entah mau meledek dinda atau sungguh-sungguh menginginkan dinda menjadi menantunya.


namun tidak dengan dinda, baru saja tersenyum senang, sekarang malah mendengar yang tidak diharapkan, kuping dinda langsung terasa gatal mendengar ucapan tante sinta, perutnya jadi tidak enak. ingin sekali dinda langsung menjawab ucapan tante sinta dengan sangkalan yang pedas, tapi itu tidak mungkinkan, nanti dinda di bilang tidak sopan, akhirnya dinda hanya tersenyum dipaksakan saja.


lebih menyebalkan sikap bunda yang sepertinya menerima dengan senang hati jika berbesan dengan tante sinta.


"ckk..... jadi menantu, gue di jodohin sama babas gitu, dunia udah kebalik kali" maki dinda dalam hati. lantas menyengir saat tante sinta melihat pada dinda.


"mari kita ke ruang tengah, masa mengobrol di sini" ucap bunda.


saat di ruang tengah terlihat ardo yang duduk sendirian sedang mengutak-atik ponselnya. "dinda kenalkan ini anak sulung tante" tante sinta mengandeng tangan dinda menghampiri ardo.


"ardo... hayoo dong salaman, masa ada cewek cantik kenalan di cuekin" omel mamah sinta. ardo bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan pada dinda. sebenarnya dinda enggan sekali untuk bersalaman dengan lelaki di depannya ini. tapi demi etika dan sopan santun dinda pun bersalaman, memperkenalkan dirinya.


"dinda"


"saya adelardo, panggil saja ardo"


"oya dinda, ngobrol di sini dulu ya dengan ardo" ucap tante sinta, kemudian meninggalkan dinda dan ardo berdua di ruang tv. bunda dan tante sinta menemui ayah dan om bram di ruang tamu.


÷÷÷÷÷


sepeninggalan bunda dan tante sinta, ada kecanggauan antara dinda dan ardo. dinda dengan pikirannya sendiri begitu pula dengan ardo.


"kemana si babas? apa si dekil gak ikut?" tanya dinda dalam hati.


"cewek ini mirip banget sama orang yang gue temuin di halaman tadi, hanya penampilannya beda banget. yang di taman tadi udah kaya preman, mau ngajak gue berantem. yang ini -----, lebih feminim, cantik juga sih" ucap ardo dalam hati, sesekali melirik ke arah dinda memperhatikan dinda dari ujung kaki hingga rambut.


"cowok ini anak sulung tante sinta? jadi dia kakak babas. kalo tante sinta punya dua anak cowok, maksudnya gue dijo-----, halah.... mikiri apaan sih gue" dinda memaki dirinya sendiri yang berpikir aneh-aneh.


baik dinda ataupun ardo masih setia dengan kebisuan mereka.


dinda sendiri tidak tau harus memulai pembicaraan dengan cowok di sebelahnya ini dari mana. "cowok ini yang tadi di halaman" dinda memperhatikan ardo.


ayah dan bunda berserta om bram dan tante sinta sudah mengajak dinda dan ardo untuk makan malam, dinda pun bernapas lega karena segera terlepas dari kecanggungan bersama kakak babas.


"andra mana bun?" tanya dinda.


"mungkin masih di kamar" ucap bunda. "tina tolong panggilkan andra di kamarnya ya" perintah bunda.


"andra di kamar gak di ubek-ubek, lagi gue udah di suruh cepat, ini sebenarnya maksud bunda apa sih, mana kakaknya si babas orangnya dingin kaya kutub, beda banget sama babas" dumel dinda dalam hati.


÷÷÷÷÷


andra datang di ikuti babas dibelakangnya, saat melihat babas bersama andra, dinda berdecak. dinda pikir babas tidak ikut, ternyata sudah asik bermain game bersama andra.


babas yang melihat dinda, tersenyum dan mengedipkan matanya menggoda, dinda hanya acuh dan tak menanggapi babas. menurut babas dinda sangat cantik, penampilan lain dari dinda yang tidak di ketahui oleh teman-teman satu sekolah, dan babas bangga hanya dia yang mengetahuinya.


mereka makan malam dengan santai, dan sesekali mengobrol ringan.


bunda senang sekali mengobrol dengan babas, apalagi melihat penampilan baru babas, tak henti-henti bunda memuji babas. sedangkan yang di puji makin besar kepala. dinda berdoa semoga makan malam ini segera berakhir.


untung saja babas tidak bertingkah konyol seperti biasanya, entah kenapa babas bersikap lebih anteng dan tenang. membuat dinda menaruh curiga, pasti babas punya niatan lain. walau terkesan menuduh babas, tapi biasanya memang demikianlah ulah babas.


÷÷÷÷÷


dinda melayangkan cubitan di perut babas. "berani lu macem-macem, gue mutilasi, mau???" ancam dinda berbisik takut terdengar orang tua mereka.


"dii..... sakitt..." babas meringis menahan sakit karena cubitan dinda. lantas dinda melepaskan cubitan pada perut babas, pura-pura tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa.


"kejam banget kdrt mulu, tapi gue suka kok" babas malah mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.


ardo hanya memperhatikan kedekatan dinda dan babas yang sangat akrab sekali, entah kenapa ardo memperhatikan dengan sebegitunya.


÷÷÷÷÷


sesuai dengan janjinya james datang menjemput dinda jam 9 tepat, james pamit pada bunda, ijin untuk mengajak dinda pergi menjemput nyokapnya ke bandara.


untung saja semalam setelah babas dan keluarganya pulang dinda sempat bilang ke bunda kalau hari ini dia akan pergi menemani james. kalau mendadak pasti bunda tidak akan mengijinkan.


james dan dinda sudah sampai di bandara, saat di parkiran tak sengaja ardo melihat dinda yang turun dari mobil, ardo yang di antar supir akan berangkat ke paris pada hari itu tampak memperhatikan dinda. ardo berniat menghampiri dinda untuk meyakinkan dirinya bahwa orang yang ditemui semalam adalah orang yang sama, namun langkahnya terhenti ketika melihat james turun dari mobil. ardo memilih pergi dan mengurungkan niatnya menyapa dinda.


"mom", james berpelukan dengan nyokapnya. ada kerinduan besar di mata james dan nyokapnya. dinda ikut terharu melihat ibu dan anak yang sedang melepas rindu itu.


james melepaskan pelukan pada nyokapnya. "mom ini adi" james memperkenalkan dinda pada nyokapnya.


dinda bersalaman dengan nyokap james, "adi tante". dinda memperkenalkan diri.


"kamu bisa panggil mommy lucy, oke" ucap nyokap james.


"iya tan, eh.. mom lucy"


mereka sudah sampai di sebuah rumah bergaya klasik, dinda tau ini bukan rumah james. dinda langsung akrab dengan mommy lucy.


"mom banyak dengar tentang mu dari james, setiap james telepon mommy dia tidak pernah tertinggal cerita tentang mu" mom lucy memberitahu dinda.


"benarkah mom? cerita apa saja james pada mom?" tanya dinda.


"semuanya, dan mommy senang james memiliki sahabat seperti mu" mom lucy mengusap kepala dinda lembut.


"kamu tau dinda, james tidak mudah dekat dengan seseorang, tapi dia bisa bersahabat baik dengan mu, james juga tak pernah bosan bercerita tentang mu".


"james berlebihan mom, adi tidak melakukan apapun, james teman yang baik, jadi wajar banyak yang mau berteman dengan james".


"tapi kamu berbeda adi, mom tau james tertekan dengan perpisahan mom dan deddynya. mom bersyukur ada kamu di samping james. tolong tetap jadi sahabat yang baik untuk james ya adi, dan mom titip james, karena mom mungkin tidak bisa selalu bersama james." mommy lucy sudah berkaca-kaca saat mengungkapkan.


dinda pamit untuk pulang pada mommy lucy, "terimakasih adi" ucap mom lucy tulus dan tersenyum.


÷÷÷÷÷


"serius banget tadi ngobrol sama mom, ngobrol apaan?" tanya james saat di mobil mengantar dinda.


"kepo" sahut dinda.


"pasti ngomongin gue kan?"


"idihh... sok merasa"


dinda melirik pada james, sebaliknya james melirik pada dinda. dan tawa mereka pecah.


"thanks ya di" ucap james.


sebenarnya dinda masih ingin bertanya pada james, tapi diurungkan niatnya, dinda tidak ingin terkesan ikut campur dengan urusan keluarga james. bisa menjadi sahabat yang baik dan dapat membatu sudah lebih dari cukup bagi dinda.


mommy lucy orang yang sangat baik dan cantik, wajah james juga mirip sekali dengan mom lucy. wajah blesteran yang james miliki memang diwarisi dari mom lucy. sedangkan deddy james, dinda sama sekali belum pernah bertemu.


dinda bersyukur memiliki orang tua yang harmonis dan menyayanginya. dinda berharap james akan baik-baik saja dan menjadi lelaki yang baik dan kuat. soalnya tidak jarang anak yang akan menjadi korban karena perpisahan kedua orang tua mereka.