Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode TUJUHBELAS



"apa ini yang di motor mu?" tanya polisi sambil menunjuk ke arah kalung lonceng besar itu.


"emang motor saya kenapa pak?" babas memeriksa motornya, "motor saya baik-baik aja pak. bapak naksir ya sama motor saya? tapi maaf pak, saya gak bakalan jual motor kesayangan saya ini." ucap babas yang sudah memeluk motornya sambil di elus-elus.


"kalo ini," tunjuk babas pada kalung lonceng, "ini hadiah saya untuk gomes pak."


polisi itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah babas.


"siapa itu gomes?" tanya pak polisi.


"motor saya ini namanya gomes pak." babas memberitahu.


"coba saya lihat ktp dan sim kamu," ucap pak polisi.


babas mengeluarkan ktp dan simnya, pak polisi memeriksa ktp dan sim babas.


"kamu ikut saya ke pos," ucap pak polisi.


"siap pak," jawab babas sambil hormat. lantas menyuruh salsa turun dari atas motor, dan mendorong motornya mengikuti pak polisi yang menuju ke pos.


"siapa nama kamu?" tanya pak polisi


babas pak,


"di ktp nama mu bastino." ucap pak polisi.


"babas itu panggilan kesayangan teman-teman saya pak." sahut babas.


"simpan kembali sim dan ktp mu." ucap pak polisi yang sudah memeriksa surat kelengkapan babas.


"kamu tau, sepedah motor mu ini tidak sesuai dengan standard?" ucap pak polisi.


"terus ini kenapa kalung sapi kamu taro di motor?


pengendara lain akan terganggu nanti."


"iya tu pak, udah saya bilangin, bikin malu aja masa motor dikira sapi." ucap salsa yang dari tadi bediri di belakang babas masih memakai helm. lantas salsa menundukan kepalanya.


"iya pak, nanti saya pasang bemper motor saya." ucap babas.


"tapi kalungnya biar saja ya pak, nanti gomes sedih kalo kalungnya di ambil." ucap babas.


"sebagai hukuman, kamu push up 30 kali." perintah pak polisi. babas pun melakukan yang di suruh pak polisi, push up hingga 30 kali.


babas sudah ngos-ngosan, "udah pak 30," ucap babas sambil menunjukan tiga jari.


"ya sudah kamu langsung pulang, jangan lupa pasang badan motor mu, dan lepas lonceng itu." perintah pak polisi.


"baik pak." ucap babas lemes, kalo disuruh pasang body motor masih oke, ini di suruh lepas kalung lonceng. baru juga sehari di pake. nasib.... nasib.... ucap babas dalam hati.


÷÷÷÷÷


dinda meminta ipul mengeluarkan motor hasil hadiah balapan dari gudang panti. lalu mereka duduk di gazebo depan panti.


"mulus juga motor si dino," ucap dinda.


"iya di, gue udah periksa motornya. cakep. makanya ada yang langsung nawar." ucap dodi.


"ya udah lepas aja. kapan diambil?" tanya dinda


"sore ini." jawab dodi.


"gue percayaain sama lu dan ipul." ucap dinda.


"loh, lu emang mau kemana?" tanya dodi.


"gue harus balik. biasa nanti di cariin bunda kalo kelamaan. lagian yang beli masih lama kan datengnya?"


dinda sudah pulang, tinggal dodi dan ipul yang mengurus penjualan motor itu.


keesokan hari dodi dan ipul menyerahkan uang hasil penjualan motor kepada dinda.


dinda memberikan uang hasil penjualan motor untuk kebutuhan panti, dan anak-anak di sana.


dia juga memberikan sebagian kepada ibu dodi, untuk membantu modal berjualan kue ibunya dodi.


"eh.. ini apa nak dinda?" tanya emak dodi saat menerima uang pemberian dinda.


"kami lagi ada rezeki mak," jawab dinda melihat ke dodi dan ipul.


"katanya emak mau buka kedai biar jualan kue emak makin lancar, nah uang ini bisa mak gunain buat tambahan modal." ucap dinda


"ini seriusan?" tanya emak dodi dengan mata berbinar.


"serius mak," jawab dinda.


"emang muka dinda kaya becanda ya mak?," tanya dinda sambil nyengir.


emak dodi tampak terharu, berucap syukur pada yang maha kuasa, dan berterima kasih kepada dinda.


"semoga nak dinda murah rezeki ya," emak dodi mendoakan. "semoga nak dinda sehat terus ya," dan diamini oleh dinda.


dodi dan ipul, memilih untuk tidak menerima uang itu sepeserpun untuk diri mereka. dinda bangga mempunyai sahabat seperti dodi dan ipul.


"si angel mana?" tanya dinda. udah lama tu anak gak keliatan.


"dia lagi sibuk turnamen di," jawab dodi.


"lah kapan angel tandingnya? kok gue gak di kabarin, kita harus nonton nih, kasih dukungan ke angel." ucap dinda semangat.


"angel bilang, nanti aja kita datang kalo dia masuk final." ucap dodi.


"ck......... sombong sekali, tapi angel pasti masuk final," ucap dinda yakin pada sahabat pemberaninya itu.


÷÷÷÷÷


tapi hanya james yang tidak ikut berkumpul bersama teman-teman yang lain.


"si james kenapa ya?" tanya abi.


"entah tu anak makin hari makin aneh aja." sahut babas.


peletakk..... salsa menyentil kening babas. babas meringis mengusap keningnya. "apaan sih lu sa, maen sentil aja, nanti kalo mengurangi ketampanan gue gimana?"


"makanya lu jangan ngomong macem-macem." hardik salsa.


__________


WhatsApp


"adi, setelah pulang sekolah, bisa ketemu di cafe deket rumah lu?" (james)


"oke." (adi)


__________


kenapa james ingin bertemu di cafe, ada apa ya kira-kira.


sebelum bertemu dengan james dinda pulang ke rumah dahulu, lantas menganti baju seragamnya dengan baju santai. dinda pamit ke bunda untuk pergi ke cafe, bertemu dengan james teman sekelasnya.


celana jeans belel, kaos oblong warna biru, dilapisi kemeja garis putih biru. seperti biasa dinda tidak mengancing kemejanya, lengan baju kemeja di gulung hingga siku. dipadukan dengan sepatu sneakers warna putih.


dinda memasuki cafe, melihat ke kanan dan ke kiri. menemukan sosok james duduk sendiri di cafe masih dengan baju seragam yang di gunakan, hanya di tutupi jaket seperti biasa.


"lu mau minum apa?" tanya james, yang melihat dinda sudah duduk di hadapannya.


"jus jeruk aja," jawab dinda.


mereka diam cukup lama, karena james tidak juga bicara apapun, akhirnya dinda berinisiatif untuk memulai pembicaraan.


"nagapa james? kok lu ngajak gue ketemu di sini?"


james masih diam tak menjawab, membuat dinda sedikit kesal.


"oya waktu itu, pulang sekolah lu langsung ngilang, tumben, kemana lu?" tanya dinda sambil meminum jus jeruknya.


"nyokap gue, ----" ucapan james terhenti.


dinda masih menunggu apa yang ingin di katakan oleh james. tapi james malah diam lagi.


"kalo lu mau cerita, cerita aja, gue bakal dengerin, tapi gue gak bisa janji apa-apa." ucap dinda.


"tapi kalo lu gak mau cerita, gak apa-apa. abisin minuman lu, setelah itu kita pulang. lebih baik lu istirahat di rumah."


dinda dapat melihat, ada sesuatu yang disembunyikan james, dari sorot mata james ada perasaan sakit dan terluka, entah apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.


dinda sudah mulai bangun dari duduknya. "adi...," james menahan dinda. membuat dinda berhenti dan duduk kembali.


ternyata james masih tidak berbicara juga. "lu ke sini naek apa?" tanya dinda.


"mobil," jawab james.


"mana kuncinya?" pinta dinda.


james mengambil kunci mobil dari saku celana, dan memberikan pada dinda.


dinda langsung menerima kunci mobil james. lalu bangun dari duduknya.


tampak james melihat dinda bingung,


"bangun...: perintah dinda pada james.


james langsung bangun dan berdiri.


dinda memegang pergelangan tangan james. "ikut gue...," pinta dinda. lantas menarik james keluar cafe, setelah membayar minuman mereka ke kasir.


pengunjung lain yang ada di cafe sempat memperhatikan mereka, begitu pula dengan beberapa karyawan dan kasir di sana. mungkin aneh melihat dinda dan james, kok malah cewek yang menarik tangan cowoknya, seperti terbalik saja.


untuk dinda tatapan seperti itu sudah biasa ia terima, jadi dinda tak begitu menghiraukannya.


dinda duduk dibalik kursi kemudi mobil james.


james duduk di kursi penumpang di sebelah dinda.


tanpa berkata dinda melajukan mobil itu, james pun tidak bertanya mereka mau kemana, james masih terdiam dengan wajah yang tampak sedih, itu yang di lihat dinda.


dinda menuju sebuah taman kota, memarkirkan mobil tanpa mematikan mesin mobil.


"lu sebenarnya kenapa james?" tanya dinda.


"lu mau cerita? atau gue anter lu pulang?"


"yang laki di sini sebenarnya gue atau lu sih james?" tanya dinda kesal, melihat james hanya diam saja sejak tadi.


james langsung mengerutkan kening mendengar pertanyaan dinda.


"tampang lu gak usah sok polos gitu, males gue liatnya james." ucap dinda.


"gue bukan canayang james, mana gue tau masalah lu, klo lu gak cerita."


james tampak tersenyum mendengar ucapan dinda. james menghela napasnya dan membuang napas perlahan.


"waktu itu nyokap gue nelpon, nyuruh gue cepetan pulang, gue gak tau kenapa, tapi nyokap gue sambil nangis pas ngomong. makanya waktu itu gue langsung buru-buru balik."


dinda mendengarkan james dengan sabar.


"lalu?" tanya dinda